
"Bagiku ucapan manis yang paling sakral adalah saat ayahmu berjabat tangan denganku sambil mengucapkan "Qabiltu nikahaha".
~ Arrsyad Zega Al Faruq ~
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Masih dengan arrsyad yang telah gagal mengungkapkan kata-kata manisnya.
Memalukan sekali. Tapi arrsyad tidak peduli yang penting ia sudah mengungkapkan nya pada zhivana. Walau salah menyebutkan kata manis nya, arrsyad akan mencobanya dilain waktu dengan momen romantis.
"Apa kak zhivana ingin tertawa karena ungkapan manis dariku, gagal?"
"Bukan. Aku ingin tertawa karena tadi itu terdengar sangat geli. Hehe, maaf ya bukannya aku ingin menertawakan, mu" Ucap zhivana dengan tertawa kecil.
Arrsyad tersenyum.
"Aku senang melihatmu tertawa." Ucap arrsyad, ia juga jadi ikut tertawa.
"Dan ketika kamu tersenyum, seluruh dunia berhenti bergerak dan memandangmu sejenak, Sungguh hatiku berdebar-debar keras." Batin arrsyad.
"Arrsyad kamu lucu. Aku sangat terhibur malam ini."
"Tadi aku menangis sekarang aku tertawa karenanya." Gumam zhivana dalam hatinya.
"Kak"
"Ya"
"Kau tahu kak? Aku ingin bercerita banyak hal bukan hanya pada angin yang diam-diam berjalan di tengah malam tapi juga padamu."
Zhivana diam ia ingin mendengar setiap kata yang keluar dari arrsyad.
"Saat di amerika aku sangat merindukanmu. Maaf aku telah lancang menyebut namamu dalam setiap sujud dan doaku. Waktu yang lama telah memisahkanku darimu"
"Jika rindu adalah waktu. Maka sudah berapa lama waktu yang telah kau habiskan hanya untuk merindukanku?" Tanya zhivana.
Arrsyad tersenyum. Retina matanya yang tajam tak lepas dari sosok gadis bercadar yang sekarang ada dihadapannya ini.
"Empat tahun. Tapi dari dulu aku sudah sangat merindukanmu. Tapi, saat di amerika rinduku semakin menggila. Jarak begitu menyiksa, rinduku menggebu layaknya candu"
"Kau tahu hal apa yang paling curang." Tanya arrsyad dengan tersenyum.
"Apa"
"Rasa rindu. Rinduku ini curang dan aneh. Selalu bertambah tanpa tahu bagaimana cara menguranginya."
"Aku mencintaimu tanpa tatap muka. Mencintaimu hanya dengan kata. Semoga kita cepat dipertemukan. Karena hatiku hanya ingin kamu. Beribu-ribu kali aku akan mengucapkan hal yang sama yaitu aku sangat merindukanmu. Sekarang kita telah dipertemukan dan aku akan mengucapkan kata paling indah yaitu Ana Uhibbuki Fillah"
Deg
Sekarang hati zhivana sudah berdebar-debar keras. Pipinya yang sudah merah tambah memerah karena ucapan arrsyad.
Apakah ini yang namanya jatuh cinta?Sampai-sampai membuat seseorang yang mendengar ucapan manis dari lawan jenisnya langsung ingin tersenyum-tersenyum, ingin berteriak senang, ingin berguling-guling karena saking senangnya.
Di dalam hatinya seperti ada ribuan bunga yang bermekaran, seperti ada ribuan kupu-kupu indah yang tengah berterbangan disekitar dirinya, seketika dunia berubah warna menjadi pink.
"Oh tidak jangan katakan apapun lagi. Hatiku sudah tak tahan ingin meledak." Batin zhivana.
Tidak. Zhivana tidak boleh merasakan perasaan seperti itu, ia harus menepisnya jauh-jauh.
Tanpa arrsyad sadari bahwa ia telah berhasil mengucapkan kata manisnya pada zhivana. Tanpa bantuan si mbah google. Melainkan dari hatinya sendiri yang telah tulus mengungkapkannya pada zhivana.
Tapi entah harus menjawabnya bagaimana, zhivana sangat serba salah. Rasanya membingungkan sekali, ia harus tetap pada pendiriannya yaitu menikah dengan ustadz azwar. Astagfirullahal'adzim. Zhivana tidak boleh seperti ini, arrsyad memang telah mencintainya sangat dalam. Tapi, zhivana harus menolaknya karena sebentar lagi dia akan menikah.
__ADS_1
Diam itulah yang zhivana lakukan sekarang.
Hening hingga terdengar jelas suara luchia dari dalam kamar zhivana, sedang berbicara dengan reno lewat telepon.
"Kau terlalu tulus untukku yang telah mengingkari janji itu. Aku minta maaf karena telah mengingkari, nya" Ucap zhivana lirih, ia menundukkan kepalanya.
"Aku sudah memaafkanmu. Aku tahu, sekarang ini kau sedang mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan kita"
"Aku sangat berterima kasih, karena kamu telah tulus mencintaiku. Tapi maaf aku tidak bisa membalas perasaan itu. Mari kita akhiri ini semuanya sebelum kamu jauh lebih sakit hati." Ucap zhivana dengan penuh rasa bersalah.
"Apa maksudnya?"
"Arrsyad aku mohon mengertilah. Tidak perlu aku jelaskan kamu juga pasti sudah mengerti."
"Kalau kau sampai menikah justru itu akan membuatku sangat terluka. Aku hanya ingin dirimu, cuman kamu kak"
"Tidak arrsyad. Sekarang ini aku sudah ada mas azwar, yang ku pikirkan hanya, dia."
"Jangan memikirkan dia, kamu hanya perlu memikirkanku."
"Astagfirullahal'adzim, hatiku. Kumohon bertahanlah." Batin zhivana.
"Kumohon ikhlaskan saja, aku." Ucap zhivana pelan.
Malam sudah semakin larut. Dua insan berbeda jenis kelamin ini masih setia mengobrol tanpa disadari jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Bahkan, mata Luchia sudah lima watt ingin segera tidur. Udara malam sudah semakin dingin. Suara hewan malam terdengar jelas diluaran sana.
Zhivana diam sungguh sangat susah membuat arrsyad mengerti. Sementara, arrsyad pria itu menunduk, rasanya sangat kecewa, baginya semua sudah terlambat.
Sekarang terasa canggung, zhivana hanya diam saja, begitu pula dengan arrsyad. Tiba-tiba saja, luchia keluar dari kamar.
"Hoaam. Apa sudah bicaranya? Aku sudah mengantuk sekali, lihatlah mataku sudah lima watt?" Ucap luchia.
"Memang kakak tidak akan menginap disini?" Tanya zhivana yang sudah berdiri.
Luchia lagi-lagi menguap, sepertinya ia sudah ngantuk berat.
"Ayo, pulang" Ucap arrsyad dengan berlalu pergi keluar rumah tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Ada apa dengannya?" Gumam luchia.
Zhivana hanya menunduk saja.
"Maafkan aku arrsyad. Aku memang salah." Batin zhivana.
"Zhivana kalau begitu kakak pulang dulu ya. Hati-hati dirumah, jaga dirimu dengan baik. Oh ya, aku punya sesuatu untukmu besok akan kuantarkan hadiahnya kemari. Mungkin jam makan siang aku akan kemari" Ucap luchia gembira seolah-olah rasa kantuknya telah hilang.
Zhivana tersenyum.
"Terima kasih kak. Aku besok juga ada dirumah kok, Kakak hati-hati dijalannya"
"Iya zhi sama-sama. Kakak pulang ya, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, kak."
Luchiapun memeluk zhivana sekejap, lalu pergi dari rumah zhivana. Arrsyad telah menunggu di dalam mobil.
Setelah kepergian luchia dan arrsyad, zhivana langsung mengunci pintu, setelah mengunci pintu zhivana langsung masuk ke dalam kamar. Rasa kantuk telah melanda dirinya.
"Yaalloh hamba merasa sangat bersalah."
***
Seorang wanita cantik dan seksi tengah bercengkerama dengan ibunya. Sosok seorang wanita yang paling baik hati, tapi tidak seperti anaknya yang bermuka dua. Baik di depan jahat dibelakang.
__ADS_1
Kedua kakinya menjuntai kebawah untuk merasakan air hangat yang didalam kolam renang rumah milik orang tuanya. Sesekali terdengar suara tawa dari mereka berdua. Meski sudah larut malam tapi udara dingin tidak memengaruhi mereka berdua. Memakai pakaian lingerie berwarna hitam, membuat tubuh indah kedua wanita itu terekspos sempurna.
Diatas langit sana terlihat banyak bintang yang berkelap-kelip menampilkan cahaya indahnya. Seorang pelayan wanita berjalan ke arah mereka, membawa nampan yang berisi minuman serta camilan untuk mereka berdua.
Pelayan wanita itu meletakkan nampan di samping seina.
"Silahkan nona" Ucapnya pelan sambil membungkukkan badannya.
"Hem." dibalas gumaman oleh seina.
Setelah pelayan itu pergi. Seina mengambil satu gelas jus jambu kesukaan ibunya.
"Ini untuk ibu, minumlah." Ucap seina seraya tersenyum manis.
Naumi mengambil segelas jus itu dari tangan seina.
"Terima kasih, nak."
Seina mengambil jus yang satunya yaitu jus jeruk kesukaannya. Seina meneguknya hingga jus itu tersisa setengah lagi.
"Seina kapan kamu kembali ke amerika." Tanya naumi.
"Tidak tahu bu. Lihat nanti saja."
"Aku sih ngikut arrsyad aja." Batin seina.
"Kata ayahmu, kamu sedang mencintai seseorang. Apakah itu, benar."
"Hehe iya bu. Tahu tidak orang itu sangat tampan, bahkan semua wanita yang ada dikampus mengejarnya. Dosen muda saja selalu mencari perhatian padanya" Ucap seina dengan tersenyum-tersenyum.
"Apakah dia pria baik?" Tanya naumi.
Tentu saja sebagai seorang ibu ia mencemaskan anaknya untuk tidak salah dalam berdekatan dengan seorang pria. Sebagai seorang ibu pasti sangat ingin anak perempuan nya mendapatkan pria yang baik.
"Sangat baik, bak malaikat."
"Iya sih arrsyad memang baik. Tapi sayang dia selalu bersikap dingin dan cuek padaku." Batin seina.
"Syukurlah kalau pria itu baik, ibu sangat senang mendengarnya."
Tiba-tiba saja ponsel seina bergetar. Seina mengambil ponsel nya yang berada disamping tempat duduknya. Ternyata pesan dari ayahnya.
"Seina ayah pergi ke jepang selama satu minggu, ada urusan mendadak. Soal rencana penjebakkan itu ayah serahkan itu semua padamu. Maaf ya ayah tidak jadi membantumu. Semoga rencanamu berhasil."
Itulah isi pesan dari takiyo. Tadi siang ia pergi ke jepang, diantar ke bandara oleh sang istri. Seina tidak tahu hal itu, ia baru mengetahuinya sekarang.
"Ibu. Ayah pergi ke jepang"
"Iya, tadi siang."
"Kenapa, tidak memberitahuku"
"Ibu lupa."
Seina menghembuskan napasnya secara kasar. Rasanya sangat mengesalkan.
"Baiklah. akan ku urus sendiri, lihat saja aku punya rencanaku sendiri. Wanita buta itu harus segera disingkirkan." Batin seina.
Seina tersenyum menyerigai.
Malam sudah semakin larut mereka memilih menyudahi obrolannya. Masuk ke dalam kamar masing-masing untuk membersihkan diri.
'
__ADS_1
'
Bersambung