
Suara hembusan angin malam terdengar sangat jelas, zhivana tidak bisa tidur. Sedari tadi terus memikirkan arrsyad, apa arrsyad merindukannya? Apa arrsyad masih marah.
Pertanyaan demi pertanyaan zhivana pikirkan, sedari tadi wajah arrsyad terus terbayang. Senyuman manis arrsyad terus melintas, terasa didepan mata namun sangat jauh. Pelukan hangat arrsyad disetiap malam membuat zhivana nyaman, andai malam ini arrsyad datang kemari, rasanya zhivana ingin memeluk tubuh jangkung suaminya.
Perhatian arrsyad sangat zhivana rindukan, apalagi setiap kali berbicara berdua. Arrsyad selalu berkata manis, kata manis itu tidak bohong, arrsyad. Selalu menunjukkan segala bukti cinta dan kasih sayang itu pada zhivana dengan nyata.
"Dulu saat kamu diamerika selalu mengeluh rindu, mas. Bahkan kamu bilang kamu butuh aku, kamu bilang tanpa aku kamu merasa ada bagian hidupmu yang hilang. Terus kemana kamu sekarang mas, tolong kemarilah."
Zhivana memejamkan kedua matanya rapat-rapat, berharap arrsyad akan muncul dihadapannya secara tiba-tiba.
"Mas, aku rindu kamu,"
Zhivana terus mengucapkan itu berulang kali, seperti sebuah mantra untuk memanggil arrsyad datang, walau tidak mungkin tapi zhivana yakin arrsyad akan datang.
Membuka kedua matanya kembali, tapi hasilnya nihil. Zhivana kembali menangis, zhivana hanya ingin arrsyad saat ini juga. Bukannya disetiap masalah ada jalan keluarnya, maka zhivana ingin bertemu dengan arrsyad lalu memperbaiki semua masalah ini dengan cepat.
Dengan langkah pelan zhivana berjalan mendekati jendela, rasanya menatap langit malam mungkin bisa menenangkan hatinya. Dengan gerakan pelan tangan letik itu menyibakkan gordeng berwarna putih itu dengan perlahan.
Perlahan tapi pasti gordeng itu telah menyibak ke sisi, entah khayalan semata atau halusinasinya saja. Zhivana menatap tidak percaya pada sosok yang ada dihadapannya sekarang.
Seseorang yang ada dihadapannya menangis, uraian mata itu perlahan menetes membasahi pipi. Kedua mata itu menatap sendu pada zhivana.
Penampilannya sangat acak-acakan seperti tidak terawat, zhivana yakin dia tidak tidur dengan baik, buktinya dibawah kedua mata itu terdapat lingkaran hitam.
"Kenapa bayangannya ada dimana-dimana." Pekik zhivana seraya menutup kembali gorden itu dengan cepat.
"Sayang aku nyata." Ucapnya.
Dengan hati yang berdebar-debar, zhivana kembali membuka tirai gordeng dengan cepat. Tangisnya kembali pecah, bahkan sangat terdengar keras.
Bukannya saling menyapa untuk menyampaikan rasa rindu, keduanya malah saling menatap dengan air mata yang beruraian.
"Maafkan aku, aku berdosa menuduh istriku sendiri selingkuh."
"Hatiku sakit sekali, rasanya sangat sesak," Ucap zhivana seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan.
__ADS_1
"Jika kata maaf tidak bisa mengobati rasa sakit dihatimu, maka bunuh saja aku. Atau kamu balas saja perbuatanku, tapi tolong asal kamu tetap menjadi milikku itu saja sudah membuatku bahagia."
Saat zhivana ingin membuka jendela, tiba-tiba sepasang tangan menahannya.
"Jangan dibuka."
"U-umi,"
"Arrsyad pergi dari sini jangan pernah kembali lagi kesini, tolong jangan temui lagi zhivana anak saya. Kalau perlu lupakan saja zhivana, sepertinya anak saya yang lebih pantas menjadi suami zhivana dari pada kamu" Ucap umi aisyah dengan tegas, bahkan terdengar seperti menahan amarah.
Arrsyad tersentak mendengarnya, hatinya sangat sakit. Lalu menatap zhivana dengan nanar, beralih pada perut besar zhivana. Didalam sana ada anak-anaknya, bukti nyata cinta arrsyad dan zhivana selama ini.
"Tolong maafkan saya, saya tau saya salah. Sikap saya terhadap zhivana memang keterlaluan, tapi amarah serta rasa cemburu waktu itu telah membutakan saya. Tolong saya umi aisyah, tolong berikan saya waktu untuk bisa bicara pada zhivana."
"Maaf ini sudah malam." Ucap umi aisyah seraya menutup kembali gordeng kamar zhivana.
"Kenapa umi melakukan itu?"
Umi aisyah menarik tangan zhivana, berniat ingin membawa kekamar yang satunya lagi.
"Tapi bagaimanapun juga dia suamiku,"
"Jauhi dia zhivana, ayo kita tidur."
Zhivana diam, lalu ikut terbaring disebelah umi aisyah. Melihat arrsyad menangis seperti tadi, membuat zhivana yakin kalau arrsyad telah menyadari kesalahannya.
***
Pagi-pagi sekali, umi aisyah sudah membereskan seluruh barang zhivana. Bahkan umi aisyah sudah bicara lewat telpon pada reno, kalau semalam arrsyad datang menemui zhivana secara diam-diam.
Reno sudah menduga itu, dengan seluruh rencana yang sudah dibuat, reno memutuskan untuk membawa pergi zhivana sejauh mungkin dari arrsyad. Rencananya reno, kiai husen serta umi aisyah. Akan membawa zhivana ke kota A, disana adalah cabang kedua pondok pesantren kiai husen.
"Kamu sudah bersiap, nak?" Tanya kiai husen, saat melihat zhivana keluar dari dalam kamar.
"Sudah, tapi kita mau kemana? Kenapa ada kak reno juga,"
__ADS_1
Reno tersenyum lalu, membawa koper zhivana kedalam mobil.
"Sementara waktu kita pindah dulu ya nak, nanti kita kesini lagi. Ayo kita berangkat," Ajak kiai husen seraya berlalu keluar rumah.
Zhivana menatap umi aisyah dengan sendu.
"Apa ini gara-gara semalam?"
"Tidak nak, ini hanya untuk sementara waktu. Percayalah pada kami, ini demi kamu dan juga anak-anakmu nak. Arrsyad, suamimu itu harus menyadarinya dengan baik. Ayo nak kita berangkat sekarang."
Didepan rumah sudah ada azwar dan fazal, mereka sudah siap menyambut kepergian zhivana.
"Zhivana jaga dirimu dengan baik, aku janji. Aku akan datang mengunjungimu nanti, jaga kandunganmu juga, zhi." Ucap azwar dengan menatap kedua mata hazel milik zhivana dengan lekat.
Zhivana menunduk, mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang.
"Terimakasih, ustadz azwar. Tapi aku masih tidak mengerti dengan semua ini, kenapa kalian menjauhkanku dengan arrsyad? Jujur saja aku sangat tidak ingin pergi kemana-mana."
Tidak terasa air matanya kembali beruraian. Reno langsung mendekap tubuh zhivana dengan lembut.
"Kenapa kak, kenapa kakak memisahkanku dengan arrsyad. Aku yakin dia pasti tidak akan bisa bertahan, dia terlalu sayang kak padaku makanya sikap kemarin itu terlalu berlebihan."
"Tidak zhi, ku mohon mengertilah. Arrsyad telah keterlaluan padamu, janinmu kemarin hampir kenapa-napa. Percayalah akan ada saatnya arrsyad menjemputmu."
"Baiklah, aku akan pergi."
Dengan air mata yang berlinang, zhivana melepaskan pelukannya, lalu masuk ke dalam mobil.
"Sampai jumpa lagi zhivana, semoga Allah selalu melindungimu dan kandunganmu." Ucap azwar seraya menatap mobil BMW hitam milik reno yang semakin menjauh.
'
'
Bersambung
__ADS_1