Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 90 : Suaminya Zhivana


__ADS_3

Hari sudah semakin gelap, sayup-sayup terdengar suara klakson kendaraan yang saling bersahutan. Akibat hujan deras, jalanan jadi macet. Mulut ke mulut, arrsyad mendengar didepan ada kecelakaan yang mengakibatkan kemacetan.


Adzan isya sudah terdengar jelas, arrsyad yakin didepan sana ada mesjid. Sedikit demi sedikit mobilpun melaju, sampai berhenti disebuah mesjid yang cukup besar.


Akibat hujan deras banyak orang yang sebagian berteduh menunggu hujan reda sebagian untuk melaksanakan shalat. Arrsyad masuk kedalam mesjid setelah melakukan wudhu, mengisi shap pertama tepat dibelakang sang imam.


Rakaat demi rakaat telah selesai, arrsyad tidak langsung beranjak dari sana. Ia memilih berdzikir sebentar seraya menunggu hujan reda, sudah hampir setengah jam arrsyad duduk bersila seraya berdzikir tapi hujan malah semakin deras.


Dengan terpaksa arrsyad melanjutkan perjalanan, penglihatannya sangat terganggu. Akibat hujan, kaca depan mobil menjadi berembun.


"Kepalaku sakit lagi, mana obatnya tidak dibawa."


Arrsyad merasa gelisah, entah kenapa dikondisi seperti ini sakit kepalanya malah kambuh. Perjalanan masih jauh, mau berhenti dulu takutnya sampai sana akan sampai tengah malam.


Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Arrsyad yakin ia akan sampai jam sebelas malam sampai sana, terlambat gara-gara jalanan sedikit padat membuat arrsyad kesal.


***


Sementara dengan zhivana, yang kini sudah tersenyum senang karena mengetahui arrsyad sedang dalam perjalanan menuju kemari. Membuat zhivana tidak sabar menunggu.


Sarah yang sedari tadi menemani zhivana menunggu kedatangan suaminya, turut ikut senang.


"Zhivana, mbak sangat tidak sabar ingin melihat suamimu. Katanya suamimu itu seorang presedir ya?" Tanya sarah dengan antusias.


"Iya mbak sarah, nanti ku kenalkan dengan mas arrsyad."


Obrolan berlanjut dengan riang, sesekali sarah tertawa karena mendengar cerita masa kecil zhivana dan arrsyad. Zhivana sangat tidak percaya kalau teman masa kecilnya adalah jodohnya.


Tidak terasa malam semakin larut, jam dinding yang terpangpang disudut ruang tamu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


Terlihat wajah zhivana semakin cemas, sesekali ia melihat sarah. Sarah yang ikut cemas, menjadi bingung harus bagaimana.


"Kenapa suamiku belum sampai juga, mbak?" Tanya zhivana dengan raut wajah sedih.


Sarah mengenggam tangan kanan zhivana, lalu mengelusnya dengan lembut.

__ADS_1


"Mungkin terjebak macet, kita do'akan saja. Semoga suamimu baik-baik saja."


Zhivana mengangguk pelan.


"Aamiin. Mbak sarah tidur aja, aku mau menunggu suamiku dulu."


"Mbak belum ngantuk, kamu yang tidur sana. Gak baik tau zhivana, kalau sedang hamil malah bergadang. Suami mbak juga belum pulang dari undangan pengajiannya, mungkin dia sebentar lagi pulang, sambil menunggu suami kamu. Mbak juga, nunggu suami mbak. Sana tidur, kalau suamimu datang pasti saya bangunin."


"Tapi mbak,"


"Udah tidur, kamu gak maukan kalau anak-anak kamu kenapa-napa?"


Zhivana menggeleng, dengan terpaksa ia masuk kedalam kamar. Kali ini pintu kamar tidak zhivana kunci. Zhivana berharap sebentar lagi arrsyad akan tiba.


Setengah jam dari zhivana pamit masuk kedalam kamar, gus halim. Sudah pulang dengan sarung yang setengah basah, sarah dengan sigap menyambut kepulangan suaminya.


"Zhivana sudah tidur?" Tanya gus halim, yang kini sudah berganti pakaian.


"Sudah, aku paksa dia tidur. Kasian soalnya,"


Gus halim hanya mengangguk, lalu merebahkan tubuhnya menghadap ke sarah yang masih duduk disisi ranjang.


"Belum, kamu tidur duluan kasian zhivana kalau nunggu sampai larut malam begini. Kamu taukan mas, zhivana suka nangis tiap malam. Aku jadi gak tega liatnya, biasanya ibu hamil itu suka bertambah berat badan. Nah ini zhivana, dia malah keliatan kurus begitu."


Gus halim hanya tersenyum seraya mengingat zhivana, Gus halim. Sangat bangga pada zhivana, wanita bercadar itu sangatlah penyabar. Apalagi selama disini zhivana tidak pernah mengeluh apa-apa, apalagi merepotkan. Malah kehadiran zhivana disini membuat rumah menjadi hangat dan ramai.


Pukul dua belas, suara ketukan pintu membuat sarah dan gus halim saling lirik. Keduanya langsung berjalan menuju ruang depan, gus halim membuka pintu saat suara seorang pria mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam." Jawab sarah dan gus halim bersama.


Pintu rumah telah terbuka dengan lebar, hujan deras disertai angin kencang membuat udara dingin terasa menusuk ketulang.


Seorang pria jangkung, telah berdiri tegap dihadapan sarah dan gus halim. Kulit putihnya yang terang, terlihat pucat dan menggigil. Pria itu tersenyum ramah, lalu menyalami sarah dan gus halim secara bergantian.


"Saya arrsyad, suaminya zhivana." Ucap arrsyad dengan sopan.

__ADS_1


Sarah yang melihat ketampanan arrsyad, membuat ia terkesima hampir tidak berkedip. Gus halim yang tau itu langsung menepuk pundak sarah dua kali, hingga tersadar.


Setelah sedikit berbicang, gus halim langsung menyerahkan sepasang baju yang cocok untuk dipakai arrsyad. Dengan ucapan terimakasih arrsyad menerima baju itu.


"Arrsyad kamar mandinya ada disamping dapur, maaf disini kamar mandinya hanya ada satu." Ucap gus halim.


Arrsyad mengangguk, seraya tersenyum ramah.


"Jika kamu lapar, didapur sudah di siapkan makanan. Maaf saya dan istri saya pamit istrirahat duluan, kamar zhivana yang ini." Ucap gus halim seraya menunjuk pintu kamar zhivana.


"Terimakasih banyak, maaf saya jadi merepotkan." Ucap arrsyad.


"Iya sama-sama, jangan sungkan. Oh ya, kata istri saya zhivana tadi sudah menunggu kamu datang, karena bergadang tidak baik bagi ibu hamil. Makanya dia dipaksa tidur duluan."


Arrsyad lagi-lagi berterima kasih, setelah sarah dan gus halim masuk kedalam kamar. Arrsyad langsung menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya dengan cepat. Lalu memakai pakaian secepat kilat mungkin, karena tidak sabar ingin masuk kamar untuk melihat zhivana.


Perlahan pintu kamar zhivana terbuka, pemandangan pertama yang kali arrsyad lihat adalah istrinya yang tengah tidur terlentang seraya memegangi perutnya.


Arrsyad dengan perlahan menutup pintu, tidak lupa ia kunci. Melihat perut zhivana yang sudah membesar membuat arrsyad terharu, masa-masa kehamilan zhivana tanpa kehadiran arrsyad. Membuat arrsyad bertanya, apakah selama ini zhivana menginginkan sesuatu? Apakah zhivana kesulitan? Masih banyak lagi pertanyaan dibenak arrsyad.


Kakinya melangkah mendekati zhivana, lalu berjongkok. Pandangannya tidak lepas dari sosok zhivana, wanita yang selama ini ia rindukan.


Tangan dingin yang masih menggigil itu mengelus perut besar zhivana dengan lembut, didalam sana ada dua nyawa yang sebentar lagi akan lahir. Arrsyad selalu berdoa semoga istri dan anak-anaknya selalu sehat dan baik-baik saja.


Beralih mengusap pipi putih zhivana yang tidak memakai cadar, rona merah merona alami itu tampak terlihat menggemaskan. Dengan tatapan sendu arrsyad mengecup seluruh permukaan wajah zhivana.


Zhivana menggeliat, lalu membuka kedua matanya dengan perlahan, sosok arrsyad yang selama ini ia rindukan sudah ada didepan mata. Arrsyad tersenyum manis, kala zhivana menatapnya dengan sorot mata yang mulai berkaca-kaca.


"Mas,"


Zhivana bangun, lalu menatap arrsyad kembali. Tangisannya pecah saat arrsyad berkata.


"Sayang aku minta maaf."


'

__ADS_1


'


Bersambung


__ADS_2