
Seorang pria berpenampilan layaknya bak pria shaleh, berjalan menuju ke dalam rumah sakit. Hari ini adalah cek up kondisi tumbuhnya.
Dr. Bram, selaku dokter yang menangani, selalu sedia siap membantu, malah ia sendiri selalu menceritakan bagaimana kondisi hatinya. Bahkan pernikahan dengan zhivana, dokter bram tahu, azwar sendiri mengundang dokter bram untuk menghadiri acara pernikahannya nanti.
Pintu yang tertera nama dokter bram, diketuk oleh azwar. Setelah terdengar suara dokter bram menyuruhnya masuk, azwar membuka pintu.
"Assalamualaikum, dokter."
Dokter bram tersenyum senang melihat salah satu pasiennya ini datang.
"Waalaikumsalam, duduklah."
Azwar menganguk sambil tersenyum ramah. Duduk berhadapan dengan dokter bram membuatnya sudah biasa, tidak ada rasa canggung diantara keduanya, seperti berteman sudah lama.
"Bagaimana dengan kondisimu sekarang, apakah ada keluhan?"
"Alhamdulillah sudah dua hari ini, rasa sakit ditubuh saya tidak terasa."
"Syukurlah. Saya sangat senang mendengar kabar ini."
Dokter bram tersenyum. Sekarang pandangannya beralih untuk melihat pada jam tangan yang melilit di tangan kiri, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Memang jadwal cek up azwar dia beri sore. Itu juga sesuai permintaan azwar, katanya ia mengajar dari pagi hingga sore hari.
***
Seina wanita cantik ini sedari tadi mundar mandir di depan ruang ICU, kebetulan ibunya sudah dipindahkan. Takiyo belum bisa datang karena jadwal keberangkatan pesawat menuju indonesia besok.
"Haus sekali."
Merasakan tenggorokan yang kering sejak tadi membuat seina kehausan, ia duduk kembali dikursi putih depan ruangan ibunya terbaring tak sadar.
Entah lupa atau tidak sadar, seina mengambil botol kecil racun itu untuk ia minum. Membuka tutup botol kecil itu, perlahan tapi pasti seina mulai meneguknya sampai habis.
"Ahh, tenggorokanku basah kembali." Tersenyum senang karena merasa segar kembali. Padahal, dirinya telah meminum racun mematikan itu.
Botol kosong itu ia buang ke tong sampah kecil yang berada di samping ia duduk. Seina duduk dengan menyandarkan punggung ke tembok.
Deg
Baru saja seina menempelkan punggungnya ke tembok tiba-tiba saja jantung seina berdenyut sakit, terasa sakit sekali sampai tidak sadar dari mulutnya keluar banyak darah.
"Ah, sa-sakit sekali."
Seina mulai merintih kesakitan, dilorong sepi rumah sakit. Tangan kecil seina mencengkeram kuat kursi, tangan satunya lagi mengusap mulut untuk mengetahui cairan apa yang keluar.
Seina membulatkan kedua matanya, merasa terkejut dengan tangan kanan yang terdapat banyak darah.
"Da-darah. Kenapa ada darah."
Suaranya purau, kedua mata seina sudah berkaca-kaca, ada rasa takut sekaligus sakit disekujur tubuh terutama dibagian jantung.
__ADS_1
Seina menjatuhkan tubuhnya dilantai, meringkuk diatas lantai rumah sakit yang terasa dingin membuat seina tak peduli, ia sedang kesakitan yang dirasa sakit teramat sangat. Racun mematikan itu langsung bereaksi cepat, menjalar ke seluruh tubuh seina.
Tiba-tiba seina teringat sesuatu. Racun, ya racun itu, seina ingat racun yang dibeli dari pria itu untuk membunuh zhivana. Beberapa jam lalu seina memaksa zhivana untuk meminum racun yang dibeli dengan harga yang fantastis. Tapi, sayang ibunya malah datang dan terjadi kecelakaan.
"Tidak, tidak mungkin aku meminum racun itu" Seina merancau tak jelas, terlihat jelas raut wajahnya ketakutan. seina mulai panik sendiri, sakit yang disekujur tubuh semakin menjadi-jadi.
Berusaha bangkit untuk memastikan minuman apa yang telah ia minum tadi. Tong sampah diambil dengan tangan yang bergetar hebat akibat rasa sakit yang ditimbulkan racun. Tidak ada sampah lain selain botol kecil warna hitam yang seina kenali. Itu botol yang isinya seina minum semua. Seina mengambil botol kecil hitam itu dengan rasa takut, ternyata benar ini botol racun mematikan itu, seharusnya zhivana yang minum tapi malah dirinya sendiri yang minum.
Saking terkejut sekaligus tak percaya, seina membanting botol itu jauh ke depan. Botol itu berhenti dilorong pintu tepat diruangan dokter bram berada, menimbulkan bunyi suara dimana botol kecil itu terbentur tembok depan pintu ruangan dokter bram.
"Hiks, tidak mungkin, tidak mungkinkan aku meminumnya." Seina mulai menangis dengan menahan rasa sakit yang semakin menjadi.
Efek racun mematikan itu membuat kulit mulus seina berkeriput, kulit seina sedikit demi sedikit mengeluarkan darah. Lihatlah sekujur tubuh seina hampir mengeluarkan darah semua, bahkan dari jari-jari tangan seina mengeluarkan banyak darah.
"Da-darah. kenapa tubuhku mengeluarkan banyak darah seperti ini" Ucap seina ditengah isak tangisnya yang kesakitan.
Lantai putih rumah sakit yang dimana tubuh seina meringkuk kesakitan, menjadi berubah warna menjadi merah terkena lumuran darah yang keluar dari tubuh seina.
"Tolong, tolong hiks, sakit" Teriak seina sekuat tenaga.
Dokter bram yang sedang berbicara dengan azwar menjadi terdiam untuk memastikan ada orang yang meminta tolong.
"Seperti ada orang yang meminta tolong." Ucap dokter bram.
"Saya juga mendengarnya. Apa sebaiknya kita cek dulu, siapa tahu ada orang yang sedang butuh pertolongan" Saran azwar.
"Yasudah kita cek dulu keluar"
Dokter bram dan azwar keluar mereka langsung menengok ke arah samping, dimana sumber suara berada. Dokter bram dan azwar terkejut melihat seorang wanita berguling-guling dilantai dengan berlumuran darah, wanita itu menjerit-jerit kesakitan. Bahkan baju yang wanita itu kenakan sudah berlumuran darah.
Bau anyir darah segar tercium pekat dilorong itu, bahkan dokter bram serta azwar menutup hidung masing-masing untuk menghindari bau anyir darah.
"Ahh sakit, tolong hiks tolong, ini sakit sekali. Tolong, tolong selamatkan aku" Rancau seina. Tubuhnya berguling-guling kesana kemari.
Dokter bram dan azwar mendekati seina, melihat kondisi seorang wanita itu membuat dokter bram dan azwar sedikit merasa takut.
"Dokter kenapa wanita ini berlumuran darah, aku lihat dia seperti tidak terluka. Tapi kenapa dia bisa mengeluarkan darah sebanyak itu." Tanya azwar.
Tidak mungkin ada seorang penjahat masuk ke dalam rumah sakit, apalagi sampai ada aksi pembunuhan. Penjagaan dirumah sakit ini sangat ketat, CCTV juga dipasang diberbagai sudut tempat.
Dokter bram menatap azwar, lalu mengeleng, ia juga tidak tahu.
"Kamu kenapa? Kenapa ada banyak darah seperti ini?" Dokter bram berjongkok dihadapan seina yang masih setia berguling-guling.
"Racun" Ucap seina.
Seina sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit yang teramat ini. Mata seina mulai terpejam rapat.
"Sebaiknya kita bawa wanita ini ke ruang ICU. Azwar tolong bantu saya untuk mengangkat tubuhnya"
__ADS_1
"Baik"
Mereka berdua langsung menggotong tubuh seina yang dilumuri darah. Dokter bram merasa bahwa wanita yang ia angkat ini sedang sekarat.
Dengan langkah cepat tapi tetap berhati-hati mereka berdua membawa seina keruang ICU. Orang-orang yang sedang berlalu lalang langsung melihat seorang wanita yang sedang digotong oleh dokter bram dan seorang pria, bahkan merasa terkejut dan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan wanita yang berlumuran darah itu.
Tubuh seina diletakkan di bed hospital. Gea yang mendapatkan kabar dari seorang suster, langsung menuju keruang ICU dimana dokter bram dan azwar membawa seina.
"Kenapa" Ucap gea panik setelah beberapa orang tampak berkerumun membicarakan wanita yang berlumuran darah itu.
"Dokter gea cepat periksa kondisi wanita itu" Ucap dokter bram.
Gea menggangguk, mendekati wanita itu. Pandangan gea menatap seorang pria yang menurut ia kenali, gea melihat kearah pria itu yang sedang berdiri disamping dokter bram. Ada rasa terkejut setelah mengetahui bahwa itu adalah ustadz azwar, calon suaminya zhivana.
"Kenapa ustadz azwar ada disini." Batin gea.
Sekejap pandangan mereka berdua bertemu. Azwar langsung menunduk, gea. tidak terlalu menghiraukannya sekarang tugas gea. sebagai dokter harus memeriksa kondisi tubuh pasien yang terlihat parah.
Saat gea akan melakukan pemeriksaan, gea terkejut mengetahui bahwa wanita berlumuran darah itu adalah seina yang ibunya sedang mengalami kritis.
"Astagfirullahal'adzim."
"Kenapa apa kamu menganalinya." Tanya dokter bram.
"Iya, ini seina, yang ibunya mengalami kecelakaan beberapa jam lalu, bahkan sampai saat ini belum sadarkan diri. Tapi kenapa anaknya mengalami hal seperti ini."
Gea mulai melakukan tugasnya sebagai seorang dokter.
"Tadi sebelum dia tidak sadarkan diri, dia bilang racun. Apakah dengan kondisinya yang seperti ini akibat meminum racun?" Ucap dokter bram.
Sementara azwar, pria itu diam cukup dengan mendengarkan saja. Apalagi kehadiran gea membuat azwar merasa takut kalau gea mengetahui penyakit kanker darah yang sedang ia idap.
"Racun." Gumam gea.
Sesaat ruangan menjadi hening. Dokter bram dan azwar sibuk memperhatikan gea yang kini sedang melakukan pemeriksaan. Tangan gea yang memegangi Stetoskop berhenti tepat dibagian jantung seina.
"Racun. Racun jenis apa yang diminum seina? Kenapa efeknya bisa separah ini. Yaalloh ampunilah segala dosa-dosanya." Batin gea.
"Dokter bram." Panggil gea pelan.
"Ada apa"
"Dia" Ucapan gea tergantung, ada keraguan untuk mengatakannya.
"Kenapa dengan wanita itu?" Tanya dokter bram yang mulai mendekati bed hospital yang dimana tubuh seina terbaring.
"Sepertinya, dia."
'
__ADS_1
'
Bersambung