Baret Biru

Baret Biru
30. Godaan Pengantin Baru


__ADS_3

Raihan kembali menjadi Raihan yang tegas dan keras begitu berpisah dengan Kirana. Setelah menuju ke polres dan melaporkan dirinya siap kembali bertugas, dia langsung berjalan ke ruang kerjanya dan memberikan arahan pada seluruh anggota timnya.


“Nih ndan rute malam ini, dan ini ada beberapa aduan yang akan kita usut nanti. Rencananya sih kita jalan lebih cepat dari biasanya. Gimana ndan setuju?” tanya Odi pada Raihan.


“Bisa sih. Nanti kita mulai briefing jam 9 terus langsung jalan ya. Kamu bilang sama anak-anak buat siap sebelum jam 9. Motor, mobil patroli juga dicek semua. Bensin dipenuhi sekalian,” kata Raihan memberikan arahan.


“Siap ndan.”


Raihan fokus mempelajari rute dan beberapa kasus yang sekitar terjadi selama dua minggu dia cuti. Dia dan Deden sahabatnya melaporkan rencana patroli mereka malam ini pada kapolres. Setelah mendapatkan ACC dan surat izin selesai dibuat Raihan baru bisa bersantai. Sekalian dia sholat maghrib sekalian dia menyusul Deden yang sudah lebih dulu makan di kantin.


“Han, traktir gue ya,” katanya.


“Minta traktiran mulu kapan gue ditraktirnya,” jawab Raihan.


“Ya kan lo yang lagi bahagia. Gila gila lo bisa meluluhkan hati sekeras batunya Adnan dan mengambil hati Pak Bagus. Mantap bener dah sahabat gue ini,” kata Deden yang memuji Raihan dengan maksud agar sahabatnya itu mau mentraktirnya makan.


“Soalnya gue anak kebanggaan Kombes Pol Nandar Suteja. Ya kali perkara ginian aja gue nggak bisa,” kata Raihan.


“Hmm iya juga ya. Ya lah yang pure blood mah beda,” jawab Deden.


Malamnya Raihan cukup mengeluh ketika melakukan patroli. Hanya ditinggal beberapa hari saja rasanya sudah seperti tidak melakukan patroli selama sebulan penuh. Selain tubuhnya yang merasa kaget juga dia menemukan satu orang wanita yang meracau di pinggir jalan dan terus berteriak-teriak tidak tentu arah.


Sebenarnya Raihan ingin membiarkan wanita ini begitu saja. Yang begini ini hanya akan menunda pekerjaannya. Benar kan, begitu Raihan mendekat wanita itu malah menubruk ke arahnya dan terus menangis sambil mengutuk semua orang.


Raihan terus mencoba menenangkannya tapi wanita itu terus saja mengatakan hal-hal yang tidak jelas. Lucunya lagi wanita itu mengaku sebagai mantan pacar salah satu anggotanya. Raihan sudah ingin tertawa sebenarnya tapi mau bagaimana lagi dia sedang bertugas. Mana warga setempat mulai berkerumun karena penasaran dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


“Bawa aja ini bawa. Den anter ke polsek Den,” kata Raihan sambil berusaha menjauhkan wanita itu darinya.


“Nggak. Bapak harus tanggung jawab. Saya sudah ditinggal suami saya. Bapak harus tanggung jawab,” kata wanita itu.


“Tanggung jawab gimana sih, saya ketemu anda juga baru ini. Udah ayo saya antar ke polsek biar ibu tenang dulu,” kata Raihan masih berusaha untuk sabar walaupun dia sudah hampir marah karena dia terus ditarik-tarik.


“Han, paling deket dari sini mah ke polres. Ke polsek jauh kan ini one way,” kata Deden.


“Terserah yang penting nggak di sini. Bisa bahaya ini kalau kaya gini di pinggir jalan. Nanti kalau ada apa-apa kita lagi yang disalahin,” kata Raihan.


Dua anggota tim langsung menariknya dan berusaha memasukkan wanita itu ke dalam mobil. Raihan terpaksa berpatroli menggunakan motor berboncengan dengan Deden dan membiarkan Odi membawa mobil mengantar wanita itu agar ditenangkan di polres.


“Han lo masih kuat nggak?” tanya Deden.


“Noh di depan ada orang mau tawuran keknya. Udah pada lari tuh,” kata Deden dengan santainya.


“Udah tau gitu lu masih nyantai. Kejar gobl*k,” kata Raihan yang langsung berteriak membuat Deden tancap gas mengejar para pelaku yang diduga akan melakukan tawuran.


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi dan Raihan beserta tim masih bertahan menyusuri setiap gang perkampungan untuk menangkap semua yang bisa dia tangkap. Deden baru kembali membawa 4 buah senjata tajam yang diduga akan dipakai oleh mereka yang ternyata ya anak kampung situ saja. Menyebalkannya lagi, salah satu dari anak-anak remaja salah gaul itu pernah beberapa kali tertangkap oleh Raihan ketika patroli.


“Naikin semua ke mobil bawa ke polsek. Capek saya ngurusin,” kata Raihan yang sudah terlalu lelah.


Sudah menjelang subuh dan Raihan belum tidur. Terhitung hampir 36 jam lamanya dia tidak memejamkan mata. Masalahnya, kemarin malam dia tidak bisa tidur sama sekali karena Kirana memintanya tidur di sebelahnya dan membuatnya takut membuat Kirana kembali gemetar, dilanjut perjalanan pulang, mampir ke cafe menemani Kirana dan ini lanjut patroli semalam suntuk. Fiks dia lelah.


...***...

__ADS_1


Tepat pukul 7, Kirana sampai di polres. Dia lebih dulu melapor pada pos jaga dan mengatakan jika dia kemari untuk mengurus administrasi sekaligus menemui bu kapolres untuk ikut menghadiri acara bhayangkari. Kirana belum memakai seragam karena memang belum jadi. Walaupun awalnya petugas jaga bingung dia siapa, tapi salah satunya berhasil mengenali Kirana ketika dia bersama Raihan mengantarkan undangan kemari beberapa minggu lalu.


“Mana pak Raihan? Mana Pak Raihan?!” teriak seorang wanita dan mampu didengar dengan baik oleh Kirana.


“Pak Raihan harus tanggung jawab karena Pak Raihan saya ditinggal pergi sama suami saya jadi Pak Raihan harus tanggung jawab sekarang,” kata wanita itu lagi.


“Tanggung jawab gimana sih Ibu ini masih mabuk. Diam Bu tenang,” kata Bang Odi yang baru saja selesai mencuci mobil langsung mendekati wanita yang dia antar kemari dini hari tadi.


Kirana melipir dan tidak mau dekat-dekat wanita itu. Kirana juga takut terlebih Papa dan suaminya sering bilang kalau Kirana tidak boleh dekat-dekat dengan orang yang sedang mabuk jadi dia mengacuhkannya dan mulai berjalan masuk ke kantor samping.


Odi yang melihat istri komandannya ada di situ mulai panik. Apalagi sekarang Raihan malah berjalan keluar dan membuat wanita itu langsung berlari dan memeluk Raihan begitu saja.


“Haduh mati aku. Eh Gus bantuin woy,” kata Odi pada salah satu petugas jaga.


“Iya Bang iya,” jawabnya.


“Astaghfirullah istighfar Ibu, jangan seperti ini. Saya itu punya istri punya keluarga di rumah. Mana mungkin saya tanggung jawab. Kenal ibu saja tidak. Ibu jangan mengada-ada,” kata Raihan yang terus berusaha melepaskan diri. Andai saja yang memeluknya ini laki-laki pasti sudah dia pukuli sampai babak belur.


Odi dan dua rekannya menyeret ibu itu kembali ke dalam sedangkan Raihan mengejar Kirana yang dia lihat berjalan keluar dari ruang administrasi bersama dengan Bu Kapolres menuju ke gedung serba guna.


“Di urus ya,” kata Raihan.


“Siap ndan.”


Raihan mendekati Kirana dan meminta izin pada Bu Kapolres untuk bisa bicara berdua saja dengan istrinya. Raihan menggandeng Kirana menuju tempat yang lebih kondusif dan meminta maaf pada istrinya. Dia pikir Kirana akan marah, tapi rupanya Kirana hanya tersenyum dan berkata, “Nggak papa kok Bang. Kirana paham," katanya membuat Raihan bengong dan tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2