Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 74 : Terganggu


__ADS_3

Setelah kejadian dilift yang hampir terbuka, kini zhivana tengah menunggu arrsyad rapat diruang sebelah. Sudah hampir satu jam lebih, zhivana. Menunggu diruangan milik arrsyad. Tapi suaminya itu belum juga kunjung datang.


Dimeja besar coklat berlapis kaca tempat kerja suaminya terdapat beberapa tumpukan berkas, disana juga ada sebuah nama yang terukir dari kayu yang berlapis emas dan kaca, tertulis. Presedir.


Zhivana tersenyum saat melihat foto dirinya tengah memeluk arrsyad dipajang disisi meja. Dibelakang foto tersebut tertulis "Istriku Bidadari Bumiku."


Zhivana menyimpan foto itu kembali, berjalan menuju sopa panjang berwarna hitam. Duduk seraya menatap kearah luar Jendela kaca besar yang langsung memperlihatkan pemandangan kota.


"Aku rindu umi dan abi, sekarang aku tidak sendirian lagi. Ada mas arrsyad yang selalu ada untukku, aku berharap semoga Allah cepat mengkaruniai buah cinta kami." Ucap zhivana seraya mengelus perutnya yang rata.


"Aamiin."


Ucap arrsyad yang sudah berdiri dibelakang, senyuman manisnya tampak merekah. Tatapan hangat yang selalu ditunjukkan pada zhivana selalu terpancar menyiratkan kasih sayang yang penuh atas dasar ketulusan cinta.


Zhivana terkejut, lalu menoleh pada arrsyad yang kini sudah memeluknya. Kecupan manis, zhivana. Dapatkan bertubi-tubi, perlakuan kecil dari arrsyad membuat hati zhivana selalu menghangat.


"Sayang, kamu ingin cepet-cepet punya baby. Hem." Ucap arrsyad seraya mengecup punggung tangan zhivana.


Zhivana tersenyum malu, lalu menggangguk.


"Iya, aku ingin jadi seorang ibu."


Arrsyad tersenyum mendengarnya.


"Tapi tiga bulan kita baru bersama, satu tahun ini kita berpisah jauh. Emang gak terlalu kecepatan. Lagi pula aku mau terus berduaan sama kamu, dek."


"Tapi jujur, aku juga mau cepet-cepet punya baby. Hasil buah cinta kita selama ini, semoga Allah cepat kasih yak sayang." Ucap arrsyad kembali, tubuhnya membukuk untuk mecium perut zhivana, tak lupa arrsyad menggelusnya juga.


Zhivana tersenyum senang, dengan cepat dirinya mencium pipi kanan arrsyad, sekejap.


"Aku sayang kamu mas, kamu pria yang selama ini aku sebut dalam do'aku. Aku tidak percaya bahwa jodohku adalah kamu, teman masa kecilku."


"Aku pria yang paling beruntung, karena dapat jodoh wanita shalihah seperti kamu, dek. Rasa syukurku tak mampu ku ucap dengan kata, rasa bahagiaku selalu kurasa sekarang. Saat disetiap pagi bangun tidur mengetahui bahwa kamu milikku, itu rasa bahagia yang sangat luar biasa. Sayang, aku mohon jangan pergi tinggalkan aku."


Zhivana tersenyum, tidak terasa buliran air mata sudah beruraian. Terlihat sudut mata arrsyad berair. Arrsyad menangis untuknya, membuat zhivana terharu. Dengan cepat zhivana memeluk arrsyad dengan erat.

__ADS_1


"Entah mengapa aku merasa, suatu saat kita akan berjauhan. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi dimasa depan. Pirasatku terlalu buruk untuk dikatakan. Aku sayang kamu mas, sampai kapanpun. Aku berharap kamu selalu terus mencintaiku disetiap harinya." Batin zhivana.


"Aku sayang kamu, mas. Tolong lindungi aku, aku sekarang hanya punya kamu."


Ucapan zhivana membuat hati arrsyad berdenyut sakit. Arrsyad memejamkan kedua matanya, demi tuhan. Rasanya melihat istrinya menangis seperti ini membuat hati arrsyad sakit.


"Dek, kok kamu nangis kayak gini. Tanpa dimintapun aku akan selalu melindungi kamu, sayang. Kamu seperti jantung yang berdebar dihatiku, tanpa kamu aku bisa mati."


Setelah rasa haru yang mendadak mempilukan suasana hati, keduanya langsung makan siang berdua diruangan kerja milik arrsyad.


"Mas kamu pesen makanan banyak sekali." Ucap zhivana.


Makanan yang dipesan dari restoran berbintang lima, terkesan cukup mahal. Membuat zhivana berdecak sebal pada arrsyad.


"Aku lagi pengen makan banyak, dari tadi pagikan aku belum sarapan. Cuman makan mangga muda, sama kak luchia."


"Tapi mas uangnya sayang, ini mahal. Tuh liat makanannya juga gak seberapa banyak."


"Tenang kak, suamimu ini presedir. Tujuh turunanpun hartanya bakal gak habis-habis." Sahut andre yang tiba-tiba masuk.


Arrsyad mendengus kesal, kala melihat andre main nyolonong masuk.


Andre berdecak kesal, lalu ikut duduk disopa berhadapan dengan arrsyad dan zhivana yang duduk berdampingan.


"Emang biasanya juga suka kayak gitukan, kita mah suka gak ada sopan-sopannya sama atasan." Celetuk andre dengan tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.


"Enak saja kita, itu mah kamu. Akukan bosnya disini."


"Iya, iya maaf, presedir yang kejam."


"Apa mas kamu suka kejam." Tanya zhivana.


Arrsyad menatap tajam dan menyalang pada andre, berani-beraninya dia berkata seperti itu.


"Gak lah, mana mungkin aku kayak dinovel-novel gitu. Aku mah biasa-biasa aja cuman dingin doang kok, sayang."

__ADS_1


"Bohong tuh kak, dia sang presedir yang kejam. Suka menindas para karyawan, nih contohnya aku sekarang, mana dikasih tatapan tajam bak singa kelaparan."


Zhivana menatap arrsyad dengan curiga.


"Beneran mas kamu suka kayak gitu."


"Astagfirullah, dek. Kamu jangan percaya sama dia, mana mungkin aku jadi kejam hanya gara-gara jadi presedir."


"Awas aja dre, aku potong gaji kamu 99%" Ucap arrsyad kembali dengan penuh ancaman.


Andre menelan salivanya dengan susah payah, gawat mana tuh gaji buat modal nikah.


"Eh, jangan dong syad. iya deh aku minta maaf." Ucap andre dengan memelas.


"Yaudah sana, aku mau makan siang dulu. Ganggu aja kamu." Usirnya.


"Tunggu, lebih baik kamu makan siang bersama kami." Tawar zhivana seraya tersenyum.


"Gak, gak boleh, dek. Aku maunya berdua sama kamu." Protes arrsyad tidak terima.


"Beneran kak boleh." Ucap andre dengan berbinar-binar.


"Tentu, lagi pula suamiku pesan banyak."


Andre tersenyum meledak pada arrsyad, yang ditatap langsung cemberut kesal.


"Ayo mas, kita makan. Kamukan belum makan sejak tadi."


"Iya sayang." Ucap arrsyad seraya mencium pipi zhivana yang tertutup kain cadar.


Sengaja arrsyad melakukan itu didepan andre, berniat ingin pamer kemesraan.


"Gerah sendiri kamu dre, liat ke uwwuan aku bareng zhivana." Batin arrsyad seraya menatap andre dengan tersenyum menyerigai.


'

__ADS_1


'


Bersambung


__ADS_2