
Sekuat apapun manusia pasti akan tumbang pada akhirnya. Berusaha menyembunyikan agar tidak ketahuan orang lain, pada akhirnya tetap ketahuan juga. Berjuang sendirian, dengan alasan mempertahankan orang yang kita cintai. Memang bukan salah satu hal yang mudah. Ada rintangan yang menerjang yang harus dilalui.
Mencintai dalam diam. Tidak semudah seperti yang dibayangkan. Mencintai dalam diam, banyak berkorban perasaan. Serba sendiri. Sakit hatipun sendirian.
Jatuh cinta dalam diam, berarti menahan sejuta perasaan dalam hati. Hii, berat! Tapi ada saja, orang-orang kuat yang lebih rela memendam rasa cinta ketimbang mengungkapkannya dan menerima risiko. Ya. Contohnya, arrsyad.
Bagaimana tidak menderita, kalau semua naik turunnya perasaan harus kamu sembunyikan sampai menjadi datar, sedatar mungkin. Itu juga berarti kamu harus punya kemampuan akting yang mumpuni agar semua tetap berjalan seperti biasa.
Pukul satu malam. Sepertinya hujan masih belum ingin mereda, malah semakin deras. Arrsyad yang sudah selesai mandi dan berpakaian, langsung merebahkan tubuhnya dikasur.
Menarik selimut sampai ke dada. Terasa hangat dan nyaman. Gemericik air hujan masih terdengar, mendominasi suasana malam.
Rasa kantuk belum juga kunjung terasa. Padahal, lelah disekujur tubuh sangat terasa. Miring ke kiri dan kanan sudah arrsyad lakukan, untuk mencari posisi ternyaman. Tapi tetap saja, tidak ada tanda-tanda mengantuk.
Arrsyad yang kesal sendiri langsung bangkit. Menyibakkan selimbut. Guling panjang berwarna hitam polos, terletak disisi kanannya. Arrsyad yang butuh pelampiasan langsung menendang kasar gulingnya. Kencang dan melesat sampai jatuh ke lantai.
Helaan napas yang begitu dalam terdengar jelas. Arrsyad, berangsut untuk bangkit dari ranjang. Berjalan gontai menuju sopa panjang yang terletak disudut kamar.
Mengehempaskan tubuhnya dengan kasar kesopa. Baru saja arrsyad memejamkan mata. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.
Reno menyembulkan kepalanya dibalik pintu, sehingga badannya tidak terlihat.
"Apa" Arrsyad menjawab dengan nada acuh tak acuh.
Masih dengan kepala yang menyembul.
" Bisakah kita bicara, sebentar."
Arrsyad membetulkan posisinya. Kini duduk tegak dengan tangan dilipat didada.
"Baiklah."
Reno langsung masuk kedalam. Pintu kamar ditutup rapat-rapat. Seolah-olah obrolan mereka akan menjadi hal serius.
Reno duduk disamping arrsyad dengan gaya kharismanya. Khas seorang ceo yang akan memimpin rapat dikantor.
"Belum tidur" Tanya reno setelah memposisikan duduknya.
__ADS_1
Arrsyad menoleh sekilas pada sang kakak. Lalu, mengalihkan pandangannya untuk menatap lurus ke depan kembali.
"Tentu saja belum. Kalau aku sudah tidur, mungkin sekarang aku sedang terbaring disana." Ketus arrsyad dengan santai. Tanganya menunjuk ke arah ranjang miliknya.
Reno memutar bola matanya malas.
"Sudahlah. Kau terlalu pintar untuk diajak berbasa basi."
"Aku sudah putuskan. Kali ini tidak ada penolakan dan bantahan. Besok, kau harus kembali lagi ke amerika. Setelah pemakaman temanmu itu selesai." Ucap reno seraya memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan arrsyad.
Reno dapat melihat, arrsyad sedikit terkejut. Tapi, mau bagaimana itu sudah menjadi keputusannya yang mendapat dukungan dari sang istri.
"Kenapa tiba-tiba, lagi pula aku masih punya waktu selama dua hari lagi. Aku masih rindu, kak zhivana." Tegas arrsyad dengan penuh penolakan.
Reno memasang wajah garang dengan menatap tajam adiknya itu.
"Lupakan zhivana, dia akan menikah. Tidakkah kau menyadarinya. Bahwa wanita yang kau cintai itu sebentar lagi akan menjadi istri orang." Bentak reno dengan menekankan kata istri orang. Syukur-syukur adiknya itu mengerti.
Arrsyad yang tak terima langsung menatap sengit pada sang kakak. Tak mau kalah, arrsyad memberikan tatapan tajam yang menusuk. bagai sang iblis yang tengah mengamuk.
"Aku ingin kau mengerti dan berhenti mengharapkan zhivana."
"Tidak bisa."
Arrsyad bangkit dengan cepat ia pergi keluar kamar. Pintu kamar yang dibanting keras. Mampu membuat reno terperanjat kaget.
***
Mentari pagi sudah menunjukkan cahaya terangnya. Orang-orang sudah mulai beraktivitas kembali. Jalanan kota yang lenggang kini mulai ramai dan padat kembali oleh kendaraan.
Pagi-pagi sekali gea menghubungi reno. Semanjak kematian kedua orangtua nya zhivana. Gea menjadi lebih akrab dengan reno dan luchia.
Gea memberitahu reno. Bahwa zhivana akan bisa melihat kembali. Perban putih yang menutup mata zhivana akan dibuka sekitar satu jam lagi. Berarti jam tujuh pagi nanti zhivana akan bisa melihat kembali. Melihat betapa indahnya dunia. Gelap gulita yang selama ini ia rasakan akan berubah menjadi terang dan penuh cahaya.
Gea menghampiri azwar. Sudah semalaman azwar duduk dikursi tunggu depan ruang zhivana. Pria itu selalu setia menunggu dan mendoakan zhivana.
"Assalamualaikum." Ucap gea yang berdiri sedikit jauh di hadapan azwar.
__ADS_1
Azwar menunduk sambil tersenyum ramah.
"Waalaikumsalam. Dokter gea, bagaimana dengan zhivana" Balas azwar, dengan menanyakan kabar calon istrinya itu.
"Alhamdulillah kondisinya sangat baik. Ah ya, sepertinya calon istri ustadz itu sangat bersemangat ingin melihat ketampanan calon suaminya. Jadi pulihnya sangat cepat." Goda gea dengan tersenyum-tersenyum.
Azwar tersenyum malu. Lalu, menatap gea sekilas.
"Aku sangat bersyukur zhivana bisa melihat lagi." Azwar yang tampak malu langsung mengalihkan topik pembicaraan.
"Sepertinya kau sedang mengalihkan topik pembicaraan. Nah, ustadz azwar. Aku sangat bersyukur sekali karena zhivana akan kembali lagi bisa melihat."
Seorang suster yang sedari tadi disamping gea. Hanya diam dan mendengarkan obrolan keduanya.
"Saya juga sangat bersyukur. Ini berkat perempuan itu." Azwar berusaha mengingat siapa nama wanita yang telah mendonorkan sepasang matanya untuk zhivana.
"Maksudnya, seina."
Azwar menganguk seraya tersenyum ramah.
"Seina. Semoga amal ibadahnya diterima oleh sang maha kuasa. Dia masih sangat muda. Tapi, sayang maut telah mengambilnya terlebih dahulu." Raut wajah azwar terlihat suram.
Azwar jadi teringat tentang penyakit kanker darahnya sendiri. Apakah nasibnya akan sama dengan seina? Meninggal dengan kondisi yang menyedihkan. Azwar menerka-nerka tentang kehidupannya sendiri bagaimana. Semuanya masih semu. Sulit untuk dihindari rasa sakit yang kian menjadi sering muncul kembali.
Gea berpamitan dirinya ingin memeriksa kondisi zhivana. Meninggalkan azwar yang duduk termanggu sendirian.
Azwar menatap atap rumah sakit. Pikirannya bergrilya kemana-kemana. Pernikahan tinggal dua hari lagi. Senang serta turut bersyukur atas zhivana yang bisa melihat kembali. Tapi, yang mengganggu pikirannya, adalah apakah zhivana mencintai dirinya? Selama ini zhivana belum membalas ungkapan cinta darinya. Kenapa ia merasa bodoh sendiri. Kenapa ia baru memikirkan hal ini sekarang. Apakah dirinya baru menyadari ini semua.
Azwar memijat pangkal hidungnya. Terasa pusing dan membingungkan. Semua tampak semu dan tabu. Sulit di duga. Selama ini ia merasa egois, belum tentu juga zhivana bahagia bersamanya.
"Aku harus membicarakan ini semua pada zhivana."
'
'
Bersambung
__ADS_1