
Mama yang sedang menyiapkan makan malam di dapur kaget ketika melihat Raihan menggendong Kirana masuk ke dalam kamarnya. Mama menyusulnya, dan melihat sendiri Kirana menangis dalam pelukan suaminya.
“Raihan, Kirana kenapa? Kalian baru pulang dari rumah sakit kok Kirana nangis? Bayinya baik-baik saja kan? Kirana sehat kan? Bilang sama Mama Han,” kata Mama terus menekan Raihan untuk bicara.
“Nanti Ma, Raihan ceritakan. Maaf Ma,” kata Raihan.
Mama tidak bisa menghentikan kekhawatirannya, tapi setidaknya Mama berusaha menekannya. Mama berjalan mengambilkan minum untuk Kirana dan membantunya untuk minum agar putrinya itu bisa sedikit lebih tenang.
“Sudah ya, jangan nangis terus. Kasihan Amira,” kata Raihan.
“Bang Adnan kenapa tega banget sama Kirana sih Bang? Kenapa Bang Adnan jahat banget sama Kirana,” kata Kirana.
“Shtt…, udah, udah, Abangmu juga pasti punya alasannya Dek. Sudahlah, cup. Jangan nangis lagi dong, Abang yang nggak kuat lihatnya,” kata Raihan masih berusaha menenangkan Kirana.
“Raihan sama Kirana sudah makan belum?” tanya Mama.
“Tadi Raihan beliin sate sih, tapi dia makannya nggak banyak,” kata Raihan.
“Kalau begitu makan ya, Mama ambilin makan nanti Raihan yang suapin. Mukamu pucet itu lho. Ya Kirana, kasihan bayimu,” kata Mama.
Kirana menggeleng lemas dan semakin mengenggelamkan kepalanya dalam pelukan Raihan.
“Ambilin aja Ma, nanti Raihan yang suapi. Makasih ya Ma,” kata Raihan diangguki oleh Mama.
Malam sudah mulai menjelang, tapi Kirana masih bertahan terus memeluk suaminya tanpa ada niat untuk melepaskannya. Kalau boleh jujur, Raihan sendiri bingung dengan apa yang sedang dirasakan oleh istrinya. Dia tidak tahu apakah saat ini Kirana sedang marah karena merasa dipermainkan oleh takdir, atau dia kecewa karena dia yang seharusnya memiliki kesempatan untuk kembali bersama Keenan dihalangi oleh Abangnya sendiri.
Benar, Raihan bukan pencemburu, tapi untuk yang satu ini dia selalu takut. Faktanya memang dia mengambil paksa Kirana dari pelukan Keenan itulah kenapa Raihan paling takut jika hari dimana Kirana mengetahui kebenarannya akan menjadi hari terakhirnya memeluk sang istri.
***
“Raihan, kamu kenapa? Kok mukamu pucat?” tanya Mama.
__ADS_1
“Nggak papa Ma, mungkin kecapekan aja,” jawab Raihan.
“Han, Kirana sama Adnan belum baikan?” kali ini Papa yang bertanya.
“Sepertinya belum Pa.”
“Masalahnya apa sih sebenarnya? Mereka nggak pernah berantem tapi ini bisa sampai kaya gini. Raihan, Mama minta tolong sama kamu untuk bantu Kirana dan Adnan baikan,” kata Mama.
“Iya Ma, pasti kok. Tapi nggak sekarang. Biar Kirana baikan dulu. Suasana hatinya lagi nggak bagus,” kata Raihan.
Raihan melangkah masuk ke dalam kamar dan menemukan Kirana duduk menyandar headboard tempat tidurnya. Dia sedang mengelus perut besarnya walau dengan wajah bersedih. Raihan menghela nafas, kemudian mengunci pintunya dari dalam. Sepertinya ada yang harus dia bicarakan dengan Kirana saat ini.
“Kirana…, Abang mau tanya sesuatu boleh?” tanya Raihan.
“Ada apa Bang?”
“Katakan sama Abang, apa yang sedang berkecamuk di hati kamu. Apapun itu, sesakit apapun akan Abang dengarkan. Asal kamu nggak terus-terusan bersedih kaya gini. Abang nggak tega lihatnya,” kata Raihan.
“Padahal Kirana bukannya mau balikan. Kirana cuma mau tanya kenapa dia begitu jahatnya ninggalin Kirana gitu aja. Kirana juga cuma mau minta maaf sama dia karena nggak bisa memenuhi ekspektasi dia. Udah itu aja. Aku udah sama Abang sekarang, hatiku udah buat Abang seutuhnya udah nggak akan balik ke dia lagi apapun yang mau dia lakukan aku udah nggak peduli Bang,” kata Kirana.
“Kirana….”
“Aku berani sumpah Bang, sudah nggak ada nama Keenan di hatiku. Tapi setidaknya aku mau memperbaiki kesalahanku. Andai nggak bisa pun aku ingin setidaknya meminta maaf udah itu aja,” kata Kirana.
“Abang ngerti sayang. Mungkin saja kan Abangmu itu hanya tidak mau memberi tahu tanpa maksud untuk menyembunyikan. Adnan peduli padamu, Adnan juga peduli pada Abang. Mungkin dia tidak mau mengganggu proses perkenalan kita ketika itu. Kamu jangan benci sama Abangmu Kirana, dia menderita dengar itu dari mulutmu,” kata Raihan.
“Tapi hatiku sudah terlanjur sakit Bang. Mungkin untuk sementara aku nggak mau ketemu Bang Adnan dulu,” kata Kirana.
“Abang paham. Sudah ya, jangan berlarut-larut Mama kasihan Amira ikut sedih,” kata Raihan.
***
__ADS_1
Keenan sedang bersama dengan Aksara dan Galih di kantin markas. Ketiga perwira muda itu sedang bersenda gurau sambil sesekali membahas soal siapa diantara mereka bertiga yang akan diterbangkan ke Pontianak minggu depan. Adnan melihat Keenan bisa duduk dengan santai bersama sahabatnya tersulut emosi. Adnan langsung menyeret Keenan ke tempat yang lebih privat dan langsung menjatuhkan Keenan begitu saja ke tanah.
“Sekarang mau lo apa Kee? Adek gue udah tahu lo ada di sini. Dia nyalahin gue mati-matian dan lo masih berniat untuk melanjutkan persembunyian lo?” tanya Adnan dengan tidak sabarnya.
“Aku nggak peduli dia tahu atau nggak. Aku akan tetap bersembunyi Bang.”
“Maksud lo apa sih sebenernya?” tanya Adnan.
“Dia pasti lagi sedih kan sekarang? Aku tahu Bang dalam beberapa bulan dia akan melahirkan dan akan jadi seorang ibu. Dia sudah bahagia sama suaminya. Andai aku keluar dari persembunyianku apakah dia bisa menerima itu? Dia cuma akan terus-terusan bersedih. Terus gimana sama anaknya? Gimana sama suaminya? Apa aku masih bisa egois? Aku akui aku masih sayang sama adikmu Bang. Aku masih cinta sama Kirana. Tapi apalah aku sekarang? Aku ini cuma mantan yang dengan brengseknya ninggalin dia gitu aja,” kata Keenan.
Adnan terdiam mendengar pengakuan Keenan. Dia tidak pernah menyangka jika ternyata laki-laki yang pernah hampir menjadi adik iparnya ini masih menyimpan rasa bahkan sampai detik ini.
“Udah kubilang kan Bang. Nggak ada untungnya dengan mempertemukan aku dan Kirana. Aku udah ikhlas dia bahagia sama keluarga kecilnya. Aku juga udah janji sama Bang Raihan kalau apapun yang terjadi aku nggak akan pernah meminta Kirana untuk kembali sama aku,” kata Keenan.
Keenan meninggalkan Adnan begitu saja. Tidak peduli jika Adnan masih terdiam Keenan pergi begitu saja, “Satu lagi Bang. Abang sudah nggak perlu lagi menganggap aku seperti adikmu. Dari awal aku bukan adikmu Bang. Hubungan kita sekarang hanya sebatas senior dan junior dalam ranah pekerjaan. Selebihnya anggap saja aku ini orang asing,” kata Keenan sebelum melanjutkan langkahnya.
***
Adnan sore itu pulang dalam kondisi yang lebih buruk dari sebelumnya. Lucy yang sedang menyirami tanaman di halaman depan langsung mendekatinya dan memeluk suaminya itu. Lucy paham jika perasaan bersalah Adnan sedang meremukkan hatinya secara perlahan sekarang. Walaupun dia tidak sepenuhnya tahu, tapi dia bisa mengambil kesimpulan jika suaminya ini saat ini sedang berdiri di ujung tanduk dimana salah bergerak sedikit saja dia akan terjatuh dan hancur.
“Sudahlah Bang, jangan merasa bersalah lagi. Sudah jadi pilihan mereka berdua. Sudah tidak ada sangkut pautnya sama Abang,” kata Lucy.
“Tapi Cy….”
“Abang sudah. Berhenti. Masalah ini sudah diluar kuasamu Bang. Biar mereka yang selesaikan. Toh sudah ada Bang Raihan yang akan selalu ada untuk Kirana. Jangan Abang terlalu memikirkan semuanya sendiri,” kata Lucy.
“Maaf ya sayang. Kamu selalu aku duakan,” kata Adnan.
“Nggak kok Bang. Aku tidak pernah merasa diduakan. Cuma Abang jangan terlalu fokus sama mereka sampai lupa sama aku Bang. Cemburu nih lama-lama,” kata Lucy yang pura-pura merajuk.
“Makasih ya kamu selalu ada sama aku. Makasih atas semua dedikasi dan semua kesetiaanmu Cy. Abang bangga sama kamu. Abang sayang sama kamu,” kata Adnan membuat Lucy mengangguk kemudian memeluk Adnan.
__ADS_1