
Tanpa terasa 3 tahun telah berlalu. Kondisi Kirana semakin membaik hari demi harinya. Kali ini ganti Kirana yang membantu Lucy. Beberapa waktu lalu Adnan mengantar Lucy ke rumah sakit karena istrinya itu terus saja muntah-muntah bahkan sempat pingsan beberapa kali saking lemasnya. Beruntungnya kondisi Lucy yang melemah membuat dokter mengetahui keberadaan satu kehidupan baru di dalam perut Lucy dengan segera.
Dokter sempat berkata kalau janinnya lemah tapi berkat perawatan yang baik dari Lucy, Adnan dan bantuan dokter membuat kandungan Lucy semakin membaik dan dia mampu melewati trimester pertama dengan baik.
“Kirana…,” kata Lucy.
“Minta buatin apa Cy?” tanya Kirana yang sudah paham dengan maksud iparnya.
“Buatin aku pie apel dong,” kata Lucy.
“Waduh, belum pengen banget kan ya? Aku belum ada bahan-bahannya. Nanti deh pulang dari cafe aku belanja sekalian aku buatin,” kata Kirana.
“Asikk, baik banget deh iparku satu ini…, makasih ya sayangku, cantikku,” kata Lucy sambil mencubiti pipi Kirana.
“Mama Lucy suka banget cubit-cubit pipi Mama Kilana,” protes si kecil Amira yang ada dalam gendongan Adnan.
“Dek, kalau mau belanjain Lucy bawa ATM ku jangan pake uangmu,” kata Adnan.
“Iya Abang,” kata Kirana.
“Mama, Amila tadi gosok gigi sama Papa,” kata Amira bercerita pada Mamanya.
“Amira sudah gosok gigi? Yasudah sini kita sarapan yuk sama Mama ya, itu Papa Adnan kan mau siap-siap kerja,” kata Kirana meraih Amira dari gendongan Adnan.
Amira langsung duduk tenang begitu Mamanya mendudukkannya di kursi khusus. Kirana mengambilkan sarapan untuk putrinya berupa roti tawar yang dilapisi dengan selai strawberry dan segelas susu strawberry. Begitu melihat sarapannya di depan mata, Amira langsung meraihnya dan memakannya dengan lahap. Dia bahkan bisa menggenggam roti di satu tangan dan botol susunya di tangan yang lainnya.
Amira itu kidal, awalnya Kirana mencoba membetulkan kecenderungan itu namun dia menyerah pada akhirnya karena tidak peduli seberapa banyak dia melatih Amira menggunakan tangan kanannya, anak itu akan terus balik memakai tangan kiri. Kirana tadinya khawatir, tapi berhubung hasil konsultasinya dengan dokter mengatakan hal itu bukan hal yang aneh Kirana membiarkannya.
Amira mungkin lahir prematur dan menghabiskan hari-hari pertamanya di rumah sakit dengan begitu banyak alat kesehatan membantu menopang kehidupannya. Dia juga memiliki penyakit yang terus mengikuti tumbuh kembangnya, tapi Kirana menyadari jika anaknya ini termasuk anak yang cerdas. Amira selalu tertarik pada suara-suara yang keluar dari berbagai macam benda. Dia juga selalu bermain dengan piano mainan yang dibelikan oleh Uti.
Baru berusia 4 tahun tapi Kirana sudah memutuskan Amira untuk belajar bermain alat musik. Setidaknya Kirana ingin mengenalkan Amira pada alat musik yang bisa berbunyi indah ketika dimainkan. Walaupun Amira hanya bermain-main, tapi Kirana serius memperhatikan tumbuh kembang putri semata wayangnya ini.
__ADS_1
“Mama, nanti sole kita main piano lagi kan?” tanya Amira pada Mamanya.
“Besok ya sayang main pianonya. Hari ini Amira ikut sama Mama ke rumah sakit dulu. Amira memangnya nggak kangen sama dokter Hengki?” kata Kirana membujuk putrinya agar mau check up ke rumah sakit.
“Amila mau ketemu doktel Hengki tapi Amila nggak mau disuntik Ma,” kata Amira.
“Nggak sayang, kita cuma ngobrol aja sama dokter Hengki ya. Habis itu Amira temani Mama belanja,” kata Kirana.
“Iya, Amila suka belanja. Amila mau beli susu setobeli ya Mama,” kata Amira.
“Iya nanti. Sekarang Amira habiskan dulu makannya,” kata Kirana sambil tersenyum.
Seharian ini Kirana habiskan bersama putrinya. Mulai dari pagi keduanya pergi ke rumah sakit untuk “menyapa” dokter Hengki, dokter spesialis anak yang menangani Amira sejak dia masih bayi. Setelah mendapatkan banyak sekali wejangan dari dokter pendamping putrinya, Kirana dan Amira lebih dulu mampir ke cafe untuk makan siang dan memastikan pekerjaan Kirana selesai sebelum mereka pergi.
“Mama ndak makan?” tanya Amira yang duduk di hadapan Kirana sambil memakan pancakenya.
“Nanti sayang sebentar ya. Amira makan saja dulu, nih a…,” kata Kirana kemudian menyuapkan sepotong pancake ke dalam mulut Amira.
“Kalau enak dihabiskan ya,” kata Kirana diangguki oleh Amira dengan semangatnya.
“Duh ponakan tante yang satu ini gumuz banget cih…,” kata Ningrum yang baru datang langsung menciumi pipi Amira dengan gemasnya.
“Halo tante Nilum,” kata Amira.
“Halo Amira cantik,” jawab Ningrum dengan senyum.
“Ning, tumben kamu ke sini jam segini?”
“Gabut aku di rumah Ki, orang tuaku kan sekarang sudah nggak di sini jadi mau nggak mau aku jadi tinggal sendirian,” kata Ningrum.
“Nikah Ning. Kamu nunggu apa sih? Eh jodoh itu kalau nggak dikejar juga bisa lari lho. Atau kamu masih gamon sama yang dulu?”
__ADS_1
“Ya gitu deh. Susah Ki lupain cinta pertama tuh. Sebenernya dia sekarang jomblo sih aku tahu tapi buat deket lagi tuh rasanya gimana gitu soalnya kita pernah renggang dan sempat nggak kontakan agak lama. Udah gitu dia sibuk sama kerjaannya sekarang,” kata Ningrum yang dengan begitu saja curhat bahkan hanya dengan sedikit pancingan.
“Nggak ada salahnya kamu nyoba. Udah bertahun-tahun lho kamu memendam rasa sama dia tanpa kamu ungkapkan. Walaupun aku sebenarnya nggak tahu cowok itu siapa, tapi kalau dia layak untuk diperjuangkan why not? Lucy juga gitu kan. Yang nembak duluan dia bukan Bang Adnan,” kata Kirana.
“Nanti deh Ki, aku masih harus fokus sama pekerjaanku. Karena aku kalau nggak kerja mau makan apa? Aku nggak bisa mengandalkan orang tuaku terus, kamu pasti tahu kan rasanya harus menopang kebutuhan rumah tanggamu sendirian,” kata Ningrum.
“Lebih dari tahu. Semangat Ning. Nanti juga akan ada waktunya kita sampai ke tujuan kita masing-masing,” kata Kirana membuat Ningrum tersenyum.
“Semangat tante Nilum,” sahut Amira.
“Apa sih si kecil ini nyahut aja,” kata Ningrum kembali gemas pada putri sahabatnya ini.
“Kan Mama bilang semangatin olang itu dapat pahala. Amila mau punya pahala yang banyak bial Amila bisa masuk sulga dan ketemu Papa Laihan. Soalnya Amila mau malahin Papa yang udah jahat ninggalin Mama sama Amila di sini,” kata Amira.
“Iya, insyaallah nanti Amira akan ketemu lagi kok sama Papa Raihan di surga. Makanya Amira yang pinter ya, nurut sama Mama Kirana sama Mama Lucy,” kata Ningrum.
“Siap tante Nilum,” kata Amira.
Berhubung sudah ada Ningrum di cafe, pekerjaan Kirana jadi cepat selesai. Setelah sholat ashar Kirana dan Amira undur diri dan pergi menuju ke salah satu supermarket untuk membeli bahan-bahan membuat pie apel pesanan si ibu hamil Lucyana.
“Mama susu,” kata Amira.
“Nanti sayang kita belanja buat tante Lucy sama adek bayi dulu ya,” kata Kirana. Untung Amira tidak rewel dan segera mengiyakan. Kirana masih berani mendudukkan Amira di dalam keranjang belanja. Amira terlihat senang dan sempat bersenandung. Dia memang paling suka kalau masuk keranjang belanja dan keranjangnya di dorong.
“Nah sekarang tinggal kita beli apel,” kata Kirana.
“Apelnya yang banyak Ma, Amila mau,” kata Amira.
Kirana sibuk memilih-milih apel sedangkan Amira asik mengamati kotak susu di tangannya. Kirana terlihat fokus memilih apel mana yang akan dia beli. Dia pilih satu per satu dengan cermat kemudian dia masukkan ke dalam plastik sebelum nanti minta ditimbang. Kirana berniat untuk membeli apel merah karena Amira bilang dia mau apel juga.
Ketika Kirana tengah meraih satu apel besar berwarna merah di dalam keranjang buah, ada satu tangan yang menggenggam satu apel yang sama dengannya membuat kedua tangan mereka bertemu.
__ADS_1