Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 59 : See You Suamiku


__ADS_3

Setelah menceritakan pendapat dan ke khawatiran luchia pada zhivana. Arrsyad dengan tegas menolak keras. Katanya tidak mau berpisah, takut rindu.


"Ayolah syad, kamu harus nurut kalau dikasih tau! Ini juga demi kebaikan istri kamu." Bujuk luchia dengan memasang tampang memelas bak anak kucing minta dipungut masuk rumah.


Arrsyad mendengus kesal.


"Enggak. Aku maunya zhivana bareng aku terus."


"Gak, ga boleh. Aku khawatir sama zhivana kalau dia ikut kamu" Bantah luchia mulai kesal.


"Dia istriku, dia harus ikut aku. Akukan suaminya."


"Ya, ya. Aku tau itu. Tapi kan aku khawatir, kamu juga kan disana bakalan sibuk, terus kalau zhivana diapartemen terus kasian dia. Mending dia sama aku dulu, pendidikan kamu juga kan tinggal satu tahun lagi."


Arrsyad mengacak rambutnya frustasi.


"Masa baru aja aku sama zhivana bersama udah mau pisah lagi. Kan gak sanggup aku tuh"


"Cihh. Lebay, kamu" Cibir reno.


"Anggap aja ini ujian untuk kalian. Ayolah, ini demi zhivana kasian dia. Aku kan udah gak kerja jadi dia bareng aku terus dirumah."


Arrsyad mulai berpikir kembali. Rasanya sangat berat untuk kembali berjauhan dengan seorang wanita yang dicintainya. Benar juga kata kakak iparnya itu, disana kurang aman untuk wanita muslimah seperti zhivana.


Arrsyad mengambil napas dalam-dalam lalu membuangnya kasar.


"Gimana dek?" Tanya arrsyad dengan tatapan teduhnya.


Zhivana menatap arrsyad dalam, dengan ragu tangannya terulur menyentuh punggung tangan kanan arrsyad dengan lembut.


"Aku maunya ikut mas, tapi aku gimana mas nya aja." Ucapnya lirih.


Arrsyad memejamkan kedua matanya sekejap, lalu menatap jam tangan yang melilit ditangan kiri. Waktu keberangkatan pesawat menuju amerika tinggal empat puluh menit lagi.


"Yaudah, aku berangkat sendiri. Aku titip istriku dirumah ya kak. Aku gak mau dia sendirian disini." Ucap arrsyad dengan serius.


"Untuk sekian kalinya, jaraklah yang selalu memisahkan kita. Dulu aku selalu berjuang dari rasa ingin temu yang menggebu-gebu. Dan sekarang rasa itu akan kembali terasa, dibalik langit malam yang gelap aku menahan rasa rindu yang menyiksa." Gumam arrsyad dalam hati.


Luchia tersenyum senang begitu pula dengan reno.


"Syukurlah. Yaudah, zhi mulai dari sekarang kamu tinggal bersama kami. Ahh senangnya." Ucap luchia dengan girang.


"Kamu tenang aja. Zhivana aman bersama aku dan luchia, aku seneng banget malah. Kamu fokus aja dengan pendidikan S2 kamu." Ucap reno.


Zhivana menunduk, rasanya sangat tidak rela arrsyad pergi jauh darinya.


"Dek, gak apa kan, mas tinggal dulu. Mas janji deh bakal kasih kamu kabar terus"

__ADS_1


Arrsyad menarik zhivana pada pelukannya. Memeluk istrinya dengan erat seolah tak mau terpisah walau sedetik saja.


Zhivana terdiam seraya menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Sepertinya kita harus berangkat sekarang." Ucap reno.


Setelah mengemas kembali barang-barang zhivana untuk dibawa kerumah kediaman keluarga arrsyad, semuanya langsung menaiki mobil dan meninggalkan pekarangan rumah zhivana.


Disepanjang perjalanan menuju bandara, tidak ada yang berbicara. Arrsyad yang duduk berdua dibelakang dengan zhivana sedari tadi terus memeluk zhivana dari samping sesekali arrsyad mengecup kepala zhivana dengan sayang.


***


Dibandara yang cukup ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang. Arrsyad memeluk zhivana erat, zhivana yang sudah tidak bisa membendung air matanya mulai terisak didekapan suaminya.


Reno dan luchia hanya diam dan memandangi keduanya.


"Sayang"


Untuk pertama kalinya arrsyad memanggil zhivana dengan sebutan sayang.


Zhivana refleks mendongakkan wajahnya untuk melihat arrsyad. Apakah benar barusan arrsyad memanggilnya sayang.


"Mas" Lirih zhivana.


Kedua tangan arrsyad yang sedari tadi melingkar di pinggang zhivana. Malah bertambah erat.


"Walaupun jarak memisahkan kita, tapi kamu selalu ada di sini. Di hatiku, dek" Tunjuk arrsyad pada hatinya.


"Jaga diri mas dengan baik, jangan lupa shalat dan ngajinya. Makan yang teratur ya mas aku takut kamu sakit disana." Nasihatnya dengan mata berkaca-kaca.


Arssyad tersenyum manis. Lalu mengecup kedua mata zhivana.


Cup


Cup


"Udah dong dek, jangan nangis. Kalau kamu nangis terus bisa-bisa aku gak jadi pergi."


Orang-orang yang tidak sengaja melihat langsung tersenyum gemas melihat kemesraan arrsyad dan zhivana.


Mereka tak malu menunjukkan kemesraan di depan umum.


"Belajar yang giat ya mas, kamu fokus aja sama kuliah kamu."


"Enggak bisa. Mas suka fokusnya ke kamu terus, dek." Ucapnya seraya tersenyum manis.


Zhivana sudah merah merona.

__ADS_1


"Mas ih. Malu tau sama kak reno, kak luchia."


Arrsyad menoleh pada reno yang sedang menahan tawanya bersama luchia.


Cup


Arrsyad mengecup kening zhivana.


"Pasutri Koplak itu mah dek. Udah biarin aja. Haha" Ucap arrsyad dengan gelak tawanya.


"Sialan" Ucap reno setengah berteriak.


"Gak boleh gitu, mas." Sahut zhivana tak suka.


"Iya, iya maaf"


"Kak aku titip istriku ya. Aku gak mau dia kenapa-kenapa." Ucap arrsyad yang langsung diangguki oleh reno.


"Tenang. Zhivana mah kalau sama kita mah aman! Iya gak mas" Ucap luchia.


"Iya. Kaya sama siapa aja sih. Kitakan keluarga jadi harus saling menjaga. Aku juga dari dulu udah anggap zhivana kaya adik kandung sendiri. Jadi tenang aja syad. Cepet berangkat sana. Tuh udah ada pemberitahuan."


Arrsyad kembali menatap zhivana.


"Dek, jaga diri kamu baik-baik, inget ya dek, kamu udah ada mas dan mas udah ada kamu. Jadi kita harus saling menjaga kepercayaan dan saling setia. Jarak mungkin memisahkan kita sekarang! Tapi ada waktunya aku mengikis jarak dan menyatukan cinta kita." Ucap arrsyad seraya mengenggam kedua tangan zhivana.


Zhivana mengangguk.


Dengan cepat arrsyad kembali memeluk zhivana.


"Kepulanganmu akan selalu aku tunggu. Mas." Ucap zhivana dengan lirih.


Arrsyad melepas pelukannya.


"Jaga dirimu dengan baik, dek. Kalau gitu aku pamit dulu" Arrsyad mencium punggung tangan reno dan luchia.


Beralih pada zhivana yang mencium punggung tangan arrsyad. Dan arrsyad mencium kening zhivana.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Seiringnya arrsyad melangkah mundur, genggaman tangan zhivana dan arrsyad pun perlahan terlepas, jarak dari keduanya semakin jauh dan hilang tak terjangkau.


"See you, suamiku." Ucap zhivana dengan lirih.


'

__ADS_1


'


Bersambung


__ADS_2