
Sesuai dengan janji yang arrsyad katakan. Siang ini arrsyad mengajak zhivana kesuatu tempat, entah kemana. Hanya arrsyad yang tau. Zhivana sedari tadi sudah bertanya, tapi arrsyad selalu menjawab dengan senyuman.
Sudah setengah jam perjalanan, tapi belum juga sampai. Zhivana sudah mulai pegal, arrsyad. Juga jadi tidak tega, karena sedari tadi istrinya itu terlihat tidak nyaman.
"Mau berhenti dulu gak dek?"
"Emang masih jauh ya mas, perjalanannya?"
Arrsyad melirik jam tangan, lalu menoleh ke zhivana sebentar sebelum kembali fokus menyetir.
"Sebentar lagi sampai. Kalau kamu mau berhenti dulu, kita bisa berhenti didepan sana ada restoran cepat saji."
"Gak usah mas, biar cepat sampai."
Arrsyad mengangguk, lalu menambah kecepatan laju mobil. Sesekali tangan kirinya mengusap perut zhivana yang terlihat besar.
Lima belas menit telah berlalu, mobil yang dikendarai oleh arrsyad berhenti didepan sebuah hotel megah kalangan elit. Dua orang pria berjas hitam langsung membuka pintu mobil, dengan segera zhivana dan arrsyad keluar dari mobil.
Hamparan karpet merah tergelar rapi sampai masuk kedalam hotel. Arrsyad menyerahkan tangan kanan pada zhivana untuk mengandeng tangannya. Dengan senang hati, zhivana langsung mengandeng tangan arrsyad.
Seperti sepasang raja dan ratu, ketika keduanya berjalan melewati deretan para karyawan hotel. Mereka semua langsung membungkuk hormat. Sampai didepan pintu utama hotel, seorang menejer hotel langsung menyambut kedatangan arrsyad dan zhivana.
"Selamat datang dihotel Galden Rose. Tuan arrsyad dan nyonya, saya sangat senang dengan kedatangan anda kemari. Apalagi tuan arrsyad sudah memboking hotel ini dengan harga yang begitu pantantis." Ucap menejer hotel, yang diketahui bernama Pak Hermawan. Wajahnya terlihat sangat semringah saat mengetahui kedatangan arrsyad.
Arrsyad hanya memasang wajah datar dan dingin. Sementara zhivana, yang terkejut dengan apa yang barusan ia dengar tentang arrsyad yang menyewa hotel mewah ini dengan harga yang begitu pantantis.
Zhivana yang masih terpaku dengan apa yang barusan ia dengar, sampai-sampai tidak memperhatikan keadaan sekitar. Zhivana mulai berpikir, kira-kira menyewa hotel semewah ini butuh uang sebanyak apa? Apa sampai ratusan juta, atau bahkan milyaran. Memikirkannya membuat pusing kepala.
Saking penasarannya, zhivana berniat ingin menanyakan berapa harga menyewa hotel ini pada arrsyad.
"Apa semua yang aku inginkan sudah disiapkan."Tanya arrsyad dengan datar, pada pak hermawan.
__ADS_1
"Sudah tuan. Kenyamanan serta kebutuhan tuan dan nyonya, adalah hal utama bagi kami." Jawab pak hermawan, secarik senyum diwajah yang mulai menua itu terus terlihat mengembang.
"Bagus. Jangan sampai ada kekurangan apapun. Kau taukan jika ada kesalahan sedikit saja, maka apa yang akan terjadi pada hidupmu."
Seketika wajah pak hermawan langsung menegang takut. Presedir muda yang terkenal dingin ini mampu melemahkan otot-otot lawan bicaranya hanya karena melihat tatapan tajam arrsyad.
"Kau lihatkan, istriku sedang hamil. Aku tidak ingin dia terluka gara-gara fasilitas hotel ini. Ingat! Makanan disini harus higeinis dan sehat."
Rasanya zhivana ingin memukul arrsyad. Suaminya itu terlalu berlebihan, lihatlah wajah pak menejer itu yang awalnya tersenyum cerah secerah mentari kini berubah menjadi kaku dan tegang.
"Iya tuan. Kami akan berusaha dengan sebaik mungkin agar keselamatan nyonya tidak terancam. Kami akan bekerja dengan baik." Ucap pak hermawan dengan wajah cemas sekaligus tegang.
"Bukan harus berusaha, tapi harus dilakukan dengan baik."
"Baik tuan."
Setelah pembicaraan yang begitu menegangkan, pak hermawan segara mengantarkan arrsyad dan zhivana kesebuah tempat dilantai paling atas.
Pak hermawan, arrsyad, dan zhivana berhenti tepat didepan pintu besar bercat coklat mengkilat. Pak hermawan segara membuka pintu itu. Perlahan pintu itu terbuka hanya menggunakan sebuah kartu tipis.
Zhivana yang terpukau dengan apa yang ia lihat dari dalam langsung melotot tak percaya. Ruang yang sangat luas, terlihat sangat indah dan romantis.
Ditengah tengah hamparan bunga mawar putih layaknya lautan bunga. Ada sebuah meja dan dua pasang kursi berwarna putih senada dengan bunga mawar. Bahkan ruangan ini semuanya serba putih. Disetiap sudut dipasang foto kebersamaan zhivana dan arrsyad. Foto itu dibingkai sangat cantik, apalagi lilin-lilin yang melingkari meja itu membentuk love.
Kaca gedung hotel yang besar, langsung memperlihatkan pemandangan kota. Hari yang mulai sore, terlihat sangat indah diatas ruang ini. Dipojokan sana, ada panggung yang cukup besar. Beberapa orang sedang asik memainkan lagu yang mengalun romantis. Layaknya sebuah nada melody cinta.
Zhivana tidak bisa berkata-kata, ini terlalu indah dan romantis. Menjabarkan setiap inci ruangan ini sangat sulit, mungkin dilihat secara langsung baru akan terpesona.
Arrsyad menyiapkan sebuah kursi untuk zhivana duduki, setelah memastikan zhivana duduk dengan nyaman. Baru ia duduk berhadapan dengan zhivana, meja bulat yang berukuran sedang itu menjadi menyekat jarak keduanya.
Beberapa orang pelayan langsung menaruh beberapa jenis makanan dimeja, terlihat sangat menggugah selera. Para pelayan sudah keluar begitu juga dengan pak hermawan, menyisakan arrsyad dan zhivana.
__ADS_1
Tidak bisa dibohongi zhivana hampir menangis karena ini semua. Ruangan yang luas dengan dekorasi romantis yang indah membuat zhivana sangat terpukau.
"Kamu suka gak?" Arrsyad tersenyum lebar, dengan kedua tangan mengenggam tangan kiri zhivana diatas meja.
Zhivana mengangguk, "Mas ini bagus sekali, bahkan sangat indah. Aku sangat suka sekali." Zhivana terus tersenyum. Jujur saat masuk kedalam ruangan ini zhivana sangat tidak bisa menginjak hamparan bunga mawar putih, takutnya rusak. Apalagi ruangan ini sangat harum dan segar.
"Ini semua untuk kamu sayang."
Setelah sedikit berbicara mengungkapkan kata terimakasih atas semua ini. Keduanya langsung makan, sesekali arrsyad menyuapi zhivana. Selesai makan arrsyad mengajak zhivana berdansa, dengan alunan musik romantis. Arrsyad melingkarkan sebelah tangannya dipinggang zhivana sebelahnya lagi saling berpegangan berayun indah dengan seiringnya alunan musik. Sebelah tangan zhivana memegangi pundak arrsyad, sebelah lagi saling bertautan dengan tangan arrsyad.
"Mas aku gak bisa dansa." Keluh zhivana saat keduanya mulai berdansa.
"Ini sambil aku ajari, kamu ikuti gerakan aku. Tenang sayang, fokusnya ke aku."
Zhivana mengangguk, tatapan mata keduanya bertemu. Saling mengunci dengan seutas senyuman manis. Alunan musik yang mengalun romantis mengiringi setiap gerakan dansa, arrsyad mencoba gaya dansa lainnya dengan zhivana yang berusaha mengimbangi. Beberapa kali zhivana menginjak kaki arrsyad, tapi itu tidak masalah bagi arrsyad. Malah dia sangat senang ketika berdekatan seperti ini dengan zhivana. Mau sampai babak belur karena mengajak zhivana dansa juga arrsyad tidak peduli yang penting ia hanya ingin bersama zhivana.
"I Love You So Much Dear."
Arrsyad melingkarkan kedua tangannya dipinggang zhivana, dengan kening keduanya saling menempel. Arrsyad menyudahi dansanya, takut zhivana kelelahan. Sementara kedua tangan zhivana memegangi pundak arrsyad.
"I Love You Too So Much."
Keduanya saling tersenyum. Arrsyad mengecup kening zhivana, lalu memeluk zhivana kembali.
"Masih ada tempat yang lebih indah dari ini."
"Oh ya, dimana?"
"Dikamar kita."
'
__ADS_1
'
Bersambung