
Sesuai rencana sore ini arrsyad mengajak zhivana dan anak-anaknya menginap dirumah utama. Reno dan luchia sangat antusias sekali menyambut kedatangan mereka, apalagi olivia. Gadis batita itu sangat gembira melihat kedatangan dua bayi kembar yang sangat menggemaskan.
"Wahhh, Baby Arka sama Baby Aalesha makin tampan dan cantik ya." Fuji luchia yang kini telah menggendong Aalesha. Sementara reno, menggendong Arka.
Olivia yang sekarang usianya hampir menginjak dua tahun, terlihat sangat gemas. Dengan sengaja ia ingin mengigit pipi Aalesha.
"Yaallah. Olivia jangan sayang, nanti Dede bayinya nangis! Kamu cukup cium aja ya." Ucap luchia seraya mengelus rambut olivia yang dikuncir dua.
Batita itu mengangguk. Lalu mendekati reno yang sedang menggendong Arka. "Bayi keci." Olivia menunjuk wajah mungil Arka. Berbicara dengan cadelnya, terdengar sangat menggemaskan sekali.
"Heh, anak tuyul jangan macam-macam pada anak-anakku." Ancam arrsyad dengan ketus. Arrsyad masih ingat. Saat luchia ngidam, ia disuruh keliling taman belakang seraya menaiki sepeda kecil.
"Dasar sableng. Kamu kira aku bapak tuyul." Ujar reno dengan satu tangan siap melempar bantal sopa pada arrsyad.
"Lahh, itu ngaku sendiri." Ucap arrsyad dengan diiringi gelak tawa.
"Adik durjana kamu..."
"Pusing aku, lama-lama liat kamu sama arrsyad bertengkar. Enggak malu apa, sama anak sendiri." Omel luchia lalu beranjak pergi menyusul zhivana yang sedang merapikan barang-barang Arka dan Aalesha dikamar.
"Gara-gara kamu luchia jadi marah." Reno melotot pada arrsyad, yang dipelototi malah cengengesan sendiri.
"Aya hiks," Olivia mulai merengek dengan kedua tangan direntangkan ke arah reno. Batita itu memanggil ayahnya, minta digendong.
Reno tersenyum lalu meyuruh arrsyad untuk menggendong dulu Olivia. "Sama om kamu dulu, ayah masih rindu sama Baby Ar."
Olivia menurut, ia mulai mendekati arrsyad yang duduk bersila dikarpet. Dengan sigap olivia duduk dipangkuan arrsyad seraya merengek minta digendong.
"Kok jadi aku sih." Protes arrsyad, seraya menatap reno.
"Udah sana. Aku mau lihat zhivana sama luchia." Reno mulai beranjak, lalu pergi meninggalkan Olivia yang masih merengek dipangkuan arrsyad.
Arrsyad mulai menggendong Olivia, lalu berjalan menuju kamar olivia. Arrsyad mulai menurunkan olivia dikasur.
__ADS_1
Kedua mata Olivia mulai sayu, sepertinya batita kecil itu sudah mengantuk.
"Tidul, peluk oliv cini om." Olivia menepuk bantal disebelahnya, menyuruh arrsyad untuk tidur memeluknya.
"Hahh, yang benar saja. Aku kesini buat istirahat, bukan buat ngasuh kamu." Gerutu arrsyad, dengan malas. Arrsyad mulai merebahkan tubuhnya dikasur olivia dengan telentang. Satu tanganya ia lipat kebelakang kepala sebagai tumpuan.
Olivia mulai ikut berbaring, tubuh kecilnya menyamping. Sehingga menghadap ke arrsyad yang mulai memejamkan matanya.
Baru saja arrsyad ingin terlelap, tangan kecil olivia malah meraba-raba area dadanya yang bidang.
"Heh, apa yang kamu lakukan?" Ketus arrsyad seraya menyingkirkan tangan kecil olivia.
Bocah batita itu membuka kedua matanya, bola mata bulat coklat keemasan itu menatap arrsyad dengan bingung. Olivia sepertinya mulai tersadar kembali, ia menyangka tidur dengan ibunya.
Seperdetik kemudian olivia menangis, membuat arrsyad jadi gugup.
"Jangan nangis! Yaudah sini om peluk kamu." Tubuh arrsyad menyamping, lalu memeluk tubuh kecil olivia.
Tiba-tiba olivia menyingkirkan tangan arrsyad, lalu duduk seraya mengucek kedua matanya dengan kedua tangan.
Arrsyad terlentang kembali, kali ini ia tidak memperdulikan olivia yang menurut arrsyad sangat menyusahkan.
Diluar dugaan, olivia malah merangkak naik ke perut arrsyad. Dengan cepat ia tidur diperut arrsyad, kepalanya tepat didada bidang arrsyad. Kedua tangan kecil itu memeluk tubuh arrsyad dengan kuat, seperti tidak ingin dilepaskan.
"Olivia turun! Kalau kau zhivana, sudah pasti aku senang. Karena menjadi agresif. Sementara kau, Hah. Kau hanya mengangguku saja."
Dengan terpaksa arrsyad membiarkan olivia tidur diatas tubuhnya. Tidak lama kemudian, ia juga ikut tertidur seraya memeluk tubuh kecil olivia yang tengkurap diatas tubuhnya.
Sementara zhivana, luchia, dan reno tengah asik berbincang-bincang dengan Arka dan Aalesha yang sudah tidur diatas ranjang king size milik arrsyad.
"Suami aku kemana kak?" Tanya zhivana pada reno yang akan pergi ke ruang kerja.
"Aku suruh gendong olivia tadi. Entah kemana mereka, sepertinya olivia nyaman sama arrsyad. Buktinya tangisan olivia belum terdengar juga." Jawab reno, lalu keluar kamar.
__ADS_1
"Yaudah zhi, aku mau ke dapur dulu." Ucap luchia, seraya beranjak.
Zhivana mengangguk lalu, duduk ditepi ranjang. Menatap putra putrinya yang tengah tertidur.
"Anak-anak bunda. Kalian yang tenang tidurnya, bunda mau cari ayah dulu."
Zhivana berjalan keluar kamar, lalu menuruni anak tangga. Diruang tengah tidak terlihat arrsyad dan olivia, diruang tamu juga tidak ada. Zhivana mulai mencari ke taman belakang, disana juga tidak ada.
"Kak kamar olivia dimana?" Tanya zhivana seraya mendekati luchia yang tengah membuat teh untuk reno.
"Diatas, sebelah kamar aku."
"Makasih kak."
Zhivana meninggalkan luchia yang masih didapur. Sesampainya didepan pintu kamar olivia, zhivana. Segara membuka pintu. Terlihatlah arrsyad tengah tidur seraya memeluk olivia yang tidur diatasnya. Keduanya terlihat sangat nyenyak, zhivana jadi tersenyum melihat pemandangan yang terlihat saling menyayangi itu.
Padahal kejadian yang sebenarnya arrsyad selalu uring-uringan pada olivia karena dianggap menganggu.
Visual.
Olivia.
Arka dan Aalesha.
Arrsyad yang semakin hari semakin tampan.
Bersambung
__ADS_1