
“Ringan? Darimananya ringan Pak?”
“Ringan, kalau kamu menjalaninya dengan penuh rasa syukur. Soal apapun, sekecil apapun disyukuri. Alhamdulillah masih bisa bangun pagi ini, masih bisa menatap wajah istri, masih bisa dengar suara anak-anak. Tapi tanggung jawabnya harus dipikul seumur hidup. Bukan hanya tanggung jawab duniawi tapi akhirat juga. Akad nikah itu bukan cuma saya terima nikahnya, tapi saya terima gendutnya, saya terima ngomelnya, saya terima meweknya, sampai saya terima juga tanggung jawab atas dosa-dosanya," tutur Pak Aji.
“Ya itu kan berat Pak.”
“Tapi Allah kasih kita kekuatan untuk memenuhi tanggung jawab itu. Selama kamu masih mau terus meminta. Berdoa, ajari istrimu juga. Ngaji bareng-bareng, sholat bareng-bareng. Insyaallah tanggung jawab itu akan terasa ringan.”
“Kamu sendiri kan yang mengatakan kalau kamu memilih Kirana karena petunjuk dari Allah. Terus kenapa sekarang kamu ragu?” Galih terdiam. Benar kata Pak Aji. Tidak seharusnya dia meragukan takdir Allah.
“Allah itu sayang sama hamba-Nya. Allah memberikan ujian bukan untuk menggagalkan niatmu, tapi untuk tahu seberapa besar komitmenmu. Percaya sama Bapak, kalau kamu lulus ujian ini akan ada kebahagiaan besar yang menantimu di depan sana.”
“Kamu itu sudah berhasil memenangkan hati Kirana, kalau kamu bisa menggenggam tangannya, dijamin dia tidak akan berpaling dari kamu apapun yang terjadi,” lanjut pak Aji.
“Sekarang urusannya bukan antara kamu sama Kirana, tapi kamu dengan dirimu sendiri. Memilih untuk mundur atau maju memperjuangkan apa yang pantas untuk diperjuangkan,” kata Pak Aji.
Galih semakin terdiam. Pak Aji sudah kembali ke dalam kamarnya sedangkan Galih masih bertahan di tempatnya duduk. Dia terus berada di sana hingga tidak sadar jika dia kembali terlelap karena kepalanya jujur saja masih berat terasa. Dia baru tersadar ketika Bu Ratna mencoba menyelimutinya yang tidur sambil bersandar dinding.
“Jadi bangun. Maaf ya, lanjut tidur di kamar sana,” kata Bu Ratna.
“Ibu mau sholat ya? Maaf, aku ketiduran tadi habis ngobrol sama Bapak,” kata Galih segera mengumpulkan kembali kesadarannya dan berusaha bangkit.
“Memangnya kamu nggak mau sholat?”
“Emangnya sekarang jam berapa Bu?”
“Hampir setengah 6,” jawab Ibu.
“Astagfirullah, iya Bu. Ikut sholat,” katanya agak kaget.
Selepas sholat Galih segera bersiap untuk pulang. Dia tidak membawa apa-apa ketika datang kemari, padahal dia harus memimpin apel pagi ini. Kalau dia tidak segera berangkat sekarang dia bisa kena semprot lagi. Beruntungnya Pak Aji melihat Galih tampak tergesa. Beliau langsung menahan Galih untuk pergi.
“Hey mau kemana? Kamu lagi sakit gitu kok,” kata Pak Aji.
“Balik Pak, aku mimpin apel pagi.”
__ADS_1
“Biar Aksara yang mimpin. Kamu istirahat dulu,” jelas Pak Aji.
“Masa aku bolos Pak,” kata Galih.
“Kamu lupa di kantor Bapak atasanmu? Kamu sudah saya izinkan. Wis, kamu sekarang ngaso. Istirahat di rumah,” kata Pak Aji.
“Tapi Pak…,”
“Sebagai gantinya kamu temenin Ibu belanja nanti. Bapak harus ngantor,” kata Pak Aji akhirnya diiyakan oleh Galih.
“Galih, bantuin Ibu sini,” panggil Bu Ratna.
“Iya Bu,” jawabnya pasrah.
Galih membantu Ibu mengaduk bubur di panci sedangkan Ibu sibuk membuat kuahnya. Kalau Bapak di meja makan sedang menyuwir ayam dan memotong seledri. Galih sudah tahu jika Bu Ratna ini hobi masak-masak. Dia juga tidak jarang makan masakan Bu Ratna yang enak sekali menurutnya.
Tidak butuh waktu lama, bubur ayam buatan Bu Ratna sudah jadi. Galih ikut duduk bersama Bu Ratna dan Pak Aji yang saat ini mulai menikmati masa-masa tuanya berdua. Selain Aksara sudah menikah dan tinggal di rumahnya sendiri, Nusa dan Tara adiknya Aksara juga sedang kuliah di luar kota. Satu di UI, satu lagi di ITB. Makanya Bapak dan Ibu serasa pengantin baru lagi sekarang. Julukan yang sering Galih dengar jadi semakin melekat dalam image kedua sosok ini.
“Nih, habis makan di minum ya,” kata Bu Ratna menyodorkan obat.
“Ngeyelmu sama Aksara ki sama. Kalau sakit ya sakit gitu lho, terus minum obat, istirahat, sembuh. Jangan memaksa, kamu rugi banyak di masa depan nanti,” kata Bu Ratna dengan omelannya.
“Wis to diminum wae. Jangan ngelawan professor, wis kalah ilmu kalah pengalaman sisan,” kata Pak Aji.
Galih hanya mengangguk. Lagi-lagi dia hanya mengangguk tanpa bisa melakukan penolakan. Selepas makan Galih membawa mangkuk dan gelasnya ke wastafel, membersihkannya dan meminta izin pada Bapak dan Ibu untuk kembali ke kamar dan tidur. Benar sih Galih merasakan kepalanya berat dan berkunang-kunang. Tubuhnya juga seperti menggigil padahal dia cukup berkeringat. Bu Ratna menyodorkan sebuah kaos ganti dan celana pendek yang sepertinya milik Aksara. Dia tanpa basa-basi meraihnya. Sudah lebih dari sehari semalam dia tidak ganti, badannya mulai gatal-gatal.
“Bu, nanti mau belanja jam berapa?”
“Sebangunnya kamu.”
“Ibu nggak ngajar?”
“Nggak, karena sore nanti mau ke tempat Aksara, kamu sekalian antar Ibu ya,” jawab Bu Ratna.
“Bangunin aja Bu, jam berapa gitu. Aku kebo kalau nggak dibangunin,” minta Galih.
__ADS_1
“Ya pasang alarm sendiri aja,” saran Bu Ratna.
“Aku nggak bawa hp Bu. Ketinggal di meja kamar,” jawab Galih sambil nyengir.
“Sekarang tidur dulu aja deh kamu, nanti Ibu bangunin.”
“Siap. Ndan,” kata Galih sebelum dia masuk kembali ke dalam kamar.
Sekitar jam makan siang Galih dibangunkan. Dia diberi pinjam pakaian Aksara dan bu Ratna memintanya untuk mandi lebih dulu. Keduanya berbelanja sekaligus makan siang sebelum pergi ke rumah Aksara.
“Gimana pusingnya sudah mendingan kan?” tanya Bu Ratna pada Galih yang makan dengan tidak bertenaga.
“Alhamdulillah Bu, udah nggak pusing kok. Cuma masih nggak enak aja hatinya,” kata Galih.
“Jangan ragu untuk memperjuangkan yang patut untuk diperjuangkan. Sama seperti Ibu menasehati Aksara, kamu juga anak Ibu. Keyakinan itu datangnya dari hati, bukan dari sini,” kata Ratna sambil menunjuk kepalanya.
“Bu, dulu apa yang membuat Ibu yakin menerima Bapak?”
“Karena Bapak selalu bisa menjadi obat untuk setiap rasa sakit yang Ibu rasakan. Kamu tahu kan Ibu sudah beberapa kali meregang nyawa, kamu juga tahu Aksara itu bukan anak sulung Ibu. Seorang perempuan mau dihantam seperti apa juga mereka akan kuat. Selama ada satu hal yang dia perjuangkan, dia tidak akan peduli sebesar apa badai menerjang. Buat Ibu, memperjuangkan Bapak dan anak-anak Ibu adalah segalanya. Apapun akan Ibu lakukan walau harus menukar nyawa Ibu sendiri,” kata Bu Ratna.
“Tapi Kirana benci sama orang yang mengorbankan diri demi dia. Dia pernah bilang orang yang seperti itu adalah orang yang bodoh,” kata Galih.
“Kalau kamu? Menurutmu bagaimana?”
“Sebenarnya menurutku sih tidak masalah. Aku lihat sendiri hancurnya Mama melihat kondisi Papa. Mama mengorbankan hidupnya hanya demi membersamai Papa hingga akhirnya tutup usia tanpa mendapatkan apa-apa. Mama bilang, tidak peduli apa yang dilakukan Papa karena Mama sayang sama Papa, Mama akan selalu ada sama Papa. Jadi aku juga menganggap pengorbanan itu wajar,” kata Galih.
“Sekarang Ibu tanya, kalau kamu di posisi Raihan ketika itu. Istrimu koma, putrimu juga belum bisa melakukan apa-apa, padahal kamu sendiri sedang sakit keras. Apa yang akan kamu lakukan?”
“Soal itu…,”
“Kamu juga ragu kan? Iya kalau kamu menjalani pengobatan lalu sembuh. Kalau kamu malah lebih dulu pergi lalu bagaimana anak dan istrimu,” kata Ratna membuat Galih terdiam. Sekali lagi dia menyadari jika dia memang belum sepenuhnya mengenal dan memahami Kirana.
“Galih, di dunia ini ada banyak sekali kejadian-kejadian tak terduga yang akan menimpa hidup kita. Kirana sudah pernah merasakannya, wajar jika dia trauma. Anak itu sejak kecil juga sudah lemah hati. Ditinggal suami itu berbeda dengan ditinggal pacar lho,” kata Ratna lagi.
“Terus aku harus gimana Bu? Apa iya aku bisa mengerti Kirana? Dia itu wanita yang penuh misteri. Setiap waktu yang kulalui dengannya selalu mendatangkan kejutan-kejutan yang baru. Selalu ada rasa yang berbeda setiap kali bersamanya. Tapi aku sendiri nggak pernah bosan,” kata Galih.
__ADS_1
“Semua itu kembali ke kamu sendiri. Kan sudah diajari sama Bapak, kalau kamu bingung kemana kamu harus bertanya, ya kan. Pelan-pelan saja Galih. Jatuh cintalah secara perlahan dan nikmati prosesnya. Bunda jamin kamu nggak akan menyesali itu apapun endingnya nanti,” kata Ratna.