Baret Biru

Baret Biru
8. Cemburu (lagi)


__ADS_3

Adnan Dzaki beberapa hari ini tampak gelisah. Beberapa kali dia patroli dia tampak tidak begitu fokus. Padahal dia seharusnya sedang senang karena akan segera mendapatkan kenaikan pangkat. Dia juga akan dimutasi walau belum ada yang tahu pasti dia akan dipindahkan ke divisi apa tapi yang jelas dia akan pulang. Dia akan kembali, bertugas di kota yang menjadi kebanggaannya sejak kecil.


“Ada apaan? Aku lagi sibuk nyet,” kata Kirana begitu mengangkat telepon dari abangnya.


“Ya Allah sama abang sendiri kaya begitu. Liat lu ntar, gue bentar lagi bakal balik ke Jogja. Mampus lo habis ini yakin,” kata Adnan.


“Halah paling balik ke rumah cuma berapa hari kan? Gue bisa ngungsi ke rumah Lucy atau Ningrum, gampang,” kata Kirana.


“Oho, mohon maaf ya mak lampir permintaanmu tidak bisa dikabulkan. Gue pindah tugas bukan cuma mau main ke rumah tapi gue pindah tugas. Inget! gue bakal tugas di Jogja dan lo bakal ketemu gue 24 jam per 7 hari,” kata Adnan.


Ada rona bahagia di wajah Kirana sebenarnya, tapi dia gengsi memperlihatkannya. Bisa hancur reputasi dia di hadapan Adnan Dzaki yang kelewat pede itu. Kalau sampai Abangnya tahu Kirana menantikan kepulangannya, habis sudah dia diledek selama berminggu-minggu.


“Oh yaudah.”


“Eh ****** ni cewek jadi-jadian. Telpon gue dimatiin lagi. Dasar monyet!” Sebagai ganti adiknya dia hanya mengutuk handphonenya yang tidak bersalah.


...***...


“Siapa?” tanya Bang Raihan yang sudah berdiri di hadapan Kirana siap untuk memesan.


“Astaga dragon! Bang kaget aku,” kata Kirana.


“Makanya jangan ngalamun.”


“Abang sendirian? Mau pesan apa?” tanya Kirana.


“Biasa, garden burger sama latte. Esnya yang banyak ya,” kata Bang Raihan.


Kirana langsung mencatat pesanannya, tidak lupa dia memberikan nomor meja untuk Bang Raihan kemudian mempersilahkannya pergi ke meja yang kosong. Untuk pesanan yang satu ini Kirana membuat sendiri lattenya. Dia meminta Seno menyelesaikan pesanan yang lainnya sedang latte pesanan Bang Raihan dia yang buatkan.


“Kirana, pesanan meja 3,” kata Ningrum menyerahkan pesanan. melalui jendela di belakang meja bar.

__ADS_1


Kirana membawanya bersama dengan latte yang dibuatnya tadi ke meja yang diduduki oleh Bang Raihan. Meja yang letaknya tepat berada di sebelah jendela kaca dan berada tepat di sebelah kiri meja kasir.


“Silahkan pesanannya. Abang tumben sendirian,” kata Kirana.


“Kawanku sedang tugas di luar makanya aku cuma sendiri.”


“Oh iya, kudengar Abangmu pindah tugas?” tanya Bang Raihan.


“Iya, tadi yang barusan telepon itu Bang Adnan,” kata Kirana menunjukkan rona bahagia.


“Kalian lucu banget sih….”


“Makasih Bang, aku lanjut kerjaanku dulu ya,” kata Kirana sebelum meninggalkan meja Bang Raihan.


Raihan terus menatap gadis itu ketika tengah melayani pelanggan yang datang. Mumpung tidak ada yang mengenalinya. Dua pegawai yang dari tadi sibuk mondar mandir juga tidak dia kenal sepertinya mereka anak baru. Raihan dengan cepat mampu menghabiskan makanannya tapi tidak dengan latte pesanannya. Dia selalu menghabiskannya perlahan seperti tidak rela jika lattenya akan habis.


Setelah menghabiskan waktu sekitar 30 menit duduk termenung, Raihan pamit. Lagi pula jam shiftnya akan segera dimulai dan dia harus segera kembali ke markas. Sebelum dia melangkah keluar, Kirana lebih dulu memberikan sesuatu padanya. Dia memberikan baby macaron yang dimasukkan ke dalam kotak kecil berpita biru.


“Makasih ya. Sukses terus buat kamu Dek,” kata Raihan. Tanpa sadar, dia sudah mendaratkan tangannya di atas kepala Kirana dan mengacak rambutnya.


Karena malu Raihan langsung menarik tangannya dan dengan segera pergi dari sana. Sepanjang jalannya kembali ke markas, dia terus mengutuk dirinya sendiri. Dia menganggap dia terlalu ceroboh hanya karena Kirana memberinya macaron dia menjadi lupa posisinya. Setelah ini bagaimana dia akan mendapatkan kebahagiaan kecilnya menatap Kirana dalam diam setiap break time-nya? Mereka pasti akan canggung setelah ini, padahal mereka belum begitu akrab satu sama lain.


Kirana langsung kembali masuk ke balik meja bar untuk bersiap mungkin akan ada pelanggan yang membutuhkan bantuannya. Tidak lama kemudian Kirana melihat Keenan masuk dan melaluinya begitu saja menuju ke dapur. Sepertinya dia melihat apa yang dilakukan oleh Bang Raihan tadi dan dia sekarang marah mengira Kirana bermain di belakangnya.


“Kee…?” panggil Kirana pada Keenan yang sedang berdiri di depan dispenser menghabiskan segelas air dengan tidak santai.


“Hmm?” jawab Keenan singkat.


“Ada yang mau aku omongin,” kata Kirana ragu.


“Nggak sekarang. Aku sibuk,” kata Keenan yang langsung meninggalkan Kirana begitu saja.

__ADS_1


Kirana dan Keenan menghabiskan separuh hari mereka dengan saling diam. Bahkan ketika mengantar Kirana pulang, Keenan juga tidak membuka mulutnya. Dia hanya menyalami Papa dan langsung pamit pulang. Kirana langsung menahan Keenan, dia minta Papa untuk masuk lebih dulu sedangkan dia masih tetap di sana untuk mengatakan apa yang sebenarnya pada Keenan.


“Kee, maaf bikin kamu marah,” kata Kirana.


“Besok. Sekarang udah malem, masuk sana nanti kamu kedinginan,” kata Keenan.


“Nggak Kee, aku nggak mau masuk kalau kamu belum maafin aku,” kata Kirana.


“Ki, masuk. Besok pagi aku jemput kamu, kita omongin ini,” kata Keenan membuat Kirana menyerah. Tatapan dinginnya terlalu menakutkan untuk Kirana.


Kirana mengikuti maunya Keenan. Dia masuk ke dalam rumah lebih dulu dan menatap Keenan yang mulai menjalankan motornya dari balik jendela. Kirana nyaris menangis jika bukan karena Bang Adnan tiba-tiba telepon entah apa maksudnya.


“Kenapa statusmu galau? Berantem?” tanya Adnan.


“Status apaan? Aku nggak pasang status,” kata Kirana.


“Berantem sama Keenan?” tanya Bang Adnan lagi.


Kirana segera melangkah masuk ke dalam kamar kemudian langsung menutup pintunya rapat-rapat. Kamarnya selama ini ada di lantai 2 sedangkan Papa dan Mama kamarnya di lantai 1, jika Kirana menutup pintu kamarnya tidak ada yang dengar dia menangis asal dia tidak berteriak.


“Kalau mau nangis ya nangis aja, Abang dengerin,” kata Adnan dengan penuh perhatian.


Memang beginilah Adnan, dia sering bertengkar dengan adiknya itu bukan karena dia tidak menyayanginya. Sebenarnya dia sangat sangat sangat menyayangi Kirana, hanya saja dia tidak mau memperlihatkan itu karena dia tidak ingin adiknya itu terlalu bergantung dengannya. Adnan memiliki caranya sendiri dalam menyayangi keluarganya.


Adnan tidak pernah terlihat memperhatikan Kirana, bahkan lebih sering mengejeknya. Tapi jika ada yang berani main-main pada adik kesayangannya itu, habis dia di tangan Adnan. Pernah sekali, Kirana dijahili oleh teman-temannya. Karena ada yang tidak suka Kirana dekat-dekat dengan Keenan. Sebenarnya jika bukan karena dia memergoki Kirana jatuh karena kakinya disandung dengan sengaja dia akan diam saja, tapi berhubung dia lihat, dia video saja dan dia serahkan pada Keenan. Hari berikutnya dia dengar cerita dari Lucy kalau orang itu sudah dibentak oleh Keenan.


“Udah?” tanya Adnan setelah tidak lagi mendengar tangisan Kirana.


“Dek?” Adnan memanggilnya karena tidak mendapatkan respon.


“Tidur ya? Kampret udah ditemenin sekarang malah ditinggal tidur,” kata Adnan.

__ADS_1


Dia terdiam kemudian kembali bicara, “Kamu sudah besar Kirana, sudah bukan adik kecilnya Abang lagi. Baik-baik ya sama Keenan,” gumam Adnan sebelum mematikan sambungan teleponnya.


__ADS_2