Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 111 : Pergiku Tanpa Pamit


__ADS_3

Manusia memang berhak menentukan jalan hidupnya, bahkan berhak memutuskan pilihan. Jika seseorang yang kita anggap sebagai kakak kandung sendiri ingin menyerahkan kehidupannya demi orang lain bisa hidup kembali.


Membuat keadaan semakin sulit. Dulu pria itu, adalah orang yang pernah menemaninya disaat kesepian. Memberi cahaya yang tidak bisa dilihat, kasih sayang yang tulus itu terasa nyata.


Memberi semangat serta do'a yang selalu menguatkan zhivana saat terpuruk. Bahkan pria itu rela berkorban demi kebahagiaannya.


Ungkapan sayang yang malu-malu waktu itu terasa masih nyata untuk diingat. Kenangan indah serta manis bersama azwar adalah memori indah untuk zhivana.


Biarlah cerita masa lalu disimpan didalam hati dan pikiran. Ada masa kini yang jauh lebih nyata untuk dihadapi.


Buliran air mata yang terus menetes, membuat kain cadar zhivana basah. Duduk ditengah hamparan sajadah, mushola rumah sakit yang sepi. Membuat zhivana lebih leluasa mengungkapkan isi hatinya.


Hatinya sakit, raganya lelah. Terasa membelenggu didalam hati, menjadi beban berat untuk ditanggung sendiri. Butuh sandaran untuk ia menangis dibahu seseorang. Butuh seorang teman yang dipercaya untuk bisa mengungkapkan isi hatinya.


Biasanya ada arrsyad, tapi sekarang tidak ada. Zhivana rindu arrsyad. Rasanya sangat hampa tanpa kehadiran arrsyad, seperti raga yang butuh jantung.


Jika begitu maka arrsyad harus hidup, bagaimanapun juga suaminya harus sembuh kembali. Jika seperti raga yang butuh jantung, maka zhivana sendirilah yang akan menjadi jantung.


Bersujud kembali seraya menangis, kedua mata teduh itu terpejam. Mungkin ini adalah sujud terakhirnya, kepada sang khaliq. Sebelum ia mati.


Dua malaikat kecil, yang baru beberapa bulan ini hadir kedunia. Sebagai anugerah terindah yang telah Allah berikan, membuat zhivana sangat bahagia. Hidupnya sebagai seorang perempuan terasa sempurna, memiliki suami sholeh dan dua bayi kembar. Menjadikan zhivana sebagai seorang ibu dan istri.


"Mas, aku sayang kamu. Maaf, kepergianku kali ini tidak pamit dulu padamu."

__ADS_1


***


Hari telah berlalu dengan cepat, menggantikan rasa sedih menjadi bahagia. Setelah berhasil mendapatkan donor jantung, dan melakukan operasi.


Akhirnya arrsyad dipindahkan keruang perawatan. Reno dan luchia sangat senang, tapi rasa itu hanya bertahan sebentar. Bahkan sangat sekejap.


Setelah mengetahui siapa orang yang telah mendonorkan jantung untuk arrsyad. Luchia tidak ingin menemui arrsyad, bahkan Arka dan Aalesha dibawa pergi luchia kerumah gea.


Beberapa kali memukul tembok sampai tangan terluka, reno. Tetap tidak percaya dengan ini semua. Mengapa semua ini terjadi? Tidak. Pasti ini semua adalah mimpi buruk. Reno harus segara bangun.


Mencoba memukul kepala dengan pipi dengan sekeras mungkin. Tapi hasilnya nihil, ini semua nyata. Kenyataan pahit yang harus dihadapi secara nyata.


"Tidak. Ini tidak mungkin!"


Keadaan yang terlihat kacau, bahkan reno seperti orang tidak waras. Rasanya sangat tidak ingin menerima semua ini. Terlalu berat dan sakit untuk dirasakan.


"Tenanglah! Anda membuat kekacauan disini."


Dokter yang membantu operasi arrsyad datang. Menghampiri reno yang tengah meronta-ronta minta dilepaskan.


"Maafkan saya pak reno."


Merasa bersalah karena telah menuruti kemauan wanita yang beberapa jam lalu datang. Memohon seraya menangis, berkata dengan begitu penuh makna. Membuat dokter menyetujui keinginannya.

__ADS_1


Reno berhenti memberontak. Berlutut, dengan tubuh yang terasa sangat lemas. Wanita bercadar dengan tatapan teduh itu telah tiada, matanya terpejam untuk selamanya.


Bahkan suara lembut itu tidak akan pernah terdengar lagi. Meninggalkan dua bayi kembar yang masih sangat kecil, demi suaminya hidup kembali.


"Ini pasti mimpi! Tolong bangunkan saya."


Kedua mata reno memerah, mencoba menatap dokter.


Tidak mampu menjawab, dokter itu hanya diam seraya menundukkan kepala.


"Dia tidak mungkin meninggal."


Tanpa disadari arrsyad sedari tadi tengah berdiri, tangannya menyentuh tembok sebagai menyangga tubuhnya yang lemas.


"Siapa yang meninggal?"


Suara itu mampu membuat reno menoleh terkejut. Jantungnya sudah berpacu dengan cepat, takut arrsyad tau yang sebenarnya.


'


'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2