
Setelah kejadian itu azwar segera mengajak almira keluar, pergelangan tangan itu dicengkram kuat hingga memerah. Padahal almira sudah sangat kesakitan.
Kedua mata azwar sudah memerah, bahkan setitik air mata itu sudah menetes. Menerima kenyataan pahit tentang kematian zhivana, tentunya sangat menguncang hatinya.
Rasa kecewa memenuhi rongga dada yang kini terasa sesak. Rasanya sangat sulit untuk bernapas.
"Kenapa kamu melakukan itu, almira?" Bentak azwar setelah menghempaskan tangan almira. Calon istri yang begitu dikagumi kini malah membuat ia kecewa.
"Kenapa kamu memberitahu zhivana kalau aku ingin mendonorkan jantung untuk arrsyad?"
"Kenapa kamu malah menyuruh zhivana untuk melakukan semua ini?"
"Jawab! Almira, kenapa? Kenapa kau egois. Padahal aku sangat kagum padamu. Tapi dibalik kebaikanmu itu kamu adalah wanita egois yang ingin menang sendiri tanpa berpikir terlebih dahulu."
"Kau tau almira, aku sangat ingin melihat zhivana hidup bahagia. Selama ini dia selalu menderita, tapi kau malah mendukungnya untuk mati."
Azwar memukul tembok dengan membabi buta tidak peduli dengan rasa sakit, tidak peduli dengan darah yang mulai keluar dari tangan. Rasa sakit dihatinya tidak sebanding dengan luka sekarang.
Almira menangis dengan tangan berusaha menghentikan tindakan azwar. Tapi sayang azwar malah mendorong nya hingga jatuh ke lantai.
"Aku kecewa padamu, pergilah almira! Anggap saja kita tidak pernah bertemu."
Tidak, almira tidak mau itu. Ia sangat mencintai azwar. Seharusnya pernikahan itu sudah terjadi dan menjadikan ia dan azwar sepasang suami istri.
"Tidak. Kumohon jangan katakan itu, mas. Aku sangat mencintaimu."
"Kenapa kamu selalu memuji dan membicarakan selalu mbak zhivana? Padahal aku calon istrimu, aku tidak menyukainya, lama-lama mbak zhivana menganggu hubungan kita. Bukannya dia lebih baik tidak ada."
"ALMIRA... "
"Kenapa hah? Kenapa kau masih membelanya, jelas-jelas zhivana mu sudah mati."
__ADS_1
Hendak ingin melawan ucapan almira, tapi ini rumah sakit. Kalau berdebat terlalu lama mungkin akan mengundang banyak perhatian orang-orang.
"Terserah, yang aku mau pernikahan kita batal."
Hatinya sudah sakit dan kecewa jika terus bersama almira ia akan terbawa emosi. Lebih baik menjauh, langkah kaki panjangnya berjalan tidak tentu arah.
Keluar rumah sakit dengan tergesa-gesa. ingin menyembunyikan air matanya yang hendak terjatuh.
Sementara dengan arrsyad, ia malah terdiam dengan tatapan kosong. Hatinya terasa sakit bahkan terasa sangat sesak hingga sulit untuk bernapas.
Ada reno disamping mencoba bicara hati ke hati pada arrsyad. Bagaimanapun juga dia harus tau sekarang, pemakaman akan digelar siang ini juga.
"Istriku ada dirumah kak, mana mungkin dia pergi dariku."
Zhivana cintanya, hidupnya, bahkan nyawa tersendiri untuk arrsyad. Zhivana adalah istrinya, miliknya dan hanya untuknya.
Tidak boleh pergi, tidak boleh menjauh. Hanya arrsyad yang boleh atas zhivana. Ingin egois hanya untuk ingin bersama zhivana.
Mungkin ini gila, namun rasa cinta untuk zhivana jauh lebih besar dan menggila. Jika bisa arrsyad ingin mati dan semakam berdua hanya dengan zhivana.
"Kenapa dengan istriku? Dia ada dirumah. Ayo kita pulang, kasian dia merindukan, ku."
Reno menunduk dalam-dalam lalu dengan perlahan butiran bening itu menetes dari pelupuk matanya. Sedari tadi berusaha menyakinkan adiknya kalau zhivana sudah tiada, selalu tidak didengar.
"Jantung zhivana ada padamu."
"Bukan, ini jantung orang lain. Istriku ada dirumah dengan anak-anak."
"Sadarlah arrsyad! Istrimu sudah meninggal, zhivanamu sudah meninggal. Dia telah meninggalkan kita semua."
"Tidak mungkin, itu bukan zhivana. Zhivanaku ada dirumah, Minggir aku mau pulang."
__ADS_1
Dengan tergesa infus ditangan dilepas secara paksa, bahkan arrsyad berusaha turun dari bangsal. Berjalan pincang dengan penuh susah payah.
Reno hanya diam mematung seraya memperhatikan apa yang dilakukan arrsyad. Adiknya itu seperti orang tidak waras, yang baru keluar dari rumah sakit jiwa.
Lemas, sakit, dan pusing sampai tubuh arrsyad tersungkur kelantai. Berusaha bangun kembali, degan susah payah. Berjalan, dan lagi-lagi tersungkur kelantai.
Kali ini reno membantu arrsyad bangun, tapi naasnya arrsyad malah marah seraya menepis tangan reno.
"Minggir, aku bisa sendiri." Bentak arrsyad, air matanya menetes. Luruh dengan segala rasa yang sejak tadi membelenggu didalam hati.
"Kenapa untuk jalan saja susah, aku benci diriku sendiri. Aku terlalu pengecut dan bodoh."
Berteriak dengan kedua tangan memukuli dada, rasa sakit didalam hati lebih perih dan menyakitkan. Tidak sebanding dengan luka fisik.
"Kenapa didalam sini sesak sekali, aku tidak mau merasakan ini."
Kali ini pukulan didada lebih keras, tidak peduli dengan bekas operasi yang masih sensitif. Tapi ini soal rasa yang sangat menyakitkan didalam sana, sesak dan pedih.
Berusaha menghentikan tindakan arrsyad yang semakin bruntal, tangan gemetar arrsyad dipegang reno dengan kuat. Kedua pasang mata adik kakak itu beradu pandang, bersirobak dengan penuh genangan air mata.
"Ayo kita pulang dan temui zhivana."
Seperti orang yang terkena hipnotis, arrsyad langsung menurut. Memanggil seorang suster untuk dibawakan kursi roda. Tidak butuh waktu lama suster tadi langsung datang membawa kursi roda.
Dengan bantuan reno, arrsyad langsung duduk dikursi roda. Diam dengan pandangan kosong lurus ke depan. Lama-lama reno tidak tega melihat adiknya seperti itu.
"Apakah zhivana sedang menungguku, kak?"
"Tentu. Karena kamu adalah suaminya."
Memejamkan kedua mata menguatkan diri untuk terlihat tegar dihadapan sang adik. Kenapa semua ini harus terjadi dikehidupan adiknya.
__ADS_1
Kemarin zhivana yang menunggu arrsyad sadar. Tapi takdir malah berkehendak lain, zhivana meningal disaat arrsyad telah sadar.
Maafkan aku arrsyad, aku akan membawamu menemui jenazah istrimu sendiri.