
"Mencintai Allah adalah setinggi-tingginya cinta. Sempurnakan cintamu pada Allah sebelum engkau melabuhkan cintamu pada makhluk-Nya.”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari sudah semakin siang, terik panas yang di hasilkan dari matahari sudah sangat terasa. Angin yang bertiup kencang membuat dedaunan beterbangan kesana kemari. Jalanan nampak sepi tidak seperti biasanya.
Sementara itu zhivana tengah duduk terdiam di depan rumah menunggu ke datangan seseorang. Hijab syar'i yang ia kenakan tidak bisa diam karena tertiup angin, zhivana tidak memperdulikan itu, ia tengah hanyut ke dalam pikirannya.
Tak lama kemudian sosok seorang pria memakai baju koko tidak lupa dengan setelan sarung dan peci yang ia kenakan, tengah berjalan menuju arah zhivana.
"Assalamualaikum" Ucapnya dengan lembut.
Zhivana yang tau suara itu langsung tersenyum.
"Waalaikumsalam"
Satu bulan yang lalu azwar sudah pulang ke indonesia dan dalam satu bulan ini juga azwar sudah sering menemui zhivana untuk sekedar mengobrol bersama.
"Ustadz silahkan duduk"
Zhivana mempersilahkan azwar untuk duduk di kursi bambu bercat coklat tua, kursi itu tidak jauh dari kursi yang tengah zhivana duduki hanya saja ditengah-tengah kursi bambu itu terdapat meja bundar berukuran sedang.
"Ustadz"
"Ukhty"
Ucap azwar dan zhivana secara bersamaan.
Zhivana menunduk rasanya sangat malu dan terasa gugup.
Aswar tersenyum saja yang sekarang melihat zhivana menunduk dengan tangan mengcengkram kuat tongkat yang ia pegang sedari tadi.
"Ukhty sebaiknya bicara duluan" Ucap azwar seraya tersenyum.
"Baiklah"
Zhivana mendongakkan wajahnya kembali tatapan nya lurus ke depan walau zhivana tidak bisa melihat ia tetap enggan untuk menghadap ke arah azwar berada.
"Ustadz tiga hari yang lalu umi aisyah datang kesini, kami hanya sekedar mengobrol saja. Tapi, kata umi ada perubahan besar dalam diri ustadz semenjak pulang dari kairo"
Deg
Azwar takut umi dan abinya curiga dan akan mengetahui tentang penyakitnya ini bagimana tidak sekarang tubuhnya semakin kurus dan lebih sering terlihat pucat.
"Kata umi ustadz semakin kurus, tubuh ustadz sering terlihat mudah lelah bahkan terlihat sangat pucat setiap harinya. Setiap umi bertanya pada ustadz katanya ustadz selalu saja mengalihkan topik pembicaraan. Ustadz azwar saya merasa anda mencoba menyembunyikan sesuatu dari kami semua tapi apa itu? Saya mohon berbicaralah dengan jujur"
"Yaalloh bagaimana ini apakah ini saatnya aku memberitahu zhivana soal penyakit kanker darah yang sedang aku derita." Batin azwar
"Akan terlalu rumit bagiku untuk menceritakannya" Ucap azwar dengan lirihnya.
"Apakah ustadz tidak mempercayai saya"
"Saya percaya, tapi ini terlalu mendadak jika harus diceritakan sekarang"
Zhivana hanya terdiam dirinya sedang berpikir bagaimana caranya agar ustadz azwar bisa bicara jujur padanya.
"Ustadz saya mohon bicaralah apapun itu saya akan menerima kenyataannya"
Azwar menatap zhivana rasanya sangat ragu untuk menceritakan ini semua. Tapi mau bagaimana lagi sebentar lagi zhivana akan menjadi istri sah nya. Terima atau tidaknya zhivana soal ini azwar harus tetap memberitahu zhivana.
"Aku mengidap penyakit kanker darah" Ucap azwar dengan lirihnya.
Deg
Zhivana langsung diam mematung rasanya sangat tidak percaya apa yang barusan ia dengar dari ustadz azwar.
"Ti-tidak mu-mungkin kan ustadz."
Jujur saja zhivana sangat terkejut mendengarnya bahkan sekarang kakinya terasa lemas.
"Itu benar, kamu orang pertama yang saya beritahu"
"Apakah umi dan abimu, tau."
"Tidak, saya sengaja tidak memberitahunya. Kalau saya memberitahu mereka pasti mereka akan sangat khawatir"
"Sejak kapan penyakit kanker itu tumbuh" Ucap zhivana dengan suara seperti orang yang sedang menahan tangisan.
"Sudah enam tahun"
Diam zhivana sekarang diam saja, bagaimana bisa ustadz azwar menyembunyikan penyakit kanker ini sendirian. Pasti rasanya sangat sakit ini bukan penyakit biasa tapi ini penyakit kanker darah. Itu pasti sangat menyakitkan sekali bukan apalagi azwar menahan rasa sakit selama ini sendirian.
Tiba-tiba saja terdengar isak tangis dari zhivana, membuat azwar panik sendiri karena tidak tahu kenapa tiba-tiba saja zhivana menangis.
"Kenapa menangis." Ucap azwar yang sekarang menatap zhivana.
"Tolong jangan menangis, entah kenapa kalau kamu menangis hatiku terasa sangat sakit."
Zhivana masih tidak menjawab, hanya terdengar isak tangisannya saja.
"Zhivana" Ucap azwar dengan lembut
__ADS_1
Untuk pertama kalinya zhivana mendengar ustadz azwar menyebut namanya, biasanya memanggil dengan embel-embel ukhty.
"Tolong jangan menangis"
Zhivana menghapus air matanya, tapi tetap saja hatinya sangat sesak karena penderitaan yang sekarang ustadz azwar alami.
"Bagimana bisa ini terjadi? Penyakit kanker darah itu bukan penyakit biasa ini sangat mematikan, bagaimana bisa ustadz menahan rasa sakitnya selama ini?"
"Bisa tidak jangan panggil saya ustadz. Pembicaraan kita ini terdengar sangat formal sekali"
"Terus saya harus memanggil apa?"
"Aku akan memanggil nama saja. Bagaimana dengan kamu zhivana?"
"Bagaimana kalau mas saja" Ucap zhivana malu malu.
Azwar langsung tersenyum mendengarnya.
"Baiklah. Kalau kamu yang mengucapkan nya maka akan terdengar sangat manis" Ucap azwar dengan tersenyum-tersenyum.
Zhivana hanya menunduk malu.
"Zhivana berjanjilah untuk tidak memberitahu perihal ini pada umi dan abi aku sangat tidak ingin membuat mereka khawatir"
"Tapi mas bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mas"
"Percayalah pada mas ini semua akan baik-baik saja."
"Baiklah aku tidak akan memberitahunya. Tapi mas kalau ada apa-apa bicara saja"
"Terima kasih. Zhivana apa kamu masih mau menikah dengan aku yang penyakitan ini"
"Mas aku akan menerima mas apa adanya. Bagaimanapun keadaan mas aku akan menerimanya"
"Zhivana"
"Ya"
"Ana uhibbuki fillah."
"Ahabbakalladzi ahbabtani lahu" Balas zhivana dengan malu malu tidak lupa dirinya juga tersenyum manis dibalik kain cadarnya.
"Oh iya, bukannya penyakit kanker itu harus menjalani mengobatan semacam kemoterapi. Apakah mas menjalani pengobatan secara baik dan rutin?"
"Mas menjalaninya dengan baik tapi tidak terlalu rutin. Karena mas harus menjalani kemoterapi di singapura"
"Jauh sekali"
"Apa jangan-jangan sesudah lulus kuliah S2 mas pergi ke singapura?" Tebak zhivana
Azwar melirik zhivana sekilas lalu tersenyum. Ternyata zhivana bisa menebak dirinya dengan benar.
"Iya. Maaf ya mas sudah berbohong"
"Tidak papa kok, selama itu kebaikan untuk mas zhi akan selalu mendukung"
"Kau tau saat seperti ini aku merasa punya harapan hidup yang sangat kuat. Sekarang aku punya alasan untuk selalu bertahan hidup yaitu kamu zhivana calon istri ku"
Zhivana merasa terharu mendengarnya, ia masih sedikit tidak percaya bagaimana bisa azwar mengidap penyakit kanker darah selama ini. Bertahan hidup dan berjuang melawan rasa sakitnya sendirian itu sungguh luar biasa.
Zhivana tahu azwar mencintainya dengan sangat tulus, zhivana juga merasa senang karna azwar menjadikan zhivana sebagai alasan mengapa dia harus bertahan hidup.
Air matanya tidak bisa ia bendung lagi menetes begitu saja membasahi pipi dan kain cadar nya.
"Bagaimana kalau aku meninggal" Lirih azwar dengan pandangan menatap lurus ke depan.
Zhivana menahan isak tangisannya agar tidak terdengar oleh azwar, dirinya tidak ingin membuat azwar ikut bersedih.
"Aku mohon jangan berbicara seperti itu, aku yakin mas pasti akan sembuh"
"Jika aku meninggal saat menjadi suami mu, aku mohon zhivana sebaiknya kamu menikah lagi dengan lelaki sholeh yang bisa membimbingmu ke surganya alloh"
"Mas aku mohon jangan berbicara seperti itu, aku mohon bertahanlah demi umi dan abi mu dan bertahanlah untukku juga. Bukannya mas mencintai aku? Jadi aku mohon mas harus berjuang kami semua ada untuk mas aku akan selalu ada disamping mas, aku akan merawat mas sampai sembuh"
"Aku sudah bertahan sejauh ini dengan sekuat apa yang aku bisa. Tapi entah mengapa aku takut jika di esok hari aku tidak bisa melihat keluarga ku lagi, aku juga takut tidak bisa melihat mu lagi"
"Mas aku sangat menyayangimu jadi aku mohon bertahanlah untukku"
Azwar sangat bersyukur sekaligus senang mendengarnya, ia tahu bahwa dirinya harus berusaha untuk bertahan hidup. Tapi rasa sakit yang ia tahan selama ini semakin menjadi setiap harinya, seakan-akan kematian semakin menghampirinya.
"Terima kasih banyak zhivana, jujur saja mas sangat senang mendengarnya. Doa kan saja semoga mas bisa sembuh"
"Aku akan selalu mendoakan mas dan akan selalu tetap mendoakan mas agar mas bisa sembuh dan kembali sehat seperti semula"
"Alhamdulillah, terima kasih zhivana."
"Iya mas"
"Zhivana mas harus segera pergi ke mesjid sebentar lagi adzan dzuhur dan mas juga sekalian pamit pulang ya. Kamu tidak apakan sendiri"
"Iya mas nggak papa kok, dan aku juga sudah terbiasa jadi mas jangan khawatir"
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu mas pergi dulu ya, jaga dirimu dengan baik"
"Iya mas"
Zhivana dan azwar pun beranjak dari tempat duduknya.
"Mas pamit dulu ya. Assalamualaikum."
"Iya mas. Waalaikumsalam"
Azwar langsung melangkahkan pergi untuk berangkat ke mesjid. Sementara zhivana ia langsung masuk kedalam rumah.
***
Amerika Serikat
Di dalam sebuah cafe bergaya modern yang terletak di pusat kota, tiga orang ini sedang bercanda ria tapi tidak dengan satu orangnya yang terlihat murung.
Malam ini sangat ramai sekali tidak seperti malam biasanya. Udara malam ini terasa cukup dingin. Lampu berkelap kelip menghiasi toko-toko, terdengar riuh oleh suara orang-orang yang berlalu lalang di luaran sana.
"Come on arrsyad kita nikmati malam ini sebelum ujian kamu dimulai. Sedari tadi kamu terlihat murung sekali, kenapa hem apakah ada masalah?" Tanya adzril dengan meneguk segelas teh hijau.
"Arrsyad kamu kenapa? Kalau ada masalah bicara saja pada kita semoga saja kita bisa bantu" Ucap seina khawatir.
Arrsyad menatap kearah adzril dan seina secara bergantian rasanya ia enggan sekali untuk menceritakan apa yang ia tengah rasakan sekarang.
"Apakah kalian sudah puas menikmati teh nya kalau sudah sebaiknya kita langsung pulang saja"
"Lahh kita disini baru saja setengah jam dan kau sudah mengajak pulang"
Adzril merasa kesal karena arrsyad selalu saja tidak bisa diajak berlama-lama diluar untuk sekedar minum ataupun jalan jalan itu sangat susah kecuali kalau adzril harus memaksa dulu arrsyad.
Arrsyad mendengus kesal.
"Baiklah kalau begitu aku pulang duluan"
Arrsyad langsung berdiri dari duduknya. Arrsyad juga tidak lupa untuk membayar teh yang ia pesan tadi walaupun tidak ia minum sedikitpun. Arrsyad meletakkan uang nya diatas meja dan langsung pergi begitu saja meninggalkan adzril dan seina yang masih duduk.
"Arrsyad kenapa apakah dia ada masalah?" Tanya seina
Adzril mengangkat kedua bahunya menandakan bahwa dirinya juga tidak tahu.
"Ada apa dengan arrsyad apakah dia punya masalah? Sebaiknya aku harus mencari tahu." Batin seina.
"Seina sebaiknya kita juga pulang"
Adzril sudah mengambil uang yang arrsyad simpan di meja lalu menghitungnya.
"Rupanya arrsyad mentraktir aku dan juga seina." Batin adzril kegirangan
"Baiklah"
Seina hendek mengambil dompet yang ada di dalam tasnya tapi adzril menahannya.
"Kenapa." Tanya seina bingung
"Arrsyad mentraktir kita lihatlah uang nya pas untuk membayar pesanan kita"
Seina menatap uang yang ada di tangan adzril, benar juga rupanya ternyata arrsyad mentraktirnya.
"Yasudah aku bayar dulu kamu tunggua diluar saja"
"Oke"
Seina pun mengambil tas nya dan pergi keluar sementara adzril harus membayar dulu.
Sementara arrsyad kini ia sedang menuju apartemen dengan menaiki taksi, sebenarnya jarak kafe tadi dengan apartemen yang ia tempati tidak terlalu jauh, hanya saja ia ingin lebih cepat sampai.
Tidak terasa taksi pun sudah sampai di depan gedung apartemen. Sesudah membayar arrsyad langsung turun dan masuk pergi ke dalam apartemen.
Sesampainya di kamar arrsyad langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Sial" Umpatnya kesal.
Bagaimana tidak kesal empat hari yang lalu arrsyad telah menghubungi kakaknya untuk menanyakan soal zhivana yang sudah bertunangan dan akan segera menikah. Tapi, reno malah tidak menjawabnya.
"Kakak ipar luchia pasti dia juga tidak akan menjawabnya. Dan andre sekarang dia sibuk bekerja"
Arrsyad bangun dan langsung mendudukan dirinya di sisi ranjang tangannya mengacak-ngacak rambut hitamya yang tebal. Pikirannya selalu saja tentang zhivana, arrsyad sangat cemas dengan rencana pernikahan zhivana dan ustadz azwar itu.
Bagaimana kalau itu sampai terjadi, arrsyad tidak ingin orang yang dicintainya dimiliki oleh orang lain. Apalagi rasa cinta arrsyad pada zhivana begitu sangat besar.
Cintanya semakin tumbuh besar dan tulus pada zhivana, sejak kecil arrsyad sudah menyadari nya kalau ia sudah jatuh cinta pada zhivana. Tapi ia pendam agar zhivana tidak mengetahuinya, lebih baik mencintai dalam diam dari pada harus mengungkapkannya.
Bukannya tidak berani untuk menyatakan cinta pada seorang wanita, arrsyad bisa saja menyatakan cinta kapanpun yang ia mau, tapi itu terlalu terburu-buru baginya menyatakan cinta yang paling tepat adalah saat pergi kerumah wanita yang ia cintai menemui kedua orangtua nya untuk mengkhitbah anak nya. Bukannya itu tindakkan cinta yang paling nyata kalau kita mencintai seseorang.
"Kak zhivana aku sangat merindukan, mu." Ucap arrsyad dengan sendu.
'
'
__ADS_1
Bersambung