
Keesokan harinya, arrsyad memutuskan setelah pulang kerja dari kantor ia akan pergi kerumah kakaknya. Jujur dalam hati ia sangat enggan untuk kesana, tapi mau bagimana lagi ini demi zhivana.
Bukannya sudah menyerah untuk mencari zhivana, tapi arrsyad tidak ingin melewatkan kelahiran buah cintanya nanti.
Mobil sport hitam milik arrsyad sudah sampai didepan rumah besar al faruq. Datang ke rumah sendiri, rasanya sangat canggung sekali.
Luchia yang baru keluar dari pintu rumah langsung menatap arrsyad dengan senang.
"Arrsyad," Teriak luchia dengan heboh.
Arrsyad yang sedang melamun lamun terperanjat kaget karena teriakan luchia.
"Assalamualaikum" Ucap arrsyad dengan datar.
Tanpa ragu, luchia langsung memeluk arrsyad dengan erat. Tapi pelukan itu hanya bertahan sebentar.
"Waalaikumsalam. Yaampun arrsyad, aku seneng banget kamu akhirnya kesini lagi. Sudah empat bulan kita tidak bertemu."
"Apa kabar kak, bagimana dengan kabar olivia dan kak reno?"
"Alhamdulillah, mereka berdua baik. Arrsyad, kenapa tubuhmu menjadi kurus begini? Kulihat waktu empat bulan terakhir kita bertemu kamu tidak sekurus ini. Astaga kenapa wajahmu pucat begitu,"
"Mungkin itu hanya perasaan kak luchia saja, aku ingin ketemu kakakku dulu. Apa di ada dirumah?"
Luchia mengangguk, lalu membawa masuk arrsyad ke dalam. Sesampainya, luchia langsung menyuruh arrsyad masuk ke dalam ruang kerja reno. Dengan langkah cepat, arrsyad langsung menuju ruang kerja reno.
Pintu ruang kerja reno langsung arrsyad buka, terlihat reno sedang merapikan tumpukan berkas-berkas dimeja. Arrsyad langsung menutup pintu.
"Sudah kuduga, pasti kau akan kemari." Ujar reno, wajah tampan imutnya itu terlihat tersenyum menyerigai.
Arrsyad mendengus kesal, ia langsung duduk disopa panjang seraya menatap gerak gerik reno.
"Ada apa?" Tanya reno, ia berdiri membelakangi arrsyad seraya menatap ke arah jendela yang menyuguhkah pemandangan taman belakang rumah.
"Aku rindu istriku, tolong bawa aku untuk menemuinya."
Reno tertawa dengan begitu mengerikannya, membuat arrsyad bergidik ngeri. Apa kakaknya itu waras?
__ADS_1
"Sudah sadar kamu?"
"Aku sangat menyesal, cemburu serta amarah yang waktu itu kurasakan mampu membuatku hilang kendali. Aku berkata kasar pada istriku, bahkan tanpa sadar aku membentaknya secara kasar. Aku memang bodoh sekali, menuduh istri sendiri selingkuh."
Arrsyad mengusap wajahnya dengan gusar, helaan napas yang berat terdengar keras.
"Lalu kemana saja kamu selama dua hari, apa kamu tau zhivana rela hujan-hujanan demi menunggumu kembali. Bahkan dia pingsan sampai janinnya lemah." Ucap reno dengan geram.
Arrsyad menundukkan kepalanya dalam-dalam, kedua matanya sudah memerah ingin menangis. Tapi ia tahan sebisa mungkin.
"Aku menghilang selama dua hari untuk meredakan amarahku, aku juga menemui adzril untuk menceritakan semuanya."
"Aku masih tidak rela zhivana ketemu denganmu."
Arrsyad langsung bangkit dari duduknya, berjalan cepat pada reno lalu bersimpuh seraya memegangi kaki kanan reno dengan erat.
"Aku mohon padamu kak, tolong katakan padaku dimana zhivana? Aku sangat merindukan istriku dan anak-anakku, kakak juga seorang suami dan seorang ayah. Bagaimana perasaan kakak, ketika berjauhan dengan seorang istri dan anak yang kita cintai. Kakak pasti merindukannya bukan! Aku juga sama kak seperti itu, bahkan setiap malamnya aku tidak bisa tidur dengan tenang, aku selalu memikirkan tentang zhivana. Aku takut dia kenapa-napa, aku takut dia butuh sesuatu tapi tidak bisa bilang pada siapapun kecuali padaku dia bicara. Dia selalu bilang, kalau dia hanya ingin bersamaku."
Tanpa disadari buliran air mata arrsyad sudah menetes, membasahi pipi. Reno yang melihatnya jadi tidak tega, apalagi badan arrsyad terlihat kurus.
Reno tetap diam, pandangannya terus menatap lurus-lurus kejendela.
"Kenapa kau diam kak? Tolong bicaralah, jika kau ingin saham atau semua harta kekayaanku ambilah kak, aku rela jadi gelandangan. Tapi tolong katakan dimana zhivana?"
Entah kenapa ucapan arrsyad yang mengatakan rela menjadi gelandangan membuat reno ingin tertawa. Sialan, dasar adik durjana. Dia pikir dirinya miskin apa, dalam waktu satu jam saja ia bisa menghasilkan uang miliaran.
"Apa kau yakin, rela jadi gelandangan demi bisa menemui zhivana?"
"Iya kak aku rela, aku akan menghidupi keluargaku dari hasil cafe ku saja itu sudah cukup."
Detik itu juga reno langsung tertawa dengan keras, arrsyad yang mendengarnya langsung mengerjit bingung.
"Dasar kau ini, sana minggir. Pegal juga terlalu lama berdiri, aku tidak akan memberitahu keberadaan zhivana padamu."
Ucap reno seraya berjalan menjauh dari arrsyad yang masih duduk dilantai. Reno duduk disopa tunggal, dengan santai ia meminum segelas air putih yang sudah luchia siapkan sebelumnya.
"Tapi kak, aku merindukannya. Aku juga ingin meminta maaf pada istriku." Ucap arrsyad seraya berdiri.
__ADS_1
"Cengeng sekali, lihatlah kau menangis. Hapus air matamu itu, lalu bersiaplah aku akan memberitahu zhivana sekarang ada dimana."
Seutas senyuman semringah langsung terlihat diwajah tampan arrsyad.
"Beneran kak, kau tidak bohongkan?" Ucap arrsyad dengan semangat.
Reno mengangguk.
"Iya, tapi tidak sekarang. Besok saja, ini sudah sore karena perjalanan kesana membutuhkan waktu tiga jam. Besok pagi saja, zhivana pasti sangat senang kau datang untuk menjemputnya."
"Tapi kak, aku ingin kesana sekarang. Tolong sebutkan dimana istriku? Aku akan menjemputnya."
"Besok saja"
"Sekarang"
"Besok"
"Sekarang"
"Bocah sableng, kau ini. Baiklah, kalau sudah sampai sana hubungi aku." Ucap reno lalu memberikan secarik kertas bertuliskan alamat pondok pesantren cabang kedua kiai husen.
Dengan semangat, arrsyad langsung menerimanya.
"Terimakasih banyak kak, aku akan menjemput istriku. Tidak peduli seberapa jauh jarak yang ku tempuh nanti, yang penting aku akan menemuinya malam ini juga." Ucap arrsyad, lalu memeluk reno sekejap sebelum ia pamit untuk menjemput zhivana.
"Dasar keras kepala plus tidak sabaran, dia itu memang tengil sekali. Tapi kasihan juga melihat arrsyad menderita seperti itu." Ucap reno seraya memandang kepergian arrsyad.
Arrsyad menyetir mobilnya dengan kecepatan cukup kencang, senyuman manis itu terus terpancar. Tidak peduli dengan cuaca sore yang cukup buruk karena akan turun hujan lebat, yang arrsyad mau malam ini ia harus bertemu dengan zhivana.
"Dek, tunggu aku akan menemuimu beberapa jam lagi. Kau tau sayang, setiap harinya hanya ada tentang dirimu yang selalu bersemayam dihati dan pikiranku. Rasa rindu yang ingin segera bertemu akan tersalurkan malam ini juga, tunggu aku datang, dek. I Miss You."
'
'
Bersambung
__ADS_1