Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 104 : Makan Malam


__ADS_3

Tidak terasa waktu berputar dengan cepat, keluarga kecil zhivana semakin hangat dan harmonis. Malam ini akan ada adzril, zhivana senang karena hubungan yang sempat rengang karena masalah dulu akhirnya kembali baik.


Kabar baik dari keluarga kiai husen, yang mengabari zhivana. Bahwa ustadz azwar akan melangsungkan khitbah dirumahnya. Zhivana sangat bersyukur sekali, karena azwar menemukan jodohnya. Kisah dulu biarlah berlalu dengan masa kini yang jauh lebih indah.


Hidup zhivana dan arrsyad semakin lebih bahagia, ditambah kehadiran Arka dan Aalesha. Dua bayi kembar yang selalu membuat kebahagiaan dihati lebih terasa.


Seperti sore ini, arrsyad sengaja pulang lebih awal dari kantor. Katanya rindu istri dan anak-anak. Bermain dengan kedua anaknya yang masih bayi, sesekali ucapan arrsyad yang menceritakan kisah masa kecilnya dengan zhivana ia ceritakan sejak tadi. Tidak peduli, dengan Arka dan Aalesha yang tidak akan mengerti.


Zhivana yang sibuk didapur, menyiapkan berbagai macam makanan. Berbagai jenis bahan makanan yang lengkap, terlihat memenuhi kulkas. Dengan perasaan bahagia, zhivana bersenandung kecil seraya memotong sayuran.


"Sayang, celana Aalesha basah! Ini juga, Arka. Kayaknya dia mulai lapar." Teriak arrsyad seraya membuka celana Aalesha.


Zhivana segera mematikan kompor lalu pergi keruang tengah, dimana arrsyad tengah menjaga anak-anak. Terlihat suaminya itu sangat lihai menganti popok dan celana Aalesha. Sementara Arka, bayi kecil itu sudah terlihat sangat tidak nyaman.


"Celana kotornya taro didalam keranjang itu mas."


Dengan segera arrsyad, menuruti perkataan zhivana. Sementara zhivana sudah menggendong Arka.


"Kamu udah selesai masaknya?"


"Belum, nanti aja dulu. Soalnya tinggal bikin tumis kangkung." Zhivana duduk dengan kaki selonjoran, dengan perhatian arrsyad memijat kaki zhivana.


"Jangan mas!" Zhivana berusaha menarik kakinya, tapi arrsyad malah menahannya dengan tetap memijat.


"Udah diem aja. Mas kasihan sama kamu, tiap hari kamu ngurus mas dan anak-anak. Terus harus beres beres rumah sendiri."


Zhivana tersenyum. "Makasih ya mas. Tapi ini semua adalah kewajibanku sebagai seorang istri. Mengurus anak dan suamiku, mengurus rumah tangga dengan baik. Tetap utuh, supaya selalu bersama."


Arrsyad tersenyum lalu mencium pipi kiri dan kanan zhivana dengan cepat. Diperlakukan seperti itu, membuat zhivana tersipu malu.


"Terima kasih, kak zhivana." Ucap arrsyad dengan tertawa, mengingat dulu dirinya selalu memanggil zhivana seperti itu. Tidak peduli dengan perbedaan usia yang berbeda dua tahun. Tapi sikap arrsyad yang dewasa, membuat ia seperti lelaki dewasa yang siap dengan segala tangung jawab.


Tawa keduanya malah membuat tangis Aalesha pecah. Sepertinya bayi kecil itu merasa terganggu. Arrsyad dengan sigap memangku tubuh kecil Aalesha, bayi itu mulai terdiam saat arrsyad mengayun ngayun tubuhnya.


"Assalamualaikum, Aalesha. Putri kecil ayah mirip bunda banget ya."

__ADS_1


Zhivana tersenyum lalu ikut menatap Aalesha yang tengah terbangun.


"Justru kedua mata Aalesha mirip kamu. Liat aja, bahkan hidung mancungnya aja kayak kamu. Mas,"


Kedua mata arrsyad menyipit, memperhatikan wajah Aalesha dengan seksama. Tapi walau benar begitu, bagi arrsyad. Aalesha mirip dengan zhivana.


"Kamu sih dek, doyan banget ngeliatin mas. Jadi anak-anak kebanyakan mirip sama mas." Arrsyad terkekeh lalu menciumi Aalesha dengan gemas.


***


Malam telah tiba. Pukul delapan malam, adzril sudah tiba diapartemen arrsyad. Pria dengan kulit kuning langsat itu terlihat canggung saat berhadapan dengan zhivana. Begitu pula dengan zhivana, wanita bercadar itu terus menatap arrsyad dengan perasaan gugup.


"Jangan melihat istriku dengan tatapan seperti itu, aku cemburu."


Ucapan arrsyad membuat adzril salah tingkah, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Zhivana menunduk lalu pergi ke dapur untuk melihat kembali makanan yang sudah siap dimeja.


"Maafkan aku arrsyad! Memiliki perasaan suka pada orang lain itu tidak bisa dilarang. Perasaan yang tumbuh dihatiku itu tidak bisa ku cegah, aku seperti jam rusak. Tidak bisa mengatur waktu untuk tidak bisa melupakan zhivana, istrimu."


Kedua pasang mata itu saling bersitatapan, seperti ingin bersaing untuk mendapatkan sesuatu yang berharga. Walaupun begitu, arrsyad tidak akan mengalah. Acara makan malam ini akan tetap berlangsung, sesuai rencana. Tidak peduli dengan adzril yang memperlihatkan ketidak sukaan.


"Silahkan dimakan." Zhivana mempersilakan makan pada adzril saat kedua pria itu sudah duduk dikursi meja makan dengan baik.


Ditengah aktivitas makan malam, adzril terus mencuri pandang pada zhivana. Bahkan dari awal adzril mencicipi masakan buatan zhivana, terus memujinya dengan tatapan kagum.


Arrsyad tersenyum menyerigai pada adzril, pria itu tetap biasa saja walau mengetahui adzril selalu mencuri pandang pada istrinya.


"Sayang sepertinya disudut bibirmu ada sisa makanan." Ucap arrsyad dengan tersenyum manis.


"Mana mungkin, aku kan pake cadar. Jadi tidak akan kelihatan."


"Tidak sayang. Mas bisa melihatnya."


Tanpa diduga arrsyad menyibakkan kain cadar zhivana. Menangkup pipi kanan yang masih tertutup cadar, hingga adzril tetap tidak melihat wajah zhivana sedikitpun.

__ADS_1


Ciuman dibibir yang arrsyad lakukan membuat zhivana membeliak kaget, sendok yang masih dipegang zhivana langsung terjatuh menimbulkan bunyi dentingan yang nyaring.


Tidak kalah kagetnya, adzril membulatkan matanya hingga ia tersedak. Adzril yang terbatuk-batuk membuat zhivana mendorong tubuh arrsyad hingga tersungkur kebawah meja.


"Maaf, mas." Zhivana segera berlari ketoilet, ia ingin bersembunyi saja. Rasanya sangat malu, kenapa arrsyad melakukan itu dihadapan adzril.


Sementara arrsyad, pria itu tersenyum puas. Bokongnya yang sakit akibat benturan dengan lantai membuat ia kesusahan bangun.


Adzril yang baru tenang dari tersedaknya langsung menatap arrsyad yang masih terduduk dibawah.


"Apa yang kamu lakukan. Membuatku cemburu, hingga berunjung jatuh tersungkur kelantai." Adzril tergelak, lalu melanjutkan kembali makannya dengan tenang.


"Zhivana itu milikku. Hubungan kami semakin kuat, saat bibit unggulku lahir." Arrsyad segara bangkit dengan susah payah, lalu meregangkan otot-otot yang terasa ngilu.


"Terserah sajalah, aku tidak peduli."


"Kamu tidak cemburu?"


"Tentu saja aku cemburu. Tapi aku bisa apa? Zhivana istrimu, mungkin aku ditakdirkan hanya bisa mengenalnya. Tanpa bisa memilikinya."


"Tapi kenapa kamu masih mengharapkan zhivana?"


"Tidak tahu, aku sudah berusaha untuk melupakannya. Tapi setiap aku ingin melupakannya, sosok wanita bercadar bermata indah itu selalu memenuhi pikiranku."


"Lupakan dia, zhivana adalah istriku. Zril. Mungkin persahabatan kita sudah semakin membaik, tapi jika kau terus seperti ini akibatnya kau akan melukai perasaanmu sendiri karena terlalu berharap pada seseorang yang belum tentu jodohmu."


Adzril tertegun, lalu menyudahi makannya yang malah terasa hambar.


"Baiklah aku akan berusaha lagi untuk melupakannya."


'


'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2