
Pada kesempatan hari ini Kirana bergantian mengunjungi rumah calon mertuanya. Galih sudah lama tidak memiliki orang tua, namun dengan kebaikan hati Pratama Aji dan Adiratna Galih bisa merasakan memiliki keluarga kembali. Walaupun Galih benar-benar bergabung bersama keluarga ini belum lama tapi dia tidak pernah merasakan penolakan bahkan dari Nusantara yang merupakan bungsunya Aditama Family.
Kirana sudah kembali dari cafe sejak siang tadi. Berhubung Lucy sedang ada di cafe dan Kirana memang tidak memiliki pekerjaan yang mendesak dia diperbolehkan untuk pulang lebih awal. Kirana dan Kaori saat ini tengah menjajah dapur Bunda Ratna dan mengeluarkan hampir semua perkakas memasaknya untuk membuat ini dan itu.
“Kaori, Kirana.”
“Iya yah?”
“Request terong balado ya,” minta Pak Aji pada menantu dan calon menantunya.
“Beres.”
“Ayah pergi dulu sama Bunda, nanti kalau Nusantara sampai kok Ayah belum pulang Aksa atau Galih suruh jemput di stasiun,” titah Ayah.
“Shap ndan,” jawab Kaori.
Setelah pamit dengan kedua menantunya, Pak Aji berjalan mendekati Amira yang tengah bermain dengan Azka, putra Aksara dan Kaori yang baru berusia 3 bulan. Azka memang belum banyak melakukan kegiatan. Dia hanya akan menggeliat, menendang-nendang, dan tertawa ketika digoda tapi Amira terlihat begitu asik bermain bersamanya.
“Amira, Azka, kakek pergi dulu ya,” pamit Pak Aji.
“Ati-ati kakek,” kata Amira sembari cium tangan.
“Tiati Pa, jangan pulang kemaleman, nggak usah sok-sokan ngide stay cation segala. Itu mantumu masak banyak, pokoknya Ayah sama Bunda wajib pulang. Honeymoonnya besok lagi,” kata Aksara yang duduk mengawasi Amira dan Azka.
“Sewot banget sama bapak sendiri kamu, heran. Anak siapa sih?”
“Anak sulung kebanggaan Ibunda ratu Adiratna Widiyatna, apa?” kata Aksara.
“Sak karepmu,” jawab Pak Aji dengan nada malas. Sudah hafal dia dengan jawaban Aksara, tapi anehnya dia terus nyeplos bertanya demikian.
“Mau kemana sih Pak, rapi amat?” kali ini Galih yang bertanya.
“Kencan lah, mumpung ibumu mau diajak kencan,” jawab Pak Aji.
“Emang bener-bener pengantin baru lupa umur,” Galih ikut-ikutan sewot.
“Dahlah Ayah berangkat, ketimbang jadi bulan-bulanan kalian berdua. Assalamualaikum,” akhirnya Pak Aji benar-benar pamit.
__ADS_1
“Waalaikumsalam,” jawab seisi rumah.
Kirana dan Kaori melanjutkan pekerjaan mereka di dapur, Aksara tengah mencuci pakaian sedangkan Galih membantu menidurkan Azka dan Amira di matras yang ada di depan tv. Kaori duduk sembari membuat lumpia, sedangkan Kirana berdiri di depan kompor mengecek kuah soto yang sedang dimasaknya.
“Ki…, tahu nggak?” tanya Kaori.
“Nggak.”
“Belum cerita sayang,” kata Kaori.
“Cerita dong biar aku tahu,” jawab Kirana yang berhasil membuat kesal temannya.
“Aku lagi seneng banget. Soalnya kamu mau jadi iparku. Dulu masih inget nggak kita pernah bercanda kalau aku pengen banget kamu sama aku sama-sama jadi bhayangkari, kalau datang pertemuan bareng, ada arisan bareng, bakti sosial juga bareng? Sekarang semua candaan kita waktu itu akan jadi kenyataan,” kata Kaori.
“Kirain kenapa. taunya karena itu,” kata Kirana yang diam-diam tersenyum. Dia merasakan penerimaan yang begitu besar.
“Kamu tahu nggak? Aku juga sama nggak nyangkanya. Berkali-kali ketemu, berkenalan, dekat, dan meletakkan hati pada seseorang. Aku hanya berharap aa Galih adalah yang terakhir. Apapun yang terjadi dia harus jadi yang terakhir,” kata Kirana pada Kaori.
“Jangan sungkan buat cerita ya, kalau mungkin temen-temenmu itu lagi sibuk aku mau kok dengerin ceritamu. Dulu kita pernah deket Ki, kuharap kita bisa balik akrab lagi,” kata Kaori.
“Insyaallah,” jawab Kirana sambil tersenyum.
Ketika jam makan malam tiba, seluruh keluarga Aditama berkumpul di ruang tengah untuk makan malam bersama sekaligus tiup lilin. Berhubung ulang tahun pernikahan Pak Aji dan Bu Ratna berdekatan dengan ulang tahun keduanya, jadi malam ini tidak hanya merayakan ulang tahun pernikahan tetapi juga ucap syukur dari Pak Aji dan istri karena masih diberi usia dan kesempatan untuk bernafas.
“Yee~ selamat ulang tahun Ayah, Bunda,” kata Kaori yang bertepuk tangan bersama putranya.
“Makasih sayang,” jawab Bu Ratna.
“Selamat ulang tahun ya tante, panjang umur dan sehat selalu, om juga,” kali ini Kirana yang mengucapkan selamat.
“Ki, coba diganti nyebutnya. Gatel banget nih Ibu dengernya,” kata Bu Ratna mencoba mengoreksi panggilan Kirana.
“Panggilnya Ibu atau Bunda aja Ki, jangan tante. Orang udah mau nikah aja lo sama Galih,” kata Aksara.
“Boleh emang?” tanya Kirana dengan polosnya.
“Boleh lah, coba panggil sekali lagi yang bener,” kata Bu Ratna.
__ADS_1
“Iya Bu,” kata Kirana.
“Nah gitu dong kan enak dengernya,” kata Bu Ratna membuat Kirana tersenyum.
“Ngomong-ngomong soal nikah, kapan kalian mau nikah?” tanya Pak Aji.
“Bapak kapan ada waktu? Anterin lah masa iya aku ke sana sendirian Pak,” kata Galih.
“Bukannya udah biasa ya ke sana sendirian?”
“Atuh Pak, ini beda perkaranya,” rengek Galih.
“Iya, iya, atur aja nanti Bapak ngikut,” kata Pak Aji.
“Inget ya Bunda pernah bilang, jatuh cintalah perlahan dan…,”
“Nikmati prosesnya,” jawab Galih dan Aksara bergantian.
Galih lebih dulu mengantar Kirana dan Amira untuk pulang ke rumah, selama dalam perjalanan Amira terlihat begitu bahagia melihat ke kanan dan kiri yang sebenarnya pemandangan itu juga sudah sering dia lihat, tapi karena suasana hatinya sedang baik saat ini pemandangannya jadi berbeda.
“Papa, papa, lihat itu ada kuda,” kata Amira pada Galih yang tengah berusaha menembus keramaian kota.
“Iya, Papa nggak bisa lihat dong Papa kan fokus ke jalan. Amira saja yang lihat ya, nanti Amira cerita sama Papa,” kata Galih begitu lembut pada putrinya.
“Amira jam segini belum ngantuk, besok pagi kalau bangun kesiangan gimana hayo,” kata Kirana sembari mengelus rambut Amira yang sudah mulai panjang.
“Ngantuk Ma, tapi Amila belum mau bobok. Belum dibacain dongeng sama Papa,” kata Amira.
“Amira kan sudah besar masa mau dibacakan dongeng terus sih. Ini kan sudah sama Papa, seharian juga sudah main bareng. Sekarang tidur aja yuk, sini Mama pangku,” kata Kirana.
“Betul tuh kata Mama, Amira nggak dibacain dongeng sama Papa kan nggak papa. Papa akan tetep sama Amira terus kok, mulai saat ini Amira nggak perlu takut lagi Papa akan pergi. Papa tahu Amira minta Papa bacain dongeng biar Papa bisa sama-sama Amira terus kan?” tanya Galih.
“Abis Amila takut Papa akan pelgi kaya Papa Laihan,” katanya tiba-tiba sedih.
“Nggak kok. Papa nggak akan kaya Papa Raihan yang pergi. Papa akan selalu ada sama Amira sama Mama juga. Papa janji,” kata Galih.
Amira tersenyum dan mulai membetulkan posisinya agar dia nyaman tidur dalam pangkuan Mamanya yang juga sudah lelah, “Papa janji ya, Papa akan selalu sama Mama sama Amila, Papa akan selalu sayang sama Mama juga,” kata Amira.
__ADS_1
“Iya Papa janji,” jawab Galih.
“Tuh udah dijanjiin sama Papa. Sekarang Amira tidur ya, doa dulu jangan lupa,” perintah Kirana langsung dilaksanakan oleh Amira yang mulai berdoa.