
Malam sudah semakin larut, kota bandung tengah di guyur hujan deras seolah-olah ikut mengiringi tangisan zhivana. Sampai malam ini zhivana masih enggan beranjak dari atas sajadahnya, mukena berwarna putih cerah yang dikenakan zhivana masih belum lepas dari tubuh kecilnya sedari tadi. Zhivana menangis tersendu-sendu mengingat semua yang sudah terjadi dalam hidupnya.
Tangan kecilnya terus mengenggam tasbih kayu berwarna cokkat pekat. Bibirnya basah oleh untaian petuah, sesekali tangannya itu menyeka air matanya.
"Ini semua salahku. Aku telah menyakiti arrsyad, aku sangat berdosa sekali telah mengingkari janjinya. Yaalloh hamba tahu hamba salah tapi mau bagaimana lagi, mas azwar dia punya penyakit kanker darah yang semakin parah hamba tidak tega meninggalkan dirinya. Arrsyad maafkan aku maaf karena telah membuatmu kecewa, maaf karena telah menginginkari janji kita yang telah dibuat dulu. Maaf hiks maafkan aku arrsyad aku merasa bersalah atas semua yang terjadi." Batin zhivana.
"Aku tidak pantas untuk diperjuangkan olehnya" lirihnya.
"Munafikkah diriku ini." Batin zhivana.
Air mata zhivana terus berderaian. Ia merasa sangat bersalah. Apa keputusan yang dirinya ambil selama ini sudah benar? Rasanya untuk memikirkan itu semua sudah terlambat, sekarang sudah terjadi, zhivana tidak boleh seperti ini sebentar lagi dirinya akan menikah dengan azwar. Soal arrsyad, zhivana akan terus meminta maaf padanya nanti.
***
Sementara dengan arrsyad yang kini tengah berada di apartemen milik andre. Arrsyad sedang duduk termenung di kursi yang berada dibalkon kamar andre. Sudah dari satu jam yang lalu arrsyad seperti itu, tatapanya kosong entah apa yang arrsyad pikirkan sejak tadi.
Andre membuka pintu kamarnya terlihat arrsyad yang masih duduk disana. Andre yang sudah bosan melihat arrsyad seperti itu hanya mengeleng-gelengkan kepalanya saja. Andre berjalan mendekat, lalu duduk di kursi kosong sebelah arrsyad.
"Kamu kenapa lagi sih gue udah bosen liat kamu diem kaya gini. Eh ngomong-ngomong kamu makin tampan aja syad" Ucap andre dengan jujurnya.
Arrsyad langsung menatap tajam ke andre, yang ditatap malah menyengir kuda dengan menampilkan deretan giginya yang rapi.
"Aku udah bicara pada kak zhivana. Tapi dia tetap mau lanjut buat nikah dengan pria itu" Ucap arrsyad dengan tatapan lurus ke depan.
"Ya mau bagaimana lagi, ini udah terlanjur sangat jauh bahkan udah sampai tahap pernikahan. Buat mencegahnya saja kita udah terlambat."
"Apa mereka memang ditakdirkan untuk bersama"
"Bisa jadi"
Hening tidak ada lagi yang berbicara. Angin malam yang diiringi hujan deras sangat kencang membuat udara semakin terasa dingin.
"Udah jam sepuluh malam sebaiknya kamu beristirahat. Apalagi kamu baru pulang dari amerika. Pasti sangatlah lelah."
Andre menatap arrsyad yang tidak terusik sedikitpun oleh udara yang dingin. Bahkan andre sendiri sudah sangat kedinginan.
"Dre"
"Apa"
"Aku sekarang harus bagaimana? Aku udah dateng juah-jauh kesini hanya untuk kak zhivana. Tapi aggghhhh aku bingung banget" Ucap arrsyad frustrasi sambil mengacak-ngacak rambutnya sendiri.
__ADS_1
Andre tidak langsung menjawab pertanyaan dari arrsyad, ia berpikir untuk menyusun rencana. Andre mendapatkan rencana lalu tersenyum menyerigai sambil menganguk-nganggukkan kepalanya.
"Hanya ada satu cara agar kak zhivana dan ustadz azwar tidak jadi menikah" Ucap andre dengan seriusnya.
Arrsyad menatap andre penuh tanya. Rencana seperti apa yang tengah andre pikirkan untuknya. Arrsyad akui kalau urusan beginian andre orang yang sangat pintar.
"Kamu tenang aja. Hanya tunggu tanggal mainnya, untuk kita bergerak" Ucap andre kembali.
"Rencanaku akan sedikit kasar. Tapi maafkan aku ustadz azwar ini semua demi sahabatku arrsyad. Aku tahu arrsyad tidak akan menyetujuinya tapi mau bagaimana lagi kesedihan harus dibayar dengan kesedihan juga. Bukankah, itu sangat adil." Batin andre.
"Hujannya semakin deras, entah kenapa aku merasa kak zhivana sekarang ini sedang menangis." Batin arrsyad.
***
Di Kediaman Rumah Seina Kazumi.
Terlihat seorang pria berpakaian jas serba hitam tertawa kencang dengan sangat mengerikan nya. Tangan kekarnya memengangi segelas wine dengan harga mahal.
"Hahaha berani-beraninya pria itu mengacuhkan putriku." Ucapnya.
Pria itu meneguk wine mahalnya sampai habis. Seorang wanita berpakaian seksi menghampiri pria itu. Dress ketat sepaha berwarna merah menyala membuat lekuk tubuhnya terekspos.
"Sayang aku sudah datang" Ucapnya dengan manja.
"Kau semakin cantik. Apakah suamimu selalu memberikan uang yang sangat banyak agar kau merawat tubuhmu yang sangat menggoda ini hem" Ucapnya dengan membelai rambut panjang wanitanya.
"Tentu. Ini semua hanya untukmu" Ucapnya.
Saat sedang asik-asiknya bermesraan tiba-tiba saja pintu ruangannya di buka secara kasar.
Braakkk...
Mereka Berdua saling melepaskan dan langsung menatap ke arah pintu, siapa orang yang berani-beraninya menganggu aktivitas panasnya.
"Ayah." Teriak seina dengan penuh kemarahan.
"Sayang kenapa kamu masuk kesini."
"Aku putrimu jadi aku bisa dengan leluasa masuk kapan saja dengan semauku."
Seina menatap tajam ke arah wanita seksi tadi.
__ADS_1
"Lagi-lagi ayah membawa jalang ini kedalam rumah. Aku merasa jijik melihatnya." Ucap seina tak suka.
"Berani sekali dia. Kau pikir kau siapa hah" Bentak wanita seksi tadi tak kalah sangar nya.
"Aku anaknya. Sementara kau wanita jalang" Bentak seina tak kalah kencangnya.
"Lihatlah anakmu itu, dia pikir dengan dia anakmu dia bisa seenaknya padaku." Ucap wanita seksi tadi pada ayah seina.
"Heh diamkan. Ayah kenapa kau malah selingkuh dengan wanita jalang ini. Kalau ibu tahu dia pasti akan bersedih."
Takiyo Orochi adalah ayah dari seina kazumi. Mantan seorang mafia dari jepang, karena semenjak pindah ke indonesia takiyo tidak pernah melakukan aksi jahatnya. Kecuali kalau seina sendirilah yang meminta ayahnya untuk bermain kotor agar tujuan seina berjalan mulus. Takiyo di dalam KTP memang menganut agama islam tapi sesungguhnya ia tidak mempercayai adanya tuhan. Sekarang takiyo bekerja sebagai seorang CEO di perusahaan properti milik ayah mertuanya. Istrinya bernama Naumi Kazumi, wanita cantik yang baik hati dan lembut tidak seperti takiyo dan seina.
Takiyo menghembuskan napasnya secara kasar, ini pertemuan ke dua kalinya antara wanita selingkuhannya dan seina.
"Sayang kamu jangan ikut campur urusan ayah. Sebaiknya kamu keluar." Ucap takiyo.
Seina mendecih. Lalu menatap wanita seksi tadi dengan tajamnya, seina menatap wanita itu dari bawah sampai ujung kakinya.
"Menjijikan sekali wanita ini, aku akui dia memang sangat cantik, tapi sayangnya dia seorang jalang." Batin seina.
"Ayah. Aku ingin kau mengirimkan anak buahmu itu untuk mencaritahu tentang pria yang aku sukai." Ucap seina.
"Kau tidak perlu menyuruhku seperti itu, karena ayahmu ini sedang melakukannya. Besok pagi kamu akan menerima laporannya."
"Bagus. Ayah memang yang terbaik. Oh ya ibu kemana kok tidak ada dirumah." Tanya seina yang sedari tadi belum melihat ibunya.
"Ibumu sedang ke rumah ayahnya. Katanya kakekmu itu sakit. Kalau kau mau kesana ayah akan mengantarkan mu pasti mereka sangat senang melihat seina yang cantik ini sudah pulang."
Seina tersenyum menyerigai ke arah wanita seksi tadi. Lalu seina menarik tangan ayahnya.
"Yasudah tunggu apa lagi. Aku sudah tidak sabar, pasti mereka akan senang melihatku."
Takiyo melihat ke arah wanita seksi tadi. Lalu tersenyum.
"Kau pulanglah aku harus mengantar anakku dulu." Ucap takiyo.
"Baiklah" Ucap wanita seksi tadi.
Lalu mengambil tas selempang nya, lalu berlalu pergi keluar Tanpa menatap kearah seina yang tengah menatap dirinya dengan tatapan mengejek.
'
__ADS_1
'
Bersambung