Baret Biru

Baret Biru
68. Dengan Maksud Berkenalan


__ADS_3

“Wah nekat ni bocah. Mbul lo udah bosen hidup apa gimana?” tanya Adnan dengan wajah menyeramkan bahkan jauh dibandingkan mode provostnya yang sudah menyeramkan.


“Papa. Jangan gitu kenapa sih. Nggak sopan kamu juga, ada tamu bukannya dipersilahkan masuk malah disetrap di depan pintu,” tegur Lucy membuat Adnan langsung meminta maaf pada istrinya.


“Papa~” sapa Amira yang baru keluar dari dalam rumah berlari ke arah Galih untuk langsung masuk ke dalam pelukannya.


“Kamu, sudah dibilang dokter Hengki jangan lari-lari kan. Jangan lari-lari dulu nanti sakit,” kata Galih sambil merapikan anak rambu Amira yang berantakan.


“Iya maaf. Habis Amila kangen sama Papa. Malam ini Amila boleh kan tidul sama Papa?” tanya Amira.


“Tanya Mama dulu, boleh nggak,” jawab Galih.


“Mama boleh ya?”


“Asal Amira tidurnya cepet. Kasihan Papa besok kerja,” jawab Kirana.


“Eh diajarin siapa kamu bahasain Amira papa ke orang asing?” tanya Papa Bagus kali ini. Papa berdiri berkacak pinggang di belakang Galih dan Kirana.


“Allahu akbar maju kena mundur kena,” gumam Galih membuat Kirana yang mendengarnya tertawa.


“Salahmu suka kok sama anak polisi,” jawab Kirana tidak kalah jutek.


Galih menarik nafasnya dalam kemudian berbalik sambil menampakkan senyum terbaiknya untuk menyalami Papa Kirana. Galih memperkenalkan diri dengan sikap sempurna dengan lengan kirinya tetap menggendong Amira yang bingung kenapa Papanya tiba-tiba jadi begitu takut pada Akung dan Papa Adnan.


“Ho ini yang katanya naksir adekmu Nan? Orang ini?” tanya Papa pada putra sulungnya.


“Menurut komandan yang mana lagi?” jawab Adnan.


“Hmm…,” kata Papa sambil menyilangkan tangan dan menatap Galih yang seperti sedang dihukum di depan kelas karena tidak mengerjakan PR.


“Akung jahat,” celetuk Amira tiba-tiba membuat Papa dan yang lainnya kaget. Mereka sebenarnya tahu Galih hanya sedang dikerjai tapi Amira sudah menangis duluan.


“Akung jangan malahin Papa, Papa kan nggak salah apa-apa. Papa baik, pokoknya Amila nggak mau ketemu Akung kalo Akung malahin Papa Amila,” kata gadis kecil itu sambil memeluk leher Galih yang setia menggendongnya sejak tadi.


“Ee…, nggak gitu Amira, Akung nggak marah kok,” jawab Papa gelagapan.

__ADS_1


“Bohong! Papa Adnan juga nggak boleh jahat!” katanya kali ini pada Papa Adnan juga.


“Amira, sini sama Mama. Papa Galih mau ngobrol sama Papa Adnan sama Akung. Kita masuk yuk buatin minum buat Papa Galih,” ajak Kirana. Anak yang menangis itu langsung melepaskan pelukannya dan masuk dalam gendongan Mamanya.


Begitu Amira, Kirana dan Lucy masuk ke dalam rumah, Adnan dan Papa mengajak Galih untuk duduk. Keduanya lebih dulu meminta maaf pada Galih kemudian dengan nada yang lebih enak didengar keduanya mulai menanyakan apa maksud dan tujuan Galih ingin bertemu.


“Jadi begini, Ndan,” kata Galih agak canggung.


“Panggil Papa saja, kita lagi nggak dikantor. Lagian saya bukan atasanmu,” kata Papa.


“Iya Ndan, eh maksudku Pa,” kata Galih.


“Nah gitu dong. Yang tegas kalau laki-laki bicara. Brimob kan kamu?”


“Iya Pa.”


“Papa ini dulu juga brimob, Abangnya Kirana juga brimob. Kamu sudah tahu sendiri bagaimana budayanya di brimob itu. Jadi jangan lembek kalau dihadapan Papa sama Adnan. Nggak suka Papa sama laki-laki yang bicaranya nggak tegas,” jawab Papa.


“Maaf Pa, grogi,” kata Galih dengan suara yang kecil.


“Saya mau minta izin sama Papa sama Bang Adnan juga. Saya kok kayaknya suka sama anak Papa, kalau diperbolehkan saya ingin jadi lebih dekat dengan Kirana dan Amira tentunya,” kata Galih.


“Tujuan awalmu mau jadi Papanya Amira atau jadi suaminya Kirana?” kali ini Adnan yang bertanya.


“Jadi Papanya Amira bang, dan lama-lama jatuh hati juga aku sama adikmu,” jawab Galih.


“Kamu mau minta izin pendekatan itu mau seberapa dekat?”


“Sedekat yang saya bisa Pa. Kirana sudah saya tanya dan dia sudah mengajukan syarat pada saya, ini saya izin sama Papa andai saya sering main ke sini jangan diusir Pa,” kata Galih.


“Nan, panggil Kirana gih,” minta Papa.


Awalnya Galih kemari hanya untuk berkenalan dengan Papa dan keluarga Kirana tapi kenapa malah ditanya sejauh ini. Bingung juga dia pada akhirnya. Tapi karena sudah terlanjur ya sudah dia jalani semuanya apa adanya. Lagi pula hatinya sudah yakin, dia memilih Kirana dan siap berkomitmen untuk memberikan segalanya untuk Kirana dan Amira.


“Gimana Pa?”

__ADS_1


“Dek, ini ada yang datang melamarmu. Kamu mau nggak?” tanya Papa.


“Ha? Melamar? Anu Ndan, saya bukan mau melamar. Saya baru mau kenalan,” kata Galih mengoreksi.


“Ya tapi suatu saat kamu juga akan datang lagi buat melamar kan? Terus bedanya apa sekarang sama nanti?”


“Ya sama saja sih…,” sudahlah Galih hanya bisa pasrah.


“Kirana sudah jawab a Galih kok Pa, keputusan Kirana ada sama Amira. A Galih pernah bilang akan membuat Amira tidak membenci Papanya jadi Kirana akan menunggu. Nanti setelah Amira tidak lagi membenci Papanya biar Amira yang tentukan apakah dia masih mau menerima A Galih sebagai Papanya atau hanya akan menerima Bang Raihan saja,” kata Kirana.


“Hanya satu itu syarat darimu nduk?”


“Sebenarnya Kirana ingin mengajukan satu syarat lagi,” jawab Kirana.


“Sebutin semuanya sekalian biar aa tahu harus bagaimana,” kata Galih.


“Aa boleh menyakiti hati Kirana, tapi kalau sampai aa menyakiti hati Amira Kirana nggak toleran. Amira adalah hartaku satu-satunya. Dia adalah hidup dan matiku, kalau sampai ada apa-apa pada putriku aku nggak akan segan sama aa,” kata Kirana.


“Nggak ada seorang ayah dengan sengaja menyakiti anaknya sendiri. Syarat darimu kuterima Ki,” kata Galih membuat Papa tersenyum.


“Ok sampai sini pembicaraan kita. Sementara kamu saya terima dekat dengan anak dan cucu saya. Saran Papa, selama kamu main di sini kamu kenalan juga sama Mamanya Kirana dan iparnya juga. Dua orang perempuan itu juga sama ngerinya sama Kirana jadi tugasmu juga harus membujuk mereka berdua biar jinak,” kata Papa diangguki oleh Adnan.


“Abang….!!!!” teriakan Lucy yang menggelegar terdengar sampai ke teras rumah.


“Kirana! Amira pingsan!”


Mendengar hal itu Galih tidak kalah cepat masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Amira yang memang tergeletak begitu saja di lantai. Lucy ditarik agak menjauh dari Amira sedangkan Kirana yang syok langsung menggendong Amira.


“Ayo Ki kita ke rumah sakit,” kata Galih langsung membantu Kirana menggendong Amira dan membawanya ke rumah sakit secepat yang dia bisa.


Begitu sampai di UGD, Amira langsung diambil alih oleh dokter Hengki. Galih melihat kedua tangan Kirana menyatu dan tergenggam begitu erat. Tubuhnya juga bergetar hebat sambil menangis.


“Abang jangan bawa Amira, kumohon…,” gumamnya terus menerus.


“Kirana, istigfar. Nggak akan ada yang bawa Amira pergi. Aku nggak akan mengizinkan siapapun membawa Amira pergi. Kamu yang tenang jangan begini, kasihan Amira. Tenangkan dirimu biar Amira nggak ikutan takut,” kata Galih mencoba menenangkan Kirana.

__ADS_1


__ADS_2