Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 46 : Operasi


__ADS_3

Masih dirumah sakit besar pelita. Arrsyad, pria itu sedang menunggu zhivana. Duduk dikursi panjang depan ruang ganti, sendirian. Lorong rumah sakit yang sunyi, hanya ada beberapa orang suster yang sesekali lewat.


Arrsyad melihat jam tangan yang melilit ditangan kiri. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat empat puluh lima menit, lima belas menit lagi operasi akan segera dimulai.


Suara pintu terbuka. Arrsyad buru-buru menoleh, seorang suster mendorong kursi roda, dengan zhivana duduk disana. Arrsyad berdiri mendekati zhivana yang sudah berpakaian layaknya seorang pasien.


Baru saja arrsyad ingin mendekati zhivana, seseorang menyalipnya terlebih dahulu. Arrsyad mundur dua langkah memberikan orang itu ruang. Azwar pria itu, tiba-tiba datang entah kapan dan dari mana. Azwar sudah ada ditengah-tengah arrsyad dan zhivana.


Azwar berjongkok untuk mengimbangi tingginya dengan zhivana. Kedua tangannya mengengam penghujung sisi atas kursi roda. Jarak yang begitu dekat membuat arrsyad yang melihatnya langsung menatap tak suka.


"Assalamualaikum, calon istriku" Ucap azwar.


Tidak lupa senyuman yang menawan ia tunjukkan, walau zhivana tak melihatnya.


Arrsyad berdecih dalam hati.


Zhivana langsung menunduk, tangannya mencengkeram ujung hijab. Gugup, zhivana dapat merasakan azwar sangat begitu dekat dengannya.


"Waalaikumsalam. Mas" Balasnya dengan pelan.


Suster sinta yang melihat ada dua pria tampan langsung kebingungan. Yang satu berpenampilan alim dan yang satunya keren dan sedikit formal. Dari interaksi keduanya, suster sinta dapat menebak kalau dua pria tampan ini menyukai zhivana.


"Wahh. Sepertinya kak zhivana sedang diperebutin oleh dua pria tampan ini. Benar-benar sangat beruntung. Astaga, jiwa jombloku langsung meronta-ronta." Batin suster sinta.


"Sebentar lagi operasinya dimulai. Kamu baik-baik saja, kan."


Lagi-lagi arrsyad berdecih dalam hati.


Zhivana mengangguk pelan.


Azwar tersenyum. Lalu dengan gerakan cepat ia mengambil tangan kanan zhivana.


Cup.

__ADS_1


Satu kecupan mendarat mulus ditangan kanan zhivana yang terbalut sarung tangan.


Zhivana langsung membulatkan matanya. Terkejut, dengan perlakuan azwar. Tidak biasanya azwar seperti ini pada dirinya.


Arrsyad. Jangan ditanya lagi, ia seperti orang yang kebakaran jenggot. Cemburu. Ya, arrsyad sedang merasa cemburu. Dengan melihat perlakuan azwar pada wanita yang dicintainya seperti itu. Mendadak suhu tubuhnya memanas seketika, berkobar layaknya bara api yang sedang membara.


"Berengsek." Batin arrsyad.


Suster sinta tiba-tiba tersenyum. Sekaligus merasa kasihan, melihat pria tampan yang satunya lagi, sedang dilanda rasa cemburu.


"Padahal gantengan pria yang dibelakang. Kaya model. Ehh, kaya oppa korea. Oh yaampun mataku langsung jelalatan kalau lihat yang bening-bening." Batin suster sinta.


"Jangan takut. Aku ada disini. Abi sama umi berharap operasinya berjalan dengan lancar."


Zhivana hanya menanggapi dengan anggukan.


"Sebentar lagi kita menikah. Aku sangat bersyukur sekaligus senang. Karena, saat kita menikah nanti. Kamu udah bisa melihat lagi." Ucap azwar dengan tersenyum-tersenyum.


"Maaf tuan, sebentar lagi operasinya dimulai. Pasien harus segera keruang operasi." Ucap suster sinta. Sesekali penglihatannya melirik pada arrsyad.


Azwar tersenyum pada zhivana. Lalu, berdiri.


"Aku sangat berharap. Saat kau membuka kedua matamu nanti, aku ingin menjadi orang pertama yang kamu, lihat." Ucap azwar dengan melirik pada arrsyad.


Suster sinta. Hanya bisa menyaksikan interaksi kedua pria itu.


Arrsyad mengepalkan kedua tangannya erat. Wajahnya terlihat biasa saja. Tapi, hatinya terasa memanas.


Arrsyad tidak bisa berbicara untuk sekarang, ia memilih untuk diam. Disini ada zhivana, kalau arrsyad berbicara pasti perdebatan akan terjadi. Zhivana, akan melakukan operasi, pikirannya tidak boleh terganggu.


Arrsyad langsung berbalik badan, melangkah pergi untuk menjauh dari sana. Niatnya, yang ingin memberikan semangat dan ucapan selamat untuk zhivana, ia urungkan.


Gea yang melihat arrsyad, melewatinya begitu saja. Langsung terdiam. Menatap punggung arrsyad yang melangkah pergi dengan tergesa-gesa membuat gea merasa heran.

__ADS_1


"Bukannya, arrsyad ingin menemui zhivana. Kenapa malah pergi. Apa sudah bertemu. Entahlah, hubungan keduanya semakin rumit." Ucap gea pelan. Lalu melanjutkan langkah kakinya untuk menjemput zhivana.


Arrsyad. Melangkah keluar rumah sakit. Udara dingin langsung menerpa sekujur tubuh. Arryad berhenti didepan gedung rumah sakit, tidak ada orang, hanya ada dua security yang sedang berjaga didepan sana. Arrsyad mendongakkan wajahnya. Melihat langit malam yang begitu gelap pekat, tidak ada bintang diatas sana.


Meredakan rasa cemburu yang sedari tadi menyesakkan dada. Sesaat arrsyad memejam matanya.


Apakah ia harus menyerah? Mendapatkan zhivana sangat sulit setelah ia pergi kuliah ke luar negeri.


Sejauh ini ia sudah berjuang. Berjuang sendirian, ternyata sangat melelahkan. Rasa lelah itu, ia selalu menepisnya jauh-jauh tapi hari ini. Seperti ada tembok besar yang memisahkan dirinya dengan zhivana. Rasanya semakin ia mendekat maka akan semakin jauh untuk menggapai cintanya.


Arrsyad berpikir. Apakah zhivana dengan dirinya tidak berjodoh? Kalau memang benar, rasanya arrsyad ingin menghilangkan perasaan cinta ini. Cintanya pada zhivana tulus dan mendalam. Memikirkan zhivana bersama orang lain saja, membuat hatinya terasa sesak.


Air hujan mulai berjatuhan, membahasahi wajah arrsyad, seolah-olah tidak peduli dengan tetesan air hujan. Arrsyad masih setia memejamkan kedua matanya. Udara dingin yang terasa menyengat ia juga tak peduli. Rasa sesak di hatinya yang kini menyiksa membuat arrsyad menikmati lukanya.


Sementara itu, zhivana sudah berada didepan ruang operasi, ditemani gea dan azwar.


Seina wanita itu telah mendonorkan matanya untuk zhivana. Seina juga ingin operasinya dilakukan malam ini juga. Agar zhivana bisa melihat seperti apa seina sebelum dimakamkan.


Tentu saja sudah disetujui oleh naumi ibunya seina. Bahkan naumi sendiri yang akan membiayai biaya operasi zhivana.


Diwaktu yang bersamaan zhivana merasa sedih sekaligus senang. Sedih karna seina tiada, senang karena sebentar lagi ia akan bisa melihat. Bersyukur pada sang khaliq karena doanya telah terkabul. Donor mata yang ia harapankan akhirnya dapat juga.


"Zhivana, kamu sudah siapkan." Tanya gea memastikan.


"Bismillahirohmannirohim, aku sudah siap."


Gea tersenyum. Lalu mendorong kursi roda, memasuki ruang operasi. Azwar mendudukan dirinya dikursi. Rasa khawatir mulai menerpa dirinya. Azwar berdoa agar operasi zhivana berhasil dan berjalan dengan lancar.


'


'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2