
Hari sudah semakin sore, air hujan semakin deras membasahi seisi bumi, pohon-pohon bergoyangan akibat tiupan angin yang menghembus kencang, kendaraan beroda empat masih beraktivitas memenuhi jalan raya, sesekali terdengar suara klakson mobil.
Setelah insiden kecelakaan yang dialami naumi ibunya seina, ia langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan secara intensif. Melihat kadaan naumi yang sangat mengenaskan membuat orang-orang menduga-duga kalau wanita itu tidak akan selamat.
Dirumah sakit besar pelita inilah, naumi langsung mendapatkan perawatan. Seina menangis histeris, berteriak memanggil nama ibunya agar bangun. Zhivana sudah dibantu seorang suster ia juga ikut ke rumah sakit. Bahkan gea sendirilah yang menangani ibunya seina.
Seina menangis tersendu-sendu sambil memeluk erat kedua lututnya. Suster sudah berusaha mencoba menenangkan seina tapi sayang seina malah marah-marah.
Setelah mengambil air wudhu zhivana melaksanakan shalat ashar di mushola mesjid, ditemani seorang suster yang diperintah oleh gea untuk selalu menemani dan membantu zhivana.
Zhivana menegadahkan kedua tangannya keatas untuk berdoa pada sang khaliq.
Yaalloh engkaulah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Engkau adalah tempat dimana seorang hambanya meminta. Yaalloh ampunilah semua dosa-dosa kedua orangtua hamba, tempatkanlah kedua orangtua hamba disurgamu Yaalloh. Pertemukanlah kembali hamba dengan kedua orangtua hamba disurgamu. Yaalloh ampunilah segala dosa-dosa hamba, dosa yang disengaja ataupun tidak disengaja ampunilah hambamu ini, yaalloh terima kasih engkau selalu melindungi hamba dari kejahatannya seina, tapi ampunilah dosa seina hamba tahu mungkin dirinya sedang khilaf tapi hamba memohon ampunilah segala dosa-dosanya. Yaalloh ibunya seina sedang mengalami musibah dia sedang kritis, hamba mohon yaalloh sembuhkanlah ibunya seina. Selamatlah dia yaalloh dia adalah seorang ibu yang sedang berusaha menyelamatkan anaknya agar tidak berbuat jahat. Yaalloh ya rabb kabulkanlah semua doa-doa hambumu ini. Aamiin
Setelah berdoa dan melepaskan mukenna, zhivana langsung beranjak pergi keluar mushola. Seorang suter muda langsung membantu zhivana memakaikan sepatu flat shoesnya.
"Suster tidak usah seperti ini. Saya bisa sendiri, ini terlalu berlebihan" Ucap zhivana saat suster itu membantu zhivana memakaikan sepatu.
"Tidak, papa kok. Saya senang membantu wanita baik seperti anda" Ucapnya ramah.
"Kamu terlalu berlebihan suster, nyatanya anda yang sangat baik disini."
Suster muda itu terheran-heran melihat gamis syar'i yang dikenakan seina kotor dan ada darah dibagian lututnya.
"Sepertinya anda terluka, ah lihatlah kedua telapak tangan anda terluka"Ucap suster muda itu memegangi lengannya zhivana yang tidak memakai sarung tangan.
"Tadi saya terjatuh karena panik, tidak sakit kok. Suster tenang saja, saya baik-baik saja."
"Anda sedang tidak baik-baik saja. Lihatlah bahkan pakaian anda kotor ada sedikit darah dibagian lutut. Ikutlah saya akan mengobati anda."
Zhivana hanya bisa mangangguk pasrah, lebih baik diobati sebelum terkena infeksi. Lagi pula, badannya terasa sakit semua, tangan dan lututnya terasa sakit dan perih mungkin benar kata suster tadi mungkin tangan dan lututnya terluka sehingga mengeluarkan darah.
Zhivana dibawa kesebuah ruangan pengobatan disana zhivana diobati dengan baik oleh suster muda tadi. Zhivana duduk disofa sesekali ia merintih kesakitan, akibat obat yang dioleskan oleh suster itu pada luka tangannya.
"Selesai"
"Alhamdulillah. Terima kasih, suster."
"Iya sama-sama. Siapa nama anda dari tadi kita belum berkenalan?" Tanya suster muda.
"Saya zhivana. Kamu?"
"Ah zhivana nama yang bagus. Perkenalkan nama saya sinta, saya suster pribadinya dokter gea. Oh ya, seperinya anda. Eh maksudnya kak zhivana. Sepertinya kak zhivana berteman dekat dengan dokter gea?" Ucapnya antusias.
"Kami sahabat dekat dari kecil."
"Wah dua wanita muslimah bercadar yang sangat akrab" Sinta tersenyum senang, hatinya sangat senang bisa bertemu orang-orang seperti gea dan zhivana.
"Apa kamu berkerudung?" Tanya zhivana penasaran.
"Iya aku memakai kerudung, hanya saja tidak bercadar. seperti kak zhivana. Saya ingin tapi saya merasa belum sanggup" Keluhnya.
"Tidak apa sinta, walau belum bercadar tapi kamu sudah berkerudung dan berusaha menutupi auratmu. Yang penting tetaplah berhijrah dijalannya alloh, kita hanya wanita akhir zaman, yang berusaha menjadi wanita sholehah."
"Terima kasih kak. Saya sangat senang bisa bertemu dengan wanita baik seperti, kak zhivana"
"Sama-sama. Saya juga senang bisa bertemu dan berkenalan dengan kamu, sinta"
Mereka berdua saling tersenyum.
Setelah berbincang-bincang, zhivana minta diantar untuk menemui seina. Sintapun setuju dan mengantar zhivana. Sekarang mereka berdua terlihat lebih akrab.
Saat sudah sampai didepan ruang operasi. Zhivana dapat mendengar suara tangis seina.
"Hiks, hiks. Ibu maafkan aku
__ADS_1
Seina duduk dikursi yang ada didepan ruang operasi ibunya. Seina tidak memikirkan lagi zhivana, sekarang hati dan pikirannya sangat kacau memikirkan keselamatan ibunya.
Zhivana dan suster sinta hanya berdiri tidak jauh dari seina yang masih beruraian air mata.
Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka, gea wanita bercadar itu keluar terlihat dari kedua matanya ia sangat kelelahan.
Seina langsung berdiri dan mendekati gea. Seina sendiri tidak tahu bahwa dokter gea yang tengah menangani ibunya adalah sahabatnya zhivana.
"Dokter ba-bagaimana keadaan ibu, saya" Tanya seina dengan air mata yang beruraian.
Sebelum menjawab pertanyaan dari seina, gea melihat kearah sahabatnya itu.
"Pakaian zhivana kotor. Sepertinya dia terluka, apa ada hubungannya dengan kecelakaan ini." Batin gea.
"Ibu anda terluka parah. Bahkan peluang hidupnya hanya 30%. Tapi, masih ada harapan. Berdoalah pada sang ilahi. Dia adalah sang maha kuasa yang akan membantu hambanya." Ucap gea.
Deg
Hatinya sangat tak kuasa mendengar kabar kondisi ibunya seperti ini. Seina menatap dokter bercadar yang ada dihadapannya ini. Apa tadi kata dokter ini? Berdoalah pada sang ilahi? Bahkan seina sendiri tidak pernah shalat, dirinya hanya islam ktp saja.
"Saya mohon selamatkan ibu saya lakukan yang terbaik buat ibu saya. Dokter tolong hiks tolong selamat ibu saya hiks, hiks" Ucap seina memohon sambil menangkupkan kedua tangannya, dengan air mata yang terus beruraian.
"Saya akan berusaha yang terbaik untuk pasien saya. Berdoalah demi kesembuhan ibumu. Satu lagi ibu anda kekurangan banyak darah akibat kecelakaan yang menimpa dirinya. Kami membutuhkan darah golongan A+ positif. Rumah sakit ini sedang kehabisan golongan darah tersebut. Jadi, kamu harus mencarikan pendonor darah A+ positif secepatnya. Apa kamu memiliki golongan darah yang sama dengan pasien?"
"Golongan darah saya tidak sama dengan ibu saya. Golongan darah saya O sama seperti ayah saya" Lirih seina.
"Saya akan berusaha cari orang yang mempunyai golongan darah A+ positif."
"Terima kasih dokter. Saya juga akan mencari orang yang memiliki golongan darah yang sama dengan ibu saya" Ucap seina.
"Ibumu masih diruang operasi jadi belum bisa dicenguk. Kalau begitu saya permisi"
Seina hanya mengangguk saja, tangisannya kembali pecah. Seina langsung menghubungi ayahnya yang masih dijepang untuk segera kembali.
Gea mendekati zhivana dan suster sinta.
"Sama-sama dokter. Kalau begitu saya permisi dulu" Pamit suster sinta sambil berlalu pergi.
Setelah suster sinta menjauh, gea mengajak pergi zhivana keruangan kerja miliknya. Setelah sampai diruangan milik gea. Zhivana duduk disofa, geapun mendudukan dirinya disamping zhivana.
"Zhivana apa kamu baik-baik saja?" Tanya gea khawatir.
"Aku baik-baik saja gea."
"Kalau kamu baik-baik saja kenapa tanganmu terluka begini? Terus kenapa bajumu kotor begini zhivana? Apakah sesuatu telah terjadi?" Omel gea dengan melontarkan beberapa pertanyaan pada zhivana.
"Aku terjatuh, lagi pula tanganku sudah diobati oleh suster sinta. Kamu jangan khawatir gea. Aku baik-baik saja."
"Terjatuh. Kenapa bisa terjatuh, terjatuh dimana?" Tanya gea kembali.
Zhivana tidak mungkin menceritakan kejadian tadi, dimana seina berusaha ingin meracuninya.
"Maaf karena aku harus berbohong." Batin zhivana.
"Aku tersandung batu." Ucap zhivana dengan ragu.
"Kau ini, lain kali harus lebih berhati-hati. Oh ya dimana tongkat hitam, mu?" Tanya gea yang baru sadar.
Zhivana mengingat kembali kejadian tadi, saat seina mencengkeram rahang mulutnya kuat, ia meronta-ronta dan tak sengaja menjatuhkan tongkat hitamnya itu.
"Hilang. Aku lupa entah hilang dimana."
"Kamu ini ya. Lain kali jangan sampai hilang"
Zhivana hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Gea"
"Ya ada apa, apa kamu butuh sesuatu?"
"Tidak. Gea aku dengar ibunya seina membutuhkan seorang pendonor darah yang golongannya A+ positif"
"Jadi anaknya itu namanya seina."
"Iya. Namanya seina"
"Memangnya, kenapa."
"Biarkan aku yang menjadi pendonor darahnya. Kebetulan sekali golongan darahku A+ positif."
"Tapi zhivana"
"Aku mohon gea. Ini demi kesembuhan ibunya seina, bukannya dia pasienmu, jadi ini juga demi keselamatan pasienmu juga. Lagi pula sesama umat muslim kita harus saling membantu"
"Baiklah." Ucap gea pasrah.
"Dan aku mohon. Tolong rahasiakan ini aku tidak ingin ada satu orangpun yang mengetahui bahwa aku yang telah mendonorkan darahnya. Bahkan pasien serta keluarganya juga tidak boleh tahu"
"Tapi kenapa zhivana."
"Tujuanku hanya ingin membantu dan aku juga sangat ikhlas. Jadi rahasiakan ini semua." Pinta zhivana sambil memegangi kedua tangannya gea.
"Jika itu kemauanmu aku akan menurutinya dengan baik. Yasudah ikut aku, kita lakukan pengambilan darahnya, sekarang."
"Bismillahrirrohmanirrohim, ayo."
Sementara itu seina sudah berusaha bertanya pada teman atau kerabat ibunya. Tapi tidak ada yang golongan darahnya sama, ada yang sama tapi orang itu sedang sakit.
Sekarang ini zhivana sedang terbaring dibed hospital ditangannya ada selang, darahnya mengalir mengisi kantung darah.
Gea meninggalkan zhivana yang ditemani suster sinta. Gea akan memberitahu seina. Bahwa pendonor darah untuk ibunya sudah dapat.
"Dokter. Saya belum mendapatkan pendonornya?" Ucap seina yang terlihat frustasi.
"Saya sudah dapat pendonornya."
Seina yang mendengarnya langsung tersenyum senang. Tangannya menyeka air matanya.
"Be-benarkah, dokter."
Gea mengangguk.
"Syukurlah. Saya sangat senang mendengarnya, kalau boleh tahu siapa orang yang telah berbaik hati mendonorkan darahnya untuk ibu saya?"
Gea terdiam, ia. mengingat kembali ucapan zhivana tadi pada dirinya.
"Seorang hamba alloh. Dia seorang manusia yang berhati bidadari yang telah membantu ibumu" Ucap gea.
"Bidadari."
"Kalau dokter menyebutnya seorang bidadari berarti dia adalah seorang, wanita?"
"Saya permisi, dulu" Gea langsung pergi dengan tidak menjawab pertanyaan dari seina.
Dalam hati seina, ia begitu penasaran dengan orang yang telah mendonorkan darahnya.
"Siapa bidadari itu." Batin seina.
'
'
__ADS_1
Bersambung