Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 75 : Bidadari Bermata Cantik


__ADS_3

Hari sudah semakin sore, zhivana sudah merajuk ingin pulang. Tapi arrsyad selalu bilang sebentar lagi, tapi malah tak kunjung juga pulang.


"Aku boleh gak keliling kantor kamu mas" Ucap zhivana, dirinya tengah duduk dipangkuan arrsyad, sedari tadi perhatian arrsyad sibuk menatap layar laptop yang menyala.


Kedua tangan arrsyad berhenti mengetik, lalu. Menatap bola mata bening milik zhivana dengan dalam.


"Gak boleh,dek. Diluar banyak laki-laki liar yang suka memandang wanita sesukanya."


"Tapi mas, aku bosan. Jarang-jarang aku keluar rumah. Apalagi ini dikantor kamu, aku pengen liat-liat aja. Boleh ya mas." Bujuknya dengan memelas.


Tatapan itu, mana mungkin arrsyad bisa menolaknya. Dengan berat hati, arrsyad. Mengiyakan saja.


"Terimakasih, suami brondongku."


Ucap zhivana, tak lupa satu kecupan manis mendarat dipipi kanan arrsyad.


"Gak boleh cium sembarangan, dek. Aku suka gampang terpancing."


Zhivana langsung menjauh dari arrsyad, apalagi ini sedang berada dikantor.


"Aku keluar dulu yak, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati dek. Jangan jauh-jauh."


Setelah keluar dan menjauh dari ruang kerja milik suaminya. Beberapa kali, zhivana. Dapat sapaan ramah dari para karyawan, bahkan dari mereka hendak ingin berkenalan dengan zhivana.


Bahkan terdengar perbincangan mereka yang mengagumi hubungannya dengan arrsyad.


"Wahh, pak presedir hebat ya. Udah tampan keren, mapan lagi. Terus dapat jodohnya wanita bercadar. Jadi malu aku sama penampilan sendiri."


"Iya, ya. Kita mah masih suka umbar aurat, semoga hubungan pak presedir dan istrinya samawa."


Setelah puas berkeliling diarea kantor, kini zhivana duduk dikursi taman depan perusahaan Molvis Grup. Sesekali angin sore yang terasa sejuk, menerpa dirinya.


"Yahh, malah jatuh."


Terdengar suara seseorang yang tengah kesusahan, terlihat diujung sana seorang pria tengah membawa tas kerja serta beberapa berkas yang sudah berserakan dilantai.


Zhivana mendekat ke seorang pria itu, berniat ingin menolong. Apalagi terlihat pria itu seperti tengah terburu-buru.


"Assalamualaikum, mari saya bantu. Sepertinya anda sedang terburu-buru." Ucap zhivana, tangannya sibuk memunguti lembaran berkas yang berhamburan keluar.


"Waalaikumsalam, iya saya sedang terburu-buru. Maaf saya merepotkan anda nona." Ucap pria itu seraya tersenyum sekilas menatap ke zhivana.

__ADS_1


"Ini, coba cek dulu takutnya ada yang hilang berkasnya." Ucap zhivana seraya memberikan beberapa lembar kertas.


Dengan cepat pria itu mengambilnya, setelah dicek dan dirapikan kembali. Pria itu menatap zhivana seraya tersenyum lebar.


"Terimakasih banyak, ini sudah tersusun semua. Saya sedang terburu-buru, karena ada pertemuan dengan pemilik perusahaan ini."


"Iya sama-sama tuan, semoga meeting anda berhasil."


Pria itu sekilas menatap sepasang mata hazel milik zhivana, pesona mata itu sangat teduh. Terasa memikat, untuk ingin selalu ditatap.


"Iya, saya permisi dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah itu zhivana kembali ketaman, duduk dikursi bercat putih seraya menikmati suasana sore hari yang cukup menyejukkan.


***


"Selamat siang, tuan. Presedir sekarang sedang menunggu anda."


Ucap andre, seraya membukakan pintu untuk seorang pria yang tengah menjalin kerja sama dengan perusahaan Molvis Grup untuk membangun sebuah hotel dikawasan pusat kota.


"Hai, teman masa kuliahku."


Arrsyad yang sedang duduk disopa langsung menoleh.


Keduanya langsung berpelukan, menukar kabar seraya bercanda mengingat masa kuliah diamerika dulu.


"Ayo duduk dulu."


Adzril mengangguk, lalu ikut duduk di sopa berhadapan dengan arrsyad.


"Jadi udah sepakatkan kita untuk bekerja sama demi meraih keuntungan yang besar." Tanya adzril.


"Tentu."


Setelah meeting yang cukup serius selesai, adzril langsung pamit pulang karena hari sudah semakin sore.


"Senang bekerja sama dengan kamu, syad. Aku langsung pulang aja, soalnya ada urusan yang belum aku urus." Ucap adzril.


"Oke, lain kali main kerumah aku dzril. Nanti aku kenalin sama istriku, masakan istriku enak tau." Ucap arrsyad dengan bangga.


Adzril tertawa, lalu menggangguk.

__ADS_1


"Iya, iya kapan-kapan aku main kerumah kamu. Kasih alamatnya aja, kalau udah ada waktu luang baru aku mampir."


"Baiklah."


"Oh iya, aku tadi ketemu seorang bidadari bermata cantik loh syad." Ucap adzril seraya tersenyum senang.


"Iyakah, dimana."


"Ada deh, kamu kepo banget jadi orang. Do'ain aja semoga tuh bidadari bermata cantik yang tadi nolong aku itu berjodoh sama aku."


"Aamiin, semoga berjodoh. Soalnya aku gak tega liat bujang lapuk kayak kamu jomblo terus" Ucap arrsyad seraya tertawa meledek.


"Sembarangan, umurku seusia mu. Hanya saja kamu nikah muda, liat aja tuh wanita yang tadi nolong aku bakal aku cari. Terus aku ajak nikah." Ucap adzril, bahkan terdengar sangat serius.


"Iya, ku doakan semoga kalian ketemu kembali lalu berjodoh. Udah sana pergi aku mau cari istriku dulu."


"Baiklah, aku pulang dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah kepergian adzril, arrsyad. Langsung mencari keberadaan zhivana.


"Istriku mana, kok gak ada. Bukannya dia bilang cuma mau keliling kantor."


"Mas" Panggil zhivana yang sudah berdiri dibelakang arrsyad.


Arrsyad berbalik badan, lalu mendekati zhivana.


"Dek kamu dari mana." Tanyanya dengan khawatir.


Zhivana tersenyum lalu mengandeng tangan arrsyad.


"Aku dari taman depan, lalu ke toilet dulu. Mas pulang yuk, ini udah sore."


"Baiklah, tunggu aku ambil dulu tas kerja sama kunci mobil didalam."


Zhivana mengangguk lalu menunggu arrsyad dilobi perusahaan.


Tidak butuh waktu lama arrsyad langsung kembali dengan tas kerja yang dibawa ditangan sebelah kiri.


"Sayang ayo pulang."


'

__ADS_1


'


Bersambung


__ADS_2