Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 67 : Aku Cemburu


__ADS_3

Rasa cemburu yang arrsyad rasakan, membuat dirinya sakit hati. Melihat, wanita yang dicintainya saling berpelukan tepat dihadapan matanya sendiri membuat arrsyad cemburu dan marah.


Rasa cinta untuk zhivana yang begitu besar, membuatnya hilang kendali. Menghilang sejenak untuk meredakan emosi ternyata malah membuat dirinya tidak bisa Lama-lama berjauhan dari zhivana.


"Kamu salah paham, mas."


"Jelas-jelas kamu pelukan sama, dia."


Selama ini arrsyad selalu merasa cemburu sendirian. Apalagi dulu, saat zhivana hendak ingin menikah dengan azwar. Membuat arrsyad patah hati diam-diam.


Apa seperti ini? Cinta dalam diam pun, harus patah hati dalam diam juga.


Padahal dirinya punya mulut dan pikiran untuk mengungkapkan isi hatinya bagaimana. Tapi, karena jarak dan adanya orang lain yang hadir di kehidupan zhivana. Malah membuat arrsyad seperti tersingkirkan saja.


Tidak mau rasa sakit yang menyesakan didada terasakan kembali. Arrsyad langsung berbicara pada zhivana.


Sebenarnya arrsyad tidak mau menyakiti zhivana karena ulah dan perkataannya sendiri. Tapi, emosi dalam dirinya malah hilang kendali.


"Dengerin dulu mas, kamu itu salah paham. Aku tadi mau jatuh, ustadz azwar. Yang meraih tubuh aku hingga aku jatuh ke dia. Beneran mas, aku gak pelukan sama dia."


Arrsyad menatap zhivana dalam-dalam, terlihat istrinya itu bicara jujur. Tidak ada keraguan disana.


"Tapi aku cemburu"


Zhivana tersenyum lebar.


"Tapi beneran, mas. Aku gak sengaja bersentuhan sama dia. Aku kan sayang dan cintanya sama kamu." Ucap zhivana.


Malu rasanya bicara seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, arrsyad. Sedang emosi. Gombalin suami dikit gak apa pa kan.


Rasanya arrsyad ingin tersenyum, tapi dirinya tahan sebisa mungkin. Sayangnya, zhivana. Dapat melihat kedua pipi arrsyad yang bersemu memerah.


Rupanya gombalan zhivana kurang ampuh. Berpikir keras untuk menemukan kata-kata manis, ternyata susah juga. Mengingat, arrsyad yang selama ini sering berkata-kata manis padanya.


"Untukmu pemuda yang ditakdirkan Allah untukku, arrsyad. Love you forever my dear."


Arrsyad yang sudah tak kuat menahan senyuman dibibirnya, akhirnya tersenyum juga. Seraya mendekat ke zhivana.


Benar-benar ampuh, zhivana tersenyum senang ketika arrsyad tersenyum.

__ADS_1


"Beneran dek, kamu gak pelukan sama dia." Tanya arrsyad, kali ini tatapanya lebih teduh. Membuat zhivana betah.


Zhivana menangkup kedua pipi arrsyad.


"Iya, mas. Yang boleh peluk aku, itu kan kamu. Aku milik kamu, dan kamu milikku."


Dengan perasaan lega, arrsyad, mencium kening zhivana. Tak cukup dari itu arrsyad mulai menautkan bibir keduanya.


Cukup lama keduanya berciuman, arrsyad mengangkat tubuh zhivana agar terbaring diranjang.


"Ahh, mas. Sakit" Pekik zhivana, saat salah satu kakinya tersangkut diselimbut.


Arrsyad yang belum tau kaki zhivana terluka, langsung mengerjit bingung.


"Aku belum apa-apain kamu, dek."


Zhivana menyibakkan selimbut untuk memperlihatkan luka dikakinya.


"Astagfirullah. kaki kamu kenapa, dek. Pasti sakit banget ya? Kok bisa kaya gini, mana luka lecetnya parah."


"Iya tapi gak apa pa kok, mas. Tadi dokter vanya udah kesini, nanti juga sembuh asal jangan sering dulu jalan kaki."


Zhivana yang merasa tak nyaman serta merasa tak sopan langsung menarik kakinya kembali, tapi arrsyad menahannya.


"Maaf. Ini gara-gara aku yang gak jadi jemput kamu, sayang."


"Mas, udah jangan merasa bersalah kayak gitu. Lagi pula, aku gak apa pa."


"Maaf, dek. Kedepannya aku gak bakal kayak gini lagi."


Zhivana mengangguk seraya tersenyum manis.


Arrsyad meniupi luka dikaki zhivana, lalu mengoles kan obat yang katanya rekomendasi dari dokter vanya, agar cepat sembuh.


Selesai mengobati luka dikaki zhivana, arrsyad langsung tidur tengkurap diranjang.


"Mas, mandi dulu. Liat tuh baju kerja kamu aja udah acak-acakan banget." Ucap zhivana seraya menguncang tubuh arrsyad.


"Bentar lagi dek, aku capek banget."

__ADS_1


"Jangan tidur dulu, udah shalat isya belum."


"Udah, tadi dimesjid bareng andre."


"Mandi dulu mas, udah mandi langsung makan. Terus tidur." Titah zhivana seraya menarik tangan arrsyad.


"Iya, sayang iya. Aku mau mandi, mana laper banget aku dek. Dari siang belum makan."


"Yaudah aku siapin dulu makanan, kamu mandi dulu aja."


Arrsyad mengangguk lalu berjalan gontai ke kamar mandi.


Setelah mandi dan makan malam sepiring berdua dikamar. Keduanya, tengah berbaring diranjang.


Berbicara ringan, mengenai pekerjaan arrsyad dikantor seharian bagaimana, lalu membahas kembali pertemuan zhivana dan azwar. Arrsyad, berulang kali meminta maaf, karena rasa cemburunya, zhivana terluka. Padahal menurut, zhivana. Ini bukan salah arrsyad, melainkan salah dirinya sendiri.


"Dek, bercocok tanam yuk." Ajaknya dengan tatapan sayu.


Zhivana yang tidur menyamping memeluk arrsyad, langsung mendongak, menatap wajah tampan suaminya.


"Bercocok tanam, ini udah malam mas. Tumben banget kamu ngajak aku bercocok tanam."


Arrsyad yang mendengar ucapan zhivana langsung terkekeh geli.


"Bukan bercocok tanam berkebun, sayang. Tapi aku ngajak bercocok tanam naruh benih cinta aku dirahim kamu, biar jadi buah cinta kita." Ucap arrsyad dengan tersenyum-tersenyum.


Zhivana yang malu, langsung membenamkan wajahnya didada bidang arrsyad.


"Dasar mesum, kamu mas. kemarin iya-iya, sekarang malah bercocok tanam."


Arrsyad tertawa, lalu memeluk tubuh zhivana dengan erat.


"Mas, sayang kamu, dek."


Cup


'


'

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2