
Kirana beberapa hari ini hanya melamun dan terus membuka tutup catatan yang ditulis oleh suaminya. Dia sudah selesai membaca beberapa lembarnya. Di sana tertulis bagaimana Raihan pertama kali memiliki rasa padanya, juga bagaimana Raihan hanya bisa berharap pada takdirnya karena mengetahui fakta jika Kirana sudah menjadi milik orang lain. Kirana baru tahu sekarang jika dialah sosok cinta pertama Raihan. Dia juga baru tahu sekarang ini bagaimana Raihan selalu menahan luka di hatinya hanya demi memberikan kebahagiaan pada Kirana.
“Aku memberitahumu bukan untuk membuatmu merasa bersalah. Aku hanya ingin kamu tahu jika kebahagiaanmu berarti lebih besar dibanding nyawaku sendiri. Kirana, kamu pernah bilang kalau cinta bisa membuat seseorang menjadi bodoh. Sepertinya memang benar. Aku bodoh karena telah mencintaimu. Tapi, aku bersyukur karena kamu memberikan kesempatan pada aku yang bukan siapa-siapa ini untuk bisa memilikimu.”
Kirana membaca buku itu selembar demi selembar sambil terus menahan air matanya dia terus berusaha menuntaskan isi buku itu. Buku yang ditulis oleh Raihan setiap harinya di samping Kirana yang tertidur di ruang ICU.
"Ma, sebenarnya aku sudah membeli sebuah rumah untuk kita tinggali bersama. Rumah kecil berwarna oranye. Letaknya berseberangan dengan rumah Abangmu. Aku sengaja, karena aku tahu kamu tidak akan bisa menjauh dari Adnan. Lagi pula istrinya adalah sahabat dekatmu. Setidaknya kamu tidak akan pernah merasa sendirian dan ketika aku pergi akan ada yang membantumu menjaga Amira."
"Kirana, waktuku sudah tidak banyak jadi selagi sempat aku harus katakan padamu. Lupakan aku Kirana. Toh aku juga akan melupakanmu setelah kematianku tiba. Aku ikhlaskan kamu untuk menikah lagi suatu saat nanti. Saranku carilah laki-laki yang berbeda denganku. Carilah laki-laki yang tidak akan melakukan hal bodoh seperti meninggalkanmu. Aku tahu kamu pasti akan sakit hati, tapi demi putri kita kamu harus bisa bangkit berdiri. Kamu harus bisa menatap masa depanmu. Tinggalkan saja aku. Karena aku akan jadi lebih sedih jika melihatmu meratapi kematianku dibanding melihatmu menikah lagi."
"Aku titip pesan saja pada laki-laki yang akan menikahimu suatu saat nanti. Tolong jaga wanita hebat ini dengan baik. Siapapun kamu kumohon terimalah Amira dan sayangi dia bagai kamu menyayangi putrimu sendiri. Aku tidak akan menuntut banyak hal, selama aku tahu kamu mencintai dan menyayangi kedua permataku ini aku akan baik-baik saja. Salam kenal ya, aku Raihan Dhananjaya. Laki-laki brengsek yang melanggar janjinya pada sang istri. Jangan jadi sepertiku atau aku akan mengutukmu di neraka."
“Kirana, sudah jangan kau paksakan membaca semuanya sekaligus,” kata Lucy yang mendekati Kirana sambil menggendong Amira.
“Cy, aku mau gendong Amira,” kata Kirana.
“Kamu kuat?”
“Kuat. Aku mau jadi kuat. Bang Raihan juga memintaku kuat demi Amira. Lucy, aku ingin memandang wajahnya,” kata Kirana.
Lucy dengan perlahan meletakkan Amira di pangkuan Kirana. Kedua tangannya tetap membantu Kirana menopang tubuh Amira yang mulai gemuk. Takut-takut Kirana tidak kuat mengangkatnya dan Amira terjatuh. Ketika Kirana menatap kedua manik mata Amira, dia menangis. Lucy melihat sendiri tangisan Kirana semakin deras ketika jari-jari mungil Amira menggenggam telunjuk Kirana.
__ADS_1
“Sorot matanya, Amira kamu tahu kamu mirip sekali sama Papamu nak,” kata Kirana di sela tangisannya.
“Bukan hanya matanya, tapi juga senyumnya. Hanya dengan sekali lihat kamu bisa tahu jika Amira adalah putrinya Raihan Dhananjaya. Kedua mertuamu menyerahkan Amira pada kami karena tidak kuasa mengingat wajah Bang Raihan dalam diri Amira. Bang Raihan bahkan mengantisipasi andai kamu tidak mampu menatap Amira karena terlalu mirip dengannya Bang Raihan telah meminta Bang Adnan untuk menganggap Amira sebagai putrinya,” kata Lucy.
“Tapi Amira adalah darah dagingku sendiri Cy. Walaupun aku tidak merasakan sakitnya perjuangan untuk melahirkan tapi aku tetap ibu kandungnya. Jangan bawa pergi putriku,” kata Kirana.
“Aku tidak akan membawanya pergi Kirana dan kata siapa kamu tidak berjuang? Luka sayatan di perutmu bahkan belum mengering. Ketika kamu bergerak juga masih terasa sakit kan? Entah normal atau caesar kamu tetap berjuang. Amira adalah milikmu, aku hanya akan membantu menjaganya. Dia tetaplah putrimu. Kirana, aku kehilangan anakku tapi aku tidak akan mengambil dia yang bukan hakku. Kamu tidak perlu khawatir,” kata Lucy.
“Cy, aku ingin berusaha kuat. Tapi aku tidak yakin mampu menjalaninya seorang diri. Jangan tinggalin aku Cy. Aku sudah nggak punya apa-apa sekarang, aku…,”
“Aku nggak akan ninggalin kamu apapun alasannya Kirana. Aku tahu kamu muak sama janji semacam ini tapi selama aku masih mampu bernafas aku nggak akan ninggalin kamu sendirian. Bahkan jika Bang Adnan melarang aku akan tetap ada sama kamu,” kata Lucy.
“Aku nggak akan melarang kalian berdua kok. Kirana itu adikku Cy. Kalau kamu menolak buat dekat sama iparmu sendiri malah kumarahi kamu nanti,” kata Adnan yang berdiri bersandar pada pintu.
“Udahan baca bukunya besok lagi. Sekarang kamu ikut aku yuk. Jadwal check up Dek. Sekalian Amira harus imunisasi kan? Kita berangkat sekarang aja, soalnya habis jam makan siang aku harus balik ke kantor,” kata Adnan diangguki oleh Kirana dan Lucy.
Mereka lebih dulu mengantar Kirana menemui dokternya. Kirana hari ini di rontgen untuk melihat luka di kaki dan kepalanya. Beruntungnya Kirana tidak mengalami amnesia, hanya saja satu telinganya mengalami penurunan fungsi. Dia juga berkemungkinan mengalami masalah dengan keseimbangan tubuhnya.
Dokter mencoba Kirana untuk berjalan dengan bantuan tongkat, tapi karena Kirana beberapa kali terjatuh akhirnya mereka menyerah. Adnan tidak ingin memaksa adiknya untuk menjalani terapi yang terlalu keras. Dia hanya berkomitmen walaupun lama dan prosesnya panjang, dia akan membantu adiknya bisa berjalan dengan lancar kembali.
“Bang, aku mau konsultasi sama dokternya Amira dulu. Abang tunggu di luar aja ya,” kata Kirana dengan wajah agak malu-malu.
__ADS_1
“Kirana masuk sama aku. Kamu tunggu di luar,” kata Lucy yang sepertinya mengerti apa yang diinginkan oleh Kirana.
Setelah Amira diimunisasi dan kembali tenang, keduanya menitipkan si kecil pada Adnan yang menunggu sambil duduk menggendong Amira di ruang tunggu. Kirana dan Lucy kembali masuk ke dalam ruang pemeriksaan karena ada beberapa hal yang ingin Kirana tanyakan bukan hanya yang terkait dengan kondisi kesehatan Amira tapi juga dengan kondisinya. Setelah berkonsultasi, Kirana dan Lucy juga bersama-sama membeli beberapa barang di babyshop.
“Eh kita lupa beli susunya Amira,” kata Adnan begitu keluar dari babyshop.
“Nggak papa, nanti aku beliin di mini market,” kata Lucy.
“Kok di minimarket sih, di sana kan nggak ada yang besar. Adanya yang kecil, itu nggak sampai seminggu habis. Aku mau dinas keluar lho, kita balik aja ya aku beliin yang kaleng besar sekalian,” kata Adnan.
“Nggak perlu. Kan mulai sekarang Amira nggak akan dikasih susu formula lagi,” kata Lucy pada suaminya.
“Maksud kamu?”
“Mamanya Amira kan sudah sehat, ngapain kita beli susu formula kalau Allah sudah kasih susu yang terbaik di dunia hanya untuk Amira,” kata Lucy membuat Kirana yang memangku Amira di kursi belakang tersenyum.
Adnan sempat melihat pantulan adiknya dari kaca. Dia melihat Kirana tersenyum ketika menimang Amira yang terbangun. Tidak ada tanda-tanda penolakan dari Kirana, dia bahkan terlihat begitu mencintai putrinya dan Adnan bisa melihatnya dengan jelas dari senyum yang terpancar di wajah manis Kirana.
“Bang, Abang nggak perlu khawatir. Kematian Bang Raihan nggak akan meruntuhkanku. Masih ada Amira yang menguatkan aku, lagi pula melalui Amira aku masih bisa melihat wajah Bang Raihan dengan begitu jelas. Aku akan jaga Amira sebaik yang aku bisa. Dengan Amira saja aku sudah cukup. Tapi Abang bantuin ya, andai aku suatu saat lagi capek banget aku titip Amira ke Abang,” kata Kirana.
“Kapanpun kamu butuh. Aku dan Lucy akan selalu ada di sini. Kali aja kan karena bantuin kamu ngurus Amira aku sama Lucy ketularan punya anak juga,” kata Adnan.
__ADS_1
“Aamiin Bang. Semoga Abang dan Lucy segera punya juga. Biar kak Amira bisa punya teman main,” kata Kirana sambil menepuk-nepuk punggung Amira yang asik menatap Mamanya yang sejak tadi terus tersenyum.