
Kirana tiba-tiba mengerang. Perutnya terasa sakit tidak karuan. Amira yang ada di sebelahnya mulai menangis ketakutan ketika ibunya seperti hampir pingsan merasakan sakit. Keenan dan Ningrum langsung kaget dan sontak membawa Kirana ke rumah sakit. Begitu sampai di sana, dokter berkata Kirana untuk tidak kembali ke rumah. Kondisi psikisnya benar-benar mempengaruhi kandungannya saat ini dan dokter tidak mau mengambil resiko sehingga Kirana dirawat di rumah sakit.
Semalaman Kirana ditemani oleh Mama dan Bunda merasakan nyeri di perutnya, “bunda…, perutku masih sakit,” kata Kirana pada Bu Ratna.
“Yang sabar ya, kamu tenangkan pikiranmu tarik nafas yang panjang, buat tubuhmu rileks ya,” kata Bu Ratna.
“Mama…,”
“Nggak papa sayang, semuanya akan baik-baik saja,” kata Mama.
“Jangan kasih tahu aa,” kata Kirana.
“Mama dan Bunda nggak akan kasih tahu siapa-siapa, kamu tenang saja ya,” kata Bunda.
“Amira?”
“Amira ada di rumah sama Akung dan Mama Lucy. Kamu tidak perlu khawatir Kirana,” kata Mama.
“Aku boleh tidur kan?” tanya Kirana lagi.
“Boleh dong, kenapa?”
“Aku takut, aku sempat lihat Bang Raihan soalnya,” kata Kirana.
“Nggak papa tidur saja, Mama sama Bundamu di sini nanti biar kami berdua yang bicara sama Bang Raihan,” kata Mama.
Mama hampir menangis melihat Kirana sampai mengigau begini. Mau bagaimana lagi, Nama Raihan Dhananjaya tidak akan pernah hilang dari benak Kirana. Selain dia adalah suami pertama Kirana, Raihan juga yang berjasa besar membantu Kirana menghilangkan perasaan takutnya juga membantu Kirana untuk bangkit berdiri lagi.
Selepas memastikan Kirana tertidur, Bunda dan Mama duduk berjejer di sofa di sebelah tempat tidur Kirana. Mama memberikan selembar selimut pada besannya kemudian ikut duduk di sebelahnya.
“Mbak…,” kata Mama.
“Hmm?”
__ADS_1
“Lihat anakku kayak gini rasanya lemes juga,” curhat Mama.
“Waktu aku nemani Kaori lahiran juga begini. Itu saja Kaori sehat wal afiat, apalagi Kirana yang pakai sakit segala. Sudah begitu dia sendirian,” jawab Bunda.
“Padahal dulu aku sudah bersyukur sekali pacar dia bukan dari kalangan abdi negara. Eh tidak tahunya takdir tetap membawanya ke dunia ini,” kata Mama.
“Hmm, nggak semua orang kuat dan siap jadi bhayangkari kan. Aku yakin semuanya begitu. Dulu pertama kali aku menikah dengan Ayahnya anak-anak juga sama. Apalagi ketika itu kami tinggal di perantauan. Dengan kondisi aku terus ditekan sama almarhumah Mama karena nggak kunjung punya anak,” kata Bu Ratna.
“Sama Mbak, dulu aku juga rasanya ingin nyerah saja. Apalagi kalau ingat anak-anak sering nanyakan kemana Papa mereka pergi, kapan Papa pulang, rasanya udah pengen lari nyusul suami ke medan. Satu yang aku syukuri adalah kondisi Indonesia sudah tidak bergejolak seperti sebelumnya. Pun harus melepas mereka berjuang, perjuangan mereka tidak lagi seekstrem dulu,” Mama menambahkan.
Bunda tersenyum sambil mengangguk, “anakmu itu hebat banget lo, aku kenal Kirana itu bukanlah anak yang lemah. Aku yakin kok, dia mampu jadi lebih baik dibandingkan kita.”
“Tadi dokter bilang ada kemungkinan Kirana akan melahirkan sebelum HPL kan? Apa aku harus ngomong sama Galih ya? Dia kan bapaknya si bayi. Dia berhak untuk tahu kabar anak istrinya,” tanya Mama.
“Nggak usah, Kirana yang paling tahu Galih seperti apa. Aku yang ibunya saja nggak hafal, tapi Kirana hafal. Kalau Kirana bilang jangan kabari ya lebih baik tidak. Mungkin memang begitulah cara mereka,” jawab Bu Ratna.
“Besok saja, kalau pas Galih telepon biar Kirana sendiri yang beri tahu. Sekarang tidur gih sudah malam. Nih selimutnya pakai saja. Aku tidur di ruang kerjaku ya, kalau ada apa-apa kabari aku,” tambah Bu Ratna.
“Makasih Mbak, selamat malam,” kata Mama.
...***...
Paginya Kirana kembali di USG dan semakin siang sakit di perutnya semakin terasa hingga dokter menyatakan jika proses persalinan sudah dimulai. Kirana langsung syok. Bagaimana tidak, kandungannya menginjak usia ke 9 bulan saja belum tapi bayinya sudah harus lahir. Kirana langsung mengikuti beberapa macam tes hanya untuk memastikan jika Kirana akan baik-baik saja andai dia ingin melahirkan tanpa caesar.
Di lain tempat Galih merasakan hatinya begitu gusar. Seharian dia selalu kepikiran Kirana dan menjadi tidak fokus karena pikirannya itu. Karena semakin tidak sanggup merasakan, Galih menyempatkan menghubungi Kirana sore ini. Berhubung dia juga akan bersiap untuk pulang dia mencoba menghubungi Kirana.
“Neng…,”
“Aa…,” Kirana menyapanya dengan tangisan dan sedikit rintihan.
“Ya Allah, Kirana? Kamu kenapa nangis? Kamu baik-baik aja kan?” tanya Galih yang langsung panik.
“Dari sore aku udah kontraksi a, aa kapan pulang?” tanya Kirana yang akhirnya menanyakan kapan suaminya akan kembali.
__ADS_1
“Malam ini Ma, sampai besok pagi dini hari. Mama, maaf sekali, jangan tunggu aku Ma, kalau memang kamu sudah harus masuk ruang bersalin jangan hanya karena nunggu aku kamu jadi kenapa-napa. Please Ma,” kata Galih.
Kirana menggeleng, walaupun Galih tidak bisa melihatnya tentu saja, “aa, pulang langsung ke rumah sakit,” kata Kirana.
“Iya, aa akan langsung ke rumah sakit,” kata Galih.
... ***...
Sejak mendapatkan kabar dari istrinya, Galih tidak lagi dapat fokus mengerjakan pekerjaannya. Dia bahkan hampir saja salah melapor kepada komandannya. Galih bahkan sempat dimarahi habis-habisan.
“Ndan, saya juga manusia. Istri saya sedang melahirkan saat ini wajar ndan kalau saya tidak fokus. Kata-kata komandan untuk saat ini tidak dapat saya terima, maaf,” kata Galih.
Mendengar penuturan Galih komandannya justru meminta maaf dan segera membubarkan pasukan mereka agar bisa segera sampai di markas polda. Sudah hampir sebulan lamanya mereka bertugas dan saat ini kondisinya sudah dinyatakan aman. Selain itu tim dari polda lain juga sudah dikirim sehingga pasukan yang Galih bawa dapat dipulangkan.
“Kalian hati-hati di jalan. Kami pergi lebih dulu,” kata Adnan pada driver yang membawa pasukan mereka.
Galih, Adnan, dan seorang driver menaiki mobil dinas dan melaju jauh lebih dulu dibandingkan yang lainnya. Berbeda dengan pasukan mereka yang beberapa kali beristirahat, di mobil komandan mereka bergantian terus menerus untuk menyetir. Semalaman mereka kebut-kebutan hingga sekitar pukul 1 dini hari Galih berhasil sampai di rumah sakit.
Dia langsung berlari keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit dengan mengenakan seragam dan kelengkapannya. Galih berusaha untuk menenangkan dirinya sebelum dia melangkah masuk ke dalam ruang inap Kirana dimana dia menemukan Kirana tengah merintih ditemani Mama.
“Assalamualaikum…,” kata Galih mulai melangkah masuk.
“Waalaikumsalam, aa…,” Kirana langsung menangis.
Galih menangkup kedua pipi Kirana dan mencium keningnya. Dia meminta maaf sekaligus mencurahkan segala dukungannya untuk Kirana yang sempat merintih kembali, “Ma, sudah sampai mana?” tanya Galih pada Kirana.
“Nggak tahu,” kata Kirana.
“Kirana sudah mulai bukaan tapi sempat berhenti. 30 menit lalu dia baru dipacu dan kita sedang menunggu perkembangannya,” kata Mama menggantikan Kirana untuk menjawab.
“A sakit…,” kata Kirana.
Galih melepaskan sarung tangannya, kemudian memasukkan tangannya ke dalam selimut Kirana. Meletakkan tangannya di perut Kirana yang terasa kaku dan mulai turun ke bawah. Dia mengelus tepat di atas luka sayatan panjang yang Kirana dapatkan ketika melahirkan putri pertamanya.
__ADS_1
“Yang sabar ya Ma, tarik nafas dalam-dalam, terus hembuskan. Di atur nafasnya, Mama pasti bisa, Papa percaya Mama pasti bisa,” kata Galih pada istrinya.