
Malam telah tiba, arrsyad dan olivia yang tadinya tidur bersama akhirnya sudah bangun juga. Arrsyad duduk dimeja makan, disana sudah ada reno, luchia, dan olivia. Sementara zhivana, ibu dengan dua bayi itu tidak ikut makan malam. Aalesha sedang rewel.
Olivia yang tengah makan disuapin oleh luchia, terus menatap ke arrsyad yang tengah makan. Arrsyad yang merasa dilihat, langsung menoleh ke olivia dengan wajah jengkel.
"Kenapa?" Tanya arrsyad ke olivia yang sekarang tengah tersenyum padanya.
"Om nati tidul cama-cama agi." Olivia tersenyum seraya bertepuk tangan, terlihat sangat riang dan gembira.
Sementara arrsyad, pria itu malah menjulingkan kedua matanya pada olivia. Bukannya takut, olivia malah tertawa.
"Kamu pinter ngurus anak." Ucap reno yang baru selesai makan, ia segara meminum segelas air putih.
"Aku hanya pinter ngurus anak-anakku saja." Jawab arrsyad dengan wajah masam. Selesai makan arrsyad segara menyimpan piring dan gelas kotor ke wastafel. Sementara reno, tengah sibuk berbisik sesuatu pada olivia. Anak batita itu mengangguk tanda mengerti.
"Ayo cepet keburu om kamu ke kamar." Bisik reno seraya membantu olivia turun dari kursi. Luchia yang sedari tadi memperhatikan keduanya hanya geleng-geleng kepala.
"Om," Olivia segera berlari kecil, pada arrsyad.
"Apa?" Ucap arrsyad dengan kepala tertunduk untuk melihat tubuh kecil olivia.
"Aku ingin tidul dikamal om cama aunty zhi. Telus cama bayi kembal juga."
Arrsyad mendengus kesal. "Sempit. Dikamar aku udah penuh. Lagian kenapa sih? Tiba-tiba ingin tidur dikamar aku,"
"Sayang, kasian nanti baby kembarnya terganggu kalau ada kamu." Ucap luchia seraya berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh olivia.
"Udah sayang biarin aja. Lagi pula gak tiap hari juga kok." Timpal reno. Padahal ini semua adalah rencananya. Reno ingin berduaan dengan istrinya.
"Mau tidul cama om." Rengek olivia.
"Yaudah ayo."
Arrsyad segara menggendong olivia seraya menggerutu kesal. Kalau begini sudah pasti olivia akan mengganggu tidurnya. Sesampainya dikamar, terlihatlah zhivana tengah memberikan asi pada arka. Bayi kecil itu tampak asik menyusu pada ibunya.
Dengan segera arrsyad menurunkan olivia. Anak batita itu langsung berlari menghampiri zhivana.
"Olivia," Panggil zhivana dengan antusias.
"Aunty, aku ingin tidul dicini." Ucapnya dengan manja.
Zhivana mengangguk senang. Lalu menyuruh olivia untuk naik ke atas ranjang. Olivia menurut, dengan semangat ia naik keatas ranjang.
"Dasar bocah tuyul." Gerutu arrsyad, lalu masuk kedalam kamar mandi. Zhivana hanya tersenyum seraya memperhatikan olivia yang tengah asik memainkan tangan kecil Arka.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, arrsyad sudah keluar dengan piyama tidurnya. wajah tampan dengan rambut bagian depan yang basah terlihat sangat mempesona.
Zhivana yang sudah selesai memberikan asi pada arka segara menghampiri arrsyad.
"Mas kamu tidurnya disopa ya. Soalnya Arka sama Aalesha dikasur tidurnya, kan gak bawa tempat tidur mereka. Ada olivia juga, jadi gak apa kan kamu tidur disopa dulu."
Arrsyad menatap ke zhivana lalu beralih menatap kasur king sizenya. Disana ada anak-anaknya yang sudah tertidur, ada olivia yang masih terjaga seraya memainkan mainan bayi.
"Yaudah." Ucap arrsyad dengan singkat. Wajahnya yang lesu, karena menahan gairah yang selama ini belum tersalurkan menjadikan arrsyad selalu uring-uringan.
Zhivana yang mengerti segera memeluk arrsyad. "Aku udah selesai." Ucap zhivana dengan malu-malu.
Arrsyad yang tadinya lesu, segara berbalik menatap zhivana. Kedua tangan kekar itu memegang bahu zhivana.
"Benaran sayang?! Udah selesai," Ucapnya dengan mata berbinar-binar.
Zhivana dengan malu mengangguk.
Saking senangnya, arrsyad langsung memeluk zhivana. Dengan menciumi seluruh permukaan wajah zhivana.
"Mas ini geli."
Tanpa disadari olivia tengah memperhatikan dua pasang orang dewasa itu dengan tatapan bingung.
Bukannya menjawab arrsyad malah bertanya. "Katanya seminggu lagi? Kok udah selesai, kamu tau aja kalau mas udah pengen banget."
"Diam mas, ada olivia." Zhivana segera mendekati olivia. Anak batita itu terlihat sangat senang berada dekat Arka dan Aalesha.
"Olivia udah ngantuk belum?" Tanya zhivana dengan lembut.
Olivia menggeleng. Sepertinya, olivia masih ingin bermain.
"Mas kamu jagain anak-anak. Aku mau makan dulu."
"Biar mas siapin dulu, kamu tunggu aja disini." Tawar arrsyad dengan tersenyum senyum.
"Gak usah mas, biar aku aja. Kamu jagain anak-anak."
"Baiklah. Tapi jangan lama-lama ya, dek."
Zhivana mengangguk, lalu pergi keluar kamar. Perutnya terasa sangat lapar, sedari tadi Aalesha sangat rewel.
Tiba didapur, zhivana segera membuat sup baso dengan sayur yang lengkap. Apalagi zhivana tengah menyusui pastinya, makanan sehat sangat dibutuhkan.
__ADS_1
Dikamar, arrsyad tengah berusaha dengan sekeras mungkin untuk membuat olivia tidur. Anak batita itu malah mengajaknya mengobrol tentang permainan boneka barbie.
"Buruan tidur aku mau meeting sama istriku." Ketus arrsyad, tangannya sudah menepuk nepuk bokong olivia dengan lembut.
"Belum mau tidul." Kekeuhnya dengan cemberut.
"Tidur gak! Kalau kamu gak tidur om akan pindahin kamu ke kamar mandi." Ancamnya dengan serius.
Olivia memberenggut takut, sekarang ia mulai mencoba menutup matanya. Tapi sayang, rasa kantuknya belum juga terasa.
"Bilangin cama aunty, om acad acam aku." Anak itu malah balik mengancam arrsyad. Besok-besok arrsyad sudah tidak mau menginap lagi disini. Takutnya diganggu.
Satu mangkuk sup sudah jadi, zhivana mulai membaca do'a lalu makan dengan lahap. Selesai makan, zhivana segera mencuci piring kotor.
Ditengah aktivitasnya mencunci piring, sepasang tangan melilit di pinggangnya. Zhivana sudah tau itu adalah arrsyad.
"Udah belum?" Bisikan suara arrsyad yang serak membuat zhivana gugup. Pasti suaminya itu sudah sangat bernafsu.
"Sebentar lagi. Olivia mana? Udah tidur belum,"
Arrsyad mengangguk, lalu menciumi pipi zhivana dengan lembut.
"Lepas dulu mas,"
Dengan malas arrsyad melepaskan zhivana. Istrinya itu tengah mengeringkan tangan. Zhivana berjalan ke ruang tamu, berniat ingin mengambil baju bayi arka yang tertinggal disana sore tadi.
Saat zhivana ingin mengambil baju arka, arrsyad malah menarik zhivana kedalam pelukannya.
"Aduhh, mas" Pekik zhivana yang kaget.
"Kamu mau main diruang tamu, dek."
Ehh, zhivana mengerjap gugup. Pasti arrsyad mengira ia mengajak arrsyad melakukan itu diruang tamu. Yang benar saja, bagaimana kalau ada reno dan luchia? Membayangkannya saja membuat zhivana bergidik ngeri sekaligus malu.
Arrsyad malah semakin tidak terkendali, zhivana belingsatan sendiri. Berusaha melepaskan diri dari arrsyad sangat tidak mungkin. Arrsyad mendorong tubuh zhivana hingga menyandar dikaca yang menyuguhkah taman belakang.
"Mas ada kak luchia." Bisik zhivana, jantungnya sudah berdegup kencang. Takut luchia melihatnya.
"Dia tidak akan lihat." Ucap arrsyad, tangannya manarik gorden hingga menutupi tubuh keduanya. Diruang tamu dengan cahaya yang remang, luchia tidak menyadari kelakuan sepasang suami istri yang tengah memadu kasih.
'
'
__ADS_1
Bersambung