Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 40 : Racun Mematikan


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu, tinggal dua hari lagi arrsyad berada diindonesia. Upaya untuk membujuk zhivana membatalkan pernikahan nya masih belum tercapai.


Luchia juga sudah memberikan hadiahnya untuk zhivana. Isi hadiah itu adalah sebuah gamis syar'i beserta kerudung dan cadarnya yang dirancang khusus oleh desainer ternama. Luchia sengaja memesannya hanya untuk zhivana. Sebuah gamis syar'i yang tidak biasa, gamis itu berbeda memiliki ciri khas nya sendiri, gamis syar'i yang sangat indah nan elegan pasti sangatlah cantik untuk zhivana kenakan.


Pernikahan azwar dan zhivana dipercepat tinggal tiga hari lagi, harusnya satu minggu lagi, tapi karena azwar takut kehilangan zhivana ia mempercepat tanggal pernikahannya.


Dilain tempat. Seina sedang menyusun sebuah rencana untuk zhivana, sebuah rencana yang menurutnya sudah sangat sempurna. Tinggal menunggu waktu untuk dirinya berjumpa kembali dengan zhivana.


Naumi ibunya seina sedang duduk disopa ruang tengah. Bersantai ria sambil membaca majalah kesukaannya. Seina mendekat, lalu duduk disamping ibunya.


"Ibu" Panggil seina sambil tersenyum manis.


Naumi meletakkan majalahnya diatas meja kaca. Lalu menatap seina.


"Ada apa nak." Tanya Naumi lembut.


"Tidak. Aku hanya ingin menyapa ibuku yang cantik ini" Ucap seina sambil menyandarkan kepalanya dipundak sang ibu.


"Seina. Ibu merasa sesuatu akan terjadi, tapi entah apa itu? Ibu sangat khawatir. Tolong untuk beberapa hari ini jangan dulu keluar rumah" Ucap naumi sambil mengelus rambut seina.


Rasa khawatirnya tidak bisa disembunyikan, memang belakangan ini naumi sering merasa cemas. Mimpi buruk tentang seina selalu menghantuinya disetiap malam. Dimana seina berteriak meminta tolong sambil merintih kesakitan dengan badan yang berlumuran darah. Itu semua membuat naumi ketakutan.


Seina duduk tegap, kedua tangannya menangkup kedua pipi ibunya.


"Ibu itu hanya sebuah pirasat belaka saja. Jadi ibu harus tenang, tidak akan terjadi sesuatu padaku, semua akan baik-baik saja, percayalah."


Naumi hanya tersenyum saja, tapi tetap saja hatinya masih merasa sangat khawatir.


Seina menarik tangannya kembali. Hari ini ia sudah janjian dengan seseorang di cafe.


"Nak, kamu mau kemana?" Tanya naumi penasaran. Saat melihat seina akan beranjak dari tempat duduknya.


"Aku mau berjumpa teman dicafe."


Naumi menghembuskan napasnya yang terasa berat, ia berdiri berhadapan dengan seina.


"Baru saja ibu bilang jangan kelur rumah dulu kamu malah mau keluar, rumah"


"Ibu ini bagaimana sih. Ibu terlalu kolot sehingga dengan pirasat seperti itu saja percaya." Ucapnya sambil mendengus kesal.


"Tapi nak, ibu sangat khawatir."


Lihatlah raut wajah cantik yang sudah mulai keriput itu menunjukkan bahwa ia memang sangat khawatir.


"Ibu percaya saja padaku. Aku ini akan baik-baik saja, tenanglah" Seina tersenyum sambil meyakinkan.


"Baiklah. Kalau begitu hati-hati dijalannya."


"Iya bu. Kalau begitu aku pergi dulu, bay-bay" Ucap seina sambil berlalu pergi keluar.

__ADS_1


Seina masuk kedalam mobil Range Rover Sport 3.0 HSE. Mobil berwarna putih ini miliknya sendiri, sang ayah yang telah membelikannya sebagai hadiah ulang tahun.


Seina langsung memacu mobilnya keluar dari gerbang dengan dibukakan oleh satpam rumah. Memecah jalanan kota bandung yang ramai. Seina terlihat sangat senang, wajahnya yang cantik terus saja tersenyum bahagia.


Sementara itu dengan naumi ibunya seina, ia mengikuti mobil seina dari belakang dengan menggunakan taksi online, agar seina tidak curiga.


"Aku sangat khawatir. Sebenarnya apa sih yang seina lakukan diluar sana? Kenapa akhir-akhir ini dia selalu mencurigakan. Bahkan aku sering mendengar seina tertawa sangat mengerikan dari dalam kamarnya. Aku sangat khawatir kalau seina kenapa-kenapa." Batin naumi.


Mobil taksi online yang ditumpangi Naumi masih setia mengikuti kemana arah mobil seina pergi.


"Pak. Jangan sampai kehilangan mobil itu" Ucap naumi pada supir taksi, tangannya menunjuk ke arah mobil seina yang ada di depan mobil taksi online yang ditumpanginya.


"Baik, bu" Balas sopir taksi online itu sambil mengangguk mengerti.


Mobil seina berhenti disebuah cafe besar bergaya klasik. Cafe itu, terlihat sedang banyak pengunjung. Tanpa seina ketahui bahwa cafe itu milik Alm. Rama, abinya zhivana. Bahkan dalam waktu sebulan sekali, zhivana sering mengunjungi cafenya yang dibantu dikelola oleh reno.


Mobil sudah terpakir rapi diparkiran depan, seina langsung masuk saja ke dalam. Begitu pula dengan naumi, ia turun dari taksi online. Menguntit seina dari belakang.


"Aku harus hati-hati." Batin naumi.


Sebelum masuk, ia celingak celinguk dulu dari kaca, melihat seina yang sudah duduk dengan seorang pria yang berpakaian serba hitam tidak lupa pria itu juga memakai topi hitam serta kacamata hitam.


Naumi masuk kedalam dengan sangat hati-hati. Duduk dibelakang meja seina. Sekarang naumi dan seina saling membelakangi. Dengan seperti ini, ia dapat mendengar obrolan mereka berdua dengan sangat leluasa.


"Bagaimana, apa kamu membawa barang itu?" Tanya seina dengan sedikit pelan.


Seina tersenyum senang, lalu menerima botol kecil hitam itu.


"Rasanya sangat senang mendapatkan racun mematikan ini darimu." Ucap seina. Tangannya sibuk memutar-mutar botol kecil hitam itu.


"Racun mematikan." Batin naumi.


"Racun itu dijual secara ilegal. Mendapatkannya saja sangatlah susah, apalagi dengan harganya yang pantantis membuatku sangat penasaran, seberapa mematikannya racun itu?" Ucap pria itu.


"Aku tidak peduli dengan harganya. Yang penting efeknya harus langsung membuat wanita buta itu mati" Seina tersenyum licik.


"Racun mematikan itu, untuk wanita buta. Siapa wanita buta itu? Kenapa seina sangat menginginkan wanita itu mati." Batin naumi.


"Wajahmu cantik. Tapi sayang hatimu tidak secantik wajahmu" Ucap pria itu sambil tersenyum mengejek.


"Itulah aku. Demi mendapatkan yang aku inginkan, aku akan melakukan apapun demi mencapai, nya" Lagi-lagi seina tersenyum licik.


Aku tidak menyangka anakku yang terlihat baik, ternyata dia sangat licik dan jahat. Batin naumi


"Haha, seina kau sangat licik dan kejam, rupanya." Ucap pria itu.


"Sudahlah. Oh ya, ini bayaran untukmu karena telah berhasil mendapatkan racun ini."


Seina meletakkan amplop coklat panjang yang isinya uang, ke hadapan pria itu.

__ADS_1


"Berapa isinya? Aku tidak ingin dibayar murah atas keberhasilanku yang mendapatkan barang laknat, itu" Ucap pria itu ketus.


"Isinya tujuh puluh juta, sesuai kesepakatan kita waktu itu."


Pria itu mengambil amplop coklat yang isinya uang. Tujuh puluh juta itu sangat banyak, dilihat dari luarnya saja amplop itu sangatlah tebal dan sedikit berat.


Senyuman licik keluar dari pria itu setelah melihat isinya yang diberikan seina untuk dirinya. Setelah memastikan isi amplop itu, ia memasukkan amplop coklat itu ke dalam saku dalam jas hitamnya.


"Ingat. Rahasiakan soal ini, anggap saja kita tidak pernah ketemu. Kalau tidak kau tahukan akibatnya" Ancam seina.


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu."


Sebelum berdiri pria itu membenarkan topi dan kacamatanya agar lebih menutupi identitas dirinya. Setelah dirasa cukup, pria itu langsung beranjak dari tempat duduknya dan langsung pergi begitu saja.


"Aku tidak percaya dengan barusan yang telah aku dengar. Tapi ini kebenaran nya bahwa anakku seina dia wanita jahat." Batin naumi.


Setelah pria itu pergi, seina langsung berdiri dan pergi keluar meninggalkan cafe.


Baru saja seina keluar dari cafe, ia sudah melihat mangsanya di depan mata, wanita itu berjalan kearah seina yang masih berdiri didepan pintu cafe.


"Sungguh sangat luar biasa mangsa yang sedang kuburu ini sudah ada didepan mata." Batin seina.


Ya, wanita itu adalah zhivana. Kebetulan sekali hari ini zhivana pergi ke cafe sendirian, rencananya ia akan rapat dengan para pegawainya, untuk memproduksi menu baru dan meningkatkan kualitas dari kemasan agar pelanggan lebih tertarik lagi.


Seina sudah tersenyum senang, ia melangkahkan kakinya untuk mendekati zhivana.


Cuaca hari ini tidak baik, langit yang sudah mulai gelap karena awan yang sudah mendung siap menumpahkan air hujannya ke bumi. Angin berubah menjadi lebih dingin dan kencang membuat rambut seina berterbangan. Seina sudah berhadapan dengan zhivana.


"Hay. Kak zhivana" Sapa seina dengan tersenyum menyerigai.


Zhivana yang mendengar seseorang menyapa dirinya langsung berhenti berjalan.


"Maaf, siapa ya?" Tanya zhivana.


Karena zhivana tidak terlalu mengenal seina jadi ia lupa dengan suara yang ia dengar sekarang.


"Malaikat mautmu sudah datang kak. Rasanya aku sudah tidak sabar melihat wanita buta sepertimu sekarat didepan kedua mataku ini." Batin seina.


Zhivana mengeratkan pegangan tangannya pada tongkat hitam panjangnya. Tiba-tiba saja perasaannya tidak nyaman.


Orang-orang yang berlalu lalang disekitar mereka berdua tampak tidak peduli, padahal ada nyawa seseorang yang sedang diancam kematian. Angin bertiup kencang menerpa mereka berdua. Daun-daun kering yang berjatuhan berserakan di sekitar jalanan, suara guntur mulai terdengar mendominasi suasana hati zhivana semakin tak nyaman, rasa takut mulai menerpa dirinya, kilatan-kilatan petir terlihat jelas di berbagai arah, seperti sudah siap untuk menyambar apapun.


Seina sudah siap menarik tangan zhivana untuk dibawa masuk ke dalam mobil miliknya.


'


'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2