
Masih dimana, arrsyad. Terpaku oleh perkataan adzril, sahabatnya itu sangat terlihat bahagia, senyuman bahagia itu terus adzril tunjukkan pada arrsyad.
"Dia pernah menolongku, dan saat itulah aku jatuh hati padanya,"
Itu zhivana, istrinya. Adzril mecintai zhivana yang tengah hamil anak darinya. Rasanya, arrsyad. Ingin marah seraya menghajar wajah adzril.
Andai saja itu bukan adzril, sahabatnya. Mungkin arrsyad sudah hilang kendali menghajarnya. Arrsyad menarik napas dalam-dalam, berniat untuk meredam emosi.
"Pergilah," Ucap arrsyad dengan suara berat.
"Kenapa? Kau jemput saja istrimu. Aku ingin menatap zhivana lebih lama lagi,"
Arrsyad menatap zhivana dengan tajam, sorot itu terlihat sangat marah. Marah karena adzril menyukai zhivana, kenapa zhivana tidak pernah bicara padanya. Ahh, entahlah. Tiba-tiba saja kepala arrsyad berdenyut sakit.
Rasa cemburu dan takut kehilangan itu kembali terasa dirongga dada. Bayangan masa lalu saat zhivana hendak ingin menikah dengan azwar terbayang kembali.
"Kau mencintai, nya,"
"Tentu, waktu pertemuan kedua kalinya, aku melamar zhivana."
"Berani sekali kau melamarnya," Ucap arrsyad dengan penuh penekanan.
"Kenapa? Sepertinya dia belum menikah,"
Haruskah arrsyad memberitahu adzril bahwa zhivana adalah istrinya, bahkan sekarang zhivana akan menjadi seorang ibu dari anak-anaknya.
Melihat adzril yang terlihat bahagia, membuat arrsyad tidak tega. Mungkin ia akan memberitahu adzril nanti.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Sudahlah, aku pergi dulu." Ucap adzril seraya berlalu pergi meninggalkan arrsyad.
Setelah kepergian adzril, arrsyad. Berjalan mendekat ke zhivana dan gea.
Zhivana yang melihat arrsyad langsung tersenyum.
"Mas,"
"Kak gea, andre tidak bisa menjemputmu. Ikutlah bersama kami, aku akan mengantarmu pulang,"
Gea menatap zhivana dan arrsyad secara bergantian, bukannya zhivana memanggil arrsyad. Tapi kenapa arrsyad tidak menjawabnya? Bahkan arrsyad tidak menatap zhivana.
"Iya, terimakasih."
"Baiklah, ayo pulang." Ajak arrsyad seraya berjalan terlebih dahulu.
Zhivana tersenyum saja, walau merasa ada yang aneh. Mungkin itu hanya perasaannya saja.
"Kamu tidak apakan?" Tanya gea merasa khawatir.
"Aku baik-baik saja, ayo pulang."
Setelah mengantar gea pulang, arrsyad tidak biasanya diam seperti ini. Suasana menjadi canggung, zhivana. Ingin bicara tapi melihat suaminya seperti itu zhivana kembali mengurungkan niatnya.
Sesampainya dirumah, seperti biasanya arrsyad langsung membukakan pintu mobil untuk zhivana. Tapi kali ini berbeda setelah membukakan pintu, arrsyad. Langsung berlalu pergi begitu saja.
__ADS_1
"Mas, kamu kenapa?" Gumam zhivana.
Zhivana langsung masuk ke dalam rumah, luchia tidak ada dirumah mungkin sedang berkunjung kekantor suaminya.
Dengan hati yang berdebar-debar, zhivana masuk ke dalam kamar. Terlihat arrsyad tengah terbaring tengkurap diranjang.
"Mas," Panggilnya dengan lirih.
Tidak ada jawaban.
"Mas, kamu kenapa? Kenapa sedari tadi kamu diam terus,"
Masih tidak ada jawaban.
"Mas,"
Rasanya sangat sakit di diamkan seperti ini, zhivana. Tau kalau arrsyad tidak tidur, ia bingung harus bicara apa supaya suaminya itu menjawab.
Mungkin arrsyad ingin sendiri dulu, zhivana memutuskan untuk mandi. Dengan perasaan yang tidak menentu, bukannya mandi. Zhivana malah melamun seraya menatap pantulan wajahnya dicermin besar kamar mandi.
"Apa aku ada salah, kenapa mas arrsyad mendiamkan aku seperti ini. Hiks, kenapa rasanya sangat sakit sekali."
Setengah jam berlalu, kedua mata zhivana terlihat sangat sembab. Ritual mandinya sudah selesai, saat zhivana hendak ingin mengambil handuk miliknya. Zhivana nampak terkejut karena ia lupa membawa handuk dan baju ganti.
"Bagaimana ini? Mana pakaian yang itu sudah basah"
Teringat pada arrsyad, tapi tidak mungkin. Suaminya sedang mendiamkan zhivana, jadi mana mungkin untuk meminta bantuan padanya.
"Kenapa," Suara arrsyad mengangetkan zhivana, rupanya arrsyad menyadarinya.
"I-itu mas, emm. A-aku lupa me-membawa handuk."
Arrsyad, beranjak lalu berjalan mengambil handuk zhivana yang tergantung.
"Baju gantinya mau sekalian aku ambilin," Tanyanya.
Zhivana tersenyum.
"Terserah kamu aja, mas,"
Membuka lemari, lalu mengambil pakaian zhivana. Arrsyad sangat tahu persis pakaian mana yang selalu membuat istrinya nyaman. Apalagi dikehamilannya yang sudah menginjak empat bulan, perut istrinya sudah terlihat membesar.
"Ini, jangan lama-lama nanti kamu bisa sakit," Titahnya tanpa menatap zhivana.
"Iya, mas. Terimakasih," Ucap zhivana seraya mengambil pakaian yang arrsyad serahkan.
Selesai memakai pakaiannya, zhivana langsung keluar dari kamar mandi. Arrsyad masih setia sibuk dengan laptopnya.
Mendadak ingin makan roti bakar yang ada diujung sebrang jalan perumahannya. Tapi tidak mungkin bicara pada arrsyad, sebaiknya zhivana beli sendiri, rasanya sangat canggung untuk berbicara pada arrsyad.
Zhivana mengenakan cadarnya, lalu menatap arrsyad sebentar sebelum keluar dari pintu kamar. Keluar dari rumah, zhivana. Menatap sekeliling perumahan, terlihat sangat sepi. Para tetangga disini memang jarang bersosialisasi atau sekedar sapa menyapa sepertinya sangat jarang.
Berjalan sendirian seraya bershalawat, memeluk perutnya yang semakin membesar. Zhivana sangat bersyukur karena Allah telah memberikannya dua anak sekaligus.
__ADS_1
Sepuluh menit berjalan, terlihat gerobak pedangang roti bakar, yang sangat terkenal enak. Zhivana langsung pesan dua kotak roti bakar, rasanya sangat tidak sabar untuk segera mencicipinya.
"Loh, zhivana"
"Adzril, ka-kamu kenapa bisa ada disini?"
Adzril sebenarnya hanya kebetulan lewat, tapi melihat zhivana yang tengah duduk seraya menunggu pesanan membuat adzril turun dan ikut pesan roti bakar.
"Aku ingin membeli roti bakar ini," Bohong adzril, padahal dirinya ingin bicara dengan zhivana.
Zhivana hanya mengangguk saja, lalu memiringkan duduknya untuk menghadap pada bapak-bapak penjual roti bakar tersebut.
Setelah selesai dan berpamitan pada adzril, zhivana. Langsung berjalan cepat berniat ingin menghindari adzril.
"Tunggu zhivana,"
Zhivana sangat Risih sekali saat adzril tiba-tiba mengikutinya. Apa tidak lihat dirinya sudah menikah bahkan tengah hamil empat bulan, zhivana. Menatap perutnya, memakai baju syar'i degan kerudung menjulur panjang menutupi perutnya, membuat zhivana tidak kelihatan hamil.
"Mohon maaf, ada apalagi. Tolong jangan ikuti saya,"
"Apa kamu tinggal disini," Bukannya menjawab. adzril malah bertanya seraya tersenyum-senyum.
"Jadi kalian disini," Suara arrsyad yang terdengar seperti membentak membuat adzril serta zhivana menoleh kaget.
"Mas,"
"Arrsyad, kamu kok bisa ada disini?"
Arrsyad tidak menjawab, ia melangkah mendekat ke zhivana. Dengan kasar arrsyad menarik pergelangan tangan zhivana.
"Ahh, mas. Sakit," Rintih zhivana.
"Kalian saling kenal?" Tanya adzril dengan bingung.
"Enyahlah dari sini," Teriak arrsyad marah.
"Tapi dia kesakitan,"
"Bukan urusanmu."
Adzril terdiam seraya menatap kepergian arrsyad yang menarik tangan zhivana dengan kasar. Ada apa ini? Kenapa arrsyad terlihat sangat marah.
"Hiks, sakit mas. Lepas,"
Seperti orang yang sudah dibutakan oleh amarah, arrsyad. Tidak peduli dengan zhivana yang kesakitan, air matanya sudah beruraian. Bahkan roti bakar yang tadi dibeli sudah tidak ada ditangan zhivana, entah jatuh dimana.
"Kamu kenapa mas? Hiks, lepaskan ini sakit sekali."
'
'
Bersambung
__ADS_1