
Untuk pertama kalinya, arrsyad menjadi seorang imam. Tentunya zhivana sebagai makmum. Karena shalat magrib dimesjid. Jadi untuk shalat isya, arrsyad dirumah. Menjadi seorang imam untuk istrinya. Sungguh momen romantis.
Zhivana mencium punggung tangan arrsyad, dan arrsyad mencium kening zhivana.
Sedari tadi zhivana belum membuka cadarnya. Tidak berani! Dirinya juga malu sekaligus takut jelek. Ada rasa, insecure, rupanya.
"Dek"
Arrsyad, pria itu memanggilnya dengan lembut.
Zhivana tersadar dari lamunannya. Buru-buru dirinya menoleh, rupanya arrsyad tengah tersenyum-tersenyum Seraya memandangi dirinya.
"Kamu ngelamun?"
Zhivana mengerjap gugup, lalu menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Besok langsung berangkat, gak apa kan? Soalnya, aku harus kuliah juga."
Rencananya besok siang mereka berdua langsung melakukan penerbangan ke amerika. Mau tidak mau, zhivana menyetuinya dan ikut suami.
"Iya, gak apa pa kok."
Tidak disangka arrsyad begitu berani. Zhivana kira hubungan mereka akan canggung dan saling malu. Ternyata tidak! Dengan cepat hubungannya berkembang layaknya suami istri, pada umumnya.
"Kamu tau gak? Aku masih gak percaya, aku berhasil nikahin kamu. Awalnya aku sempet nyerah juga, tapi ustadz azwar, dateng dan bicara serius. Bahagia serta syukur banget aku jadi suami kamu, dek."
Terlihat arrsyad begitu bahagia. Sedari tadi dirinya terus tersenyum. Binar-binar bahagia serta wajah berseri-seri, terlihat jelas, bahwa arrsyad sungguh sangat bahagia bisa menikah dengan zhivana.
Zhivana tersenyum.
Sesaat keduanya terdiam. Lenggang tidak ada yang bicara.
Perlahan tangan arrsyad terulur, membelai pipi zhivana yang tertutup kain cadar putih senada dengan warna mukena yang dikenakan.
Arrsyad menatap bola mata bening istrinya. Seketika senyumnya merekah.
"Boleh mas, lihat" Ucapnya dengan lembut.
Mencerna ucapan arrsyad barusan, membuat zhivana mulai mengerti. Apa sudah saatnya, dirinya menunjukkan wajahnya pada arrsyad. Sekarang arrsyad suaminya, tidak mungkin juga kan, membuat suami sendiri penasaran.
Jantungnya yang sedari tadi berdetak cepat, malah tambah tak karuan.
Zhivana mengangguk pelan, sebagai persetujuan.
Arrsyad yang sudah mendapat izin langsung senang bukan main.
__ADS_1
"Beneran dek, boleh?" Tanyanya kembali, untuk menyakinkan.
Lagi-lagi zhivana mengangguk sebagai jawaban.
Arrsyad tersenyum semringah.
Cup.
Kecupan singkat dikening zhivana, membuat zhivana kaget. Mungkin sekarang pipinya sudah merah merona karena malu.
Perlahan tapi pasti, arrsyad melepas kain cadar istrinya. Perasaan senang sekaligus hati yang berdebar-debar keras. Sangat mendominasi.
Zhivana memejamkan kedua matanya.
Terlepas sudah, kain cadar yang arrsyad pegang langsung terjatuh begitu saja.
Didalam hati, arrsyad mengumamkan kalimat pujian kepada sang khaliq "Subhanallah". Dalam beberapa persekian detik ia tidak mampu berpaling. Objek di hadapanya ini sungguh mempesona jika dipalingkan dari retina matanya. Ia merasa menemukan seorang bidadari. Zhivana seperti bidadari surga yang hadir dihadapanya.
Zhivana membuka matanya, melihat pria tampan yang berstatus sebagai suaminya diam saja. Membuat zhivana berpikir Apa arrsyad tidak menyukainya??
"M-mas kenapa, gak su-ka ya?" Ucap zhivana, dengan menahan tangis.
Arrsyad buru-buru menggeleng kuat, dengan cepat! Arrsyad memeluk zhivana erat. Dirinya juga tahu tak mudah melakukan sampai sejauh ini, secara apa yang ia jaga akhirnya di perlihatkan kepada seseorang selain kedua orang tuanya.
Zhivana mencoba bersembunyi didada bidang arrsyad. Rasanya sungguh malu, ragu, dan takut.
"Dek"
Panggilnya dengan lembut.
"Kamu. Cantik." Ujarnya, tersenyum hangat meyakinkan sang istri. Memang benar, istrinya itu cantik, sangat cantik malahan.
Zhivana duduk tegak kembali, dengan menatap arrsyad penuh ragu.
Mata hazel indahnya menatap ragu wajah arrsyad. Bulu mata lentiknya mengerjap beberapa kali. Alis hitam tebalnya tergaris rapih, hidung mungilnya yang mancung. Bibir mungilnya yang berwarna merah alami,tanpa perona bibir. Pipinya yang putih bersih nan mulus terlihat bersemu, tanpa polesan bedak tentunya.
"Tidak perlu takut dan ragu, mas suka."
"Terimakasih telah menjaga semua ini, untuk mas." Imbuhnya kembali, sambil mencium hangat penuh cinta dikening zhivana.
"Istri mas sangat cantik."
Arrsyad kembali memeluk tubuh mungil zhivana yang terlihat bersemu merah tersebut. Sungguh menggemaskan.
Sekelebat wajah zhivana kecil, umur sembilan tahun terlintas dipikiran arrsyad, zhivana kecil sangat lucu, menggemaskan, dan manis. Dan sekarang, zhivana tumbuh dewasa. Menjadi wanita cantik dan anggun.
__ADS_1
***
Pagi telah tiba, memulai hari baru dengan penuh rasa syukur. Selepas shalat shubuh, arrsyad dan zhivana berkemas mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa! Satu koper besar telah siap. Zhivana menaruhnya diruang tamu.
Untuk pertama kalinya zhivana memasak sarapan untuknya dan untuk arrsyad sang suami. Arrsyad terus memuji masakannya. Padahal cuman nasi goreng ala kadarnya yang biasa zhivana buat.
Pamit dan minta doa restu pada makam kedua orangtua nya, zhivana menangis tersendu. Arrsyad tau, bagi istrinya ini berat. Tapi mau bagaimana lagi, sekarang zhivana adalah tanggung jawab nya.
Pulang dari pemakaman, zhivana pamit pada kiai husen serta umi aisyah, dengan ditemani suami tentunya. Tapi sayang, azwar pria itu tidak ada dirumah. Ada urusan diluar. Katanya.
Sampai dirumah, zhivana langsung duduk termenung. Rasa bersalah bersemayam begitu saja. Azwar pria itu kenapa? Apa azwar menghindari dirinya? Apa azwar membenci dirinya?. Semua berkecamuk dipikirannya. Zhivana berharap azwar akan sembuh, dan menemukan kebahagiaannya.
Arrsyad duduk disebelah zhivana. Seolah-olah tau apa yang istrinya pikirkan, arrsyad berkata.
"Ustadz azwar udah ikhlas, dek! Katanya dia sangat bahagia atas pernikahan kita. Semalam dia kirim pesan itu ke aku."
Ya walaupun bilang begitu, arrsyad tau. Pasti azwar tidak baik-baik saja.
Zhivana memberenggut. Dengan hati-hati dirinya bertanya.
"Mas. Apa mas azwar dia baik-baik saja?"
Lihatlah wajah khawatir itu, zhivana mengkhawatirkan pria lain. Tidak, arrsyad tidak boleh cemburu karena hal seperti ini. Wajar saja istrinya itu khawatir, mereka pernah dekat dan hampir menikah. Apalagi, azwar memiliki penyakit kanker.
Hatinya memanas seketika, dirinya tersadar! Bahwa zhivana masih memanggil azwar dengan embel-embel "Mas". Dalam hati arrsyad Istriku tidak boleh memanggil ustadz azwar dengan sebutan "Mas". Panggilan itu hanya untukku! aku suaminya. Mode Posesif On.
"Doakan saja, semoga ustadz azwar selalu dalam lindungan alloh." Jawabnya sedikit ketus.
Zhivana menyadari suaminya yang berubah ketus langsung mengerti.
"Maaf" Ucapnya dengan lirih.
Arrsyad yang tipikal orang tidak suka berbasa basi dan bertele-tele, suka langsung ke inti! Langsung berkata.
"Dek, Mas gak suka ya kamu manggil ustadz azwar dengan sebutan mas! Dek, lihat mas." Ucapnya dengan tegas.
Dengan perasaan takut, zhivana langsung menatap arrsyad.
"Mas cemburu, dek"
'
'
Bersambung
__ADS_1