Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 64 : First Love


__ADS_3

Setelah kena omel dari sang kakak ipar yang maha benar. Arrsyad langsung pergi ke kamar. Terlihat istrinya itu baru selesai mengaji.


Zhivana menyimpan al-qur'an diatas meja nakas. Berjalan menuju teras balkon, hembusan angin sore terasa sejuk. Langit mulai berubah warna, beberapa ekor burung terlihat berterbangan diatas langit.


Sepertinya zhivana belum menyadari kehadiran arrsyad yang tengah berdiri diambang pintu kamar.


Arrsyad mendekat ke zhivana, lalu memeluk istrinya itu dari belakang. Ikut menatap keatas langit sore yang terasa indah.


"Maaf" Ucap arrsyad dengan rasa bersalah, mengingat tragedi dikamar mandi tadi pagi.


Zhivana menatap kedua tangan arrsyad yang melingkar dipinggang. Berdekatan seperti ini membuat jantungnya kembali berdebar cepat.


Ada rasa nyaman yang teramat sangat, tak bisa dibohongi oleh kata dan penolakan. Arrsyad memperlakukan dirinya sangat baik dengan penuh kasih sayang.


Untuk pertama kalinya zhivana merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya. First love nya adalah arrsyad yang kini telah menjadi suami sah nya.


Cinta yang benar adalah saat kita mencintai seseorang yang sudah halal baginya. Cinta tanpa ikatan halal adalah perbuatan dosa. Yang akan membawa kita menuju siksa.


"Maafkan aku juga. Seharusnya aku gak marah sama kamu."


"Tapi kamu kesakitan dek. Beneran deh aku kebablasan, kamu udah bilang gak mau tapi aku malah maksa kamu. Pasti masih sakit ya, dek."


Kenapa masih membahas itu, zhivana sudah malu sendiri. Apalagi mengingat kejadian itu. Ahh. Mengingat saja membuat kedua pipinya memerah.


"Jangan dibahas lagi, aku malu"


Arrsyad membalikan tubuh zhivana agar menghadap kearahnya.


"Kenapa harus malu. Lagi pula aku udah liat semua yang ada didalam diri kamu."


"Mas ih, kenapa kesana terus bicaranya!! Aku kan udah bilang malu." Ucap zhivana dengan menunduk.


"Gemesin banget kamu, dek. Kalau lagi malu-malu kayak gitu."


"Udah, aku mau masuk ke dalam. Sebentar lagi adzan magrib."


Zhivana hendak melangkah namun arrsyad malah menahan pergelangan tangannya.


"Jawab dulu dek. Masih sakit enggak"

__ADS_1


"Kenapa memangnya."


"Kalau udah gak sakit nanti malam lagi ya, dek." Ucap arrsyad dengan tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.


***


Pagi telah tiba, zhivana dan luchia sedang asik didapur membuat sarapan. Sementara arrsyad jogging keliling perumahan. Reno yang super sibuk dengan pekerjaan nya sebagai CEO sudah berkutat dengan laptop serta berkas-berkas lainnya.


Satu jam telah berlalu. Luchia serta reno sudah duduk dimeja makan. Arrsyad yang baru pulang dengan peluh keringat yang bercucuran malah terlihat semakin tampan.


"Istriku mana kak" Tanya arrsyad seraya membuka kulkas untuk mengambil botol minum, air dingin.


"Katanya mau ke kamar dulu." Sahut luchia.


Arrsyad mengangguk saja seraya mendudukan dirinya dikursi meja makan berhadapan dengan reno.


"Jadi kapan kamu mau mulai bekerja." Tanya reno tiba-tiba.


Arrsyad yang sedang tersenyum memandangi zhivana yang baru tiba didapur, langsung teralihkan oleh ucapan reno.


"Aku kerja apa kak?" Tanya arrsyad bingung.


Arrsyad menerima sepiring nasi goreng yang zhivana telah siapkan untuknya.


"Jadi besok aku mulai kerja"


Reno mengangguk seraya mengunyah nasi goreng miliknya.


"Dikantor perusahaan mana aku kerja"


"Diperusahaan yang cabang kedua, karna perusahaan yang utama itu aku yang pimpin. Kamu juga, jabatannya jadi presedir. Perusahaan yang kamu urus nanti bergerak dibidang properti, kuliner, dan fashion."


"Males banget aku jadi Presedir"


"Orang-orang impiannya jadi presedir atau CEO. Lah kamu malah males jadi presedir! Gimana sih." Komentar luchia dengan mulut penuh dengan nasi goreng.


"Bukan gitu. Tapi aku gak yakin bisa pimpin tuh perusahaan. Aku pernah magang kerja diamerika, itu juga kerja biasa cuman suruh itu, suruh ini." Ucap arrsyad yang teringat pengalaman magangnya sewaktu tugas kuliah dulu.


"Nanti aku kasih tau tugas-tugas kamu apa aja" Ucap reno dengan serius.

__ADS_1


***


Kini arrsyad ikut bersama reno ke perusahaan. Keduanya langsung turun dari mobil yang dibukakan oleh dua orang bodyguard berbadan besar.


Kedua adik kakak itu berjalan kedalam yang sudah disambut oleh jajaran karyawan.


Setelah arrsyad dan reno masuk ke dalam lift para karyawan wanita langsung berghibah ria.


"Aaaaaa. Itu adiknya pak reno keren abis. Mana ganteng banget. Sumpah." Teriak histeris, seorang wanita bagian resepsionis. Bernama dita.


"Astaga. Itu adiknya pak reno, ganteng banget. meleleh aku liatnya." Ucap seorang karyawan wanita. Yang diketahui bernama lusi.


"Enggak kakak nya gak adiknya sama-sama tampan. Emaknya dulu ngidam apa sih! Kok bisa yak, ngelahirin model tampan kayak gitu." Ucap karyawan wanita bernama luna.


Masih banyak pembicaraan ghibah ria lainnya tentang arrsyad.


***


Diruangan milik reno. Sudah tiga jam arrsyad mempelajari ini itu. Tentunya dibawah bimbingan reno sang kakak yang setia mengajari adiknya, yang sedari tadi malah uring-uringan.


"Ternyata ngurus perusahaan itu susah! Aku kira kaya dinovel-novel yang CEO atau presedir nya bebas ngelakuin ini itu. Ternyata ada aturannya. Mana ini banyak banget lagi yang harus diurus." Keluh arrsyad seraya memperhatikan tumpukan berkas-berkas yang ada dihadapannya.


"Ngehalu aja, kamu." Gerutu reno seraya menendang kaki arrsyad yang duduk dihadapannya.


"Aduh sakit. Aku cuma baca aja." Pekik arrsyad.


"Mulai besok kerja yang bener. Ini belum seberapa, makanya pas dirumah luangkan waktu buat pelajari ini. Bukannya malah ngangguin zhivana terus." Ucap reno dengan menatap tajam kearah arrsyad.


Arrsyad bocah itu malah cengengesan.


"Ya, mau bagaimana lagi. Abisnya zhivana menggoda iman banget sih, kak" Ucap arrsyad dengan tampang polosnya.


"Dasar sableng"


'


'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2