
"Aku mencintaimu, tanpa alasan, tanpa kenapa, tanpa tetapi, dan tanpa pernyataan lainnya"
~Arrsyad Zega Al Faruq~
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Berpikir keras. Untuk menemukan panggilan yang tepat untuk sang istri tercinta. Arrsyad, nampak ragu, menyebut sebutan sayang! Apalagi dirinya tidak pernah berpacaran. Rasanya sangat kaku sekali. Sayang, gila sayang lebah. Pikirnya.
Zhivana berbalik, mendapati arrsyad, yang kini telah menjadi suaminya.
Arrsyad tersenyum kaku, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Yaampun. Sekarang dirinya malah salah tingkah sendiri.
Zhivana bingung harus bagaimana? Dengan perasaan malu dan gugup zhivana menunduk dalam-dalam.
"Dek. Ehh." Celetuk arrsyad tanpa sadar.
Saking malunya, arrsyad buru-buru memalingkan wajahnya. Bodoh, arrsyad merutuki dan memaki dirinya sendiri.
Zhivana menatap arrsyad dalam-dalam. Apa dirinya tidak salah dengar? Arrsyad, sang suami memanggilnya dengan panggilan "Dek". Apa tadi arrsyad, memanggilnya?
Jantungnya kembali berdebar cepat.
Dengan malu-malu zhivana, berkata.
"Ma-mas, panggil aku."
Eh, apa tadi katanya "Mas".
"Iya, itu panggilan sayang aku, ke kamu. Dek" Ucapnya seraya melangkah maju, mendekati zhivana. Yang kini telah sah menjadi istrinya.
Zhivana gelagapan, dengan jantung yang berdebar-debar. Dirinya melangkah mundur.
Arrsyad mengerjit bingung? Kenapa istrinya itu, malah melangkah mundur?. Arrsyad berhenti, lalu diam ditempat.
"Kenapa mundur? Sekarang kan Udah sah! Dek, aku mau peluk kamu" Ucapnya dengan jujur.
"Yaalloh. Dia jujur banget."
Zhivana salah tingkah, dengan jari yang saling bertautan, dirinya berkata.
"Aku malu. Disini masih banyak orang."
__ADS_1
Arrsyad refleks mengedarkan penglihatannya. Cuman beberapa orang. Terlihat asik berbincang dan bercengkerama.
Dirinya tidak peduli, orang zhivana dan dirinya udah sah ini. Kenapa harus malu.
Tapi dirinya harus mengerti zhivana.
Tiba-tiba, pikiran gila datang.
Sabar. Nanti dirumah mah bebas, mau di apa-apain juga. Udah sah ini.
Arrsyad mengangguk mengerti. Dengan polosnya, dirinya berkata.
"Berarti, dirumah boleh yah, dek" Ucapnya dengan menyengir polos.
"Ehh"
Zhivana mengerjap gugup. Dirinya bingung harus menjawab bagaimana?
Kedatangan luchia dan reno, mengalihkan pembicaraan dan perhatian keduanya. Zhivana bernapas lega. Luchia, mengajak pulang ke rumah zhivana. Ada hal penting yang harus dibicarakan. Katanya.
Mesjid besar pondok pesantren mulai sepi, orang-orang mulai pulang. Keluarga kiai husen sudah tidak terlihat, begitu juga dengan azwar. Padahal, zhivana ingin menyampaikan sesuatu pada pria itu.
Diruang tamu zhivana, arrsyad, reno, dan luchia. Berbincang-bincang seputar pernikahan keduanya yang diinginkan oleh azwar, rencana ke depannya mau bagaimana?, dan kuliah arrsyad. Seharusnya, hari ini arrsyad sudah kembali ke amerika. Tapi diluar rencana dan dugaan, arrsyad telah menikahi wanita yang selama ini dirinya dambakan.
Reno duduk bersandar disopa. Pandangannya terus menatap adik dan zhivana secara bergantian.
"Jadi mau bagaimana nih, kamu kan harus balik ke amerika lagi?"
Arrsyad yang duduk disamping zhivana nampak berpikir, sejenak dirinya melirik zhivana. Sedari tadi istrinya itu, diam.
Arrsyad menghela napas.
"Gimana dek? Kamu mau ikut aku ke amerika?" Tanyanya, dengan melihat sang istri.
Reno dan luchia saling lirik, lalu tersenyum geli. "Dek". Ahh, manis sekali. Mengingat usia arrsyad jauh lebih muda dari zhivana. Rasanya sangat lucu, seharusnya yang dipaggil "Dek" itu arrsyad. Haha. Luchia dan reno tertawa geli dalam hati. Tapi mau bagaimana, sekarang mereka berdua sepasang suami istri. Dipanggil "Dek" Manis juga. Romantis. Pikir luchia dan reno.
Zhivana berpikir sejenak, lalu menatap arrsyad bingung.
Arrsyad yang peka perasaan zhivana. Langsung berkata.
"Aku mau nya zhivana ikut. Cukup dulu aku pisah jauh dengannya. Sekarang mah jangan, kamu ikut aja. Dek"
__ADS_1
Reno tersenyum geli.
"Bilang aja, kamu mau deket-deket zhivana terus." Sindir reno.
"Maklum, orang mereka pengantin baru" Sahut luchia, dengan terkekeh.
Arrsyad mendengus kesal.
"Kaya gak pernah pengantin baru, aja" Ejeknya dengan ketus.
Tiba-tiba, zhivana berkata.
"Aku ngikut mas aja. Tapi, apa tidak menganggu? Disana kan mas kuliah. Takutnya kehadiranku hanya menganggu, mas"
"Zhi, yang ada tuh yah, si arrsyad bakal terus gangguin kamu." Komentar reno.
Arrsyad mendelik sebal. Sialan.
"Gak bakalan dek, yang ada mas seneng. Sekalian aja kita honeymoon." Ujarnya dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"Hah"
Reno dan luchia langsung tercegang kaget, sekaligus menatap arrsyad tak percaya.
Zhivana, jangan ditanya! Wanita itu mematung kaget. Bisa-bisanya, arrsyad berbicara seperti itu? Pernikahan ini begitu diluar nalar baginya, bagaimana tidak yang seharusnya azwar, malah dengan tiba-tiba arrsyad yang mengucapkan ijab kabul. Tentunya, mendengar kata honeymoon! Yang terlontar dari mulut sang suami, membuat zhivana belum siap.
"Tapi ada bagusnya, siapa tau pulang dari sana. Kita dapet ponakan, iya gak?" Sahut reno dengan tertawa gila.
Luchia yang tau perasaan zhivana bagaimana, langsung meninju pundak reno.
"Kamu ini. Ngawur."
Zhivana membatin, entah kenapa pikirannya malah tertuju pada azwar.
"Kenapa mas azwar tidak menemuiku? Apa dia marah? Kalau memang ikhlas. Seharusnya, dia menemui aku dan juga arrsyad. Pasti perasaannya terluka."
'
'
Bersambung
__ADS_1