Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 32 : Calon Suami


__ADS_3

Masih dimana zhivana dan arrsyad sedang duduk bersama di depan rumah. Mengobrol tanpa disadari ada seseorang yang sudah berdiri di halaman rumah zhivana. Mendengar suara orang yang akan menjadi suaminya itu, sontak membuat zhivana refleks langsung berdiri karena kaget, tangan mungil nya yang terbalut sarung tangan itu mencengkeram tongkat hitamnya. Arrsyad yang melihat zhivana seperti itu membuat dirinya merasa heran.


"Tidak bisa" Ucapnya lagi tak suka.


Orang itu berjalan mendekat ke arah zhivana dan juga arrsyad yang sudah ikutan berdiri. Dalam hatinya ia bertanya-tanya siapa pria yang ada dihadapan dirinya ini.


"Siapa kau." Tanya arrsyad dengan dinginnya.


Pria itu tersenyum kecil, lalu menatap zhivana sekejap sebelum menjawab pertanyaan dari arrsyad.


"Perkenalkan nama saya Muhammad Azwar Haidar. Calon suami nya Zhivana Khoirun Nisa. Dan kau sendiri?" Ucap azwar dengan tegasnya sambil mengulurkan tangan.


Arrsyad diam sejenak untuk berpikir, ia menatap azwar dengan tatapan tidak suka. Dengan malasnya arrsyad mengulurkan tangannya untuk saling berjabat tangan.


"Ustadz azwar." Gumam arrsyad dalam hatinya.


"Arrsyad Zega Al Faruq. Jodoh nya kak zhivana yang sudah tertulis di lauhul mahfudz." Jawab arrsyad dengan menekankan kata lauhul mahfudz.


"Yaalloh bagaimana ini". Batin zhivana.


Mereka berdua saling melepaskan jabatan tangannya masing-masing. Azwar masih terlihat biasa-biasa saja tapi lain dengan hatinya yang sudah bergemuruh. Bagaimana dengan arrsyad? jangan di tanya lagi bagaimana wajahnya yang tampan itu dalam kondisi seperti ini. Tentunya arrsyad akan menunjukkan wajah datar dan dingin nya itu.


"Sepertinya kamu orang yang sangat percaya diri" Ucap azwar dengan tersenyum.


"Tentu. Karena memang seperti itu faktanya. Lagi pula itu semua akan menjadi kenyataan"


Azwar tahu maksud ucapan arrsyad itu, tapi ia berusaha bersabar untuk menahan emosi nya. Azwar menghembuskan napas beratnya yang terasa sesak.


"Aku mohon arrsyad, ja jangan berbicara seperti itu. Lagi pula aku dan mas azwar akan segera menikah" Ucap zhivana terbata karena merasa bersalah kepada arrsyad.


"Tidak kusangka kau akan mengingkari nya" Ucap arrsyad dengan penuh kekecewaan.


Zhivana semakin menundukkan kepalanya, andai saja dirinya bisa melihat mungkin ia akan melihat betapa kecewanya arrsyad sekarang padanya.


"Mengingkari apa, maksudnya?" Tanya azwar yang ingin tahu maksud dari ucapan arrsyad tadi.


"Sebelum aku berangkat ke amerika empat tahun yang lalu, aku dan kak zhivana membuat perjanjian. Kak zhivana sudah berjanji akan menungguku pulang jadi bisa dikatakan setelah aku pulang aku dengannya akan menikah"


"Zhivana apakah itu benar?" Tanya azwar.


Azwar sedikit terkejut mengetahui kebenaran ini, tidak menyangka kalau zhivana akan menyembunyikan hal ini darinya. Bukannya, harus saling terbuka? Apalagi sebentar lagi dirinya dan zhivana akan segera menikah.


"Itu benar. Maafkan aku mas, sebelumnya aku tidak jujur padamu." Ucap zhivana dengan lirihnya.


"Cihh. Menyebalkan sekali dia dipanggil mas." Batin arrsyad

__ADS_1


"Arrsyad sebaiknya kau lupakan saja zhivana, karna sebentar lagi kami akan menikah." Tegas azwar.


"Kau pikir aku akan menyerah begitu saja."


"Tidak, tapi saya akan pastikan kamu menyerah."


Azwar kembali menatap zhivana yang kini sedang menunduk. Azwar tersenyum kembali pada zhivana, dirinya sadar bahwa ia sedang cemburu tapi sebisa mungkin azwar akan kendalikan.


"Zhivana ayo ikut mas. Umi ingin bicara sama kamu soal baju pernikahan kita nanti" Ucap azwar.


Arrsyad yang mendengarnya langsung menatap tajam ke arah azwar. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan, ini sudah terlalu jauh arrsyad sangat mencintai zhivana, dirinya tidak boleh menyerah begitu saja.


"Kak zhivana aku baru saja datang ke sini, apakah kak zhivana tidak merindukan ku" Ucap arrsyad.


Zhivana semakin bingung, kalau dirinya memilih pergi dengan azwar pasti arrsyad akan tambah kecewa pada dirinya, apalagi arrsyad baru saja datang dari amerika. Zhivana akui bahwa dirinya juga sangat merindukan arrsyad selama ini dirinya hanya bisa menyebut namanya dalam doa.


"Jujur saja aku sangat merindukan arrsyad. Tapi aku bingung sekarang aku harus memilih siapa. Mas azwar sebentar lagi dia akan menjadi suamiku, yaalloh sekarang hamba merasa sangat serba salah." Batin zhivana.


"Tapi mas bagaimana dengan arrsyad, kasian dia baru saja sampai. Bisa tidak nanti sore saja" Ucap zhivana dengan hati-hati takutnya menyinggung perasaan azwar.


"Tapi umi mintanya sekarang, orang dari butik sebentar lagi juga sampai. Jadi untuk arrsyad sebaiknya kamu pulang saja. Tidak baik berlama-lama dirumah seorang wanita yang bukan mahromnya"


Arrsyad mendengus kesal.


"Tidak bisa. Aku akan ikut saja, kemana kalian akan pergi?" Ucap arrsyad dengan santainya.


"Tidak boleh" Ucap azwar.


Mereka menjawab secara bersamaan dengan cepat, membuat arrsyad langsung mengerjitkan dahinya.


"Memangnya, kenapa?"


"Arrsyad sebaiknya kamu pulang saja. Kalau kamu ikut para santri putri yang ada disini bakalan ngedadak pada genit-genit" Ucap azwar asal. Sebenarnya dirinya takut arrsyad mengganggu saja.


"Santri" Gumam arrsyad.


"Ya. Rumah saya berada di lingkungan pesantren" Ucap azwar memberitahu.


"Baiklah aku tunggu saja disini. Jadi jangan lama-lama"


Arrsyad mendudukan kembali dirinya dikursi tadi. Air putih yang berada diatas nampan ia ambil lalu meminumnya sampai habis, setelah selesai minum ia meletakkan gelas itu kembali pada tempatnya. Arrsyad melipat kedua tangannya di depan dada. Tidak lupa wajah datarnya itu tersenyum menyerigai pada azwar.


"Baiklah terserah kamu saja" Ucap azwar.


Azwar bersorak senang, dalam hatinya dia merasa menang karena dapat membawa zhivana.

__ADS_1


"Maaf, jadinya kamu harus menunggu" Ucap zhivana.


"Tidak apa, sebaiknya kak zhivana juga jangan terlalu lama. Kak zhivana tahu sendirikan aku orangnya tidak sabaran"


"Baiklah. Kalau begitu kita tinggal dulu" Ucap azwar.


"Assalamualaikum" Ucap azwar dan zhivana bersamaan.


"Waalaikumsalam"


Arrsyad menatap kepergian zhivana dan azwar, mereka berjalan berdampingan sampai mereka semakin melangkah menjauh dan hilang dari penglihatan arrsyad.


"Sampai detik ini setidaknya aku tau bagaimana rasanya mencintai dalam diam, memendam perasaan rindu sendirian. Aku sangat cemburu pada ustadz azwar, lihatlah penampilan nya yang sangat taqwa membuat kak zhivana cocok dengannya." Batin arrsyad


"Kak zhivana aku ingin tahu, apakah kau merindukan ku?" Gumam arrsyad.


"Menunggumu dalam kesabaran lebih indah bagiku dari pada mengungkapkannya. Menantimu dalam doa lebih bermakna dari pada menjelaskannya." Batin zhivana.


Sekarang hati azwar merasa tidak nyaman. Pikirannya terus memikirkan ucapan arrsyad tadi yang mengajak zhivana untuk menikah, apalagi mereka berdua sudah saling berjanji.


Azwar akui bahwa arrsyad itu sangatlah tampan, berpendidikan dan juga sangat keren. Azwar menatap zhivana yang sekarang sedang berjalan di samping dirinya, wanita bercadar tidak bisa melihat ini mampu membuat azwar sangat mencintainya.


"Mas" Ucap zhivana yang merasa canggung.


"Zhivana. Mas takut kehilangan dirimu, kau tahu tidak, hati mas merasa sangat sesak saat ini"


Azwar memengangi dadanya, memang ini sangat sakit dan terasa sesak. Azwar takut zhivana akan meninggalkan dirinya nanti.


"Mas tidak usah merasa takut kehilangan aku, sebentar lagikan aku jadi istrinya mas" Ucap zhivana dnegan lemah lembutnya.


"Yaalloh aku terpaksa harus membohongi perasaan ku sendiri. Aku melakukan ini semua hanya untuk kebahagiaan dan kesembuhan mas azwar, aku sangat takut dia kenapa-kenapa. Apalagi saol penyakitnya itu membuatku semakin tidak tega untuk berjauhan dengannya." Batin zhivana.


Tanpa terasa kini mereka berdua telah sampai di depan rumahnya kiai husen. Disana sudah ada umi aisyah yang tengah menunggu. Di dalam rumah sudah ada dua orang wanita dari butik untuk merencanakan baju yang bagaimana yang akan zhivana dan azwar pakai nanti.


"Assalamualaikum" Ucapa azwar dan zhivana bersamaan.


"Waalaikumsalam. Nak ayo masuk ke dalam mereka sudah menunggu dari tadi"


"Iya umi" Ucap azwar.


Zhivana, azwar, serta umi aisyah pun masuk ke dalam rumah. Mereka langsung saja pada intinya, membicarakan tentang gaun pengantin serta dekorasi untuk acara nanti.


'


'

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2