
“Amira sayang, hari ini Amira main sama Akung Uti dulu ya. Mama pergi kerja dulu, nanti kalau Mama sudah pulang kita main bareng lagi. Pinter ya anak Mama,” kata Kirana pada putrinya yang asik bermain dengan finger food di matras yang sengaja digelar di depan tv.
Amira sempat mengikuti Kirana dan Lucy yang sudah berjalan menuju ke pintu. Wajahnya sedih seperti tidak mau ditinggal, tapi mau bagaimana lagi kalau Kirana tidak berangkat kerja dia tidak akan bisa menghidupi putrinya. Dia kan juga harus menabung untuk biaya pengobatan Amira yang memiliki jantung lemah dan membutuhkan perawatan ekstra dari dokter.
“Sayang, sebentar saja ya. Amira sama Uti dulu di rumah. Mama nggak lama kok, setelah jam makan siang nanti Mama pulang,” kata Kirana.
“Amira cucunya Uti, nonton tv yuk. Sambil mamam pisang ya,” bujuk neneknya.
Untung Amira mau lepas dari gendongan Mamanya dan mulai asik makan pisang bersama uti. Usia Amira sekarang sudah 8 bulan. Dia sudah mulai merangkak kesana kemari, dan yang paling sulit adalah setiap kali Mama Kirana dan Mama Lucy akan berangkat kerja dia pasti merengek minta ikut. Terkadang kalau Mama Kirana tidak sibuk dan hanya perlu mengawasi kerja karyawan dia akan diajak, tapi akhir-akhir ini Mama Kirana sedang sibuk.
Beberapa bulan tidak ditempati membuat rumah yang dibelikan Raihan untuk keluarga kecilnya mulai rusak. Tadinya Adnan dan Lucy membujuk Kirana untuk tinggal di rumah itu, tapi Kirana menolak. Dia tidak mau tinggal di sana seorang diri dan terus mengingat mendiang suaminya. Kirana mungkin berusaha untuk kuat, tapi jika dia diam sebentar saja dia bisa berhalusinasi melihat suaminya.
Saat ini Kirana memutuskan untuk menyewakan rumah itu. Raihan dalam surat wasiatnya juga mengatakan jika semua aset miliknya akan dia serahkan seluruhnya pada Kirana sebagai salah satu tanggung jawabnya sebagai ayah kandung Amira. Dia ingin walaupun dia sudah tidak ada Amira masih bisa dicukupi semua kebutuhannya dan Kirana membantu mewujudkan impian suaminya itu.
Selain membetulkan genteng yang bocor, Kirana juga mengecat ulang rumah kecil itu. Apalagi dalam waktu dekat akan ada yang menyewanya. Katanya rumah itu akan disewa untuk menjadi basecamp sebuah komunitas mahasiswa daerah jadi Kirana sedikit merubah bentuk rumahnya. Dia merubahnya menjadi konsep open space dan membelikan sebuah meja besar yang kemudian dia letakkan dekat dengan pantry.
“Kirana, kayaknya pagi ini aku harus absen dari cafe karena ada kumpulan di kantor. Kita gantian ya,” kata Lucy.
“Ok, tapi acaramu nggak akan sampai sore kan? Aku jam 1 ada janji sama penyewa rumah lho,” kata Kirana.
__ADS_1
“Nggak sampai. Jam 11 sudah sampai di cafe,” kata Lucy diangguki oleh Kirana.
“Kirana…, kamu hebat banget sih,” puji Lucy.
“Kamu sudah ngomong itu setiap hari Lucy. Aku bosen dengernya,” kata Kirana.
“Tapi kan kamu memang hebat. Jadi single mom itu bukan hal yang mudah tapi kamu bisa melakukannya,” kata Lucy.
“Aku nggak sehebat itu Cy. Kan selama ini ada kamu sama Bang Adnan yang bantuin aku. Di samping itu, aku diem-diem juga masih sering nangis apalagi kalau ingat Bang Raihan,” kata Kirana dengan raut wajah yang sedih.
“Ki, maaf aku cuma mau tanya. Apa kamu kepikiran untuk nikah lagi? Atau mungkin balikan sama Keenan?”
“Untuk nikah lagi aku nggak tahu, tapi buat balikan sama Keenan aku akan bilang nggak. Aku nggak peduli dia masih suka sama aku atau nggak tapi dia sudah nggak punya tempat di hatiku Cy. Lagi pula beberapa kali sakit hati karena laki-laki membuat aku jadi nggak percaya sama cinta lagi,” kata Kirana.
“Belum tentu. Tergantung niatnya. Balik lagi, aku sudah nggak percaya cinta. Toh aku bisa menghidupi Amira dengan kedua tanganku sendiri aja aku sudah cukup bersyukur. Aku hanya akan mempertimbangkan untuk menikah lagi kalau Amira yang minta. Tapi itupun kemungkinannya kecil kan. Amira sudah punya Papa Adnan, buat apa dia minta Papa lagi,” jawab Kirana.
“Tuh kan kubilang juga apa. Kamu hebat. Sering nangis kan bukan tandanya kamu lemah. Justru ketika kamu menangis kamu menunjukkan seberapa kuat dirimu. Karena setelah menangis badanmu akan meringan dan membuatmu bisa melangkah dengan harapan yang lebih besar, benar kan?” kata Lucy.
“Kayak kenal kata-kata itu,” kata Kirana.
__ADS_1
“Ningrum yang bilang waktu aku jatuh banget karena merasa nggak disayang sama kedua orang tuaku,” kata Lucy.
“Jaman kita masih jadi ABG labil,” tambah Kirana.
“Aku berharap akan sampai masanya dimana kita bertiga bisa kumpul, piknik sambil bawa bekal sendiri-sendiri terus kita share. Nanti waktu kumpul itu aku, kamu, dan Ningrum sudah sama keluarga kecilnya masing-masing. Biar nanti anakku, anakmu, dan anaknya Ningrum bisa main bareng dan jadi sahabat juga kaya Mamanya,” kata Kirana.
“Eh ngomong-ngomong soal itu aku dulu pernah membayangkan kalau nanti suami kita itu sahabatan. Ya aku bayanginnya dulu sih waktu kamu masih sama Keenan. Aku sempat kepikiran kalau sebenarnya jodoh kita tuh ya nggak jauh-jauh amat,” kata Lucy.
“Aku ngerti kok kenapa kamu bisa membayangkan hal itu. Toh yang namanya jodoh itu kita nggak pernah tahu, bisa jadi dia adalah orang yang diseret oleh semesta untuk bertemu dengan kita, atau dia bisa saja cuma teman atau sahabat kita sendiri. Kamu misalnya, siapa juga yang tahu ternyata jodohmu adalah kakak dari sahabatmu. Aku masih ingat banget lho jaman-jaman kita SMA kamu yang baru pertama kali ketemu Bang Adnan udah nggak kedip lihatnya mana setelah itu kamu sering banget modus cuma biar ketemu sama Bang Adnan walau cuma sebentar,” kata Kirana.
“Nggak tahunya sekarang jadi suami. Ketemu setiap hari sampe bosen aku dibuatnya. Waktu PDKT aku nggak kenal yang namanya ngambek apalagi sampe marah, kalau sekarang ada aja yang bikin marah. Entah perkara handuk basah yang ditaruh diatas tempat tidur atau kebonya Abang yang susah banget dibangunin,” kata Lucy.
“Bang Raihan juga gitu kok. Bang Raihan itu kalau ambil sesuatu nggak ditutup lagi habisnya. Entah botol kecap, saos, sabun mandi, parfume. Kalau nggak sampai menimbulkan perkara sih nggak papa tapi seringnya bikin masalah. Entah yang tumpah kemana-mana lah, bikin kotor segala macem. Pusing aku. Yang paling parah perkara kulkas Cy, Bang Raihan lupa nutup kulkas hampir semalaman. Untung waktu itu aku kebangun dan ambil minum di dapur kalau nggak sudah beku kali dapur Mama,” kata Kirana.
“Oh astaga jangan-jangan yang suka ninggalin kulkas nggak ditutup rapat Bang Raihan juga? Ya ampun aku pernah marahin Bang Adnan karena kupikir Abang yang teledor,” kata Lucy.
“Dua sahabat itu memang sama-sama teledor Cy. Kan kamu juga tahu sendiri,” jawab Kirana.
“Tapi mau gimana lagi, nggak peduli seteledor apa…,”
__ADS_1
“Kalau sudah terlanjur cinta kita bisa apa,” kata Kirana mengikuti kalimat Lucy membuat keduanya tertawa dengan cukup lepas.
Dalam hati Lucy bersyukur Kirana bisa lambat laun bangkit berdiri. Dia sudah tidak lagi membicarakan Bang Raihan dalam tangisan tapi dalam tawanya juga. Walaupun agak menyayat hati setiap kali Kirana menyebut nama mendiang Raihan bahkan tanpa sadar. Mau bagaimana lagi, Kirana tidak berbohong soal perasaannya. Dia benar-benar mencintai suaminya, berbeda dengan anggapan orang yang berkata jika Kirana hanya berterima kasih pada Raihan yang mau menerima dia dengan kondisi tidak utuh.