
Mobil BMW hitam milik seorang presedir telah tiba digedung Molvis Grup cabang dua terbesar. Satu orang berjas hitam berbadan besar membukakan pintu, pria yang menyandang gelar presedir muda itu keluar seraya merapikan jas.
Hari ini wajahnya terlihat sangat berseri-seri. Kabar istri dari seorang presedir telah kembali, para karyawan yang mengetahui itu langsung bersorak ria. Kelegaan serta kedamaian kantor ini akan damai kembali. Presedir yang sempat terkenal karena berubah jadi arogan sekarang tidak lagi.
Semua para karyawan berjajar rapi menyambut kedatangan presedir setiap pagi memang seperti ini menundukkan kepala sebagai tanda hormat bawahan pada atasan.
Andre selaku sekretaris selalu berjalan dibelakang arrsyad. Menjadi sekretaris arrsyad memang sangat menguntungkan. Gaji khusus yang arrsyad janjikan memang sungguh luar biasa.
Ruang presedir yang luas dengan segala barang-barang mahal serta penting tertata rapi dengan mengkilat. Arrsyad langsung duduk dikursi kerja.
"Sebutkan jadwalku hari ini."
"Hari ini jadwal tuan-"
"Kebiasaan, kalau berdua jangan panggil tuan. Itu terlalu menganggu telingaku." Dengan cepat arrsyad memotong bicara andre. Tidak peduli dengan jabatan yang berstatus presedir, arrsyad tidak suka dengan panggilan tuan.
"Baiklah. Jadwal kamu, satu jam kedepan ada rapat dengan semua karyawan. Setelah makan siang ada pertemuan penting dengan CEO perusahaan mentari grup. Sore harinya kamu ada undangan makan dengan seorang pejabat kota."
"Ada lagi?"
Andre mengecek layar gawai, disana ada jadwal penting arrsyad. Takut ada yang terlewat, ternyata tidak.
"Tidak ada, untuk semua berkas yang bermasalah kemarin aku udah urus."
Arrsyad manggut-manggut.
"Karyawan yang kemarin kamu pecat sudah ada pengganti." Tanpa diminta andre mengatakan itu semua, presedir. Yang terkenal dengan dingin ini selalu irit bicara, apa-apa harus andre yang peka. Sungguh menguras pikiran.
"Batalkan semua jadwal setelah makan siang."
"Tapi,"
"Aku udah ada jadwal khusus dengan istriku. Batalkan semuanya, aku sibuk tidak bisa diganggu."
Tatapan tajam arrsyad yang menyalang, membuat andre diam tidak berkutik. Mau ngebantah takut dipotong gaji, diam mungkin lebih baik. Lagi pula ini sering terjadi, andre. Sudah menduga apa yang akan terjadi padanya nanti, kena omel dari pihak perusahaan lain akan membuat telinganya memanas.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan batalkan semuanya." Menuruti perintah atasan lebih baik dari pada harus dipotong gaji.
"Bagus. Sana aku mau bekerja dulu." Arrsyad mulai membuka laptop, tidak peduli dengan andre yang masih tidak setuju dengan pendapatnya.
"Selamat bekerja."
***
Diapartemen, zhivana. Tengah melepas rindu dengan gea dan luchia. Olivia yang sudah mulai aktif merangkak dan mengoceh ikut serta dalam perbincangan mereka.
"Olivia aktif banget kak, apa enggak repot kalau dirumah lagi sibuk?" Gea bertanya dengan tangan sibuk memainkan kedua pipi gembul olivia.
"Kadang-kadang. Aku suka pusing kalau mas reno lembur, olivia suka rewel. Dia kalau mau tidur suka pengen main dulu sama deddy nya."
"Olivia cantik ya, mirip mommy nya." Sahut zhivana seraya menggelus perut.
"Iya, ya. Bentar lagi kamu juga lahiran zhi. Aku udah gak sabar nunggu lahirnya bayi kembar kamu. Suami kamu pasti bahagia banget." Ucap gea.
Zhivana tersenyum lebar. Mengingat setiap momen dengan arrsyad semalam sungguh sangat berbeda dari sebelum belumnya. Suaminya itu memang pandai berkata manis, apalagi perlakuan arrsyad padanya membuat zhivana merasa bahagia berkali-kali lipat.
"Aamiin." Ucap luchia dan gea bersamaan.
"Gea gimana kamu udah ada tanda-tanda belum?" Tanya zhivana.
"Gak tau. Kayaknya belum, do'ain aja semoga cepet dikasih sama Allah."
"Iya, Aamiin."
Setelah berbincang-bincang. Gea yang bosan ingin membuat kue dengan resep terbaru, zhivana ikut membantu diikuti oleh luchia yang baru menidurkan olivia dikamar tamu.
Ditengah asiknya membuat kue, tiba-tiba luchia berkata "Aku ingin menutup auratku." Sontak membuat zhivana dan gea terkejut seraya menatap luchia dengan penuh tanya.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Aku juga ingin menjadi wanita sholehah yang terjaga auratnya. Aku ingin seperti kalian menjadi wanita bercadar, sebenarnya. Niatku sudah lama tapi aku malu karena selama ini aku selalu memakai pakaian terbuka."
"Alhamdulillah, niat kakak sudah baik. Pasti Alloh mempermudah semua niat baik kak luchia." Ucap gea dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Masya Allah, kak luchia itu bagus sekali. Nanti aku temani kakak beli baju yang lebih tertutup lagi. Insya Allah selama itu baik pasti akan nyaman saat kak luchia memakai gamis syar'i yang menjulur menutup semua aurat kakak." Zhivana yang senang langsung berucap syukur.
"Iya Insya Allah semoga aku bisa. Aku ingin istiqomah, lagi pula kita hanya wanita akhir zaman yang berusaha mendapat surganya Allah."
***
Siang telah tiba, arrsyad yang baru selesai melaksanakan shalat dzuhur. Segera kembali ke ruangannya. Andre yang sepertinya belum shalat, terlihat masih sibuk berkutat dengan berkas-berkas yang menumpuk.
"Belum shalat kamu, dre?" Tanya arrsyad saat melewati meja sekretaris yang diduduki andre.
"Belum bentar lagi ini aku mau shalat dulu."
"Sana shalat dulu, pekerjaan bisa dilanjut nanti. Oh ya aku mau langsung pamit. Mau jemput zhivana."
"Kalian mau kemana sih? Jadwal penting yang bisa bikin untung gede, kamu tinggalin gitu aja."
"Biasalah, kita mau pacaran. Sebelum bibit unggulku lahir pasti zhivana bakal lebih sibuk ke anak-anak. Yah makannya aku mau habisi waktu aku sama zhivana berdua. Itung-itung nunggu waktu lahiran."
"Bener juga kamu, syad. Yaudah sana, aku juga mau shalat dulu."
"Dre berarti kamu harus lembur. Aku bakal sering gak masuk kantor nantinya."
Andre yang berjalan menuju mushola, jadi berhenti. Lalu berbalik badan menatap arrsyad dengan kesal. Sementara arrsyad malah tertawa.
"Sialan kamu syad. Kamu malah enak-enak, lah aku."
"Resiko kamu itu, aku mau pacaran. Dah andre. Hahaha, selamat lembur. Perintah dari presedir loh dre gak boleh nolak."
"Terserah, stres aku jadi sekretaris kamu."
'
'
Bersambung
__ADS_1