
"Sesungguhnya kita semua hanyalah milik Allah dan barang maupun harta itu hanyalah titipan dan kepada-Nya lah tempat kembali."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Zhivana sedang menonton televisi dengan uminya sementara rama sedang membaca buku kajian islami. Kebiasaan hari minggu dikeluraga kecil rama memang seperti ini sering berkumpul didalam rumah saja tidak pergi liburan atau sekedar berjalan-jalan mereka lebih senang berkumpul dirumah.
Rama sudah membaca dari satu jam yang lalu kini matanya sudah lelah karena terlalu lama membaca kepalanya juga sudah merasa pusing dari tadi membaca sambil memakai kacamata minusnya.
Kemarin malam rama mendapat telepon dari reno. Katanya hari senin pagi arrsyad akan pergi ke amerika untuk kuliah disana selama beberapa tahun, dan mengajak keluarga rama untuk mengantar kebandara.
Tentu saja rama senang arrsyad dapat melanjutkan studynya diluar negeri. Apalagi, mengingat kemauan Alm. Ayahnya arrsyad untuk anaknya kuliah disana terkabul. Rama sudah memberitahu maryam istrinya tentang ini mereka sudah setuju untuk pergi mengantar arrsyad.
"Zhi. Besok pagi kita akan pergi ke bandara untuk mengantar arrsyad pergi ke amerika." Ucap rama.
Zhivana menoleh, menatap abinya yang sekarang tengah menatapnya.
"Jadi arrsyad kuliahnya diluar amerika?" Tanya zhivana.
Rama mengangguk.
"Iya nak. katanya supir suruhan reno, yang jemput"
"Emm, baiklah." Sahut zhivana.
***
Kini arrsyad sudah selesai memasukkan seluruh barang-barangnya ke dalam koper besar untuk persiapan ke berangkatannya besok pagi. Disana arrsyad harus menyesuaikan diri ditempat asing dan beradaptasi dilingkungan baru.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian arrsyad, dengan cepat dirinya membuka pintu kamar.
Pintu telah terbuka, terlihatlah andre temannya itu. Sudah tidak waras apa bagaimana! Malam-malam begini bertamu.
Dengan tampang polosnya, andre menerobos masuk begitu saja ke dalam kamar arrsyad, dan merebahkan dirinya dikasur king sizenya.
"Jadi besok, jadinih ke amerikanya?" Tanya andre, seraya berguling-guling diatas kasur.
"Iya"
Andre mendesah kecewa.
"Tega banget lo ya, ninghalin gue."
"Ya, harus bagaimana lagi, udah seharusnya gue kesana"
"Oh ya syad. Gue kesepian nih!! Semenjak putus dari vita gue jomblo, ini semua gara-gara uang dua ribu dari lo itu." Celetuk andre dengan ketus.
Arrsyad yang mendengarnya pun langsung tersenyum puas.
" Dasar gila ini akibat lo dan sekarang lo malah nertawain gue "
"Udah move on aja! Vita itu gak baik sama kamu"
"Iya, iya. Dah ah, gue pulang dulu dan gue doain semoga besok perjalanan lo lancar dan sampai tujuan. Oke" andre beranjak dari tempat tidurnya dan menepuk pundak arrsyad.
"Makasih, dre"
"Iya. gue pulang aja deh, entar keburu ngantuk bisa bahaya nanti dijalan"
"Yaudah sana."
Setelah kepergian andre, arrsyad merebahkan tubuhnya. Besok dirinya harus bangun lebih awal.
***
Setelah melaksanakan shalat shubuh berjamaah dirumah dimana rama menjadi imam untuk kedua bidadarinya yakni istrinya dan zhivana.
Yaalloh. kenapa perasaanku gelisah seperti ini aku tak biasanya segelisah ini. Batin zhivana
__ADS_1
"Assalamualaikum. Putrinya umi kok ngelamun?" Tanya maryam tiba-tiba.
"Ehh, iya umi. Waalaikumsalam"
"Kamu mikirin apa?"
"Enggak!! Kok umi, zhi hanya sedikit lelah saja"
"Yasudah, mari kita sarapan dulu habis sarapan langsung mandi dan siap-siap untuk pergi kebandara"
"Iya, umi"
Saat sarapan sedang berlangsung entah mengapa zhivana sangat ingin terus melihat abi dan uminya terus.
"Loh nak, kok makanannya masih banyak?" Tanya rama.
Zhivana diam, masih hanyut dalam lamunannya.
"Zhivana" Rama menepuk punggung tangan zhivana.
"Eh iya, apa?" Tanya zhivana gelagapan.
"Kamu ini! kenapa melamun nak?" Ucap maryam.
"Tidak apa pa kok, hanya tidak selera untuk makan. Aku duluan ya umi, abi. Mau mandi dulu."
"Baiklah"
Zhivana langsung pergi kekamar hatinya gelisah entah kenapa? Rasanya sangat tak tenang.
Selesai dengan ritual mandinya. Zhivana membuka lemari pakaian, terdapat banyak gamis syar'i disana, zhivana memilih gamis berwarna mocca senada dengan kerudung dan cadar yang dirinya kenakan.
Selesai memakai pakaiannya zhivana langsung keluar kamar untuk menemui kedua orangtuanga. Maryam dan rama sudah siap didepan teras rumah. Kini terlihat seorang pria paruh baya memakai pakaian serba hitam ala sopir. Zhivana langsung menghampiri mereka bertiga yang sedang mengobrol.
Setelah sedikit berbincang-bincang. Merekapun masuk ke dalam mobil berwarna hitam dan melaju menuju bandara.
Semua yang menyaksikan kecelakaan itu sangat shock!!Kecelakaan yang begitu cepat dan mengenaskan. Bagaimana dengan keadaan orang yang didalamnya? Semua orang langsung berlarian menghampiri mobil yang sudah hancur itu jalanan masih lumayan sepi jadi tidak beruntun, truk besar yang menabrak tadipun berhenti karena menabrak trotoar.
Darah segar tercium jelas disana ada darah yang mengalir keluar dari mobil hitam yang terbalik itu, sehingga berceceran.. warga yang berkerumun disana sangat khawatir. Mereka berusaha mengeluarkan tapi susah sepertinya korban terjepit mobil dan pintu mobinyapun susah dibuka.
***
Dibandara
Arrsyad dan reno sudah sejak tadi sampai dibandara. Menunggu kedatangan keluarga rama yang katanya tadi sudah dijalan, tapi belum kunjung datang. Membuat cemas perasaan.
"Kak aku sangat khawatir!! Dengan mereka bagaimana kita susul saja." Arrsyad sudah tidak tenang perasaannya tiba-tiba jadi gelisah.
"Tidak. Pesawat akan berangkat enam belas menit lagi seharusnya kita sudah masuk ke dalam"
Tiba-tiba ponsel reno berdering memberitahu ada panggilan masuk dari kontak yang tidak dikenal.
"Iya, Hallo"
"Apakah ini dengan saudara bapak reno al faruk?" Ucap seorang pria disebrang sana.
"Iya, saya sendiri"
"Saya dari pihak kepolisian, melaporkan bahwa mobil hitam yang saudara rama tumpangi mengalami kecelakaan yang sangat parah."
Deg
Bagai disambar petir disiang bolong. Renomerasa jantungnya berhenti tubuhnya mendadak lemas, memikirkan apa yang sudah terjadi dengan keluarga pak rama. Bagaimana keadaan mereka sekarang?.
"Ti-tidak, mungkin" Ucap reno dengan tercekat.
"Korban dilarikan ke rumah sakit besar pelita. Keadaannya yang saya lihat sangat parah anda bisa langsung pergi kerumah sakit untuk mengetahui keadaan korban."
__ADS_1
Reno langsung mematikan ponselnya begitu saja. Kini dirinya mematung tubuhnya terasa lemas. Apakah ini benar?
"Ada apa kak?" Tanya arrsyad seraya menguncang kuat bahu reno.
"Mereka kecelakaan!!! Pak rama"
"Jangan bercanda! Bicaralah yang benar" Bentak arrsyad kesal.
"Polisi bilang mereka mengalami kecelakaan yang sangat parah."
Deg
Deg
Tubuh arrsyad lemas seketika. Hatinya sudah tak karuan lagi, bagaimana bisa ini terjadi.
"Enggak!! Mereka pasti baik-baik saja." Bentak arrsyad. Dengan cepat arrsyad langsung lari keparkiran menuju mobil milik reno.
"Arrsyad, tunggu" Teriak reno langsung berlari menuju mobil untuk menyusul arrsyad.
Arrsyad langsung menancap gas dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli seberapa bahayanya sekarang terpenting harus cepat sampai rumah sakit.
"Dirumah sakit mana?"
"Rumah sakit besar pelita."
Mobil yang dikendarai oleh arrsyad dan reno pun sudah sampai di depan rumah sakit pelita. Arrsyad dan reno langsung turun dari mobil dan berlari ke dalam.
"Sus. Dimana korban kecelakaan mobil tadi pagi?" Tanya reno.
"Mari saya antar." Ajak seorang suater itu dengan ramah.
Arrsyad dan reno pun langsung mengikuti langkah suster itu. Tak butuh waktu lama kini mereka sudah ada di depan kamar mayat.
"Kenapa anda malah mengajak kami kesini" Tanya reno dengan tatapan tajam.
"Kecelakaan mobil itu sangat parah. Semua tewas ditempat."
Arrsyad dan reno langsung masuk kedalam kamar mayat. Didalam sana ada tiga mayat yang terbaring dengan masing-masing ranjang bed hospitalnya. Arryad dan reno diam mematung rasanya sangat berat untuk melangkahkan kakinya. Didepan sana tiga mayat terbaring siapa yang meninggal diantara keluarga pak rama.
"Suster bisakah kain penutupnya dibuka" Ucap reno.
"Baiklah"
Suster itu pun membuka kain penutup mayat milik sopir yang disuruh reno tadi. Terlihat wajahnya sangat pucat karena pihak rumah sakit sudah membersihkan semua luka korban wajahnya nampak hancur akibat pecahan kaca dan benturan keras
Suster itu langsung membuka kain penutup yang kedua memperlihatkan wajah rama sama pucatnyanya dengan pak sopir tadi keadaannya pun sama tak jauh berbeda.
"Pak rama"
Dan terakhir, suster itu langsung membuka kain penutup mayat, terlihatlah wajah maryam lukanya tidak terlalu parah seperti suaminya.
Reno langsung terjatuh ke lantai kakinya sangat lemas, reno diam pandangannya kosong, terasa hatinya sangat sesak.
Arrsyad langsung memeluk reno, untuk saling menguatkan. Hatinya pun sama saki, tapi arrsyad harus tegar dan kuat.
Arrsyad mengingat zhivana, dengan cepat dirinya bertanya pada suster itu.
"Suster, dimana pasien wanita yang bernama zhivana, dia adalah anak dari kedua korban ini"
"Dia diruang ICU. Lukanya sama parahnya tapi dia selamat dan masih bertahan hidup."
Reno masih setia diruang mayat. Sementara arrsyad serta suster itu pergi keruangan zhivana berada.
'
'
__ADS_1
Bersambung