Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 117 : Berpura-pura Kuat


__ADS_3

Setelah melampiaskan kesedihan dan amarahnya arrsyad langsung keluar kamar. Tangisan Aalesha yang kencang membuat arrsyad gugup untuk mendekat.


Biasanya orang pertama yang akan menenangkan buah cintanya adalah zhivana. Tapi kali ini wanita itu tidak ada, bahkan tidak akan pernah menemani anak-anaknya.


Turun kebawah menuruni anak tangga dengan langkah pelan, langkahnya mengikuti suara tangis. Terdengar jelas dan kencang.


"Apa kamu merindukan bundamu, Aalesha?"


Ada luchia disana, mengendong Aalesha yang tengah menangis. Arrsyad mendekat dengan sorot mata sendu, berharap zhivana datang dan menenangkan anaknya.


"Arrsyad kamu sudah bangun, maaf. Aalesha sedang rewel, aku sudah berusaha menenangkannya. Sepertinya dia butuh..."


Luchia terdiam seraya memalingkan wajah, tidak mau melihat arrsyad yang lebih terluka darinya.


"Aku tidak bisa berbuat apapun, kalau tanpa zhivana." Ucap arrsyad dengan suara hampir tidak terdengar.


"Aku tau ini sangat berat. Kamu adalah orang pertama yang sangat terluka atas kepergian zhivana. Tapi tegarlah! ada Arka dan Aalesha dia sangat membutuhkan mu"


Arrsyad juga tau itu, dia harus tegar. Tapi ayolah, dia sudah sangat terpuruk dan hampir tidak waras. Berpura-pura kuat dan tegar demi anak-anak.


Baiklah ayo kita berpura-pura kuat. Arrsyad menghela napas dalam, mencoba kuat dihadapan semua orang.


"Dimana arka?" Tanyanya seraya mengambil Aalesha untuk digendong nya.


Luchia tersenyum senang, akhirnya arrsyad mau mengendong anaknya. Ya, walau luchia tau arrsyad hanya pura-pura terlihat kuat.


"Arka sedang berjemur sama mas reno dan juga azwar."

__ADS_1


Arrsyad mengkerutkan dahinya, ngapain azwar datang kesini?Ah dia lupa, semalam sesudah tahlil arrsyad meminta azwar untuk datang kesini.


Tangisan Aalesha mereda, bayi kecil dengan mata jernih itu mengerjap beberapa kali melihat wajah sang ayah yang sangat tampan.


Luchia meninggalkan arrsyad dan Aalesha. Menutup pintu kamar lalu pergi keluar teras rumah.


Arrsyad duduk disisi ranjang, memperhatikan wajah Aalesha yang menurutnya mirip zhivana.


"Maaf, aku belum menjadi ayah yang baik. Tapi percayalah! Aku akan menjadi seorang ayah sekaligus ibu untuk kalian berdua."


Mata bulat nan bening itu terus memperhatikan arrsyad, seperti tengah memperhatikan pembicaraan sang ayah.


Selang beberapa lama, pintu kamar terbuka. Terlihatlah azwar, pria itu mengucapkan salam seraya tersenyum ramah padanya.


Kondisi azwar tidak jauh berbeda darinya, sama-sama terluka ditinggal mati oleh orang yang sangat dicintai.


"Apa kabar?" Tanya azwar, padahal setiap malam mereka bertemu. Pertanyaan basa basi yang kurang masuk akal itu terdegar konyol bagi arrsyad. Padahal jelas-jelas ia sedang terluka.


Azwar yang sudah duduk dikursi tunggal langsung tertegun, ngapain ia bertanya seperti itu. Arrsyad memang sehat, tapi hatinya yang sedang sakit.


"Tidak juga, kau tengah terluka."


"Kau juga sama."


Benar, ia juga sama terlukanya dengan arrsyad.


"Bagaimana dengan calon istrimu itu?"

__ADS_1


Almira, lebih tepatnya pernikahan itu sudah dibatalkan secara mendadak. Membuat keluarga almira membenci azwar.


"Aku membatalkannya. Kau tau kan alasannya apa,"


"Berpura-pura mencintai almira, kau cerdik juga berbohong rupanya."


Setelah mengucapkan itu arrsyad langsung mengecup kening Aalesha dengan lembut. Tertidur dipangkuan ayah memang sangat nyaman.


"Aku hanya berusaha menutupi kesalahannya."


Arrsyad tertawa hampa, menertawakan azwar yang rela berbohong demi bisa melindungi almira dari kemarahan semua orang.


"Almira sedang dikuasi oleh rasa cemburu, mungkin saja dia khilaf dan melakukan itu pada istriku. Jujur saja aku sangat kesal padanya, tapi mau bagaimana lagi ini sudah terlambat."


"Tapi dia.. "


"Aku tau dia salah, tapi maafkan saja. Bimbinglah dia kejalan yang benar, sadarkanlah dia dari rasa salahnya yang membuat ia buta. Almira gadis baik, azwar temuilah almira dan keluarganya bicarakan semua apa yang terjadi."


Azwar tertegun lalu menunduk seraya berpikir, mungkin arrsyad benar. Almira hanya perlu dibimbing, bukan ditinggalkan seperti ini. Gadis itu baik dan ramah, hanya saja almira belum sadar dari rasa cemburunya yang berlebihan.


"Omong-omong kenapa kau jadi bijak begini?" Tanya azwar seraya menatap arrsyad dengan bingung.


Arrsyad juga tidak tau, padahal sekarang pikirannya sedang kacau. Tapi tanpa sadar ia telah memberi solusi pada azwar, tapi bagaimana dengan dirinya sekarang? Ia juga butuh solusi bagaimana hidup tanpa zhivana disampingnya.


Arrsyad tidak tau ia harus apa dan bagaimana? Jujur saja saat ini ia ingin menangis seraya berteriak memanggil zhivana. Tapi sekarang ia harus ikhlas.


'

__ADS_1


'


Bersambung


__ADS_2