Baret Biru

Baret Biru
16. Pilihan Hati


__ADS_3

Setelah cukup lama saling diam dan tenggelam dalam lamunannya masing-masing, Raihan memberanikan diri untuk bicara. Sebenarnya tujuannya sudah pasti, alasan dia mengajak Kirana jalan-jalan hari ini adalah untuk menyatakan perasaannya pada Kirana, tapi entah kenapa keberaniannya hilang begitu saja sekarang.


“Kirana…, Abang mau ngomong sesuatu boleh?” tanya Raihan.


“Tinggal bilang saja Bang, kenapa?” kata Kirana.


“Dek, menurut kamu kalau ada laki-laki yang datang ke kamu dan menyatakan perasaannya kamu akan bagaimana?” tanya Raihan.


“Aduh…, kenapa pula kamu harus bertanya begitu. Bodoh kamu Raihan…, bodoh,” batin Raihan segera menyesali ucapannya tadi.


“Abang lagi naksir cewek ya?” tanya Kirana.


“Iya…, orang itu kamu,” batin Raihan. “Iya. Abang lagi suka sama cewek tapi Abang bingung bagaimana cara mengungkapkannya,” kata Raihan.


“Tergantung niat Abang saja. Kalau Abang sudah yakin sama cewek itu ya Abang bilang. Kalau Abang kelamaan mikir keduluan orang lho,” kata Kirana.


“Berarti kalau Abang confess kamu nggak akan marah?” tanya Raihan.


“Maksud Abang?”


“Abang suka sama kamu Dek, Bang Raihan suka sama Dek Kirana,” kata Raihan akhirnya berhasil menyatakan perasaannya.


“Bang…, tapi Kirana kan…,”


“Abang tahu. Tapi Abang nggak bisa menolak keinginan Abang untuk bisa menjagamu. Abang tulus mencintaimu,” kata Raihan.


“Bang, maaf. Bukannya Kirana mau menolak tapi Kirana memang belum mau menerima siapapun.”


“Abang paham. Tapi kalau kamu izinkan Abang mau bantu kamu untuk lupakan Keenan. Abang mau bantu kamu bangkit dari keterpurukanmu. Anggap saja Abang melakukan ini untuk kebanggaan Abang sendiri,” kata Raihan.


“Abang nggak akan ngajak kamu pacaran. Biar kamu yang putuskan akan seperti apa hubungan kita kedepannya. Jangan hanya karena Abangmu kamu menerima Abang. Apapun nanti keputusanmu, Abang janji persahabatan Abang dan Abangmu akan tetap baik-baik saja. Kami berdua tidak akan terpengaruh dengan keputusanmu meski kamu nanti menolak Abang.”

__ADS_1


...***...


Sejak pulang sore tadi, Kirana hanya berdiam diri di kamarnya. Dia tidak mau keluar bahkan hanya menjawab nanti ketika Papa mengajaknya makan malam bersama. Bang Adnan belum pulang padahal hanya Abangnya itu yang bisa membujuk Kirana. Papa dan Mama sudah tidak mampu membujuk gadis itu. Lebih tepatnya Papa dan Mama tidak pernah berani memaksakan apapun lagi pada Kirana.


“Assalamualaikum…,” sapa Adnan yang baru kembali dari pekerjaannya.


“Alhamdulillah kamu pulang. Bang, Kirana di kamar dari sore tadi diem aja nggak ada suaranya. Coba kamu cek adekmu takut Mama dia kenapa-napa,” kata Mama.


“Tapi masih hidup kan?” tanya Adnan dengan entengnya sambil mencomot tahu goreng di atas meja.


Plakk


“Kamu ini! Mama lagi serius malah kamu bercandain. Nggak bener kamu juga lama-lama,” kata Mama.


“Maaf Mama bercanda, itu Kirana nggak akan kenapa-napa. Dia cuma galau aja mau nerima Raihan atau nggak,” kata Adnan.


“Raihan? Raihan anak om Nandar?” kali ini Papa yang bertanya.


“Kenapa nggak diterima saja. Anaknya baik, keluarganya juga baik. Kalau dia jadi mantunya Om Nandar Papa sama Mama nggak akan khawatir dia disakiti di keluarga barunya,” kata Papa membuat ekspresi Adnan semakin flat.


“Papa lupa ya kondisi Kirana kaya apa? Kasih space lah Pa biar dia beranikan diri dulu,” kata Adnan.


“Mau sampai kapan? Adikmu itu usianya sudah cukup. Eh kamu itu juga, kalau digondeli adikmu terus-terusan kapan kamu mau menikah ha? Teman-teman Papa yang sepantaran kebanyakan sudah gendong cucu. Sadar lah kamu ini anak laki-laki, anak sulung Papa,” kata Papa.


Adnan hanya berjalan naik. Dia akan mulai berdebat lagi dengan Papa dan Mamanya kalau dia terus berada di sana. Memang sih yang dikatakan Papa ada benarnya. Kalau Kirana tidak segera memiliki pasangan Adnan tidak akan mampu melanjutkan hidupnya sendiri. Adnan sudah terlanjur berjanji untuk tidak menikah jika Kirana belum bahagia. Paling tidak dia harus memastikan dulu adiknya itu baik-baik saja.


Adnan masuk ke dalam kamarnya hanya untuk melepaskan seragamnya dan mandi, kemudian segera ke kamar Kirana yang jelas sedang galau berat setelah ditembak tiba-tiba. Raihan juga sih suruh siapa tidak sabar. Sudah dibilang nanti, masih saja ngegas.


“Ki?” panggil Adnan sambil mengetuk pintu.


“Masuk aja Bang, nggak dikunci,” jawabnya dari dalam.

__ADS_1


“Nah kan bener si monyet lagi galau,” kata Adnan sambil menyalakan lampu kamar Kirana.


Kirana sempat memejamkan mata karena kaget dengan cahaya terang yang tiba-tiba. Adnan meminta Kirana agak menggeser duduknya agar dia bisa ikut duduk di tempat tidur Kirana yang serba pink. Dia duduk di sebelah adiknya yang terus memainkan cincin yang Adnan sadari adalah cincin pertunangannya dengan Keenan. Ada satu sayatan halus di hati Adnan memandangi adiknya menatap cincin itu dengan pandangan setengah melamun.


“Bang aku bingung,” kata Kirana tanpa menoleh pada Abangnya. Pandangannya masih terus terpaku pada cincin di tangannya.


“Kalau kamu minta saran dari orang pasti semuanya akan minta kamu untuk nerima Raihan,” kata Adnan.


“Tapi nggak segampang itu Bang,” kata Kirana.


“Memang nggak mudah menerima orang baru di dalam hidupmu padahal di hati masih terukir nama orang lain. Tapi kalau kamu mau mencoba membuka dirimu, Abang yakin akan ada kebahagiaan besar yang menantimu di depan sana,” kata Adnan.


“Tapi Bang, setelah disakiti Keenan dengan cara yang seperti itu aku nggak bisa percaya lagi sama janji laki-laki. Seluruh hidupku sudah aku siapkan untuk bisa bersama dia, tapi dia tiba-tiba pergi gitu aja bahkan tanpa pamit,” kata Kirana.


Hati Adnan kembali berdenyut sakit. Kirana tidak tahu tentang kondisi mental Keenan yang sempat terguncang dan dia juga tidak paham jika laki-laki itu bukan meninggalkannya. Dia hanya mengorbankan perasaannya demi Kirana bisa hidup dengan lebih baik tanpa dirinya.


Di satu sisi, Adnan bukannya membantu dia malah meminta Kirana menerima orang lain. Jujur saja Adnan merasa dirinya sudah begitu jahat pada adiknya sendiri. Tapi Adnan juga tidak berdaya. Pikirannya buntu. Andaipun Adnan katakan yang sebenarnya sekarang, sudah tidak akan berarti apa-apa. Kirana dan Keenan sudah terlalu jauh untuk disatukan kembali. Apalagi Adnan tahu jika Keenan sekarang sudah memiliki kehidupannya yang baru.


“Dek…, maafin Abang ya,” batin Adnan.


Adnan menggenggam tangan Kirana, dia mencoba menguatkan adiknya yang memang sedang bingung harus bagaimana.


“Bang, menurutmu kalau aku menerima Bang Raihan padahal aku masih belum melupakan Keenan salah nggak?” tanya Kirana.


“Salah sih, tapi bukannya Raihan bilang dia akan membantumu menghapus masa lalumu?”


“Terus menurut Abang bagaimana? Aku nggak enak menolak orang sebaik Bang Raihan. Aku sudah nggak utuh, itu fakta Bang dan belum tentu juga akan ada laki-laki lain yang mau sama aku selain Bang Raihan. Aku juga tahu soal komitmen Abang yang belum mau menikah kalau aku belum bahagia,” kata Kirana.


“Jangan korbankan dirimu demi orang lain Dek, Abang nggak mau kamu…,”


“Nggak Bang. Aku yang memilih untuk melakukannya. Jadi biar aku lakukan. Insyaallah aku kuat, tapi Abang janji ya kalau Kirana butuh Abang akan selalu ada buat Kirana. Suatu saat nanti kalau Abang sudah menikah Abang masih mau kan dengar cerita Kirana?” tanya Kirana.

__ADS_1


“Pasti.”


__ADS_2