
Rasa cemburu serta amarah, yang sekarang arrsyad rasakan. Zhivana sangat takut, untuk pertama kalinya melihat suaminya marah sebesar itu.
Sebenarnya, apa yang terjadi? Zhivana tidak tahu, kenapa arrsyad bisa semarah itu. Zhivana yakin, pergelangan tangannya mungkin sudah memerah, cengkraman itu sangat kuat dan kasar.
Sesampainya dirumah, arrsyad. Menghempaskan tangan zhivana. Dengan tajam tatapan itu menatap zhivana dalam-dalam.
"Kamu keluar rumah kenapa tidak bilang padaku? Apa kamu ingin bertemu dengan adzril secara diam-diam dibelakangku. Hah." Ucap arrsyad dengan nada tinggi.
Zhivana tersentak, mendengar suara arrsyad yang terdengar menggelegar diseluruh ruang tamu. Hatinya terasa sakit, diperlakukan seperti ini.
"A-aku hanya ingin membeli sesuatu mas, aku tidak tau kalau pria itu akan ada disana."
"Bohong, aku gak percaya sama kamu. Buktinya adzril sangat mengenalmu, pasti kamu selingkuhkan, dia ingin melamarmu, dek. Apa kau menerimanya,"
Zhivana menatap arrsyad dengan mata sembab, bahkan air mata itu terus beruraian. Seluruh tubuhnya terasa gemetaran, lemas sekali rasanya untuk membalas perkataan arrsyad.
Arrghh, sekarang perutnya mendadak merasa sakit. Tapi sakit dihati sangat lebih menyakitkan.
"Apa maksud kamu, mas. Aku dengan pria itu hanya pernah bertemu tiga kali, saat dia ingin melamarku aku ingin memberitahu kalau aku sudah menikah. Tapi dia keburu pergi."
"Lalu kenapa selama ini kamu gak pernah bilang ke aku,"
"Waktu itu aku ingin bicara padamu, mas. Tapi aku merasa itu tidak penting, lagi pula aku tidak tahu siapa pria itu, aku hanya tau namanya, saja."
"Adzril, dia temanku waktu kuliah diamerika. Dia juga rekan bisnisku sekarang, melihat dia sangat bahagia bisa bertemu denganmu, melihat dia. Terlihat sangat mencintaimu. Aku sangat kesal, kenapa kau diam saja,"
__ADS_1
"Aku tidak peduli dengannya, mas. Aku selalu menjaga jarak dan pandanganku terhadap pria lain. Aku juga tidak tau harus bagaimana cara menghadapi pria itu saat mendekatiku."
"Aku tidak percaya, buktinya kamu berjalan berdua. Kamu selingkuhkan, dek?"
Zhivana semakin terisak, kenapa arrsyad malah menuduhnya selingkuh. Jelas-jelas, adzril. Yang mengejarnya tadi. Rasa sakit hati semakin menjalar, sesak sekali rasanya. Oksigen terasa menipis.
"Kenapa diam? Jadi bener kamu dan adzril, sudahlah dek. Aku kecewa sama kamu."
"Mas, kamu salah paham."
Arrsyad tidak menggubris perkataan, zhivana. Mengambil kunci mobil, tanpa sepatah katapun arrsyad meninggalkan zhivana yang kini tengah terisak.
"Mas,"
Dengan lemas, zhivana langsung terduduk dilantai. Menangis sejadi-jadinya seraya memanggil nama arrsyad, berharap suaminya itu kembali.
Bi yuni yang sedari tadi bersembunyi dibalik tembok, menguping semua pembicaraan majikannya. Merasa tidak tega, melihat wanita yang selama ini selalu baik pada semua orang itu tengah terisak. Sikap ramah, lemah lembut zhivana yang menyejukkan membuat semua pelayan disini sangat menyayanggi zhivana, istri dari tuan muda.
Tangisan itu terdengar menyayat dihati, bi yuni. Ingin sekali mendekati nyonyanya, tapi ia urungkan. Dirinya hanya seorang pembantu disini.
Hari sudah semakin gelap, luchia belum juga pulang. Arrsyad juga belum kembali, entah pergi kemana. Zhivana yang masih setia duduk di lantai merasa pegal, perutnya terasa sakit.
Kedua matanya membengkak dan sembab, sesekali terdengar isak tangisannya yang masih belum mereda. Zhivana melangkah mendekati jendela, rupanya akan turun hujan lebat.
Awan-awan diatas sana sudah bergumpalan dengan warna hitam. Angin terasa kencang menyelusup masuk ke dalam rumah, dingin terasa menusuk ketulang.
__ADS_1
"Perutku sakit sekali, anak-anak bunda. Kalian yang tenang disana, ayah kalian pasti kembali." Ucapnya berusaha untuk mengalihkan rasa sakit.
Bukannya semakin mereda, rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Zhivana terus berusaha tenang, dalam hati ia menyembut asma Allah.
Dengan kesakitan, zhivana. Berusaha berjalan kelaur rumah, berniat ingin mencari arrsyad. Kepergian arrsyad tanpa pamit, membuat zhivana tidak tenang.
Rasa takut menyeruak begitu saja, pikiran negatif itu terlintas begitu saja. Zhivana yang takut arrsyad kenapa-napa, langsung berjalan keluar rumah.
Suara guntur yang disertai angin kencang, membuat zhivana takut. Gerimis kecil mulai menetes, hingga hujan deras itu turun membasahi tubuh zhivana.
"Nyonya, kenapa anda malah disana, ayo nyonya masuk hujannya sangat deras sekali." Bi yuni sudah membawa satu payung, berniat ingin memayunggi nyonyanya. Terlihat raut wajah wanita yang umurnya sudah setengah abad itu, sangat khawatir.
"Jangan, biarkan saya seperti ini dulu bi. Ini dingin sekali, tapi tidak apa. Saya akan melindungi anak-anak saya seperti ini," Ucapnya setengah berteriak agar terdengar oleh bi yuni, tangannya terus memeluk perutnya dengan erat.
Andai bi yuni tau, sekarang zhivana tengah menangis. Air matanya beruraian dengan seiringnya air hujan yang turun deras.
"Entah kenapa air hujan ini terasa sejuk, mungkin orang lain akan menganggapku aneh. Seorang wanita hamil, sedang hujan-hujanan ditengah guyuran air hujan yang deras."
"Hatiku sakit, tapi dengan air hujan yang turun disore hari ini membuatku tenang, anak-anak bunda. Maafkan bunda,"
Saat itulah tubuh zhivana tergeletak ditengah guyuran air hujan yang deras, bi yuni. Yang melihatnya langsung panik.
'
'
__ADS_1
Bersambung