
Kandungan Kirana sudah menginjak bulan ke-7. Tempo hari di kediaman Papa Bagus dilaksanakan hajat tujuh bulanan dengan doa agar Kirana diberikan kesehatan dan Amira, putri mereka bisa lahir dengan selamat ketika waktunya tiba nanti. Hari ini Kirana dan Raihan menyempatkan diri untuk ke rumah sakit. Mumpung Raihan sedang tidak bertugas dan pekerjaan di cafe sedang di back up oleh Ningrum dan Lucy.
Raihan membawa mobilnya dengan kecepatan sedang dan mengusahakan untuk berjalan di lajur kiri agar dia tidak menghalangi mobil-mobil lain yang juga melintas di jalan ini. Kirana terlihat asik mendengarkan musik sambil sesekali bergumam. Tangannya dia letakkan di perut buncitnya dan ketika dia merasakan gerakan dia akan tersenyum.
“Kenapa sih Dek gerak terus dari tadi pagi?” tanya Kirana pada perutnya.
“Sebentar aja Dek di rumah sakitnya, nanti habis ini jalan-jalan deh sama Papa,” kata Raihan yang ikut meletakkan sebelah tangannya yang bebas dari kemudi ke atas perut Kirana.
“Eh bentar, sini dulu tangan Abang,” kata Kirana yang merasakan sesuatu.
“Kenapa?”
Kirana tertawa, “Kamu sok-sokan bilang takut ke rumah sakit. Padahal cuma kangen sama Papa kan iya kan,” kata Kirana membuat Raihan paham maksud istrinya.
Raihan ikut tertawa. Dia mengusap rambut Kirana, sesekali juga mengelus perut istrinya. Ketika sedang di lampu merah, Raihan menoleh dan menatap Kirana penuh dengan kasih sayang. Beruntungnya Raihan memiliki istri seperti Kirana. Dia yang ketika awal kehamilan jadi moody parah sekarang bisa lebih kalem. Bahkan Raihan akui Kirana lebih pintar mengelola emosinya. Jika Raihan kelelahan dan moodnya jelek sepulang kerja, Kirana selalu menemukan cara untuk membantu menghilangkan stres Raihan.
“Kata orang anak cewek itu lebih dekat ke Papanya, apa nanti Amira akan lebih dekat ke Abang dibanding ke aku ya?” tanya Kirana.
“Lebih dekat belum tentu lebih sayang lho,” kata Raihan.
“Iya kah?”
“Ya kamu lihat saja pegawaimu, Seno, Silma, Dimas. Silma apa-apa sama Dimas, dekat sama Dimas, malam mingguan selalu sama Dimas, tapi jadiannya sama Seno,” kata Raihan.
“Iya juga ya,” kata Kirana menyadari sesuatu.
“Dek, Amira sayang. Nanti kalau kamu sudah lahir Mama sama Papa akan sayang sama kamu sama besarnya kok, jadi kamu jangan beda-bedain Papa sama Mama ya, Amira harus bisa sayang sama Papa sama Mama, ok?” kata Kirana kembali pada perutnya.
Entah apa yang mengganggu pikiran istrinya sampai dia bisa bertanya begitu. Tapi mendengar kalimat itu hati Raihan merasakan getaran tak biasa. Berbeda. Dia bukannya merasa bahagia malah dia cemas. Tiba-tiba dia takut ada sesuatu yang seperti akan terjadi. Sesuatu yang membuat Kirana, Raihan, atau mungkin putri mereka tidak baik-baik saja.
__ADS_1
“Alhamdulillah, bayinya sehat. Detak jantungnya juga normal nih,” kata dokter.
Raihan dan Kirana tersenyum ketika melihat pantulan wajah putri mereka di layar monitor. Walaupun tidak begitu jelas, tapi Kirana sanggup merasakan jika putrinya ini memiliki wajah yang cantik.
Selepas dari rumah sakit, Kirana dan Raihan memutuskan untuk jalan-jalan. Dokter yang merekomendasikan Kirana untuk sering berjalan kaki dan melakukan olahraga kecil di samping mengkonsumsi makan makanan yang bergizi agar selama lahiran nanti dia tidak akan kesulitan. Raihan dan Kirana pergi ke jalan malioboro hari ini. Mumpung cuaca sedang mendukung. Tidak terlalu panas tapi juga tidak hujan. Raihan membantu membawakan tas milik Kirana kemudian membiarkan lengannya menjadi penyangga untuk membantu Kirana menopang beban tubuhnya selama berjalan.
“Capek nggak?” tanya Raihan pada Kirana setelah menyadari mereka sudah melewati sepertiga jalan malioboro.
“Nggak capek sih, tapi haus,” kata Kirana.
“Mama tunggu sini aja gimana? Papa beli minum dulu di minimarket situ,” kata Raihan sambil menunjuk sebuah minimarket berwarna putih biru tak jauh dari sana.
“Jangan lama-lama ya,” kata Kirana.
Kirana berdiri di pinggiran jalan, agak menepi berteduh di bawah pohon. Di dekatnya ada kursi, tapi sedang diduduki oleh sepasang kekasih yang sibuk bersenda gurau. Kirana boleh saja meminta salah satunya untuk berdiri karena dia sedang hamil dan dia memiliki hak prioritas tapi Kirana tidak tega memintanya. Jadi dia hanya bisa berdiri sambil menunggu Raihan.
“Mas, Mbak, itu di dekatnya ada ibu yang sedang hamil kok dibiarkan berdiri,” tegur salah seorang ibu-ibu penjual sate yang buka lapak di dekat Kirana berdiri.
Kirana langsung bangkit berdiri dan mengurungkan niatnya untuk duduk. Dia langsung pergi menyusul Raihan yang dia lihat baru keluar dari minimarket. Raihan melihat Kirana akan menyeberang jalan, langsung berlari mendekat agar istrinya tidak perlu menyeberang. Raihan langsung merangkul Kirana dan bertanya kenapa istrinya terlihat murung.
“Kenapa Ma? Kok tiba-tiba badmood?”
“Abang, emangnya Kirana beban ya?” tanya Kirana.
“Astaghfirullah sayang, kok kamu bilang gitu sih? Nggak lah, beban gimana ah kamu ini ada-ada aja,” kata Raihan.
“Habis, aku dikatain Bang. Katanya aku nggak usah jalan jalan kalau ngerepotin orang. Aku suruh di rumah aja,” kata Kirana membuat Raihan mulai menerka apa yang terjadi.
Dia melihat ke arah tadi Kirana berdiri menunggunya. Sepasang kekasih itu masih bertahan di sana dan tetap bersenda gurau tanpa rasa bersalah. Raihan berjalan mendekat, walau Kirana melarangnya, tapi Raihan tetap mendekat.
__ADS_1
“Permisi,” kata Raihan.
“Ada apa?” tanya laki-laki itu.
“Maaf, saya bicara dengan ibu ini. Bu, saya pesan satenya 4 porsi ya, 2 dibungkus, 2 lagi makan sini,” kata Raihan.
“Ya Pak, tunggu sebentar.”
Ibu itu langsung membuatkan pesanan Raihan. Setelah selesai, Raihan membayar semuanya tapi dia hanya menerima yang ada di dalam kresek.
“Eh Pak, ini yang dua lagi,” kata ibu penjualnya.
“Kasihkan ke anak-anak muda ini saja Bu,” kata Raihan membuat ibu penjual sate itu heran begitupun dengan pasangan kekasih yang Raihan maksud.
“Maksud Bapak apa ya?” tanya yang perempuan.
“Oh nggak ada, saya cuma mau berterima kasih karena sudah mengizinkan istri saya duduk barang sebentar,” kata Raihan sambil tersenyum kemudian pergi sambil menggandeng Kirana.
Kirana tersenyum. Dia kembali mengeratkan pelukannya ke lengan Raihan. Ketika sedang sepi, Kirana mendaratkan satu kecupan ke pipi Raihan. Tentu saja Raihan kaget. Tidak biasanya Kirana mau memperlihatkan kemesraan semacam ini di muka umum. Di depan Mama Papa saja dia jarang.
“Kenapa? Lagi seneng ya?” tanya Raihan.
“Ku pikir tadi Papa mau marah, tapi apa yang Papa lakukan tadi keren banget,” kata Kirana.
Raihan lebih dulu mengarahkan Kirana untuk duduk di salah satu kursinya yang kosong. Setelah Kirana duduk, Raihan membantu Kirana membukakan tutup botolnya agar Kirana bisa langsung meminumnya. Ketika Kirana sedang minum, Raihan berucap, “nggak semua perkara selesai dengan kemarahan. Kalau kita marahi tadi, dia tidak akan sadar kalau yang dilakukannya keliru. Tapi dengan teguran halus tadi Abang hanya berharap orangnya akan sadar dengan sendirinya,” kata Raihan.
“Papa…,” kata Kirana.
“Hmm?”
__ADS_1
“Papa keren,” kata Kirana sukses membuat Raihan salah tingkah.
“Ya dong. Soalnya Papa mau ajarkan ke Amira, kalau nggak selamanya emosi itu bisa menyelesaikan perkara. Bahkan kebanyakan malah akan memperkeruh masalah. Nanti kalau Amira sudah besar jangan jadi cewek yang pemarah ya. Jadi cewek kaya Mama aja, yang selalu sabar dan tabah menghadapi apapun, janji ya sama Papa,” kata Raihan sambil mengelus perut Kirana.