
Zhivana menunggu jawaban dari arrsyad. Selama ini arrsyad lah yang selalu bilang bahwa dirinya akan memberikan nama yang indah untuk anak-anak. Bayi mungil kembar, masih diberi asi oleh zhivana.
"Namanya apa? Aku gak sabar pengen tau," Luchia ikut mendesak, ia berdiri disamping arrsyad yang tengah tersenyum-senyum melihat dua bayi kecil.
"Untuk putra pertamaku bernama Arkaan Haidar Al-Faruq. Arkaan yang berarti kemuliaan, Haidar adalah pemberani bermarga Al-Faruq."
"Untuk putri keduaku bernama Aalesha Gazbiyya Al-Faruq. Aalesha artinya jujur, dan Gazbiyya artinya cantik dan menggemaskan bermarga Al-Faruq."
Zhivana tersenyum lebar, begitu pula dengan luchia yang ikut senang.
"Masya Allah, nama-nama yang indah. Aku suka sekali mas."
"Indah dan sangat cocok untuk anak-anak kalian. Olivia aja kalah cantik tuh pastinya sama baby Aalesha."
Semuanya langsung tertawa bahagia. Hari ini adalah hari dimana zhivana dan arrsyad menjadi orang tua, sepasang bayi kembar telah lahir dengan selamat. Zhivana sangat bersyukur, karena dipengalaman pertama kehamilannya tidak begitu menyulitkan. Zhivana sangat menikmati setiap prosesnya, apalagi dengan arrsyad yang selalu ada untuk zhivana.
***
Hari bergulir dengan cepat. Menumbuhkan perkembangan bayi kembar yang sudah berusia satu bulan. Selama ini zhivana tidak pernah kesulitan mengurus dua bayi sekaligus. Si kembar selalu anteng dan lebih banyak tertidur.
Pagi ini arrsyad akan pergi kekantor, sudah dua minggu ia tidak masuk. Menemani zhivana mengurus kedua anaknya adalah pekerjaan yang sangat berarti. Sesekali arrsyad sendiri yang membereskan pekerjaan rumah, ia sangat tidak tega melihat zhivana yang selalu kelelahan.
"Mas aku buatin kamu bekal buat nanti makan siang, jangan lupa dimakan." menyerahkan satu kotak makan siang untuk suaminya dengan penuh rasa cinta. Dengan senang hati, arrsyad langsung menerimanya.
"Makasih ya sayang. Oh ya, katanya ustadz azwar mau nikah ya?" Tanya arrsyad dengan raut wajah senang. Dalam hati, arrsyad. ia sangat lega, ustadz azwar sudah tidak mencintai lagi istrinya.
"Kok kamu tau? Padahal aku belum kasih tau kamu, mas."
"Aku denger pembicaraan kamu sama umi aisyah pas beliau dateng kesini jenguk anak kita."
"Iya dia mau nikah. Katanya sama temen kuliahnya yang waktu dikairo."
"Baguslah."
"Yaudah kamu berangkat mas, aku mau liat dulu anak-anak."
"Iya, mas berangkat dulu, dek. Oh iya nanti pulang dari kantor, mas ada acara makan malam sama pak pejabat yang waktu itu. Kamu makan duluan aja nanti, jaga diri kamu dan anak-anak."
__ADS_1
Zhivana mencium punggung tangan arrsyad, lalu arrsyad mencium kening zhivana. Seperti sudah terbiasa, kebiasaan ini selalu tidak pernah terlewatkan. Sekarang beralih mencium kedua anaknya, arrsyad beberapa kali menciumi kedua pipi gembul anak-anaknya yang semakin terlihat menggemaskan.
"Anak-anak ayah sama bunda jangan pada rewel. Kasian bunda, dia jarang tidur nyenyak. Sekarang ayah mau kerja dulu, yang anteng tidurnya."
Zhivana hanya tersenyum melihat interaksi arrsyad pada Aalesha dan Arka. Bayi kembar yang sedang tidur pulas itu diam tak bergeming.
"Mas berangkat dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati dijalannya, mas."
Setelah mengantar arrsyad sampai pintu apartemen depan, zhivana segera bergegas kembali ke dalam kamar. Ternyata Arka sudah bangun, sementara Aalesha masih tertidur.
"Assalamualaikum Baby Ar. Kamu bangun duluan sayang, liat tuh adik kamu masih tidur." Ucap zhivana seraya menggendong arka.
Bayi kecil itu menggeliat seraya mengguap. Kedua mata bulat beningnya menatap zhivana yang mulai melantunkan shalawat seraya mengganti popok arka yang basah.
"Baby Ar, mirip ayah. Lihat ini, kamu sangat tampan sekali." Zhivana terus berbicara dengan arka. Bayi kecil itu terlihat sangat antusias memperhatikan bundanya.
***
Hari sudah semakin malam, bahkan matahari sudah terbenam ke barat. Tapi jalanan masih padat, dengan suara klakson mobil yang saling bersahutan. Masih ada banyak orang yang berlalu lalang di sekitar jalanan. Sementara arrsyad baru keluar dari dalam gedung perusahaan, wajahnya terlihat sangat kusut. Apalagi malam ini ia menerima undangan makan malam bersama keluarga pejabat.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman pejabat kota yang sempat dekat dengan keluarganya dulu. Arrsyad memang tidak dekat, tapi kenapa tiba-tiba saja pak handoko itu sangat memaksa arrsyad untuk selalu datang kerumah nya.
Sesampainya disana, arrsyad langsung disambut oleh pak handoko dan istrinya yang bernama bu alina. Arrsyad langsung menyalami keduanya dengan ramah.
"Akhirnya presedir Molvis Grup datang kesini. Selamat datang arrsyad." Ucap pak handoko dengan semringah.
Sementara istrinya hanya tersenyum hangat kearah arrsyad.
Arrsyad hanya mengangguk dengan tersenyum tipis. Pak handoko langsung mengajak arrsyad kedalam rumah, mengajaknya langsung ke dapur. Terlihat semua makanan sudah tertata rapi diatas meja.
"Silahkan duduk." Ucap bu alina dengan tersenyum manis. Wanita itu sudah tua, tapi masih saja suka memakai pakaian kurang bahan.
Seorang wanita yang sepertinya seumuran dengan arrsyad datang dengan begitu anggunnya. Apalagi parasnya sangat cantik, tapi sayang dia sangat seksi sekali membuat mata arrsyad sakit saja.
"Selamat malam semua. Hai!" Wanita itu melambaikan tangannya pada arrsyad, membuat arrsyad tidak nyaman.
__ADS_1
"Nah arrsyad ini anak tunggal saya. Dia baru kembali dari singapura. Anak saya ini seorang model internasional, maya. Ayo nak duduk disini."
Maya langsung duduk dikursi yang berhadapan dengan arrsyad. Sedari tadi, maya terus tersenyum dengan mata yang tertuju pada arrsyad.
Makan malam yang membuat arrsyad tidak nyaman ini akhirnya selesai juga. Apalagi sedari tadi pak handoko, terus mengajak arrsyad bicara.
"Arrsyad saya ingin bicara hal yang serius dengan kamu." Ucap pak handoko.
Arrsyad menoleh dengan wajah ikut serius. "Silahkan,"
Bu alina dan maya langsung menatap kearah pak handoko dengan tatapan sulit diartikan oleh arrsyad. Pak handoko berdehem untuk menetralkan suara.
"Begini saya ingin kamu dengan anak saya, maya. Menikah."
Arrsyad yang baru saja selesai minum, hampir saja menyemburkan kembali air yang diminum. Arrsyad langsung menatap pak handoko dengan tajam. Rahangnya sudah mengeras dengan tangan mengepal. Bukannya sudah tau dengan arrsyad yang menikah, tapi kenapa pak handoko berbicara seperti itu.
"Maaf. Tapi saya tidak mau." Penolakan arrsyad yang tegas tanpa memikirkan dulu, langsung membuat maya tersentak. Baru kali ini, maya ditolak secara mentah-mentah oleh seorang pria.
"Tapi....."
"Maaf saya sudah menikah" Ucap arrsyad dengan mengangkat tangannya, menunjukkan cincin pernikahannya dengan zhivana.
"Apalagi saya sudah memiliki sepasang malaikat kecil, hasil cinta kami selama ini. Sebaiknya anda carikan pasangan yang lain untuk anak anda. Ini sudah malam, saya harus pulang karena istri saya dan anak-anak pasti sedang menunggu."
"Terimakasih atas makan malamnya. Kalau saya tau, tujuan dari makan malam ini. Mungkin saya tidak akan datang."
"Tunggu penjelasan saya dulu arrsyad" Teriak pak handoko seraya menyusul arrsyad yang langsung pergi begitu saja.
Maya langsung menendang kursi, lalu berlari masuk kamar. Sementara bu alina menyusul suaminya yang mengejar arrsyad.
"Arrsyad tolong dengarkan dulu penjelasan saya." Ucap pak handoko dengan membungkuk karena arrsyad sudah masuk kedalam mobil.
Arrsyad tidak bergeming ia langsung menghidupkan mesin mobil. Pergi meninggalkan kediaman pak handoko dengan perasaan kesal.
'
'
__ADS_1
Bersambung