
Hamparan bintang di langit malam menjadi pemandangan malam ini. Di temani semilir angin malam dan bunyi kendaraan yang setia mendampingi. Dirinya berdiri dibalkon kamar, menatap langit cerah dengan kegelapanya dengan nanar. Ia ingat mata hazel milik seseorang. Manik yang teduh yang selalu berhasil mempesonanya tiap kali bersirobak dengan iris matanya. Penutup wajah yang di kenakanya, selalu membuat dia penasaran akan senyuman yang terpatri di wajah cantiknya. Ia yakinkan itu, matanya saja sudah bisa membuatnya mabuk kepayang, apalagi jika seluruh wajah cantiknya tak terhalang kain cadar. Istrinya itu sangatlah cantik.
Arrsyad tersenyum lebar memandangi langit gelap dengan hamparan bintang berkelap kelip memancarkan sinar.
Rasa rindu pada sosok istrinya bertambah seiringnya waktu. Hari berganti bulan sudah selama inikah dirinya berpisah dengan zhivana.
Besok dirinya wisuda. Sudah satu tahun berlalu terasa lama dan hampa. Jarak yang membentang jauh, memisahkan dua makhluk hidup yang saling mencintai. Mengandalkan komunikasi dan kepercayaan sudah memperkokoh hubungan keduanya.
"Aku kangen kamu, dek. Satu tahun ini aku benar-benar kacau. Aku butuh kamu."
Semilir angin malam, menerpa permukaan kulit wajahnya. Kulit putih cerahnya tampak pucat, sudah empat hari ini dirinya merasa letih dan sakit dikepala.
***
Dirumah Besar Kediaman Al Faruq.
Luchia tengah asik mengelus perutnya yang mulai membesar. Dikehamilannya yang pertama membuat dirinya sangat ekstra menjaga kesehatan.
Sudah tiga tahun dirinya dan reno menikah tapi belum berunjung dikaruniai. Dan alhamdulillah sekarang alloh telah mempercayai. Sekarang usia kandungannya sudah lima bulan.
Zhivana menuruni anak tangga, melihat luchia yang tengah duduk sendiri diruang tamu. Kakak iparnya itu tengah asik mengelus perutnya.
Zhivana mendekat, seraya bertanya.
"Kak. Kak reno udah berangkat kerja?"
Luchia menghentikan elusan diperutnya, menoleh ke zhivana yang sekarang sudah duduk disampingnya.
"Barusan udah berangkat. Zhi nanti siang antar aku ke dokter, soalnya mau cek perkembangan si dedek nih" Ucap luchia seraya mengelus perutnya kembali.
Zhivana ikut mengelus perut buncit luchia.
"Iya kak. Dedek bayi sehat-sehat terus ya." Ucap zhivana dengan tersenyum lebar.
"Kalau arrsyad udah pulang. Cepet nyusul ya zhi. Hamil langsung kembar tiga aja, malah bagus tuh langsung ramai nanti rumah"
Zhivana mengerjap tak percaya.
"Ehh itu kak. Insya alloh, gimana dikasihnya aja" Ucap zhivana.
"Dua hari lagi arrsyad pulang, ya? Terus mau langsung kerja apa lanjut kuliah S3? Aku dengar dia dapet beasiswa lagi"
__ADS_1
"Iya kak. Tapi kalau soal kerjaan aku gak tau. Soalnya suamiku belum cerita kesana."
Satu minggu yang lalu suaminya itu memberitahu dirinya, mengabari kalau arrsyad dapat beasiswa lagi, tapi arrsyad bingung dirinya harus ambil beasiswa itu atau dilepas saja. Otak suaminya itu sungguh luar biasa bukan main.
"Pendapat kamu sendiri tentang kuliah arrsyad, bagaimana?" Tanya luchia.
"Aku sih gimana maunya suamiaku, kalau dari aku pribadi aku ingin dia kerja aja."
Luchia tersenyum.
"Setuju. Emang bagusnya gitu zhi. Orang arrsyad udah punya warisan berupa saham 50%. Terus kafe yang dikelola oleh kamu yang sekarang aja, udah tambah cabang."
"Apa. Saham 50%"
Luchia mangangguk.
"Kaya banget kan suami kita. Tetangga kita aja sampai ngira kita ternak tuyul." Ucap luchia seraya berdecak kesal.
Zhivana tertawa geli.
"Masa sih kak sampai segitunya? Aku yang dengernya jadi pengen ketawa"
"Gau tau aku juga zhi. Ogah banget ya, kita ternak tuyul. Tuh tetangga mulutnya bener-bener ya"
Zhivana izin pamit dulu ke kamar pada luchia. Luchiapun mengiyakan.
Sesampainya dikamar dan menutup pintu rapat-rapat, zhivana langsung megangkat panggilan video dari arrsyad.
"Assalamualaikum, my lovely wife" Ucap arrsyad disebrang sana.
Terlihat jelas wajah suaminya itu tengah tersenyum manis. Wajahnya memenuhi layar ponsel zhivana.
"Waalaikumsalam. Mas"
"Dek, cadarnya lepas dulu ya, mas pengen liat."
Zhivana mengagguk, lalu melepas kain cadarnya. Terlihat wajah cantik dan teduh itu. Pipinya yang merona kemerahan alami tambah memerah karena malu.
Arrsyad makin tersenyum lebar dibuatnya.
"Cantik banget kamu, dek. Jadi pengen cium"
__ADS_1
Zhivana terkekeh geli.
"Mas. Jangan gitu, aku malu!"
Disebrang sana arrsyad ikut tertawa kecil.
"Tapi Beneran loh dek kamu cantik banget!! Kamu lagi dikamar? Yang lainnya mana?"
"Tadi aku lagi sama kak luchia, dan saat kamu telpon aku izin pamit dulu ke kamar."
Sesaat terjadi keheningan, lenggang tidak ada yang bicara. Keduanya malah saling menatap, tersirat dari iris mata keduanya saling merindukan. Ada rasa rindu yang mengebu, bergejolak ingin segara bertemu. Hasrat yang ingin lebih dan lebih selalu membuat ingin segera menyatu.
"Dek" Panggil arrsyad dengan suara paraunya.
"Iya, mas"
Zhivana memperhatikan wajah arrsyad. Entah kenapa? Tiba-tiba arrsyad menatapnya dengan tatapan berbeda. Kedua matanya lebih teduh dan sayu, suaranya terdengar berbeda.
"Mas rindu kamu, mas butuh kamu. Dek" Ucapnya semakin parau, dengan tatapan teduh dan sayu. Membuat zhivana betah.
Ada rasa aneh yang menjalar disekujur tubuhnya, rindu dirinya juga sangat merindukan sosok suaminya itu. Jarak yang membentang jauh tak mampu zhivana jangkau.
Selama ini hanya dalam doanya zhivana menumpahkan segala rasa rindu. Menyakitkan dan terasa sesak! Ternyata rasa cinta untuk arrsyad telah tumbuh besar dan tak terbendung menyiratkan kerinduan yang mendalam.
Jarak tidak pernah salah karena telah memisahkan keduanya. Mungkin ini sebuah takdir serta ujian pernikahannya. Zhivana bersyukur selama ini arrsyad selalu mengabarinya walau hanya tiga kata yang sering terucap "Aku rindu kamu"
Zhivana mengerjap gugup.
"Dua hari lagi kan mas, pulang"
Hanya itu yang mampu zhivana ucap, suaminya yang terlihat berbeda membuatnya terasa kaku.
Ada rasa yang sulit dijabarkan lewat kata-kata, sulit terucap namun disampaikan lewat bahasa tubuh dan perilaku.
Rasa cinta yang tumbuh menjadi lebih besar, terpupuk oleh rasa rindu yang mendalam, kasih sayang yang selalu mengalir terasa menghangat dihati.
"Sayang aku ingin, kamu"
'
'
__ADS_1
Bersambung