Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 97 : Kontraksi


__ADS_3

Masih dimana arrsyad terus menatap zhivana. Malam ini terasa lebih indah dari biasanya. Tidak ada honeymoon yang seperti dulu direncanakan. Bagi arrsyad, semua malam seperti honeymoon. Asal itu berdua bersama zhivana, maka akan terasa indah.


"Tapi tetap saja aku malu." Zhivana mulai mundur, sedikit menjauh dari arrsyad. Lama-lama dekat suaminya, selalu membuat jantung zhivana berdetak cepat.


Arrsyad tersenyum lebar, melihat tingkah zhivana yang malu malu terlihat sangat menggemaskan. Arrsyad mulai berlutut, mensejajarkan wajahnya dengan perut besar zhivana.


Cup


Dua kecupan manis mendarat tepat diperut zhivana, dengan tangan arrsyad yang mengelus perut zhivana.


"Dua kecupan untuk anak-anak ayah."


Arrsyad tidak menyangka bahwa ia akan menjadi seorang ayah di usianya yang masih muda. Bukan hanya itu ia sekarang menjadi seorang presedir muda yang sukses. Apalagi, dengan adanya zhivana yang selalu disampingnya. Maka hal sulitpun akan terasa mudah dilewati.


"Mas aku sayang kamu." Untuk pertama kalinya, zhivana berani mengungkapkan rasa kasih sayangnya pada arrsyad. Tidak peduli dengan rasa malu yang sekarang melanda. Tapi rasa bahagia yang membucah memenuhi rongga dada, seperti ingin meledak.


Arrsyad berdiri dengan senyum yang terus mengembang. Angin malam yang semakin kencang membuat rambut arrsyad semakin acak-acakan. Tidak lepas dari mata zhivana, semakin kesini suaminya semakin tampan saja.


Zhivana pernah berpikir, pasti diluar sana banyak kaum hawa yang terpesona oleh arrsyad. Tapi melihat arrsyad yang selalu dingin pada orang lain membuat zhivana merasa lega, pasalnya. Takut ada wanita lain yang berusaha merebut arrsyad darinya.


"Aku juga sayang banget sama kamu, dek. Dari dulu waktu kamu masih kecil. Hingga sekarang, perasaanku tetap sama. Kamu milikku, dan aku juga milikmu. Dear."


Arrsyad mulai mencium seluruh permukaan wajah zhivana. terakhir ciumanya berhenti dibibir zhivana yang kecil. Ciuman itu terasa lembut dan memabukkan seperti candu. Zhivana hanya bisa mengimbangi apa yang dilakukan arrsyad padanya.


Arrsyad Mulai memangku tubuh zhivana ala bridal style, ternyata cukup berat juga saat menggendong wanita hamil. Dengan hati-hati arrsyad membaringkan tubuh zhivana diranjang yang dipenuhi kelopak bunga mawar merah.


Saat ditengah aktivitas panasnya, zhivana mengeluh sakit diperut. Sontak membuat arrsyad panik, apalagi ia sangat cemas. Takut tanpa sadar, arrsyad bermain terlalu berlebih.


"Apa sakit sekali? Sayang maaf, aku telah melukaimu." Arrsyad segera mengambil selimbut yang terjatuh kelantai tadi, dengan cepat ia menyelimuti zhivana sampai keleher.


"Sakitnya suka muncul tiba-tiba."


"Aku akan panggil dokter," Gawai yang disimpan diatas nakas segera arrsyad ambil, dengan panik ia mencari kontak dokter kandungan yang biasa ia dan zhivana kunjungi setiap pemeriksaan.


"Jangan mas!" Pekik zhivana dengan raut wajah gelisah.


Arrsyad yang sudah siap menekan tombol hijau jadi tidak jadi. "Kenapa dek? Aku takut kamu dan anak-anak kenapa-napa,"


"Ini sudah malam, tidak enak rasanya menganggu istrirahat orang lain. A-apalagi, kita ha-habis melakukannya."

__ADS_1


"Gak papa, gak bakal ketahuan ini kok."


"Tapi mas,"


"Memangnya kenapa? Kalau kita ketahuan juga bakalan gak digerebeg."


***


Hari demi hari telah berlalu, zhivana semakin sering mengalami kontraksi. Apalagi sedari habis shalat shubuh, zhivana merasa sakit diperut. Arrsyad yang tadinya ingin berangkat ke kantor jadi tidak jadi. Melihat zhivana yang selalu mengeluh sakit membuat arrsyad khawatir.


Zhivana memegangi pundak arrsyad dengan kuat, perutnya terasa sakit kembali. Kali ini sakitnya selalu berangsur lama.


Luchia yang tadi diberitahu oleh arrsyad segara pergi untuk melihat keadaan zhivana. Olivia digendong oleh reno, sementara luchia berjalan terlebih dahulu karena khawatir pada zhivana.


"Assalamualaikum." Ucap luchia dan reno, keduanya telah sampai diapartemen milik arrsyad.


"Waalaikumsalam." Jawab arrsyad, lalu mempersilakan masuk kedalam karena zhivana ada dikamar.


"Mana Zhivana, nya?" Luchia yang kini sudah berubah penampilan menjadi lebih tertutup semakin terlihat anggun, apalagi wajahnya yang cantik sekarang telah ia tutup memakai kain cadar.


"Dikamar, tadi dia ngeluh sakit diperutnya pas udah beres shalat shubuh. Semakin kesini, rasa sakitnya malah makin bertambah." Ucap arrsyad, memberitahu apa yang zhivana rasakan sejak tadi.


Sesampainya dikamar, terlihatlah zhivana sedang berusaha berjalan seraya memegang tembok.


"Zhivana apa yang sekarang kamu rasakan? Apa sakitnya terus terasa," Tanya luchia seraya membantu zhivana berjalan, begitu pula dengan arrsyad. Dengan sigap ia memegang tangan zhivana seraya mengelus punggung zhivana dengan lembut.


"Iya kak. Tapi sekarang udah lumayan enggak sakit kayak tadi. Ini udah jalan terus."


"Kita kerumah sakit aja yu, aku takut istriku dan anak-anak kenapa-napa." Ajak arrsyad dengan cemas.


Luchia mengangguk setuju, lalu menyiapkan semua keperluan bayi dan zhivana selama lahiran nanti. Reno yang menggendong Olivia, segera turun kebawah untuk menyiapkan mobil.


"Dek, biar aku gendong ya. Takut kamu sakit jalannya."


"Gak usah mas. Aku jalan aja, lagi pula aku baik-baik saja kok."


"Tapi dek, aku gak tega liat kamu kesakitan kayak gitu. Bisa gak rasa sakitnya pindah ke diri aku."


Zhivana hanya tersenyum seraya geleng-geleng kepala. Rasa sakit diperut membuat zhivana malas bicara, dalam hati ia terus menyebut Asma Allah. Meminta do'a agar diberi keselamatan dan perlindungan.

__ADS_1


Selesai mengemas luchia langsung menyusul ke dalam mobil. Karena arrsyad dan zhivana sudah duluan didalam mobil. Reno menyetir dengan kecepatan cukup kencang, itu juga disuruh oleh arrsyad. Zhivana mulai merasa mulas, ia sudah tidak bisa berkosentrasi untuk menahan rasa sakit.


Sesampainya dirumah sakit, zhivana langsung di tangani oleh suster dan dibawa ke ruang persalinan dan diperiksa oleh dokter.


"Wah ini sih bisa bersalin normal." Ucap Dokter.


"Udah sering belum bu rasa mulesnya?" Tanya dokter lagi.


"Mules sih sedari tadi pagi terasa dok. Tapi memang tidak begitu sakit" jawab zhivana masih dengan santai.


"Oh begitu. Ini sudah keluar lendir campur darah, saya cek pembukaannya ya bu." Ucap dokter sembari memasang handscoone.


Didalam ruangan Zhivana ditemani oleh arrsyad dan luchia.


"Ini pembukaannya baru 2 Bu. Tapi ini sudah banyak keluar lendir, sepertinya tidak akan lama lagi" ucap dokter setelah melakukan pemeriksaannya.


"Sebaiknya ibu dan bapak tinggal disini. Dari pada harus bulak balik rumah sakit, takutnya nanti melahirkan dijalan." Ucap dokter kembali.


"Baik dok, terimakasih." Ucap arrsyad.


Lalu dokter itu meninggalkan zhivana dan arrsyad dalam ruangan. Zhivana masih berbaring diatas bed, ia mulai merasakan kontraksi sedikit lebih sakit dari pada tadi.


"Bissmillah. Zhivana pasti kamu kuat." Ucap luchia menyemangati.


"Doakan, aku ya kak." Ucap zhivana dengan perasaan begitu dag dig dug tak karuan.


"Iya zhi. Do'aku selalu untuk kamu." Jawab luchia dengan tersenyum lebar.


Arrsyad yang juga sama merasakan dag dig dug hanya bisa terus menyebut asma Allah, mulutnya tak henti berdzikir.


Persalinan zhivana terbilang sangat lambat, rasa sakit kontraksi yang semakin sakitpun mulai dirasakan zhivana. Waktu menunjukan pukul tujuh malam, setelah isya dokter kembali datang untuk memeriksa pembukaan zhivana.


"Pembukaannya baru bertambah tiga , menjadi lima. Kemungkinan akan lahir malam ini. Bu." Ucap dokter sembari memberi lagi obat pada zhivana.


Zhivana mulai berjalan-jalan kecil dalam ruangan, rasa sakit kontraksi yang semakin sakit begitu jelas terasa. Dengan sabar Arrsyad menemani setiap langkah zhivana, lantunan dzikir dari mulut arrsyad dan zhivana begitu jelas terdengar mereka lantunkan secara bersama-sama.


'


'

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2