Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 103 : Hanya Ingin Kamu


__ADS_3

Masih dibalik gorden. Setelah luchia kembali ke dalam kamarnya, zhivana segera mendorong arrsyad agar tidak melakukan hal itu disini.


"Kenapa?" Tanya arrsyad dengan napas memburu, tatapan sayu yang terlihat menginginkan lebih itu membuat zhivana gugup dan malu.


"Jangan disini, aku takut ada yang lihat." Zhivana menunduk, takutnya arrsyad menyerang secara tiba-tiba lagi.


Baru saja arrsyad ingin kembali menautkan bibir keduanya, tangisan anaknya yang keras membuat arrsyad menghela napas panjang.


Zhivana segera pergi ke kamar, tanpa peduli pada suaminya yang masih ingin. Arrsyad hanya bisa sabar, tidak mungkin ia memaksa zhivana hanya karena demi gairahya sendiri. Apalagi zhivana selalu sibuk pengurus anak-anak.


Mungkin sebelum punya anak arrsyad selalu bebas meminta haknya pada zhivana kapanpun dia mau. Tapi mulai sekarang keadaannya sudah berbeda, akan ada jeda dimana zhivana harus memperhatikan anak-anak. Padahal selama satu bulan lebih ini arrsyad sudah menunggu masa dimana ia akan bisa menyentuh zhivana kembali, tapi sekarang malah terus ada gangguan.


Menyusul zhivana ke kamar dengan langkah gontai, benar-benar gila. Kali ini ia akan tidur dengan menahan sesuatu yang menyesakan.


Arka bayi itu tengah meminum asi, dengan lahapnya. Sementara arrsyad hanya bisa meneguk salivanya dengan susah payah.


Seharusnya itu jatah aku.


***


Keesokan harinya, arrsyad segera mengajak pulang zhivana. Arrsyad yang sudah rapi dengan setelan formalnya, terlihat sangat berwibawa dan gagah. Arka dan Aalesha sudah siap, begitu pula dengan zhivana yang sudah tampil rapi dan cantik.


Olivia sudah merengek minta ikut, tapi luchia melarangnya. Arrsyad sudah memasukan barang-barang Arka dan Aalesha ke dalam mobil. Zhivana sudah menidurkan anak-anak didalam box tidur bayi dikursi belakang dengan nyaman.


"Kak kita pulang dulu," Pamit zhivana seraya memeluk luchia.


"Padahal aku masih kangen kalian, lain kali sering-sering kesini." Ucap luchia.


Setelah berpelukan dengan luchia, zhivana mengusap kepala olivia dengan gemas.


"Nanti kita ketemu lagi ya, olivia." Ucap zhivana dengan tersenyum manis.


Anak batita itu mengangguk dengan wajah murung. Olivia sangat ingin ikut, tapi saat melihat pada om nya. Arrsyad malah bersikap acuh.

__ADS_1


"Yaudah, kita pulang dulu kak. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Hati-hati dijalannya." Ucap luchia seraya melambaikan tangannya.


Arrsyad segera membukakan pintu mobil untuk zhivana. Setelah zhivana duduk dengan nyaman, arrsyad langsung masuk ke dalam mobil untuk menyetir.


Sepanjang perjalanan menuju apartemen. Arrsyad terus diam, biasanya suaminya itu selalu mengajak mengobrol, atau memberikan perlakuan kecil yang romantis. Tapi kali ini, arrsyad terus diam tanpa menoleh ke zhivana sedikitpun.


Suasana menjadi sangat canggung untuk zhivana, sesekali ia hanya melihat kebelakang. Memastikan anak-anaknya tidur dengan nyaman.


Tiba diapartemen, arrsyad masih tetap belum bicara sepatah katapun. Suaminya itu, tengah membaringkan Aalesha. Setelah memastikan Aalesha tidur dengan nyaman, arrsyad segera pergi ke kantor tanpa berpamitan dulu pada zhivana yang sedang menatapnya dengan kecewa.


Zhivana duduk termenung di sopa, ini terlalu sakit. Sorot tajam arrsyad yang dingin, membuat zhivana takut. Apa arrsyad marah? Tapi karena apa, zhivana sangat bingung. Setelah melahirkan, zhivana selalu berusaha mengurus anak dan suaminya dengan baik. Apa karena kejadian semalam saat arrsyad ingin menyentuhnya, zhivana malah pergi. Tapi itu karena Arka menangis.


Tidak nyaman dengan situasi seperti ini, zhivana segera menidurkan Arka. Berniat ingin mengirim pesan singkat pada arrsyad.


"Assalamualaikum, mas. Jangan lupa nanti makan siang, maaf. Karena hari ini aku gak buatin bekal untuk makan siang kamu. Semangat kerjanya suamiku. I Miss You, Dear."


Setelah mengirim pesan, zhivana kembali meletakkan gawainya diatas meja nakas. Sebelum Arka dan Aalesha terbangun, zhivana akan memanfaatkan waktu untuk beres-beres rumah. Arrsyad selalu memaksanya untuk memakai asisten rumah tangga, tapi zhivana selalu menolak.


***


Andre yang baru masuk ke ruangan presedir itu, langsung mendapati arrsyad yang tengah terbaring.


"Masih pagi, udah lemas kayak gitu." Ledek andre, seraya ikut duduk disopa tunggal dekat arrsyad merebahkan tubuhnya.


"Diam. Aku sangat gila hari ini."


"Kenapa? Apa kak zhivana lagi marah,"


"Bukan, tapi aku sedang tidak baik-baik saja."


"Apa sakit kepalamu kambuh lagi?"

__ADS_1


Arrsyad menggeleng. Lalu mendudukan dirinya dengan punggung menyandar pada sopa. helaan napas terdengar sangat jelas, sepertinya arrsyad memang tidak baik-baik saja.


"Diamlah. Cepat katakan apa saja jadwalku hari ini."


"Ada beberapa pertemuan penting, dengan para petinggi perusahaan."


Andre menyebutkan satu persatu jadwal arrsyad hari ini dengan detail. Sebagai seorang presedir muda yang dikenal sukses, arrsyad selalu mendapat pujian dari rekan kerjanya. Kerja sama dengan adzril teman kuliahnya dulu, membangun sebuah hotel dipusat kota sangat menguntungkan sekali. Apalagi besok malam arrsyad sudah mengundang adzril untuk makan malam bersama diapartemen.


***


Malam semakin larut, tidak terasa waktu sudah memasuki tengah malam. Tapi arrsyad masih belum juga pulang, zhivana sangat cemas dan gelisah. Apalagi arrsyad tengah mendiamkannya, pesan singkat yang dikirim pagi tadi belum juga arrsyad baca. Zhivana semakin tidak nyaman, apa arrsyad marah?


Untung malam ini Arka dan Aalesha tidak rewel, jadi zhivana bisa menyambut kepulangan arrsyad. Zhivana dengan sengaja tampil cantik malam ini, sedikit sentuhan make up membuat zhivana terlihat sangat cantik. Gamis panjang yang seperti gaun zhivana sudah kenakan, terlihat sangat anggun dan menawan. Kain cadar yang tidak dipakai, memperlihatkan wajah cantiknya yang sedang menanti kepulangan arrsyad.


Kali ini zhivana tidak ingin ketiduran seperti dulu, tapi setengah jam kemudian tanpa sadar ia malah ketiduran disopa.


Jam satu malam arrsyad baru tiba diapartemen, dengan tergesa-gesa ia turun dari dalam mobil. Pasti zhivana sangat mengkhawatirkan dirinya. Benar saja, saat arrsyad masuk kedalam. Pemandangan yang pertama ia lihat adalah istrinya yang tengah tertidur dalam posisi terduduk disopa.


Arrsyad jadi ingat saat dulu ia baru pulang dari amerika, zhivana menunggunya sampai ketiduran diruang tamu. Apalagi waktu itu, adalah malam pertamanya dengan zhivana, dimana arrsyad untuk pertama kalinya memberikan nafkah batin pada zhivana.


Bibir tipis arrsyad melengkung keatas, senyuman bahagia itu terpancar dengan jelas. Pikiran arrsyad semakin liar, saat tragedi kebablasan dikamar mandi. Zhivana masih kesakitan, tapi arrsyad malah memaksanya untuk melakukannya lagi.


Arrsyad mendekati zhivana, istrinya itu sudah menjadi seorang ibu dari anak-anaknya. Tapi kecantikan zhivana semakin terlihat mempesona. Tunggu, arrsyad memperhatikan wajah cantik zhivana dengan seksama. Polesan make up yang natural membuat zhivana tampak berbeda malam ini, wajahnya semakin cantik sekali. Apalagi gaun yang sedang dipakai zhivana sangat indah membalut tubuh ramping zhivana.


Tidak biasanya zhivana berdandan seperti ini. Karena arrsyad selalu melarang zhivana untuk berdandan, wajah cantik zhivana yang alami saja sudah membuat arrsyad menggila apalagi kalau memakai make up seperti ini. Mungkin arrsyad akan menjadi gila beneran, karena saking cintanya pada zhivana.


"Malam ini aku hanya ingin kamu."


Arrsyad segara menggendong tubuh zhivana dengan hati-hati. Membawanya ke kamar yang satunya lagi, takut kegiatan iya iya nya menganggu anak-anak.


'


'

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2