
Malam telah tiba, suasana makan malam bersama disetiap harinya terasa hangat, penuh canda tawa. Sesekali pertengkaran antara reno dan arrsyad selalu sengit seperti tom end jerry.
"Kak ini teh hangat untuk kakak." Ucap zhivana yang menghampiri, luchia. Sedang duduk diruang tamu dengan layar lebar datar yang menyala.
Reno dan arrsyad tengah berada diruang kerja, berbicara seputar bisnis seraya minum kopi hangat berdua.
"Ih kamu mah zhi pengertian banget, makasih ya."
Ucap luchia, mengambil secangkir teh hangat. Menyeruput teh itu yang terasa hangat ditenggorokan.
Zhivana tersenyum lalu melangkah pergi ke dapur kembali berniat ingin menyimpan nampan. Sesudah menyimpan, hendak ingin melangkah tiba-tiba kepalanya terasa berat dan pusing, penglihatan meremang dengan tanpa sadar tangan zhivana menepis gelas hingga jatuh dan pecah.
"Yaallah, kepalaku pusing sekali."
Terdengar suara pecahan gelas itu membuat luchia kaget, berjalan lambat kearah dapur. Dirinya telah memanggil nama zhivana tapi malah tidak ada sahutan.
Tangan zhivana berpeganggan pada sisi meja makan, saat ini kepalanya benar-benar terasa berputar-putar. Dengan penglihatannya yang meremang tubuh zhivana terhuyung jatuh.
"Astagfirullahal'adzim, zhi." Teriak luchia yang langsung menahan tubuh zhivana agar tidak jatuh.
"Ahh, kepalaku pusing sekali. Kak." Rintihnya seraya berusaha untuk berdiri tegak.
Luchia sangat cemas, tidak bisanya zhivana seperti ini.
"Kamu kenapa, kamu sakit zhi? Ayo duduk dulu."
Berusaha mendudukan zhivana dikursi, ternyata sangat susah juga apalagi, luchia. Tengah hamil besar. Menuangkan segelas air putih lalu diberikan pada zhivana.
"Diminum dulu zhi, kamu kenapa aku khawatir banget tau."
Setelah meminum sedikit air, zhivana berusaha mengatur napasnya yang terasa sesak.
"Mungkin aku cape, kak. Aku istirahat duluan yak." Ucapnya dengan lemas.
"Tunggu aku panggil arrsyad dulu, biar dia antar kamu ke kamar. Takut kamu pusing lagi nanti jatuh kan bahaya."
Zhivana mengangguk pasrah.
"ARRYAD" Teriak luchia yang menggema diseluruh sudut ruangan.
Setelah tiga kali memanggil nama arrsyad, yang dipanggil akhirnya muncul.
"Ada apa kak." Tanya arrsyad yang sudah tiba didapur.
Entah sudah biasa atau bawaan hamil. Luchia yang selalu dengan gemasnya, menjambak rambut arrsyad dengan sedikit kencang.
"Aduh, sakit." Pekik arrsyad seraya mengelus rambutnya.
__ADS_1
Luchia berdecak kesal lalu bertolak pinggang.
"Itu istri kamu mau pingsan, tuh tadi aja mau jatuh."
Arrsyad terkejut. terlihat raut wajahnya langsung berubah panik sekaligus khawatir. Buru-buru dirinya mendekat ke zhivana, berjongkok dihadapan istrinya yang terlihat lemas.
"Dek, kamu kenapa? Mana yang sakit, sebelah mana yang sakitnya, hem. Atau mau periksa ke dokter aja."
Zhivana menggeleng lemah.
"Aku mau istirahat aja mas, dikamar."
Arrsyad mengangguk, lalu mengangkat tubuh istrinya.
"Kak, aku istirahat duluan." Ucap arrsyad seraya berlalu pergi.
Luchia menggangguk.
Zhivana tersenyum dibalik kain cadarnya, terlihat wajah tampan nan mewah milik suaminya itu sangat cemas. Sesekali arrsyad mengecup keningnya. Sudah terbiasa dengan perlakuan yang suaminya itu berikan, zhivana. Mengalungkan tangannya keleher arrsyad.
"Mas aku sayang kamu." Ucapnya seraya bersandar didada bidang arrsyad.
"Aku jauh lebih sayang sama kamu, dek. Bahkan rasa cintaku selalu bertumbuh besar disetiap harinya, makanya kalau kamu kenapa-napa aku khawatir banget. Kalau kamu sakit aku juga suka ngerasa sakit."
Sesampainya dikamar, arrsyad. Segera merebahkan tubuh zhivana diranjang, menyelimutinya sampai kedada. Tidak lupa satu kecupan manis mendarat di kening zhivana.
Zhivana menggeleng, lalu membuka kain cadarnya dengan dibantu oleh arrsyad.
"Gak mas, aku cuma lelah saja. Aku hanya butuh istirahat."
"Aku temeni ya, dek. Kalau butuh apa pa kamu bilang aja ke aku."
"Iya mas, terimakasih."
Arrsyad memeluk zhivana sebentar lalu membisikkan sesuatu yang membuat pipi zhivana memerah.
"Sayang, aku merasa kamu semakin cantik dan menggoda."
***
Adzan shubuh sudah berkumandang, arrsyad. Menggeliat seraya menguap, matanya masih ingin terpejam tapi shalat adalah hal yang paling utama untuk dilaksanakan.
Arrsyad mendudukkan dirinya, seraya meregangkan otot-otot yang terasa ngilu. Akhir-akhir ini dirinya jadi sering muntah-muntah, apalagi tubuhnya terasa cepat lelah dan lemas.
"Mas" Teriak zhivana dikamar mandi.
Arrsyad yang masih setengah sadar langsung terkejut, dirinya yang panik langsung berlari cepat.
__ADS_1
"Yaallah, dek."
Pekik arrsyad, yang melihat zhivana terduduk lemas dibawah lantai dekat bathup. Dengan cepat, arrsyad. Membopong tubuh istrinya yang lemas.
"Mas sakit." Rintihnya dengan suara tercekat.
"Sabar ya, sayang. Aku panggil dulu dokter vanya." Ucap arrsyad dengan panik, tidak bisa dibohongi dirinya sangat cemas sekaligus tak tega melihat istrinya merintih kesakitan seperti itu.
Setelah membaringkan zhivana, arrsyad langsung menghubungi dokter vanya. Rasanya sangat tidak enak hati, karena pagi buta begini arrsyad dengan setengah memaksa menyuruh dokter vanya untuk segera datang ke rumah.
"Baik pak arrsyad, saya akan segera kesana." Ucap dokter vanya disebrang sana.
Panggillan langsung terputus.
Sebari menunggu kedatangan dokter vanya keduanya memutuskan untuk shalat shubuh berjamaah berdua.
"Masih pusing" Tanya arrsyad, suaminya itu terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi zhivana. Apalagi sedari tadi tangan arrsyad terus menggenggam tangannya.
Padahal sekarang arrsyad tengah berusaha mati-matian menahan rasa mual yang bergejolak. Tapi dirinya tahan, satu detik saja rasanya sangat enggan untuk meninggalkan zhivana.
"Iya, ini pusing sekali." Ucap zhivana dengan lirih bahkan suaranya hampir tak terdengar.
"Aku pijitin kepalanya ya, dek. Siapa tau rasa pusingnya berkurang."
Tak butuh waktu lama, akhirnya dokter vanya datang. Reno dan luchia yang tau kedatangan dokter vanya langsung ikut masuk untuk melihat kondisi zhivana.
Arrsyad yang sedari tadi menahan rasa mualnya langsung berakhir dikamar mandi. Muntah-muntah seperti ini sering terjadi belakangan ini bahkan sampai siang pun rasa mualnya masih terasa.
Lima belas menit dokter vanya memeriksa zhivana, keluhan demi keluhan serta terakhir datang bulan zhivana ucapkan, kala dokter vanya menanyakan.
"Vanya, zhivana kenapa."
Tanya luchia dengan cemas. Dulu luchia satu sekolah SMA dengan dokter vanya, bahkan mereka berdua berteman cukup dekat.
"Sepertinya-"
Belum sempat dokter vanya ingin mengutarakan hasil pemeriksaannya, tapi arrsyad sudah menyahut.
Arrsyad keluar dari dalam kamar mandi, wajahnya sudah kembali pucat apalagi tubuhnya terlihat lemas. Berjalan gontay menuju ranjang.
"Istriku baik-baik sajakan."
'
'
Bersambung
__ADS_1