
Setibanya diapartemen, arrsyad langsung mencari keberadaan zhivana. Biasanya zhivana akan selalu menyambut kedatangan arrsyad, tapi kali ini berbeda. Tentunya semua perhatian zhivana sekarang sudah terbagi. Ada anak-anak yang harus lebih diperhatikan dengan baik.
"Sayang" Panggil arrsyad saat membuka pintu kamar, terlihat zhivana sudah tertidur diatas karpet bulu tebal dekat box bayi Arka dan Aalesha. Pasti istrinya itu ketiduran saat menidurkan si kembar.
Arrsyad melepaskan jas berwarna navy, lalu memasukannya kedalam cucian kotor. Melangkah pelan mendekati zhivana yang terlelap. Arrsyad memperhatikan wajah cantik zhivana dengan seksama, melihat raut wajah zhivana yang kelelahan membuat arrsyad tidak ingin meminta jatah malam jum'at. Lagi pula ia sudah lama tidak melakukannya dengan zhivana. Rasanya sangat rindu.
"Mas, sayang kamu dek." Bisik arrsyad tepat ditelinga zhivana. Mengecup kening zhivana, lalu mengangkat tubuh istrinya keranjang dengan hati-hati.
Setelah menyelimuti zhivana, arrsyad mendekati dua box bayi. Disana ada anak-anaknya tengah tertidur nyenyak. Wajah menggemaskan dan imut itu terlihat sangat damai. Arrsyad sangat ingin mencium pipi gembul Arka dan Aalesha, tapi sayang arrsyad belum mandi.
"Aku gak nyanka banget bisa dapat dua bayi sekaligus. Apalagi hidupku semakin hari semakin bahagia. Selama ini perjuanganku untuk mendapatkan zhivana tidak sia sia."
***
Malam telah berganti dengan pagi hari yang cerah. Sesudah shalat shubuh arrsyad malah tidur kembali dengan arka diatas ranjang, Arka. Sejak subuh sudah rewel ingin susu, sementara Aalesha baru saja dikasih asi dan tidur kembali. Zhivana sibuk didapur membuat sarapan, waktu anak-anak tidur kesempatan inilah zhivana manfaatkan untuk beres-beres, dan memasak.
Satu jam zhivana sibuk didapur, sarapan pagi sudah siap. Zhivana langsung menaiki anak tangga, menuju kamar untuk membangunkan suaminya.
Terlihat arrsyad masih tidur disamping arka. Bayi kecil itu terlihat menggeliat saat arrsyad merubah posisi tidurnya menjadi telentang.
"Mas bangun." Zhivana mulai menguncang tubuh arrsyad dengan pelan. Setelah dipanggil beberapa kali, barulah arrsyad terbangun.
Arrsyad tersenyum kala zhivana tersenyum padanya, dengan malu-malu zhivana mengecup pipi kanan dan kiri arrsyad dengan cepat.
"Selamat pagi mas." Ucap zhivana seraya tersenyum manis pada arrsyad.
__ADS_1
Arrsyad mencium kening zhivana lalu berkata. "Selamat pagi juga sayang."
"Mandi dulu sana, udah mandi langsung kita sarapan. Mumpung anak-anak masih tidur."
Arrsyad membuang napas dengan berat, lalu menatap zhivana dengan sayu. "Aku rindu kamu dek, kita udah lama gak bermesraan lagi."
"Tapi nipasku belum selesai mungkin satu minggu lagi baru selesai."
"APA. Satu minggu lagi!" Pekik arrsyad dengan lemas. Kedua tangannya mengacak-ngacak rambut, terlihat wajahnya sangat gusar.
"Sabar dulu ya mas, semoga aja cepet selesai." Zhivana jadi kasihan pada arrsyad. Setiap hari arrsyad selalu bertanya "Udah belum?" Zhivana selalu menjawab "Belum selesai."
Mungkin lebih dari seratus kali dalam dua minggu ini arrsyad selalu bertanya seperti itu. Zhivana jadi mengerti kenapa seorang lelaki suka menikah lebih dari dua kali.
Setengah jam kemudian, terlihatlah arrsyad berjalan menuruni anak tangga. Rambut hitam legamnya masih basah, terlihat wajah tampan arrsyad sangat segar.
"Ayo mas sarapan dulu." Zhivana sudah menyiapkan dua roti dengan selai nanas dan coklat. Satu cangkir kopi pahit tanpa gula sudah siap dengan asap yang masih terlihat mengepul.
"Dek, nanti sore kita kerumah utama. Kak reno nyuruh kita menginap disana." Ucap arrsyad setelah menyesap sedikit kopi hitam.
"Iya mas. Aku juga udah rindu sama mereka, terutama sama olivia."
Selesai sarapan pagi dengan perbincangan hangat. Zhivana segera mandi, sementara arrsyad menjaga anak-anak yang sudah terbangun. Sekarang malah terdengar suara tangis Aalesha yang kencang.
Zhivana buru-buru menyelesaikan mandinya, sementara arrsyad sudah panik setengah mati karena Aalesha tidak mau berhenti menangis.
__ADS_1
"Cup cup... Putri kecil ayah kenapa, Hem? Kenapa menangis, pasti kamu udah lapar. Sabar dulu ya, Bundanya masih mandi."
Arrsyad sudah bershalawat, lalu mengayun-ngayun tubuh kecil Aalesha dengan lembut. Tapi sayang usahanya untuk membuat Aalesha berhenti menangis tidak berhasil, tangisan bayi yang kencang membuat arrsyad gugup.
"Sayang," Rengekkan arrsyad diluar pintu kamar mandi membuat zhivana tersenyum. Sepertinya arrsyad sudah kewalahan.
Pintu kamar mandi terbuka terlihatlah zhivana. Rambut hitam pekatnya yang basah dibiarkan tergerai, gamis syar'i berwarna maroon itu sangat kostras, ditubuh zhivana yang putih.
"Kamu selalu cantik." Seketika wajah panik arrsyad berubah berbinar. Melupakan Aalesha yang masih menangis kencang.
"Mas ih, Aalesha masih nangis juga kamu malah gombal." Zhivana segera menggendong Aalesha, lalu duduk ditepi ranjang. Dengan segara zhivana mengasih asi pada Aalesha.
Zhivana melihat Arka, bayi itu sangat anteng, asal tidak ada yang menganggu maka arka akan tenang.
"Sayang, udah belum?" Arrsyad mulai menanyakan hal itu lagi. Kali ini wajahnya terlihat sangat memelas.
"Belum, mas."
"Kalau udah, langsung kasih tau."
'
'
Bersambung
__ADS_1