Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 35 : Gelisah


__ADS_3

Sekarang takiyo dan juga seina sedang dalam perjalanan menuju rumah kakek seina. Disepanjang perjalanan seina bercerita banyak hal tentang keadaan dirinya selama di amerika. Takiyo hanya mendengarkan saja, sebagai seorang ayah yang baik takiyo selalu mengutamakan segala hal untuk kebahagiaan putri semata wayangnya.


"Ayah. Aku ingin arrsyad jadi milikku, tapi dia selalu dingin padaku. Bagaimana yah apa yang harus aku lakukan?" Rengek seina sambil mengguncang-guncangkan tangan takiyo yang sedang menyetir.


"Ayah punya satu rencana. Tapi, kau harus mengorbankan sesuatu yang berharga dari dirimu sendiri." Ucap takiyo.


"Rencana apa itu?"


"Kita akan menjebaknya"


"Menjebaknya." Gumam seina dalam hati.


"Menjebak bagaimana maksudnya?"


"Kau lihat saja nanti" Ucap takiyo dengan tersenyum menyerigai.


***


Arrsyad baru saja terbangun dari tidurnya, sekarang ini dirinya tidur sekamar dengan andre. Percayalah sepanjang malam arrsyad kesusahan untuk tidur bagaimana tidak, saat tidur tubuh andre selalu saja berguling-berguling kesana kemari, kadang tangan dan kakinya menghantam tubuh dan wajah arrsyad dan yang paling parahnya lagi andre itu ileran sampai-sampai bantalnya basah.


Arrsyad mendudukan dirinya disisi tubuh andre yang masih terlelap tidur, arrsyad melihat mulut andre yang terbuka membuat air liurnya keluar membasahi bantal.


"Menjijikkan." Batin arrsyad.


Seketika adzan shubuh sudah berkumandang. Arrsyad beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka sekalian berwudhu untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat islam.


Arrsyad menggelar sajadah untuk melaksanakan shalat shubuh. Tidak lupa dirinya memakai sarung dan peci milik andre. Selesai melaksanakan shalat shubuh, arrsyad merapikan kembali sajadah serta sarung dan peci milik andre. Arrsyad menggelengkan kepalanya saat melihat sahabatnya itu masih tertidur pulas.


"Dre bangun" Ucap arrsyad dengan mengguncang-guncangkan tubuh andre.


"Hem"


"Kamu shalat shubuh dulu."


"Hem" Gumam andre dengan matanya yang masih terpejam.


Arrsyad memutar bola matanya malas. Karena sudah kesal pada andre yang masih enggan beranjak dari tidurnya arrsyad menarik selimut dengan kencangnya membuat tubuh andre yang tergulung oleh selimut langsung berguling dan jatuh ke bawah.


Bruuggg...

__ADS_1


"Aduhh" Pekik andre kesakitan.


"Shalat sana waktunya udah mau habis." Ucap arrsyad sambil melemparkan selimut ke atas kasur.


"Aku masih ngantuk" Gerutu andre.


Andre sekarang sudah bangun dengan memengangi badannya yang terasa sakit akibat terjatuh. Andre memicingkan matanya pada arrsyad.


"Menyebalkan sekali pagi-pagi begini udah kena sial." Batin andre.


"Kenapa masih duduk. Cepat shalat." Perintah arrsyad yang sudah tidak bisa dibantah lagi.


"Iya, iya ini juga mau shalat. Tapi badan gue sakit semua, ini gara-gara kamu."


"Alasan"


Andre mendengus kesal, dengan langkah tertatih-tatih andre berjalan menuju kamar mandi. Arrsyad yang melihatnya hanya tersenyum getir.


Arrsyad keluar dari dalam kamar untuk membuat sarapan untuk dirinya sekalian untuk andre juga. Saat arrsyad sudah sampai dapur ia jadi teringat wanita paruh baya yang menjadi pembantu dirumahnya, selama ini bi aminah sudah merawat arrsyad dengan baik. Sudah lama tidak bertemu dengan bi aminah membuat arrsyad merindukan sosok wanita paruh baya itu.


"Nanti siang aku harus pulang ke rumah." Batin arrsyad.


Pertama arrsyad mengiris sawi pakcoy untuk diiris, memotong wortel dengan potongan dadu. Andre yang baru sampai dapur langsung menatap kagum pada sahabatnya itu. Bagaimana tidak andre melihat pria tampan seperti arrsyad bisa memasak selihai itu.


"Wahh dia tambah keren sekali kalau sedang didapur." Batin andre.


Andre berjalan mendekat ke arah dimana arrsyad sedang asiknya memotong sayuran.


"Mau masak apa nih." Tanya andre sambil memperhatikan tangan arrsyad yang tengah memotong sosis.


"Lihat saja nanti" Jawabnya dengan acuh.


Andre hanya mengangguk saja, ia lebih memilih mendudukan dirinya dikursi meja makan sambil memperhatikan arrsyad.


Sepuluh menit berlalu, kini nasi goreng buatan arrsyad sudah siap. Arrsyad sudah menata nasi goreng yang masih panas ke dalam piring untuk dirinya sendiri dan untuk andre juga.


"Makanlah" Ucap arrsyad sambil meletakkan sepiring nasi goreng di hadapan andre.


Arrsyad sudah ikut duduk dihadapan andre, membaca doa sebelum makan, setelah berdoa arrsyad langsung memakan nasi gorengnya tanpa memperdulikan andre yang kini tengah menatap nasi gorengnya sendiri.

__ADS_1


"Ini keliatannya enak dan baunya juga harum, bahkan menggoda selera. Tapi yakin ini bisa dimakan?" Tanya andre ragu-ragu.


"Terserah" Ucap arrsyad dengan mulut yang sedang mengunyah.


Andre mengambil sesendok nasi goreng lalu memasukkan nya ke dalam mulut, mengunyah dan mengunyah sampai tertelan.


"Enak" Ucap andre dengan berbinar-binar.


Arrsyad yang mendengarnya hanya tersenyum kecil, melihat andre yang semakin lahap memakan nasi goreng buatannya membuat arrsyad tertawa kecil.


"Tenang saja makannya lagi pula nggak bakalan ada yang rebut"


Andre yang tengah menikmati nasi gorengnya mendadak berhenti karena malu dengan arrsyad. Tanpa ada lagi yang berbicara mereka berduapun melanjutkan memakan nasi gorengnya.


***


Kembali lagi pada seina yang tengah membaca informasi, anak buah suruhan ayahnya itu telah menyerahkan pada seina langsung dalam map berwarna merah berisi informasi mengenai arrsyad. Seina nampak mengeram tak suka saat membacanya.


Seina melempar kertas yang berisi tentang semua informasi arrsyad itu kelantai. Seina tak habis pikir kalau arrsyad pria dingin itu tengah mencintai seseorang, yang paling seina tak percaya arrsyad malah mencintai gadis buta seharusnya arrsyad memilih dirinya yang sempurna tanpa cacat sedikitpun.


"Jadi nama gadis yang kamu cintai itu zhivana. Cih dari namanya saja aku sudah muak. Zhivana Khoirun Nisa gadis bercadar yang buta. Kau pikir kau akan menang dariku lihat saja aku akan pastikan kalau wanita buta itu tidak akan pernah mendapatkan arrsyad."


"Aku jadi penasaran dengan sosok asli wanita buta itu. Secantik apakah dia sehingga wajahnya itu ditutupi" Ucap seina dengan tersenyum menyerigai.


Seina mengambil tas kecilnya lalu berlalu keluar rumah dengan meninggalkan kertas yang masih berserakan dilantai.


***


Sementara itu dengan azwar yang tengah gelisah memikirkan soal kejadian kemarin membut dirinya takut kehilangan zhivana. Dalam hatinya, azwar merasa kalau zhivana memiliki perasaan yang tidak biasa pada arrsyad.


Azwar menatap keluar jendela. Terlihat para santri putra tengah berlalu lalang. Diatas meja kerjanya terdapat beberapa tumpuk buku yang harus azwar periksa. Tidak lupa waktu istirahat mengajarnya ini azwar memesan segelas teh manis, terlihat jelas asapnya masih mengepul. Azwar menyeruput teh manisnya sedikit demi sedikit, terasa hangat dan segar.


Azwar menatap sekeliling ruangan para pengajar. Hanya ada beberapa ustadz disana, mungkin mereka telah kembali mengajar karena bel sudah berbunyi kembali. Pikirannya.


Azwar menautkan jari-jari tangannya sendiri, tubuhnya selalu saja merasa dingin padahal udaranya sedang panas. Mungkin efek dari penyakit yang dirinya derita. Badannya yang semakin kurus, membuat orang-orang terdekatnya selalu bertanya, azwar yang menjawabnya selalu beralasan bahwa dirinya semakin sulit makan.


'


'

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2