
Ditengah malam yang dingin andre menatap langit malam yang penuh dengan hamparan bintang. Sesekali hembusan angin menerpa kulit tubuhnya.
Mobil serta rumah mewah sudah dijual untuk melunasi hutang korupsi sang ayah, aset-aset berharga milik keluarga sudah dijual habis. Miskin sudah dirinya sekarang.
Ibunya sedang tak sadarkan diri akibat serangan jantung. Butuh biaya yang besar untuk membayar semua biaya pengobatan.
"Assalamualaikum, maaf. Sedang apa ya anda disini."
Andre menoleh kebelakang untuk melihat pada seseorang yang bicara padanya.
Sosok seorang wanita bercadar seperti zhivana tengah menatap bingung kearahnya. Yang andre ketahui wanita itu sepertinya seorang dokter, terlihat memakai jas dokter berwarna putih.
"Waalaikumsalam. Eh itu, saya. Em lagi mencari udara segar."
Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, konyol. Kenapa gugup seperti ini. Padahal wanita itu hanya bertanya bukan ingin mengintrograsi.
"Mana ada mencari udara segar diparkiran rumah sakit."
Iya, ya. mana ada? Andre cengengesan sendiri. Seperti orang linglung saja dirinya sekarang.
"Maaf, mungkin aku mengantuk jadi sedikit aneh." Ucapnya seraya tersenyum malu.
Sepertinya dokter bercadar itu tersenyum, terlihat dari kedua matanya yang menyipit.
"Sebaiknya anda pulang, saya juga ingin pulang. Istirahatlah, ini sudah larut malam."
Seperti mendapat angin surga, seketika senyum andre langsung mengembang. Mendengar suaranya saja sudah sangat menyejukkan hati, apalagi kalau melihat wajahnya. Astagfirullahal'adzim, sadar dre.
Andre mengangguk.
"Kalau gitu saya pamit duluan, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Tapi maaf, anda menghalangi jalan mobil saya." Celetuknya yang membuat andre bertambah malu.
__ADS_1
Hah, sejak kapan tubuh andre duduk dibagian depan mobilnya. Sungguh sangat memalukan.
"Ma-maaf. Saya tidak tahu." Ucap andre seraya menjauh dari mobil milik wanita bercadar itu.
***
Ditaman belakang rumah besar Al Faruq. Arrsyad tengah merajuk kesal pada luchia, kakak iparnya itu sungguh gila luar biasa.
Bagaimana tidak, arrsyad yang sedang iya-iya dengan zhivana. Malah diganggu oleh luchia, seperti orang gila, luchia mengetuk pintu kamarnya sangat keras bahkan teriak-teriak seperti orang kesurupan.
"Hahaha" Gelak tawa luchia menggelegar ditaman, menatap arrsyad yang tengah menaiki sepeda kecil milik anak tetangga.
Reno yang duduk disebelah luchia ikut tertawa terbahak-bahak. Sungguh lucu sekali melihat adiknya itu tengah menggoes sepeda kecil berbentuk bebek, terlihat arrsyad sangat kesusahan.
Wajah arrsyad sudah merah padam, kesal, malu, marah bercampur menjadi satu. Ditengah teriknya sinar matahari, dirinya harus bersepeda mengelilingi taman belakang rumah.
"Hari minggu, yang menyebalkan." Teriak arrsyad ditengah aktivitasnya yang menggoes sepeda kecil.
Bahkan sepeda kecil bermotif bebek itu sudah ada yang mau hampir retak karena berat badan arrsyad. Tapi tak peduli, rusak lebih bagus, paling tuh anak tetangga minta ganti rugi. Toh, yang pinjam sepedanya juga reno.
"Dasar keponakan durjana, belum lahir tapi udah nyusahin." Gerutu arrsyad, sesekali tangannya mengusap keringat yang bercucuran dipelipis.
"Liat tuh nak, om kamu lagi naik sepeda kecil sesuai keinginan kamu." Ucap luchia seraya mengelus perutnya yang besar.
"Berapa putaran lagi, cape aku." Teriak arrsyad dengan kesal.
"Sepuluh putaran lagi, ayo semangat. Demi keponakan kamu." Teriak luchia dengan wajah ceria.
Hah. Yang benar saja, disiang bolong seperti ini dirinya seperti tengah dihukum berdiri ditengah lapang.
"Amit-amit tuh istrimu kak, mana ada ngidam minta hal gila kayak gini. Kesiksa aku tuh." Teriak arrsyad dengan napas ngos-ngossan.
Reno tersenyum saja, lalu ikut mengelus perut istrinya yang besar.
"Kamu sungguh luar biasa, nak. Kalau udah lahir kerjain terus tuh om kamu." Ucap reno dengan kencang supaya terdengar oleh arrsyad.
__ADS_1
Arrsyad mendengus kesal. Dirinya tengah berjuang ditengah teriknya panas sinar matahari untuk memenuhi keinginan ngidam sang kakak ipar yang maha aneh. Tapi, kedua pasutri Koplak itu malah enak-enakkan duduk berteduh digazebo.
Satu jam arrsyad memenuhi keinginan ngidam luchia, sepeda bebek punya anak tetangga sampai benar-benar rusak terbelah dua.
Arrsyad langsung ambruk disopa panjang ruang tamu, peluh keringat yang bercucuran membanjiri kaos polos putih yang dirinya kenakan.
"Astagfirullahal'adzim, capek banget aku kak." Teriak arrsyad seraya Meregangkan kedua tangan.
Reno yang baru datang mengambil air dingin untuk arrsyad langsung tertawa puas.
"Minum, dulu." Ucap reno seraya menyerahakan botol minum.
"Gak mau, aku maunya zhivana yang ambilkan." Ucapnya degan manja.
Luchia yang baru datang dari kamar langsung menjambak rambut arrsyad dengan gemas.
"Manja banget kamu." Ucapnya, lalu ikut duduk di samping reno.
"Aduhh, sakit." Pekik arrsyad, yang langsung bangun dan duduk selonjoran dibawah karpet.
"Zhivana mana, dari tadi aku belum liat dia." Tanya luchia.
Arrsyad bocah itu malah cengengesan sendiri.
"Sableng dia." Ujar reno seraya menimpuk arrsyad dengan bantal sopa.
Dengan sigap, arrsyad. Menangkap bantal sopa itu, lalu berkata.
"Istriku sedang lelah, kak."
"Lelah kenapa"
"Bercocok tanam."
'
__ADS_1
'
Bersambung